
Nanda duduk melamun dipinggiran kolam renang, menatap air yang tenang dan tak terusik. Pikirannya melayang jauh kemasa lalu, saat pertama ia bertemu dengan Ayla yang malang dan menyedihkan namun Ayla slalu ceria dan membawa aura positif, hal itulah yang membuat Nanda menyukai Ayla dan bersahabat dengannya.
Nanda pun mengingat pertama kali mengenal Regan hingga berlanjut dengan persahabatnya bersama Regan dan Ayla.
Nanda sempat jatuh hati pada Regan dengan segala perhatian dan perlindungan serta kepekaan Regan terhadap dirinya yang membuat Nanda nyaman. Tapi Nanda slalu menepis perasaannya saat ia melihat tatapan mata Ayla yang begitu mendamba ketika menatap Regan. Nanda tau, Ayla menyukai Regan.
"Melamun sendirian." Suara Aryo menghentikan lamunan Nanda.
"Eh Papa." Nanda tersenyum saat melihat kearah Aryo dan kembali melihat kearah kolam renang.
Aryo duduk disebelah Nanda dan ikut melihat kearah kolam renang.
"Regan dan Ayla, mana diantara mereka yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Aryo.
Nanda tersenyum tipis, pandangannya masih lurus kedepan menatap kolam renang yang tenang. "Kenapa Papa bisa berpikir seperti itu?" Tanya Nanda.
"Tadi sewaktu acara dipanti, Papa melihat kamu yang terus memperhatikan Ayla dan Regan. Tell me your problems, baby."
"Ayla jatuh cinta pada Regan Pa, dan Ayla merahasiakannya sendiri." Ucap Nanda dengam tersenyum.
"Andai Regan ada dua, Papa mau Regan satu untukmu dan satu untuk Ayla."
"Tapi Regan hanya ada satu, dan Nanda lebih memilih Regan bersama Ayla, Pa."
Aryo terdiam, "Apa yang membuat kamu menginginkan Regan untuk Ayla?"
Nanda menghela nafas, "Kalau Nanda gak sama Regan, setidaknya Nanda masih punya Papa." Hening sejenak, "Tapi kalau Ayla yang gak sama Regan, Ayla akan sendirian Pa."
Aryo mengangkat tangan kanannya, merangkul Nanda, putri kesayangannya. "Sepertinya Papa banyak melewatkan waktu bersama putri Papa, sejak kapan kamu bisa berfikir dewasa begini? hem?" Tanya Aryo.
Nanda menyandarkan kepalanya dalam rangkulan Aryo. "Nanda sayang Papa."
"Jangan khawatir, sayang. I'll make it okay."
***
"Nanda mana nih." Tanya Regan pada Ayla saat mereka menunggu Nanda didepan gerbang sekolah.
"Iya, tumben Nanda belum datang, biasanya Nanda on time." Sahut Ayla sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Coba telpon Nanda Ay." Regan mulai resah.
Ayla menelpon Nanda dengan ponselnya. "Gak aktif terus Re." Ucap Ayla.
Regan mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas dengan kasar, "Masuk Ay, udah mau bel." Regan menarik tangan Ayla untuk segera masuk sebelum gerbang dikunci.
Sementara dirumah Nanda,
"Papa gak kerja?" Tanya Nanda dengan suara lemah.
Aryo duduk disisi tempat tidur Nanda, mengusap kepala Nanda. Sejak subuh tadi, Nanda mengalami demam tinggi hingga mengigau memanggil sang Mama yang sudah tiada.
"Kamu lebih penting untuk Papa, dan Papa akan menjagamu." Aryo tersenyum diwajah yang mulai menua.
"Harusnya Papa menikah lagi, supaya punya anak laki-laki yang nantinya bisa bantuin Papa diperusahaan." Ucap Nanda lirih.
"Menikah itu bukan karna untuk punya anak Nan, menikah itu karna cinta, teman hidup yang kita cintai."
