BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Lindungi Aku


__ADS_3

"Iya Nan?" -Ayla-


"Kapan pulang? aku kangen." -Nanda-


"Belum tau Nan, nanti aku kabarin kalo pulang ya. Are you okay?" -Ayla-


"Katanya lima hari, Ay? ini udah seminggu." -Nanda-


Regan masuk kedalam kamar perawatan Ayla, saat Ayla tengah asik bertelpon dengan Nanda. Ayla memberikan kode untuk Regan agar tak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya dibibirnya sendiri. Regan mengerti dan melempar senyumnya untuk Ayla. Regan terus mendengarkan percakapan Ayla dengan Nanda ditelpon hingga percakapan itu berakhir.


"Nanda?" Tanya Regan.


Ayla mengangguk.


"Kamu sama Nanda itu lebih-lebih dari anak kembar, kemana-mana slalu berdua. Padahal Nanda sudah menikah, masih aja mencari kamu."


"Ishh ikatan batin aku sama Nanda tuh kuat tau!!"


Ayla menyimpan pakaiannya kedalam tas, hari ini ia akan keluar dari rumah sakit. Tim nya sudah kembali ke kota J dua hari yang lalu.


"Sudah selesai?" Tanya Regan yang kemudian menyambar tas milik Ayla.


"Sudah." Jawab Ayla.


"Ayo pulang." Ajak Regan.


"Aku mau kebagian administrasi dulu." Ucap Ayla.


Regan meberhentikan langkahnya dan menggandeng tangan Ayla. "Sudah aku selesaikan semuanya." Jawab Regan kemudian mencium pipi kiri Ayla.


"Tapi, Re.." Ayla menahan tangan Regan sebelum kembali melangkah.


"Kamu calon istri aku, dan kamu tanggung jawab aku."


"Re.. aku belum jawab iya."


"Aku gak butuh jawaban karna aku tidak pernah bertanya padamu mau atau tidak. Aku hanya memberi pernyataan bahwa aku akan menikahimu. Jelas?"


"Re, kamu maksa!!" ketus Ayla


Regan menatap lekat wajah Ayla, "Kamu terpaksa?" Tanyanya.


"Iya."


Regan mendekatkan wajahnya dan membisikan sesuatu ditelinga Ayla. "Kamu terpaksa tapi kamu membalas dan menikmati ciumanku, Ay." Regan tersenyum smirk.


"Regan!!" Pekik Ayla.


Regan tertawa, "Ayo pulang." Regan menarik tangan Ayla dan satu tangannya lagi menenteng tas Ayla.


***


"Kita mau kemana, Re?" Tanya Ayla bingung.


"Ke apartementku."


"Hah, apartement, Re? Antar aku ke hotel aja, besok aku kembali ke kota J naik kereta pagi."


"Kamu pulang ke apartementku, dan kembali ke kota J tiga hari lagi, aku sudah mengajukan cuti dan di acc tiga hari lagi."


Ayla berdecak, "Bukannya kamu baru ya bergabung dengan rumah sakit ini, koq bisa ngajuin cuti?" Tanya Ayla penuh selidik.


"Iya aku baru bergabung dirumah sakit ini belum lama, tapi sebelumnya aku udah sudah bekerja dirumah sakit yang sama di kota S dan belum pernah mengambil cuti, jadi aku bisa mengambil cutinya disini."


Setelah lima belas menit perjalanan, mereka tiba diapartemen milik Regan.


"Re, disini cuma ada satu kamar?" Tanya Ayla yang baru saja menginjakkan kakinya di apartemen milik Regan.


"Iya, aku hanya tinggal sendiri, untuk apa menyewa apartemen yang besar."


"Terus, selama tiga hari aku tidur dimana?" Ayla menatap Regan bingung.


"Tentu saja dikamarku, Ay."


"Lalu kamu?"


Regan menghela nafasnya, "Seminggu dirumah sakit, juga kita tidur satu bed, kenapa disini engga?" Jawabnya santai sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Ayla hanya bisa pasrah, Kakinya melangkah kedapur untuk mencari air minum.


Ayla meminum air digelasnya hingga tandas. "Anak itu, bahkan dia saja tidak melamarku, tapi bilang mau menikahiku."


"Ada unek-unek? ngomong aja, Ay jangan dingedumel sendiri."


"Re, berhenti bercanda denganku. Aku harus segera kembali ke kota J, kerjaan menantiku Re."


"Ay.. Aku tidak bercanda, kamu tau aku kan?"


"Jangan menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, Re. Aku tidak ingin ada penyesalan."


Regan menarik nafasnya dalam dan menhembuskannya kasar. "Kamu mencintaiku?" Tanya Raja.


Ayla hanya diam dan sedikit menunduk. Regan meraih dagu Ayla keatas agar Ayla dapat menatapnya.


"Tujuh tahun yang lalu, kenapa tidak bilang jika menyukaiku? hem?"


"Jangan sok tau, Re!!" Ucap Ayla.


"Aku bukan sok tau, Ay. Aku memang tau. Apa Nanda tau?"


Ayla menggelengkan kepalanya dan membuang pandangannya.


"Kamu simpan ini sendiri, Ay. Kenapa tidak bilang padaku."


"Karna aku tau kamu menyukai Nanda." Lirih Ayla.


Regan tertawa, "Lucu ya masa remaja kita. Kamu menyukaiku, aku menyukai Nanda dan Nanda menyukai Bang Raja kakak tiriku."


Hening sejenak.


"Biarkan aku menikahimu, Ay. Setidaknya rasa Sayang ini akan menjadi rasa cinta seiring dengan berjalannya waktu. Sungguh, aku begitu tersentuh saat mengetahui kamu masih menyukaiku hingga kini."


