
Selama penerbangan, Pras mondar mandir menghampiri Nanda, meyakini bahwa posisi pujaan hatinya itu sudah pas dan nyaman. Ayla yang merasa terganggu akhirnya memutuskan untuk pindah duduk bersama Regan kembali dan membiarkan Pras duduk bersebelahan dengan Nanda.
Sesekali tangan Pras mengusap perut buncit Nanda.
"Pegal?" Tanya Pras penuh perhatian.
Nanda menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mas." Jawabnya.
Bahkan Pras menyuapi Nanda saat tiba waktunya makan, dengan penuh kasih sayang, Pras memperlakukan Nanda layaknya seorang ratu.
Setelah kurang lebih lima belas jam perjalanan, pesawat akhirnya landing di tanah air. Ayla sudah meminta Robi untuk menyiapkan supir untuk menjemput mereka di bandara.
"Kak Robi..." Nanda berhambur memeluk Robi.
Robi membalas pelukan Nanda dan mengusap punggungnya.
"Maafkan Kakak, Kakak mengkhianatimu." Ucap Robi menyesal.
Nanda menggelengkan kepalanya, "Kakak slalu tau yang terbaik untukku." Kemudian Nanda mengendurkan pelukannya.
Nanda meminta diantarkan pulang kerumahnya, namun betapa terkejutnya Nanda ketika dirumahnya sudah ada beberapa orang termasuk gadis kecil yang berlari kearahnya.
"Mommyyyy." Seru Disya memanggil Nanda.
Nanda tersenyum dan membentangkan tangannya menangkap Disya lalu memeluk serta mencium wajah lucunya.
"Kenapa Mommy pergi lama sekali, Disya kangen Mommy." Ucap Disya.
"Maafkan Mommy, Mommy janji tidak akan meninggalkanmu lagi."
Disya menyentuh perut Nanda, "Kenapa perut Mommy besar seperti badut?" Tanyanya polos yang membuat orang disekitarnya menahan tawa akan tingkah laku Disya.
"Karna diperut Mommy ada adik bayinya Disya."
Mata Disya berbinar, "Benarkah?" Tanyanya yang diangguki oleh Nanda.
"Horee, Disya punya adik." Serunya.
"Apa adik Disya seperti Ryu?" Tanyanya lagi.
Pras menggendong Disya. "Besok lagi bertanya soal adik bayinya ya, sekarang kita masuk dulu." Bujuk Pras.
Nanda melangkahkan kakinya masuk, matanya kembali melihat beberapa orang asing berada dirumahnya.
"Kak, siapa mereka?" Tanya Nanda.
"Mereka akan menikahkanmu dengan Pras." Jawab Robi.
Nanda mengernyitkan dahinya. "Menikah?" Tanyanya meyakinkan.
Robi mengangguk, "Berapa bulan lagi kamu akan melahirkan, anakmu butuh seorang Ayah dan dokter Pras siap mempertanggung jawabkan perbuatannya padamu." Ucap Robi hati-hati. "Tapi sebelum itu, Kakak ingin bertanya padamu, apa kamu mau menikah dengan dokter Pras? Jika jawabanmu tidak, Kakak akan menyuruh mereka untuk pulang sekarang juga."
Nanda menatap wajah Pras yang masih menggendong Disya, wajah yang menyimpan harapan agar Nanda mau menikah dengannya.
Lalu Nanda menatap wajah polos Disya, ia tidak ingin mengecewakan Disya.
Nanda pun melihat kearah Ayla dan Regan, mereka mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
Nanda menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan, "Iya Kak, aku mau menikah dengan dokter Pras." Jawab Nanda yang seketika membuat Pras merasa lega.
"Nanda..." Panggil seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah Linda.
"Mami..." Lirih Nanda.
Linda mendekat pada Nanda dan memeluknya. "Syukurlah kamu pulang, nak. Mami sangat mengkhawatirkanmu." Mata Linda tertuju pada perut Nanda, "Cucuku." Lirih Linda sambil mengusap perut Nanda.
Linda mengambil sesuatu dari tas tangannya, ia mengeluarkan sebuah cincin, Linda meraih tangan Nanda.
"Menikahlah dengan Putraku, Pras. Mami melamarmu untuk menjadi istrinya. Apa kau mau?" Tanya Linda penuh harap.
"Mami merestui?" Tanya Nanda balik.
"Tentu saja Mami merestui, cuma kamu yang Mami mau untuk mendampingi Pras dan menjadi Mommy untuk Disya."
"Mommy tidak marah sama Nanda?" Tanya Nanda meyakinkan.
Linda tersenyum dan menggenggam tangan Nanda, "Yang sudah berlalu biarlah berlalu, kamu dan Pras saling mencintai, hiduplah dengan damai dan saling mengasihi, menjaga satu sama lain." Jawabnya bijak.
