BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Teman


__ADS_3

"Non, maaf ada tamu didepan yang mencari Non Nanda." Ucap Bu Amir pada Nanda yang tengah duduk bersama Ayla dan Aryo diruang televisi.


Bu Amir yang bernama Ning itu kini menjadi pengasuh Ryu. Sedangkan Pak Amir menjadi Security bersama Pak Amin dirumah Aryo. Mereka sangat senang bekerja pada keluarga Aryo, pasalnya keluarga Aryo memperlakukan mereka dengan sangat baik dan gaji yang layak. Bahkan sebagai tanda terimakasih Nanda pada mereka, Nanda membelikan mereka sebuah rumah dikampungnya, agar jika suatu saat mereka ingin pensiun, mereka tlah memiliki rumah jika ingin pulang kampung.


Aryo dan Ayla melirik kearah Nanda.


"Siapa Bi?" Tanya Nanda.


"Saya lupa menanyakannya, Non. Seorang Pria bersama anak kecil."


Nanda mengangguk, "Terimakasih, Bi." Nanda berdiri dari duduknya.


"Biar Papa temani." Sahut Aryo.


"Mas Pras, Disya.." Panggil Nanda dengan tak percaya melihat Pras dan Disya datang kerumahnya malam-malam.


"Mommyyy..." Disya berlari kearah Nanda dan Nanda memeluk juga menggendongnya.


"Mommy?" Tanya Aryo.


"Pa.. Nanti Nanda jelaskan." Ucap Nanda yang melihat kebingungan pada Aryo.


"Mommy kenapa gak pulang kelumah Disya lagi? Mommy malah ya sama Disya kalna Disya buat Mommy jatuh." Disya terus berada dalam pangkuan Nanda, karna kini mereka duduk bersama diruang tamu.


"Maaf Nan, Disya tidak mau tidur, Disya bilang kangen dan ingin bertemu kamu." Kilah Pras berbohong.


Nanda mengusap kepala Disya, "Maafkan Mommy, Sya."


"Mommy malah sama Disya?" Tanya disya dengan khas cadelnya.


"No, Sayang.. Tapi Mommy sudah ingat dimana rumah Mommy. Mommy pulang kerumah Mommy." Nanda mencoba menjelaskan.


"Apa Mommy tidak akan pulang kelumah Disya lagi? Disya bukan anak Mommy lagi?"


Hati Nanda terenyuh, sungguh ia menyayangi Disya, "Mommy tetap Momny Disya, Disya bisa main kapan aja kerumah Mommy."


Ayla menyusul keruang tamu dengan membawa Ryu.


"Hai anak cantik." Sapa Ayla.


Disya hanya diam dan terus memeluk Nanda.


"Mommy, adik bayi siapa itu?" Tanya Disya.


"Itu adik bayinya auntie Ayla. Disya mau lihat?"


Disya mengangguk,


Nanda menggendong Disya mendekat pada Ayla.


"Lucu sekali adik bayinya." Ucap Disya dengan mata berbinar.


"Mommy, Disya mau tidul sama Mommy dilumah Mommy, boleh?"


"Tentu saja boleh, tapi Disya harus ijin dulu sama Daddy ya."


"Disya, kan Disya hanya ingin bertemu Mommy aja." Ucap Pras, padahal dalam hatinya ia berharap Disya benar-benar menginap dirumah Nanda, dengan begitu besok Pras bisa bertemu kembali dengan Nanda.


"Mas, kalau boleh Biar Disya menginap disini, besok kan minggu hari libur."


"Apa tidak merepotkanmu, Nan?" Tanya Pras.


Nanda tersenyum, "Tidak apa, Mas. Aku juga sangat merindukan Disya." Jawabnya.


"Baiklah, besok aku akan kesini lagi untuk membawa pakaian ganti Disya."


"Nak Pras." Panggil Aryo.


"Iya Om."


"Saya ingin mengucapkan terimakasih karna slama ini tlah menjaga Nanda dengan baik. Maafkan saya yang belum sempat kerumahmu untuk mengucapkan terimakasih langsung kepada orang tuamu juga."


"Tidak apa-apa Om, Saya mengerti kondisi Om dan Nanda yang sedang banyak masalah. Orang tua sayapun memahaminya, dan merekapun titip salam untuk Om dan juga Nanda." Balas Pras dengan santun.


Nanda ijin membawa Disya kekamarnya karna sedari tadi Disya terus menguap. Setelah Disya berpamitan pada Pras dan mencium pipi Pras, Nanda langsung membawa Disya kekamarnya diikuti oleh Ayla yang sudah terlebih dahulu menitipkan Ryu pada Bi Ning.

__ADS_1


Sementara Pras, masih mengobrol bersama Aryo diruang tamu, ditambah saat itu Regan baru saja pulang dari rumah sakit, membuat Pras semakin betah berlama-lama dirumah Aryo.