"Mencintaimu Re, bukan lagi rasa suka. Aku mencintaimu."


Regan menangkup kedua pipi Ayla dengan tangan besarnya, kemudian megecup sekilas bibir Ayla.


"Hiduplah bersamaku, Ay."


"Perasaanmu ke Nanda?" Tanya Ayla hati-hati.


"Kamu sedang menggombal." Decak Ayla.


"Bukan menggombal, Ay. Tapi aku sedang merayumu."


"Jadi kamu sudah siap kembali ke kota J?" Tanya Ayla menyelidik.


"Bahkan aku minta pindah kerumah sakit pusat dikota J, dan itu di acc dua bulan lagi."


"Siap bertemu Nanda?"


"Sangat siap, sekarang dia kakak iparku."


"Oh baiklah Regan. Sekarang aku mau istirahat." Ucap Ayla sambil melangkahkan kaki menuju kamar Regan.


***


"Pak hari ini ada pertemuan dengan klien di restoran hotel." Ucap Sarah pada Regan.


"Alihkan saja ke Robi." Jawabnya datar tanpa menoleh sedikitpun kearah Sarah.


"Pak Robi sedang meninjau lokasi dan belum kembali kekantor lagi Pak."


Raja memijit pelipisnya.


Sudah satu minggu Sarah bekerja bersama Raja, namun Raja bersikap cuek dan menganggap tak mengenali Sarah. Mereka berbicara sangat formal, layaknya atasan dan bawahan.


"Raja.." Sarah memberanikan diri memanggil nama Raja.


Raja hanya diam dan tatapannya tak beralih dari layar laptopnya.


"Raja, please.." Suara Sarah terdengar memelas.


Raja berdiri dan menatap Sarah, menatap wajah yang pernah Raja rindukan, menatap wajah cinta pertamanya.


"Maaf." Lirih Sarah.

__ADS_1


"Untuk?" Tanya Raja sinis.


"Untuk menyerah akan hubungan kita dulu."


"Sudahlah Sar, ini kantor, jangan bahas hal pribadi."


"Kalau begitu datanglah kekontrakanku, aku akan menjelaskan semuanya."


Regan mengernyit heran, "Kontrakan?" Tanyanya bingung.


Sarah mengangguk, "Akan kukirimkan via pesan, alamatku." Ucapnya sambil meninggalkan Raja yang masih diam mematung.


"Sarah ngontrak? ada apa sebenarnya dengan dia?" Batin Raja.


Sepulang kerja, Sarah mengirimkan peta lokasi keponsel Raja. Raja yang baru saja akan melajukan mobilnya, melihat isi pesannya dan dirinya tengah ragu, haruskah ia mendatangi Sarah? atau langsung pulang saja.


Drttt.


Sebuah pesan kembali masuk keponsel Raja dan itu dari Sarah.


"Datanglah Ja, aku mohon."


Raja goyah, meski Sarah hanya masalalu Raja, namun wanita itu pernah istimewa dihatinya. Raja melajukan mobilnya mengikuti arah maps yang dikirim oleh Sarah.


Raja memarkirkan kendaraanya dipinggir jalan, Sarah bilang, kontrakannya berjarak dua ratus meter dari mulut gang dan tidak bisa dilalui oleh mobil, membuat Raja harus berjalan kaki untuk menelusurinya hingga tiba dikontrakan Sarah.


"Sarah mau tinggal dilingkungan seperti ini?" Gumamnya merasa tidak percaya.


Sarah menyambut kedatangan Raja dan mempersilahkannya masuk.


Raja mengedarkan pandangannya seolah mencari tau kehidupan Sarah.


"Apa yang mau kamu tanyakan?" Tanya Sarah. "Apa kamu ingin bertanya bagaimana aku bisa seperti ini?" Sarah seolah tau apa yang berada dalam pikiran Raja.


"Ceritakan padaku." Ucap Raja dingin.


"Aku lari dari rumah." Sarah menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar.


"Kenapa?" Tanya Raja yang kini terpancing untuk masuk kedalam cerita Sarah.


"Papa berniat menjodohkanku dan aku tidak mau."


Raja tertawa, "Menjodohkanmu dan kamu tidak mau? lelucon macam apa ini Sar?"


"Aku akan dijodohkan dengan pria tua yang bahkan umurnya hampir sama dengan Papa."


Hening sejenak,


"Papa menjualku demi menyelamatkan pabriknya."


Regan tertegun saat mendengar cerita Sarah.


"Dan kini Papa sudah tau keberadaanku, Papa memintaku pulang baik-baik atau menjemputnya secara paksa."


Regan berdiri. "Aku pulang dulu, Sar. Semoga masalahmu cepat selesai."


Raja hendak melangkahkan kakinya, hingga terdengar Sarah memanggil dengan suara bergetar. "Tolong aku, Ja. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan aku dari keegoisan Papa."


Raja menghela nafasnya. "Kenapa tidak meminta bantuan pada kekasihmu?" Tanyanya tanpa melihat wajah Sarah.


"Dia mencampakanku setelah menguras tabunganku dia kembali kenegaranya dan menikah dengan kekasihnya."


"Apa yang kamu harapkan dariku sekarang, Sar?"


"Lindungi aku Ja, lindungi aku dari Papaku."


"Jangan gila, Sar!! Aku sudah menikah dan mencintaiku istriku." Raja mengusap wajahnya kasar.


"Tapi kamu juga pernah mencintaiku kan Ja? Aku yakin mash ada perasaan itu dihatimu."


"Tidak Sar, semua hanya masa lalu."


"Setidaknya tolong bantu aku, Ja. Aku tidak ingin menikah dengan pria tua itu." Sarah menutup wajahnya dan menangis.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2