Nanda mengangguk kemudian Linda memakaikan cincin dijari manis Nanda sebagai tanda Linda melamar Nanda secara resmi untuk Pras.
Dan malam itu juga, Nanda resmi menikah dengan Pras.
Pras dengan lantang, dan satu kali tarikan nafas, berhasil menjadikan Nanda istrinya.
***
Regan tengan berdiri didepan jendela kamarnya bersama Ayla. Ia memikirkan hal demi hal.
"Baby..." Panggil Regan pelan.
"Hmm..." Jawab Ayla dengan berdehem.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Ayla lagi.
"Kamu." Regan membalikan tubuhnya dan memeluk Ayla.
"Aku?" Tanyanya.
"Ay, apa tidak sebaiknya kita pindah? Tabungan ku sudah cukup untuk membeli rumah meski tidak besar." Tanya Regan.
Ayla mengendurkan pelukannya, Regan membawa Ayla duduk disofa dan memangkunya.
"Bagaimana dengan Nanda?" Tanya Ayla pada Regan.
"Bukankah sudah ada Mas Pras?" Regan balik bertanya.
Ayla tampak berfikir, ia tidak ingin mengecewakan Regan, namun tidak ingin juga meninggalkan Nanda. "Bagaiman jika kita membeli rumahnya dulu, tapi kita masih tinggal disini untuk menemani Nanda hingga melahirkan dan sampai resepsi pernikahannya digelar. Ini pengalaman pertama Nanda, aku ingin menemaninya agar Nanda tidak stres menjelang persalinannya."
Mereka saling terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Apakah Papi akan merestui Nanda dan Mas Pras?" Gumam Ayla.
"Entahlah, Ay.. Semoga saja Papi berubah dan menerima kehadiran Nanda lalu melupakan kejadian dimasa lalu."
"Aku ingin meninggalkan rumah ini dalam kondisi Nanda yang baik-baik saja, bahagia dan diterima baik oleh Papi."
__ADS_1
Regan mengangguk, "Baiklah Baby, kalau begitu kita pindah jika Papi sudah merestui pernikahan Mas Pras dengan Nanda, sambil menabung juga untuk membeli perlengkapan isi rumah kita nanti."
Ayla tersenyum, kemudian mengecup sekilas bibir Regan. "Terimakasih untuk slalu mengertiku, Re."
Tangan Regan terulur untuk mengusap pipi Ayla, "Aku bersyukur menikah denganmu, Ay. Kamu juga begitu mengerti aku."
"Apa karna kita dulu bersahabat? Jadi seperti sudah saling mahami?" Ayla mengecup sekilas bibir Regan kembali.
Regan tertawa, "Sepertinya begitu, dan kamu Baby, kamu membangunkan yang di bawah sana. Bertanggung jawablah."
"Baiklah, aku akan melayanimu, suamiku yang super mesum."
Regan menarik pinggang Ayla dan menempelkan keningnya di kening Ayla. "I love u."
***
Disya memilih tidur bersama Nanda, ia enggan untuk pulang kerumah Pras bersama Linda.
"Sini Mommy peluk." Kata Nanda sambil merentangkan kedua tangannya pada Disya.
Disya masuk kedalam pelukan Nanda, "Disya mau ikut Mommy tinggal disini." Ucapnya.
Nanda mengelus rambut panjang Disya, "Iya, Disya akan tinggal disini bersama Mommy, Mommy akan buatkan kamar yang cantik untuk princess Mommy yang cantik ini."
"Kamar yang penuh dengan tinker bell, Mom?" Tanya Disya antusias.
"Tentu saja, Mommy akan buat kamar dengan thema tinker bell."
"Adik bayi nanti tidur dimana?"
"Nanda mengarahkan tangan mungil Disya keperut Nanda untuk mengusapnya. "Sementara adik bayi, tidur sama Mommy dulu."
Pras melihat interaksi Nanda dengan Disya, ia tersenyum lalu ikut bergabung diatas ranjang.
"Disya seneng gak mau punya adik?" Tanya Pras.
"Seneng banget Dad, adik Disya ada dua, Ryu dan adik bayi."
Nanda tersenyum, "Maafkan Mommy yang lama meninggalkan Disya."
"Mommy jangan lagi tinggalin Disya ya, harus ajak Disya pergi."
Nanda mengangguk, "Sudah malam, ayo tidur sama Mommy dan Daddy." Ajak Nanda yamg menahan kantuknya sedari tadi.
Pras menyelimuti dua wanita yang ia cintai, lalu mengecup keningnya satu persatu, kecupan Pras juga turun keperut Nanda yang sudah membuncit.
Pras melihat kedamaian diwajah Nanda dan Disya, "Daddy akan menjaga kalian."
Nanda mendengarnya, namun rasa kantuknya membuat ia berat membuka kedua matanya.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1