"Papa mencintai Mama?"
"Tentu saja. Papa sangat mencintai Mamamu hingga Papa tidak ingin mengganti posisi Mamamu di hati Papa dan dirumah ini."
Menjelang siang, Nanda membuka ponsel yang ia lupa aktifkan. Terlihat berapa banyak pesan masuk dari Ayla dan Regan yang terus-terusan menghubunginya karna khawatir.
"Maaf Re, Ay, aku demam jadi gak sekolah, hp baru aktif."
Pesan Nanda di grup chat mereka.
"Pulang sekolah, aku sama Ayla kerumah." -Regan-
"Mau dibawain apa Nan? Batagor mang cecep dengan bumbu terpisah mau?" -Ayla-
"Ay tau banget yang aku mau." -Nanda-
__ADS_1
"Okey Nan, istirahat ya. Nanti kita mampir." -Regan-
Nanda melihat satu pesan belum terbaca dari Raja.
"Hai Princess, hari ini mau les jam berapa?"
"Gak les dulu Mas, aku demam. Ini juga gak sekolah."
Tidak ada balasan dari Raja.
Selang setengah jam, Raja sudah berada dirumah Nanda.
"Lho kamu disini, gak kuliah?" Tanya Aryo saat melihat Raja berdiri diteras.
"Hari ini satu mata kuliah, Om, dan kebetulan sudah selesai." Jawab Raja.
"Tapi sepertinya Nanda gak les dulu, Nanda lagi sakit."
Raja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Saya kesini untuk nengok Nanda, Om."
Aryo menganggukan kepalanya.
"Nak Raja, bisa saya minta tolong?" Aryo tengah bingung. Pasalnya tadi ia mendapatkan telpon dari asistennya akan perihal meeting dadakan yang tidak bisa ditunda.
"Iya Om, ada apa?"
"Om ada meeting dadakan, kamu bisa nemenin Nanda disini? nanti siang ada kedua temannya datang juga sih, sambil nunggu mereka datang."
"Bisa Om."
Aryo tersenyum kemudian menepuk bahu kiri Raja. "Terimakasih Raja."
Raja menemani Nanda diruang televisi.
"A lagi." Bujuk Raja saat menyuapi Nanda buah potong.
"Cukup Mas, aku udah kenyang." Tolak Nanda.
"Nanggung dikit lagi." Bujuk Raja.
Raja tersenyum, kemudian memasukan sisa potongan buah tersebut kemulutnya seraya memakannya.
"Ishh Mas, itu bekas aku." Ucap Nanda dengan nada tidak enak.
"Gak apa-apa, bekas calon pacar ini. Dari pada mubazir." Jawab Raja santai.
Wajah Nanda bersemu merah, bukan karna demam, melainkan merasa malu.
"Kenapa diam? gak mau ya jadi calon pacar aku?" Tanya Raja dengan tersenyum tipis.
"Calon mulu dari kemarin, kapan jadi pacar benerannya." Nanda menggigit bibir bawahnya.
Raja mengusap bibir Nanda. "Jangan digigit, nanti aku kebablasan cium kamu." Raja tersenyum, sementara wajah Nanda sudah bersemu merah.
Hening sejenak, hanya ada suara televisi.
Nanda dan Raja tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Dan tanpa disadari Nanda menyandarkan kepalanya dibahu kanan Raja.
"Nan.." Panggil Raja dengan lirih.
"Iya.." Jawab Nanda.
"Bentar lagi ujian kan Nan, jaga kesehatan, fokus belajar."
"Iya Mas. Aku mau bikin Papa bangga."
Raja menggenggam tangan Nanda. "Sebenarnya aku gak percaya diri Nan untuk jadi pacar kamu, tapi aku akan berusaha memantaskan diri supaya kamu juga nanti bangga sama aku. Jadi aku harap, kamu mau tunggu aku, setidaknya sampai kamu lulus sekolah."
"Non, ada non Ayla didepan." Ucap Bibi memecah kecanggungan antara Raja dan Nanda.
