
"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Regan sambil memeluk Ayla dari belakang.
"Aku bahagia, Re. Sangat Bahagia." Jawabnya.
Regan mengeratkan pelukannya, "Apa kamu akan tinggal bersama orang tua mu?"
Ayla berbalik menghadap Regan. "Hanya untuk sementara, apa kamu keberatan?"
Regan menggelengkan kepalanya, "Tidak.. Aku mengerti bahwa kamu masih merindukan mereka."
"Terimakasih, Re." Ucap Ayla bahagia.
Tiga hari kemudian Pras tengah bersiap untuk kembali kekota,
"Dasar bucin, baru gak ketemu tiga hari, sekarang kamu udah mau nyusulin Nanda pulang." Ledek Linda saat mereka makan siang bersama.
"Harusnya Pras pulang kemarin Ma, Kalau bukan karna ada penutupan jalan akibat pohon tumbang, mungkin Pras sudah pulang kemarin dan ketemu Nanda." Jawab Pras.
"Segera lamar Nanda, Mas." Sahut Ayla yang kini memanggil Pras dengan panggilan Mas.
"Aku juga maunya gitu, Han. Tapi Nanda masih kelihatan Ragu." Ujar Pras.
"Ya dimaklum dong, Mas. Nanda masih trauma dengan pernikahannya yang dulu." Jawab Ayla membela Nanda.
Sementara Irwan, ia memikirkan hal lain soal Papa nya Nanda yang hingga kini belum ia temui seolah enggan bertemu dan menghindar darinya. Irwan sangat penasaran dengan wajah Aryo Darmawan, ia mencari data soal Aryo dan lagi-lagi data itu tidak dapat dilacak oleh orang-orang suruhannya.
Pras menyetir seorang diri, sementara Disya masih berada di resort bersama yang lainnya. Pras sudah sangat terlalu rindu pada Nanda, ia akan menyusul Nanda kekantornya.
Namun Pras menelan pil kekecewaan saat Denis memberitahu Pras soal Nanda yang tengah berada di kota lain untuk meninjau proyeknya.
Nanda memang tengah meninjau proyeknya, ini adalah kunjungam terakhirnya sebelum Nanda meninggalkan negri ini. Biasanya ini adalah tugas Robi, namun Robi tengah disibukan membuat identitas baru Nanda dan Aryo untuk bisa keluar dari negri ini, Robi juga membuat passport dan visa yang baru untuk Nanda dan Aryo. Ia mempunyai orang dalam agar prosesnya bisa berjalan dengan cepat.
Pras pun menyusul Nanda ke kota K, ia sungguh tidak bisa menahan diri lagi untuk menunda pertemuannya. Denis memberitahu Pras dimana Nanda menginap. Sebelumnya Denis memberitahu Nanda dan Nanda mengijinkan Denis untuk memberitahu Pras dimana keberadaannya saat ini.
Pras memaksakan diri untuk bertemu dengan Nanda karna dua hari lagi ia akan menghadiri seminar kesehatan di rumah sakit miliknya dikota B slama tiga hari.
Nanda tengah makan malam seorang diri dihotel kota K yang merupakan kota wisatawan. Hotel ini memang sangat penuh saat akhir pekan seperti saat ini. Pras mengedarkan pandangannya untuk mencari Nanda direstoran, dan matanya tertuju pada seorang wanita cantik yang sedang menikmati makan malam di dekat jendela besar sambil menikmati pemandangan lampu hias di malam hari.
"Sendirian?" Tanya Pras seolah tidak kenal.
Nanda tersenyum, sungguh ia sangat rindu pada sosok Pras.
Nanda berdiri dan langsung berhambur memeluk Pras, "Kangen." Ucapnya manja.
Pras terkesiap melihat Nanda yang tiba-tiba saja menjadi manja seperti ini. Namun hatinya merasa senang dan segera membalas memeluk Nanda bahkan mengecupi puncak kepala Nanda.
Nanda mengendurkan pelukannya dan mengajak Pras duduk dan makan malam bersama.
"Sepertinya kita harus pulang malam ini juga." Ujar Nanda disela-sela makan malamnya.
"Kenapa?" Tanya Pras.
"Hotel ini penuh, tadi aku sudah mencari kamar untukmu, namun tidak ada yang kosong."
Pras tersenyum smirk, "Aku akan tidur bersamamu dikamarmu." Pras menggoda Nanda.
"Boleh." Jawab Nanda santai.
Pras membulatkan bola matanya, "Serius, Honey."
Nanda menatap mata Pras. "Dua rius malah."
Pras mengernyitkan dahinya, "Udah ga takut kalo aku kebablasan?"
Nanda mengerdikkan bahunya, "Engga, kan bentar lagi kamu nikahin aku." Jawabnya masih dengan sangat santai.
"Gak takut aku lari?" Tanya Pras dengan menaikan satu halisnya.
