BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Ketulusan Pras


__ADS_3

"Jadi apa keputusanmu?" Tanya Ayla.


Kini mereka semua berada di meja makan, baru saja selesai menikmati makan malam bersama.


"Aku masih belum tau." Jawab Nanda.


"Nanda akan pulang besok." Ucap Pras cepat.


"Mas, aku belum bertemu dengan dokter kandungku dan memeriksakan kehamilanku bisa atau tidaknya untuk melakukan perjalanan jauh." Nanda mencoba mencari alasan.


Pras menatap wajah Nanda, "Honey, apa kamu lupa jika suamimu ini juga seorang dokter kandungan?"


"Ck, kapan kalian menikah, mengapa mengaku-ngaku sebagai suaminya?" Celetuk Regan.


Pras berdehem, "Dokter Regan.." Panggil Pras seolah mengingatkan.


Regan tersenyum licik, "Maaf Mas Pras, ini bukan rumah sakit, dan aku bukan rekanmu disini. Saat ini aku adalah sahabatnya Nanda dan akan mendukung apapun keputusan Nanda."


Pras mengusap wajahnya kasar, "Kalian kompak sekali." Dengus Pras.


Nanda dan Ayla hanya tersenyum.


"Aku sudah lihat riwayat terakhir Nanda periksa kehamilan seminggu yang lalu, dari hasilnya aku yakin Nanda aman melakukan perjalanan jauh."


"Jangan bahas ini sekarang, aku lelah dan ingin tidur." Nanda berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju kamarnya.


"Mas mau kemana?" Tanya Ayla yang melihat Pras juga ikut berdiri dan mengekori Nanda.


"Tidur sama Nanda." Jawabnya tak berdosa.


Nanda yang mendengarnya menghentikan langkahnya. "Dirumah ini ada banyak kamar, kamu bisa tempatin salah satunya tapi tidak dikamarku." Ucap Nanda tegas.


Pras hanya mengerdikan bahunya, "Aku tidur bersamamu."


"Mas, kalian belum menikah." Sahut Ayla.


"Hanya tidur, Han. Aku tidak akan menjenguk anakku jika belum sah menikahi Nanda." Pras melangkah pergi dan menarik tangan Nanda yang hanya diam berdiri.


Dikamar, Nanda langsung berganti pakaian dengan dres tidurnya, Pras yang melihatnya hanya menelan salivanya.


"Kamu menggodaku, Honey." Bisik Pras ditelinga Nanda.


"Tanpa kugoda juga kamu slalu merasa tergoda olehku. Bukankah begitu dokter Pras?"


Pras tersenyum menyeringai. "Sayangnya aku belum bisa menyentuhmu. Tunggu sampai aku benar-benar menjadikanmu seorang istri."


Nanda hanya bersikap acuh, ia berjalan menuju tempat tidurnya, sementara Pras ia memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Selesai membersihkan diri, Pras naik keatas ranjang dan masuk kedalam selimut, ia memeluk Nanda dari belakang dan mencium aroma wangi bunga dirambut Nanda.


"Aku sangat merindukanmu Honey, jangan lagi pergi dariku." Bisik Pras.


Tangan Pras pun turun untuk mengusap perut Nanda yang sudah membuncit, Pras mengusapnya dengan lembut, terasa sesuatu gerakan diperut Nanda, sebuah tendangan penyambutan oleh janin yang berada dikandungan Nanda.


Pras bangun dan duduk kemudian menciumi perut Nanda. "Maafkan Daddy, Daddy janji tidak akan meninggalkan kalian, Daddy janji akan membahagiakan Mommy agar kamu juga bahagia didalam kandungan Mommy, maafkan Daddy yang baru menemukan kalian."


Nanda tidak sepenuhnya tertidur, dia mendengar semua ucapan Pras dan merasakan ketulusan itu. Namun Nanda tetap menahan diri, ia terus memikirkan dan bersiap untuk menghadapi penolakan Irwan jika sampai dirinya menikah dengan Pras.


Ingin sekali tangannya terulur untuk mengusap kepala Pras, namun Nanda menahannya, Nanda hanya terus memejamkan matanya dan tertidur pulas.


***


Nanda terbangun tanpa ada Pras disebelahnya, samar-samar ia mendengar suara dari kamar mandi yang berada didalam kamar tidurnya.


Hoekk.. Hoekkk..

__ADS_1


Nanda bergegas bangun dan terlihat dari pintu yang tidak tertutup rapat, Pras sedang memuntahkan isi perutnya yang belum terisi apapun.


"Mas..." Panggil Nanda dengam sedikit cemas, lalu membantu Pras memijit tengkuknya.


"Keluar, Nanda.. Jangan lihat aku dengan kondisi seperti ini." Jawab Pras sambil menepis pelan tangan Nanda.


"Sudah Mas, biar aku bantu." Nanda berbicara dengan selembut mungkin, hatinya terenyuh saat melihat Pras mengalami kehamilan simpatik ini.


Pras membasuh mulutnya, lalu Nanda mengelap keringat dingin dikening Pras dengan handuk kecil.


"Apa slalu seperti ini Mas?" Tanya Nanda.


"Dia menghukumku, Nan. Percayalah, anak kita sedang menghukum Daddy nya yang tlah menyakiti perasaan Mommynya.


Nanda hanya terdiam, dia berfikir memang slama kehamilannya hanya satu kali merasakan mual, selebihnya tidak lagi.


"Aku buatkan lemon tea hangat untukmu, Mas." Ujar Nanda.kemudian berdiri, namun tangannya ditarik pelan oleh Pras, Pras mendudukan Nanda dipangkuannya. Tangannya terulur mengusap perut buncit Nanda.