"Kenapa gak disuruh masuk Bi?" Tanya Nanda yang kini melepaskan sandarannya dari bahu Raja.
"Aku ke toilet dulu Nan." Sahut Raja yang kemudian berdiri dan menuju kamar mandi didekat dapur.
__ADS_1
"Nungguin den Regan markirin motor, eh malah ngobrol sama pak Amin."
Nanda tertawa, "Ya udah suruh masuk aja Ayla nya Bi, nungguin Regan mah lama, pasti main catur dulu atau bahas bola sama pak Amin."
Tak lama kemudian Ayla masuk menghampiri Nanda. "Nandaaa."
"Ayyy.." nanda merentangkan tangannya dan masih bersandar pada sofa empuknya.
Ayla memeluk Nanda lalu duduk disebelah Nanda. "Kenapa bisa sakit?"
"Udah waktunya sakit Ay, biar dimanja Papa, kamu dan Regan." Jawab Nanda manja sambil mengendurkan pelukannya.
"Batagor mang Cecep." Ayla menunjukan satu kantung plastik putih dihadapan Nanda.
Seketika membuat mata Nanda berbinar. "Ahh laperrr."
"Hish dasar, kalo udah lihat batagor kayak lihat berlian, langsung berbinar."
Ayla berdiri dan menuju dapur untuk memindahkan batagor dari bungkusnya ke dalam piring. Sementara itu Regan masuk menemui Nanda.
"Lama banget." Ucap Nanda saat melihat Regan yang menghampirinya.
"Diajak ngobrol dulu tadi sama Pak Amin." Jawab Regan santai.
"Pasti ngomongin pertandingan bola semalam."
Regan nyengir dan mencubit kedua pipi Nanda, "Nanda tau banget."
"Ayla mana?" Tanya Regan yang melepas cubitan itu dari pipi Nanda.
"Kedapur, mindahin batagor."
Regan mengangguk dan Mata Regan tertuju pada sebuah ransel, Regan seperti mengenali ransel tersebut, terlebih tadi saat menaruh motornya, percis bersebalahan dengan motor seseorang yang mirip dengan motor yang Regan kenali.
"Ada tamu Nan?" Tanya Regan yang kemudian menatap sacangkir kopi yang tinggal setengahnya.
"Guru les ku Re." Jawab Nanda.
Sementara didapur, Ayla membawa piring berisikan batagor dan akan membawanya keruangan televisi. Namun dirinya berpapasanan bahkan hampir bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf." Ucap Raja.
Ayla menatap heran pada wajah Raja, dirinya memperhatikannya dan merasa pernah melihat sebelumnya.
"Maaf, anda siapa?" Tanya Ayla yang merasa heran karna baru pertama kali melihat sosok pria asing dirumah Nanda meski ia merasa pernah bertemu sebelumnya.
"Saya guru les nya Nanda." Jawab Raja, "Kamu?" Tanya Raja kemudian.
"Saya temannya Nanda." Jawab Ayla.
Mereka jalan beriringan keruang televisi.
Mata Raja tertuju pada Regan yang tengah asik tertawa bersama Nanda.
"Regan." Gumam Raja yang terdengar oleh Ayla. Raja merasa terkejut saat melihat Regan yang terlihat dekat dengan Nanda.
"Kamu kenal Regan?" Tanya Ayla yang kemudian menghentikan langkahnya.
Raja tidak menjawab pertanyaan Ayla dan fokus memperhatika Regan bersama Nanda.
"Apa cewek yang dimaksud Raja adalah Nanda, cewek yang **s**usah ia gapai?" Batin Raja.
Ayla merasa aneh akan sikap Raja lalu berjalan cepat menghampiri Nanda dan Regan. Raja pun menyusul langkah Ayla.
"Bang Raja." Regan merasa terkejut saat kedua matanya melihat Raja yang ada dirumah Nanda.
"Kalian saling kenal?"
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....