
"Regan kuliah dikota S?" Tanya Ayla tak percaya.
"Kamu gak tau hal ini Ay?" Tanya Nanda.
"Regan gak cerita, Nan."
Ayla tertegun, pikirannya kacau namun masih bisa mengendalikannya.
"Nan, bisa kita bicara berdua?" Tanya Ayla kemudian matanya tertuju pada Raja yang duduk disebelah Nanda.
"Aku kesini sama Mas Raja, Ay." Jawab Nanda hati-hati.
Ayla menghela nafas, dirinya memang tidak pernah bisa memaksa Nanda.
"Aku pulang aja ya Nan, rumahku kan dekat dari sini, nanti aku bisa jemput kamu lagi." Ucap Raja mengalah seakan mengerti ketidaknyamanan Ayla.
"Maaf ya Mas." Lirih Nanda.
Raja tersenyum dan mengusap puncak kepala Nanda.
Setelah Raja pulang, tinggalah Ayla bersama Nanda.
"Ada apa Ay?" Tanya Nanda pada Ayla.
"Kamu pacaran sama Bang Raja?" Tanya Ayla hati-hati.
Nanda menggigit bibir bawahnya lalu perlahan mengangguk.
"Dan Regan tau itu Nan." Ayla menatap sendu pada Nanda. "Regan menyukaimu." Ucap Ayla terbata seolah menahan sesak didadanya.
Nanda sama sekali tidak terkejut, ia mengetahui perasaan Regan terhadap dirinya. Regan yang penuh perhatian, Regan yang selelu mementingkannya, Regan yang slalu ada untuk Nanda. Namun Nanda juga mengetahui bahwa Ayla menyukai Regan, terlihat bagaimana cara Ayla menatap Regan dengan penuh arti, dan hal itu semakin kuat saat Nanda menemukan foto Regan dilaci nakas sisi tempat tidur Ayla.
"Nan.." Panggil Ayla pelan.
"Regan ga boleh suka sama aku Ay, karna aku calon kakak ipar dia." Nanda tertawa, tawa yang dipaksakan.
"Regan akan pergi, Nan." Lirih Ayla dan Nanda mengentikan tawanya.
"Kita kerumah Regan sekarang Ay." Ajak Nanda yang diangguki oleh Ayla.
Nanda memanggil taxi online dan menuju rumah haris bersama Ayla untuk menemui Regan.
Diteras rumah Haris, terlihat Raja yang tengah mencuci motor matic kesayangannya.
"Lho, koq kesini?" Tanya Raja lembut pada Nanda.
"Hmm, Mas. Aku sama Ayla kesini mau ketemu Regan. Ada urusan." Ucap Nanda pelan.
"Nanda, Ayla." Suara seseorang memanggil kedua sahabat itu.
"Om Haris." Nanda dan Ayla berhambur menghampiri Haris, mencium punggung tangan Haris bergantian kemudian memeluk Haris.
Raja yang melihatnya merasa heran, ternyata Nanda begitu dekat dengan Ayah tirinya itu, sementara Olivia memasang wajah sinis karna tidak suka Nanda dan Ayla yang begitu dekat dengan Haris. Olivia sebagai anak tirinya saja tidak pernah bisa akrab begitu dengan Haris.
"Lama kalian tidak kesini." Ucap Haris.
"Iya maaf Om, dan maaf juga waktu hari kelulusan, Nanda gak sempet hampirin Om." Ucap Nanda.
__ADS_1
"Iya Gak apa-apa, waktu itu juga Om buru-buru karna harus balik kekantor lagi, dan untungnya Om sempat ketemu Papamu di parkiran."
"Iya Om, Papa cerita." Ucap Nanda.
"Kalian cari Regan?" Tanya Haris.
"Regan ada, Om?" Tanya balik Ayla.
"Ada, dikamarnya. Kalian mau kekamar Regan, atau nunggu Regan turun sambil nemenin Om minum teh?"
"Kami kekamar Regan dulu ya Om, ada urusan dulu." Ucap Ayla hati-hati.
"Baiklah Ayla, kalian naiklah keatas."
Nanda dan Ayla segera menuju ke kamar Regan, Nanda pergi tanpa menoleh lagi kearah Raja, seolah tidak menganggap keberadaan Raja.
Raja pun segera menyelesaikan kegiatannya mencuci motor, ia ingin menyusul Nanda dan mencari tau ada masalah apa.
"Kalian ngapain kesini?" Tanya Regan saat membuka pintu kamarnya setelah Ayla mengetuk pintu kamar Regan.
Nanda langsung masuk begitu saja kekamar Regan dan duduk dipinggir tempat tidur Regan.
Regan menghela nafas melihat sikap Nanda yang asal itu.
"Kenapa gak bilang?" Tanya Nanda penuh selidik.
"Bilang apa?" Tanya Raja santai sambil bersidekap dada.
"Kuliah dikota S." Kali ini Ayla yang menyahut.
"Impianku jadi dokter, kalian tau kan? dan aku berhasil diterima disana, universitas negri juga mendapatkan bea siswanya."