"Mommy, kamal Mommy besal sekali." Ucap Disya yang kini berbaring ditempat tidur Nanda.


"Disya suka?" Tanya Nanda.


"Disya mau nginep disini telus boleh ya Mom?"


Nanda tersenyum dan mengusap kepala Disya yang membuat perlahan Disya menutup matanya dan tertidur.


"Disya sangat menyukaimu, Nan." Ucap Ayla.


"Dia sangat dekat denganku, Ay."


"Kenapa Disya bisa memanggilmu Mommy?" Tanya Ayla.


"Waktu Mas Pras menemukanku, Disya menyangka aku adalah Mommy nya yang sudah pulang. Disya kekeh menganggap aku Mommynya, dan aku tidak tega jika tidak mengiyakannya. Aku melihat Disya seperti melihat diriku sendiri, Ay. Butuh sosok seorang ibu, karna itu aku tidak keberatan jika Disya menganggapku ibunya." Jelas Nanda.


"Dokter Pras sepertinya menyukaimu." Ayla mulai membuka obrolan soal Pras.


Nanda mengerdikan bahunya, "Aku tidak bisa melarang orang lain untuk menyukaiku, Ay. Aku wanita tidak sempurna, aku tidak ingin menjalin hubungan kembali dengan pria manapun."


"Nan, kamu tidak boleh seperti itu. Life must go on, Nan."


Nanda menggelengkan kepalanya, "Aku hanya ingin fokus pada perceraianku dulu, Ay. Setelahnya aku ingin fokus pada perusahaan dan Papa. Aku tidak mau lagi terbuai dengan rasa nyaman yang diberikan oleh pria."


"Lalu bagaimana dengan Disya?"


Nanda menatap wajah Disya yang sudah tertidur pulas, "Seiring jalannya waktu, Disya pasti mengerti bahwa aku bukanlah Mommynya. Tapi jika Disya ingin terus menganggapku sebagai Mommynya, dengan senang hati aku mau menerimanya."


Ayla menatap Nanda yang kini banyak berubah, tidak ada lagi Nanda yang ceria, yang ada hanyalah Nanda dengan kesedihan mendalamnya, kekecewaan yang menjadikan Nanda lebih dewasa."


***


"Liv, bagaimana kamu bisa membayar sewa apartemen ini, bukankah Raja sekarang tidak pernah memberimu uang lagi?" Tanya Sarah pada Olivia.


"Oh itu, iya Kak, aku kan ikut usaha dengan temanku, jual beli berlian bersama temanku." Jawab Olivia berbohong.


"Kamu bisnis berlian?" Tanya Sarah lagi.


Olivia mengangguk, "Ya lumayan Kak."


"Gawat, kak Sarah sepertinya mulai mencurigaiku. Aku harus segera membuat Bang Raja menerima kembali Kak Sarah sebelum Kak Sarah tau kalau aku adalah wanita simpanan om-om dan mengadukanku pada ibu ataupun bang Raja." Gumam Olivia.


***


Keesokan harinya, Pras tampak ceria, ia bersiul saat menuruni anak tangga, hatinya tengah senang karna hari ini akan menjemput Disya dirumah Nanda yang artinya Pras bisa bertemu kembali dengan Nanda.


"Inget Pras, Nanda itu masih istri orang." ucap linda dengan bercanda.


"Haissh Mami.. Iya Pras tau Mam, lagi pula Pras kesana mau jemput Disya." Jawabnya santai.


"Anakmu kamu jadiin alasan. Besok ngelamar Nanda pasti bawa-bawa nama Disya deh." Cibir Irwan.


Pras tertawa, kedua orangtuanya sangat mengetahui sifat dan watak anak sulungnya itu."


Disya sarapan bersama Nanda dan keluarganya. Aryo sangat menyukai Disya karna menurutnya, Disya sangat cerewet hingga membuat rumah menjadi ramai.


"Disya tidak usah pulang, tinggal disini saja bersama Kakek." Ucap Aryo.


"Papa.." Pekik Nanda.


Aryo tertawa, "Papa gak sabar nunggu Ryu besar juga biar ramai rumah ini."


Ayla dan Regan tersenyum,


"Sepertinya dokter Pras menyukai Nanda, Pa." sahut Regan yang duduk percis didepan Nanda.


"Re, apaan sih!! cowok-cowok gosip aja." Nanda melempar Regan dengan buah jeruk yang berhasil ditangkap oleh Regan.


"Non, ada tamu yang semalam, dokter Pras." Ucap Bi Ning.


"Suruh masuk kesini Bi, untuk sarapan bersama." Sahut Aryo.


"Papa.." Nanda mulai salah tingkah.

__ADS_1


"Tidak apa, Nan." Jawab Aryo.


"Ciye-ciye grogi." Ledek Regan, Ayla langsung menyikut perut Regan sebagai isyarat menghentikan candaannya.