"Maafkan Daddy."


Mata Nanda berkaca-kaca, namun ia segera berdiri dan menyembunyikan wajah sedihnya itu. "Aku kedapur dulu, Mas."


Pras berfikir sesuatu, ia tidak ingin memaksa Nanda, namun ia juga tidak ingin melepaskan Nanda. Pras sangat ingin menikahi Nanda, bukan karna terlanjur menghamili Nanda, namun memang Pras sangat mencintai Nanda.


Ayla memghampiri Nanda yang tengah membuat lemon tea hangat didapur.


"Bikin apa Nan?" Tanya Ayla.


"Hei, Ay.. Aku lagi bikin lemon tea untuk Mas Pras."


"Apa Kakakku itu sedang mual dan muntah lagi?" Tanya Ayla.


"Jadi benar apa yang kamu katakan padaku? soal Mas Pras yang slalu mual dan muntah?"


Ayla menaikan satu halisnya, "Apa pernah aku berbohong padamu?"


"Katakan padaku, Nan. Apa kamu mencintai Mas Pras?"


Nanda hanya diam,


"Nanda, jika kamu mencintai Mas Pras, terimalah Mas Pras. Tapi jika kamu tidak mencintai Mas Pras, aku akan membantumu untuk bicara pada Mas Pras untuk berhenti mengganggumu."


"Jangan, Ay." Ucap Nanda cepat.


Ayla tersenyum, "You love Him?"


Nanda menganggukan kepalany, "I'm still loving him so much."


Ayla mengusap perut Nanda yang membuncit, "Kamu dan anakmu berhak bahagia, Nan. Berbahagialah dengan menikah dengan Mas Pras."


"Tapi Ay.."


"Apa masalahnya karna restu Papi?" Tanya Ayla menebak.


Nanda mengangguk.


"Biarkan Papi jadi urusan Mas Pras, Mas Pras sudah memilih hidup bersamamu. Papi juga memiliki kesalahannya sendiri. Biarlah waktu yang menjawab Nan."


Nanda hanya menghela nafas, kemudian berdiri untuk mengantarkan lemon tea hangat untuk Pras.


Nanda masuk kedalam kamarnya, ia melihat Pras yang tengah duduk bersandar disandaran tempat tidur sambil memejamkan kedua matanya.


Nanda menaruh gelas berisikan lemon tea hangat dinakas sebelah Pras,


"Mas..." Panggil Nanda.

__ADS_1


Pras membuka matanya.


"Minum dulu lemon tea nya." Ucap Nanda.


Pras meminumnya, "Terimakasih." Ucapnya saat lemon tea buatan Nanda sudah habis."


"Dimana kopermu?" Tanya Pras.


Nanda hanya diam.


Pras menangkup wajah Nanda, "Ikutlah pulang denganku, menikahlah denganku, aku akan menjagamu, aku janji tidak akan meninggalkanmu." Ucap Pras lembut.


Nanda masih terdiam.


"Disya menunggu Mommy dan calon adiknya pulang." Ucap Pras meyakinkan.


Nanda meneteskan air mata, ia mengangguk lalu Pras memeluknya.


"Maafkan kebodohanku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucapnya yang diangguki oleh Nanda didalam pelukannya.


***


"Sudah nyaman?" Tanya Pras saat membantu Nanda untuk duduk dengan nyaman di jet pribadi milik keluarganya.


Nanda mengangguk dengan senyuman tipis dibibirnya, "Sudah, terimakasih."


Ayla dan Regan tersenyum melihat perlakuan Pras pada Nanda. "Tinggal selangkah lagi." Ucap Ayla pada Regan.


"Semoga pernikahan mereka berjalan dengan lancar." Sahut Regan.


"Aku akan membuatkan pesta yang meriah untuk mereka."


"Lakukanlah, Ay. Aku mendukungmu." Regan mencium puncak kepala Ayla.


"Bolehkah aku duduk bersama Nanda?" Ayla meminta ijin pada Regan.


Regan mengangguk, "Biar Ryu sama aku, nanti kalau Ryu haus, kamu buatkan susunya saja atau aku serahkan Ryu ke kamu."


"Terimakasih Papa siaga." Ayla mencium pipi Regan sekilas, lalu beranjak dari kursinya ke tempat Nanda duduk.


"Mas.. Boleh aku menemani Nanda?" Tanya Ayla.


Pras mende*sah pasrah saat Nanda mengangguk. "Baiklah." Jawabnya.


"Panggil aku jika kamu butuh sesuatu." Ucap Pras yang diangguki oleh Nanda.


Ayla duduk disamping Nanda. Pesawat akan take off beberapa saat lagi.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Ayla.


"Aku memikirkan calon anakku, apa dia akan bahagia memiliki Mommy sepertiku?"


Tangan Ayla terulur mengusap perut buncit Nanda. "Sewaktu aku hamil Ryu, akupun berfikir seperti itu. Namun Regan slalu membuatku bahagia, dan aku yakin aku akan menjadi ibu yang membanggakan untuk Ryu."


"Regan sangat mencintaimu, Ay."


"Mas Pras juga sangat mencintaimu, terbukti dia rela menyusulmu dan membawamu pulang."


"Semoga. Aku hanya takut kadar cinta Mas Pras berkurang seperti Mas Raja dulu."


"Jangan ingat lagi rasa sakitmu yang dulu, aku yakin Mas Pras akan menjagamu dengan baik."


Nanda tersenyum, kemudian ia memejamkan matanya hingga tertidur.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2