"Iya Nan, itu pemikiranku dulu saat Ayah belum menikah dan memiliki anak tiri yang harus Ayah biayai juga. Ayah hanya seorang pegawai negri sipil Nan, gak mungkin bisa membiayai kuliahku di universitas swasta apalagi kedokteran, sementara ada adik tiriku yang masih butuh biaya juga." Jawab Regan menjelaskan dan cenderung beralasan.
"Papa ku mau bantu kamu Re, Papa mau jadi orang tua asuh kamu."
"Stop Nan, jangan teruskan bicara soal membantu. Aku ingin kuliah dengan kemampuanku, bukan atas belas kasihan orang." Ucap Regan.
"Re.. Apa kamu lupa, aku bisa bersekolah ditempat elit bersama kalian, dan kuliah juga dibiayai Om Aryo, apa kamu berfikir aku ini pantas menerima belas kasihan dari Om Aryo?." Sahut Ayla lirih.
Sepertinya Regan salah bicara, ia menyinggung Ayla.
"Ay, bukan itu maksud aku. Bukan maksud aku untuk mengingatkanmu hal itu." Regan merasa menyesal akan ucapannya.
"Aku gak mau kamu pergi Re." Ucap Nanda.
"Gak bisa Nan, aku harus pergi mengejar impianku menjadi dokter."
"Lalu bagaimana dengan aku dan Ayla? bukankah kita harus saling menyayangi dan menjaga?"
"Nan, ada masanya seseorang harus fokus untuk mengejar masa depan."
Nanda menghela nafas. "Kamu jahat." Nanda mulai terisak, Ayla segera merangkul Nanda dan ikut menangis.
Regan merasa tidak tega, ia menyakiti Nanda dan juga Ayla.
Regan bersimpuh dihadapan Nanda yang masih duduk ditepi tempat tidur. "Jangan nangis Nan, Ay, aku pergi untuk mengejar cita-citaku, impianku." Regan memeluk kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
Diam-diam Raja mendengarkan semua keributan mereka. Raja sungguh tidak menyangka, Nanda sedekat itu dengan Regan.
Mereka masih dikamar Regan, saling diam dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Wajah yang sembab kini menghiasi wajah mereka.
Nanda berdiri kemudian mulai melangkah, pergerakan Nanda membuat Regan dan Ayla mendongakkan wajahnya masing-masing.
"Nan mau kemana?" Tanya ayla dengan pelan.
"Pulang Ay," Jawab nanda dengan nada pelan juga saat sudah sampai diambang pintu kamar Regan.
"Aku antar Nan." Sahut Regan.
"Gak usah Re, lebih baik kamu antar aja Ayla." Nanda melangkah pergi, namun Regan menyusulnya dan diikuti oleh Ayla.
"Biar aku antar Nan." Regan mencekal tangan Nanda.
Nanda menatap kebagian lengan yang Regan tahan, lalu melepaskannya kasar. "Lepas!! aku bilang antar aja Ayla. Aku bisa pulang sendiri."
"Biar Regan mengantarmu Nan." Sahut Ayla.
"Aku gak mau diantar sama Regan, Ay."
"Nanda!!" Panggil Regan dengan nada tinggi.
Nanda hanya diam tidak menjawab.
"Biar gue yang anter Nanda pulang." Suara Raja memecah ketegangan ketiga sahabat itu.
"Gak bisa, Nanda pulang sama gue Bang." Ucap Regan tegas.
"Nanda gak mau Re, jangan lu paksa." Jawab Raja sambil melepaskan cekalan tangan Regan dilengan Nanda.
"Nan, please. Biar aku yang antar kamu." Regan memaksa.
"Lu kenapa maksa Nanda sih Re? Nanda bilang dia gak mau dianter lu." Ucap Raja.
"Dan Nanda juga gak bilang mau dianter sama lu juga kan Bang, udah deh ini urusan gue sama Nanda."
"Jelas ini urusan gue, Nanda pacar gue. Kenapa lu maksa? lu suka sama Nanda? Hah?" Raja mulai tersulut emosi.
"Mas." pekik Nanda untuk menghentikan keributan.
"Sebentar Nan, aku belum selesai sama Regan." Ucap Raja pada Nanda. Raja kembali menatap sengit Regan. "Jawab, lu suka sama sahabat lu sendiri?"
Regan mengepalkan tangannya, dan Raja terus mendesaknya.
Regan balas menatap sengit pada Raja, lalu dengan lantang berkata, "Iya, lu bener Bang. Gue emang suka sama sahabat gue sendiri. Gue suka sama Ayla." Regan meraih lengan Ayla yang sedari tadi berdiri disisinya.
Ayla tertegun, sementara Nanda membulatkan kedua matanya.
"Yakin Ayla yang lu suka?" Tanya Raja menyelidik.
"Iya, gue menyukai Ayla. Dan apa yang gue perbuat ke Nanda karna gue gak mau buat Ayla khawatir. Kalo lu mau anter Nanda pulang, silahkan." Regan masuk kedalam kamarnya meraih jaket yang tergantung dibalik pintunya, lalu keluar dan menarik tangan Ayla melewati Nanda dan Raja begitu saja.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....