"Regan!!" pekik Nanda.


Tidak lama kemudian Pras datang dan Aryo menyuruhnya duduk disamping Disya yang duduk disamping Nanda.


"Ayo dokter Pras, sarapan juga." Ucap Aryo.


"Terimakasih, Om." Jawab Pras.


Mau tidak mau, Nanda mengambilkan nasi goreng kepiring Pras.


Regan, Ayla dan Aryo hanya tersenyum dan saling melirik satu sama lain. Terlihat jelas Pras yang mengulas senyum dan terus memperhatikan Nanda.


Selesai sarapan, mereka lanjut ngobrol diruang televisi.


"Disya gak mau pulang, Dad. Kata Kakek, Disya disuluh tinggal disini."


Aryo tertawa, "Tidak apa jika Disya mau menemani Kakek disini."


Robi datang untuk membawakan berkas yang Nanda butuhkan.


"Jadi besok kamu akan kembali keperusahaan? sudah siap bertemu Raja?" Tanya Aryo.


Nanda mengangguk, "Berkas perceraian sudah disiapkan oleh pengacara Pa, besok Nanda sendiri yang akan memberikannya pada Mas Raja."


"Bagaimana jika Raja menolak bercerai denganmu, Nan?" Tanya Ayla.


"Aku tidak perduli, Ay. Setelah memberikan surat cerai, aku akan mengeluarkannya dari kantor." Jawab Nanda.


"Sahammu akan kembali saat kamu kembali keperusahaan, Nan." kata Robi sambil memberikan berkas pada Nanda.


"Bagaimana saham Mas Raja?" Tanya Nanda.


"Saham Raja tidak bersifat permanen, yang artinya kamu bisa kapan saja menariknya kembali." Terang Robi.


"Aku akan mengembalikan Mas Raja, selingkuhannya dan Olivia ke titik nol lagi." Nanda menjeda kalimatnya, "Bekukan rekening Bang Raja, siapkan bukti-bukti penggelapan dana perusahaan, Mas Raja harus mengembalikan dana yang ia gelapkan atau mereka masuk penjara." Titah Nanda.


"Kamu tidak akan melaporkannya kepolisi, Nan?" Tanya Ayla.


"Ingin, Ay. Rasanya aku ingin sekali menjebloskan mereka kepenjara, namun aku mengingat bayi mungil tidak berdosa itu, aku tidak ingin membebankan Ayah Haris. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka, aku hanya ingin memberinya pelajaran, mengambil semua aset yang mereka miliki, aku ingin mereka kembali keasalnya, tidak memiliki apapun."


Setelah obrolan mereka selesai, Robi berpamitan untuk pulang, Aryo beranjak kekamar untuk istirahat, Ayla juga kekamar untuk menyusui Ryu dan diikuti oleh Disya juga Regan. Sementara Nanda dan Pras, mereka kini berada dihalaman belakang.


"Jadi besok kamu akan mulai bekerja?" Tanya Pras.


Nanda mengangguk, "Aku anak Papa satu-satunya. Tidak mungkin terus mengandalkan Ayla karna Ayla sendiri punya bisnis yang juga harus ia urusi."


"Nan.." Panggil Pras.


"Ya." Nanda menoleh kearah Pras.


"Kita masih bisa bertemu kan?"


"Tentu saja, Mas. Kita kan teman, pasti nanti ketemu lagi." Jawab Nanda menekankan kata teman dikalimat yang ia ucapkan. Entah mengapa, saat Nanda mengatakan itu ada perasaan yang ia sendiri tak bisa memahaminya.


"Ya, kita teman." Pras mencoba menerimanya, ia ingin pelan-pelan dan tidak memaksa untuk mendekati Nanda. Pras ingin Nanda menyelesaikan dulu perceraiannya lalu ia akan mendekati Nanda lagi.


Jawaban Pras membuat hati Nanda tidak karuan, entah mengapa Nanda punya rasa takut jika Pras sampai benar-benar hanya menganggapnya teman. Namun pikiran Nanda sendiri juga tidak mau punya hubungan lebih. Hati dan pikiran Nanda tidak sejalan.


"Aku akan membawa Disya pulang, maaf jika aku membebanimu soal Disya, Disya sudah sangat terbiasa bersamamu."


"Tidak, Mas. Jangan berfikir seperti itu. Aku tidak keberatan jika Disya tetap menganggapku Mommynya. Disya boleh menginap disini kapan saja dia mau Mas, antarkanlah kesini jika Disya ingin kesini."


Pras hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Perlahan aku akan akan memberikan pengertian pada Disya, bahwa kamu bukan Mommynya."


Deg..


Ada perasaan tidak nyaman saat Pras mengatakan hal itu, tidak Nanda pungkiri. Nanda sangat menyayangi Disya dan menginginkan Disya untuk menjadi anaknya.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2