BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Kedatangan Yuda


__ADS_3

"Nona Sarah sudah ketemu Pak." Ucap Toni pada sang Bos, Yuda.


"Berikan informasi apa yang kau dapat." Jawab Yuda datar.


"Nona Sarah sudah menikah, dengan Ceo ARDA Karya Group."


Yuda menyeringai, "Melepaksan hiu demi mendapatkan paus, pintar juga anak itu." Gumam Yuda.


"Tetapi Nona Sarah menjadi istri siri CEO ARDA Karya Group." Sambung Toni lagi.


Yuda memijat pelipisnya, "Bodoh, hanya seorang wanita simpanan, ternyata."


"Anda akan lebih terkejut jika tau siapa CEO itu."


Yuda mengernyitkan dahinya, "Siapa?"


"Raja, mantan kekasih Nona Sarah disekolahnya dulu."


Yuda berdiri dari kursi kebesarannya, "Apa? Anak ingusan itu jadi CEO?" Tanya Yuda tak percaya.


"Dia menikahi putri satu-satunya Presdir ARDA Karya Group."


"Ternyata anak itu memang mengincar anak gadis orang kaya agar hidupnya instan dan terjamin masa depannya. Tapi Sarah terlalu bodoh, karna anak ingusan itu hanya menumpang dan bukan pemilik segalanya."


Tidak menunda waktu, Yuda dan Toni segera pergi kekota J untuk untuk menemui Sarah.


Sarah dan Raja berada dalam satu rumah, tetapi kini Raja lebih banyak mengabaikan Sarah, bahkan Raja tidak pernah mengantarkan Sarah untuk memeriksakan kandungannya. Terlebih kini usia kandungan Sarah sudah memasuki usia sembilan bulan dan hanya tinggal menunggu waktu kelahirannya saja.


Raja bersikap tidak perduli pada Sarah, ia baru menyadari bahwa ia sangat mencintai Nanda kehilangan Nanda membuatnya kacau dan seperti kehilangan arah.


Meski Raja pernah menyakiti Nanda dengan berpoligami dan ikut dalam hasutan Olivia dan Sarah untuk mencuri beberapa aset Nanda, namun dilubuk hatinya yang paling dalam, ia sebenarnya tidak ingin melakukan semua hal itu.


"Raja, mau sampai kapan kamu mendiami aku seperti ini, aku juga istrimu dan sedang mengandung anakmu." Kesal Sarah.


Raja hanya menatap sinis pada Sarah, dan hal itu membuat Sarah semakin kesal.


"Raja!!" Pekik Sarah semakin kesal karna Raja tidak menjawab apa yang Sarah bicarakan.


Raja berdiri dengan malas dan mengambil kunci mobilnya.


"Raja, please. Kenapa kamu jadi begini sama aku?" Tanya Sarah.


Raja membalikan tubuhnya menghadap Sarah, "Karna kamu sudah merusak hidupku!!" Bentak Raja.


"Oh come on Raja, kamu sendiri yang masih mencintaiku, kamu sendiri yang mau masuk kedalam rayuanku." Jawab Sarah enteng seperti tanpa beban.


Raja menghela nafas, "Ingat ya Sar, setelah bayi itu lahir, aku akan menceraikan kamu, silahkan kamu tinggalkan rumah ini karna rumah ini aku beli untuk Nanda."


Sarah tertawa, "Nanda tidak berhak atas rumahmu ini, Raja, tapi anakmu lah yang lebih berhak, dan karna aku ibu kandungnya maka aku juga akan tinggal disini."


"Kamu memang gila, Sar!! Kamu sudah menghancurkan hidupku, menghancurkan rumah tanggaku bersama Nanda."


Raja melangkah pergi, namun saat ia membuka pintu rumah, Raja terkejut saat melihat Yuda dan Toni didepan pintu rumahnya dengan senyum Yuda yang menyeringai.


"Hai, menantuku. Apa kabarmu?" Tanya Yuda sinis.


"Papa." Gumam Sarah.


Mata Yuda tertuju pada perut Sarah yang sudah membuncit, "Anak bodoh." Umpat Yuda.


"Apa kalian tidak menyuruhku untuk masuk?" Tanya Yuda.


Raja tersenyum sinis, "Masuklah, dan segera bawa anakmu keluar dari rumahku." Ucap Raja sedikit berbisik seolah mengejek.


Yuda tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Raja? Ada apa dengan Raja, mengapa ia menyuruhnya untuk membawa Sarah keluar dari rumahnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Yuda.


Raja tertawa kemudian menghampiri Sarah dan seolah merangkulnya, "Aku hanya menikahinya Siri, lagi pula aku bukan orang pertama yang menyentuhnya, bahkan aku ragu anak yang berada didalam kandungan ini adalah anakku." Raja mendorong Sarah untuk lebih dekat dengan Yuda.


Yuda menangkap Sarah,


"Raja, kenapa kamu seperti ini, ini adalah anakmu!!" Pekik Sarah.


Raja tersenyum sinis, "Setelah anak itu lahir, aku akan test DNA, jika memang dia anakku, aku akan bertanggung jawab hanya untuk ankku, bukan ibunya. Tapi jika dia bukan anakku, maka aku tidak akan pernah mengakuinya!!"


"Kurang ajar kau anak ingusan!!" Yuda hendak melayangkan bogem kewajah Raja namun Raja menghindarinya membuat Yuda tersungkur.


"Mungkin sebelas tahun yang lalu, aku adalah anak ingusan, tapi saat ini, kamu adalah orang tua yang payah, bahkan aku bisa menghancurkan pabrik kecilmu itu dan membuatnya tutup."

__ADS_1


Yuda berdiri dan menatap tajam Raja,


"Aku tau kamu sama dengan Sarah, sama-sama licik, kalian memandangku sekarang hanya karna aku memiliki kedudukan, asal kalian tau, aku tidak akan mencuri apapun dari istri dan mertuaku yang jauh lebih baik dari kalian."


"Tapi Nanda tidak akan mau kembali padamu, tetap saja, dia sudah tau perselingkuhanmu, dan mencuri beberapa kekayaan Nanda." Ucap Sarah licik.


"Dan aku akan mengembalikan semuanya, semua uang direkeningmu dan Olivia sudah kutarik semua." Jawab Raja tak kalah sinis.


"Olivia? Apa ini Olivia yang sama dengan wanita simpananku?" Batin Yuda.


"Raja ini tidak adil untukku!!" Teriak Sarah,


"Awsshhh" Sarah memegang perutnya, Toni menopang Sarah.


"Pak, sepertinya Nona Sarah mau melahirkan." Ucap Toni.


Yuda menarik kerah baju Raja namun Raja menghempaskannya.


"Bawa Sarah kerumah sakit!!" Teriak Yuda.


Raja berdecih, "Bukan urusanku, silahkan kau bawa anak ja*lang mu itu."


"Pak Yuda, ketuban Nona Sarah sudah pecah." Toni semakin panik saat melihat air yang mengalir dikaki Sarah.


"Aku tidak akan melepaskanmu." Bisik Yuda.


Raja tertawa, "Aku menunggumu, calon mantan Papa mertuaku."


Yuda merasa geram, namun ia segera meninggalkan Raja dan membawa Sarah dari rumah Raja untuk menuju rumah sakit.


Dirumah sakit.


"Ayo berbaring, Ay." Ucap Regan pada Ayla.


"Lucu ya Re, aku periksa kandungan ke dokter, dan dokternya itu suami aku sendiri."


Regan tertawa, lalu mengecup perut Ayla yang sudah duduk dibrankar pasien.


"Aku juga berasa mimpi, biasanya aku meriksain kandungan calon ibu lain, tapi semenjak kamu hamil, aku juga periksa bayi yang merupakan anak aku sendiri diperut calon ibu yang merupakan istriku."


Ayla mengusap kepala Regan, "I love U, Re."


"Love U too and Love U more, Ay."


Regan mulai mengoleskan gel diperut Ayla lalu menempelkan tranducer atau alat USG diperut Ayla.


"Assalamualaikum anak Papa." Ucap Regan terharus saat mulai melihat gerakan lincah sang bayi diperut Ayla.


"Alhamdulillah, anak kita sehat, Ay. InsyaAllah sempurna. Letak placenta nya juga bagus. InsyaAllah bisa lahir normal." Ucap Regan yang terus fokus dan mengulas senyum selama memeriksa kandungan Ayla.


"Kel*aminnya ga berubah, Re?" Tanya Ayla.


"Engga, masih sama, laki-laki." Jawab Regan.


"Kita coba USG Four Dimensi ya, Ay."


Terlihat dimonitor, wajah bayi yang lebih jelas karna USG dengan 4D.


"Wajahnya, Ay."


"Mirip kamu, Re." Celetuk Ayla.


"Jelaslah, kan aku Papanya." Ucap Regan bangga.


"Bibirnya mungil, kayak kamu, Ay."


"Tau banget." Sindir Ayla.


"Jelas taulah, tiap hari nyobain." Regan tertawa.


"Ishh dokternya mesum nih Dek." Kata Ayla mengajak bicara pada calon Bayi.


Mereka tertawa, lalu Regan menyudahi memeriksa Ayla, membersihkan perut Ayla yang masih berlumuran gel.


"Aku deg-degan Re." Ucap Ayla saat membenahi pakaiannya.


"Jangan gugup, Ay. Harus rilex, nanti aku buat jalan lahir terus tiap malam." Jawab Regan sambil menaik turunkan halisnya.


"Itu sih mau kamu."

__ADS_1


Regan tertawa lalu membawa Ayla untuk duduk dipangkuannya. "Serius, Ay. memang di trimester ke tiga itu harus sering berhubungan, kan teorinya udah aku bilangin kekamu, makanya sering aku praktekin."


Ayla mengecup sekilas bibir Regan, "Iya dokterku sayang."


Mereka keluar dari ruangan Regan, Regan terus saja menggenggam tangan Ayla, seolah enggan melepaskannya.


"Dokter Regan." Panggil Pras yang menuntun gadis kecil, Disya.


Regan dan Ayla menoleh bersamaan.


"Sedang periksa istri?" Goda Pras.


"Eh iya, Dokter Pras." Regan menjawab sambil tersenyum.


Pras memperhatikan wajah Ayla terutama bagian matanya. "Mata istri dokter Regan benar-benar mirip dengan mata Mami." Batin Pras.


"Hai, anak cantik, kita ketemu lagi." Ucap Ayla pada Disya.


"Hai Auntie. Apa Auntie akan punya dedek bayi?" Tanya Disya dengan mata berbinar. "Boleh Disya pegang?" Tanya Disya.


Ayla tersenyum dan mengajak Disya duduk dikursi tunggu untuk passien, dan wajahnya menjadi sejajar dengan Disya.


Ayla juga menuntun tangan mungil Disya untuk mengusap perutnya.


"Wow, amazing. Babynya gerak Dad." ucap Disya antusias pada Pras.


Ayla merasa gemas dengan Disya.


"Disya juga mau bilang Mommy, minta adik bayi." Ucap Disya polos.


Regan berfikir bahwa Pras sudah menikah lagi. "Dokter Pras sudah menikah lagi?" Tanya Regan.


Pras menjadi salah tingkah, "Ah tidak, bukan itu maksudnya. Tapi.." Pras menggaruk keningnya yang tidak gatal itu.


"Disya punya Mommy, Mommy Disya cantik." Celoteh Disya.


Pras semakin salah tingkah.


Hingga seorang suster menghampiri, "Maaf dokter Pras, dokter Regan. Ada dua pasien darurat yang akan melahirkan."


Pras mengangguk, "Dokter Regan, sepertinya kita ada panggilan." Ucap Pras.


"Daddy, Disya disini dengan Auntie ya." Sahut Disya.


"Apa tidak merepotkan?" Tanya Pras yang bingung memanggil Ayla.


"Panggil saja Ayla, dok." Ayla tersenyum.


"Dan senyumnyapun mirip dengan senyum Mami, hanya ada satu lesung pipi dikiri." Batin Pras.


"Biar Disya bersama saya, saya akan mengajaknya ke kafetaria." Ucap Ayla.


"Terimakasih Ayla." Ucap Pras.


"Baby, aku tugas dulu sebentar ya, nanti aku susul kesana." Regan mencium kening Ayla didepan dokter Pras.


Ayla membawa Disya ke kafetaria rumah sakit, sementara Regan bersama Pras keruang bersalin.


"Sarah." Gumam Regan yang mengenali Sarah.


"Dokter Regan kenal? ini pasien yang akan saya tangani." Ujar Pras.


"Dia kekasih kakak tiri saya, Dok. Tapi hubungan kami tidak baik." Jawab Regan yang kemudian mengedarkan pandangannya mencari sosok Raja namun tidak ia temui.


"Biarkan pasien ini urusan saya, dokter Regan passien satunya lagi." Ucap Pras yang diangguki oleh Regan.


Sementara dikafetaria,


"Enak dimsumnya Sya?" Tanya Ayla pada Disya.


Disya mengacungkan dua jempolnya, "Enak." Jawabnya. "Nanti Disya mau makan ini juga sama Mommy."


Ayla mengusap rambut panjang Disya. "Mommy Disya pasti baik."


Disya mengangguk, "Mommy baik dan cantik. Nanti kalo Auntie melahirkan, Disya ajak Mommy untuk lihat adek bayi."


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2