__ADS_1
Nanda tertawa, "Sebelum kamu yang lari, aku duluan yang akan lari meninggalkanmu." Perkataan Nanda terdengar ditelinga Pras seperti sebuah candaan, namun siapa sangka itu akan menjadi kenyataan, sayangnya Pras tidak menyadari itu.
Setelah mereka menyelesaikan acara makan malamnya, Nanda beranjak ke room nya dan diikuti oleh Pras.
"Mau pulang atau mau menginap Mas? ini sudah malam." Tanya Nanda setelah mereka masuk kedalam room.
"Aku ingin menginap tapi aku tidak membawa pakaian ganti."
"Lepas aja bajumu Mas, taruh dilaundry hotel, besok udah bisa dipakai lagi."
"Terus aku tidur bagaimana?"
"Gak usah pake baju, Mas." Jawab Nanda santai.
Pras merasa tergoda karna sedari tadi ia merasa Nanda terus menggodanya. Pras mendekat pada Nanda yang sedang merapihkan isi lemarinya lalu memeluk dan mencium tengkuknya.
"Mas, gelii..." Ucap Nanda pelan.
"Dari tadi kamu terus menggodaku. Aku tidak bisa tahan."
Nanda tertawa, "Ya udah ga usah ditahan." Balasnya lalu membalikan tubuhnya menghadap Pras, melingkarkan tangannya dileher Pras dan mengecup bibirnya Pras sekilas.
"Oh Nanda jangan memancingku." Kini Pras memagut bibir Nanda dan entah mengapa Nanda memperdalam ciumannya, bahkan ia sendiri yang menahan tengkuk Pras.
Pras yang merupakan pria normal merasa terpancing, ia sungguh tak memikirkan apapun, dalam fikirannya jika malam ini sampai terjadi sesuatu, maka ia akan langsung menikahi Nanda secepat mungkin.
Ciuman mereka berubah menjadi ciuman panas dan menuntut, jari jemari Nanda dengan lincah membuka kancing kemeja Pras satu persatu, sementara tangan Pras juga menurunkan resleting dress dibalik punggung Nanda.
Seketika Tubuh Nanda hanya tinggal berbalut penutup bukit kembar dan segitiga pengamannya saja, sementara Pras hanya bagian dada nya yang sudah terbuka.
Pras menggiring Nanda ketempat tidur, ia menindihnya dan menatap mata Nanda. "Aku tidak bisa berhenti jika kamu mengijinkannya." Ucap Pras dengan suara parau.
Tangan Nanda terulur mengusap pipi Pras, "Lakukanlah." Ucapnya sedikit berbisik.
Pras menatap Nanda dengan tatapan penuh cinta dan damba, dengan hasrat yang tengah menggelora, sementara Nanda entah apa yang ada dalam pikirannya. Ia hanya ingin menyampaikan salam perpisahan kepada Pras, perpisahan yang tidak akan terlupakan untuk Nanda, Nanda pun berfikir, tidak apa ia melakukan hal serendah ini, anggap saja sebagai penebus rasa bersalah Papanya pada keluarga Pras yang tlah menculik Ayla. Ya, Nanda sedang menebus kesalahan sang Papa.
"Tubuhmu indah sekali Honey." Ucap Pras saat berhasil membuka kaitan pembungkus bukitnya.
Nanda hanya diam dengan tatapan yang tak bisa diartikan, sementara Pras sudah berhasil bermain diatas bukit, menghi*sapnya bagai bayi yang kehausan dan satu tangannya lagi mere*mas nya.
Nanda menikmatinya, ia meremas kepala Pras yang berada ditengah-tengah bukit kembarnya, tanpa Nanda sadari ia mulai melayang terbawa oleh permainan Pras.
Nanda yang tidak pernah merasakan pelepasan dipernikahan sebelumnya pun merasakan perbedaan, Pras mampu membuatnya terbuai dan melayang dengan sentuhan sentuhan di beberapa area sensitif Nanda. Pras memang pandai membuat pasangannya slalu merasakan puas terlebih dahulu, bahkan Pras slalu menjadikan Nanda sebagai fantasinya dan kini ia melakukannya secara nyata.
Bless..
Akhhh...
"Kamu pasti melakukan treatmen, milikmu masih sempit sekali?" Bisik Pras tepat diwajah Nanda.
"Aku slalu merawatnya untuk suamiku nanti." Jawab Nanda.
"Apakah itu diriku?"
Nanda tersenyum, "Kamu yang sekarang berada di atasku, bukan?"
"Aku akan segera menjadikanmu istriku."
"Terimakasih." Jawab Nanda singkat.
Pras memulai pergerakannya, Nanda merespon dengan menyambutnya.
"Kamu nikmat sekali, Honey. Aku tidak bisa berhenti." Racau Pras.
"Faster Dad..." Balas Nanda.
"Tentu saja, Honey." Pras semakin cepat menggerakan pinggulnya.
__ADS_1
"Ahh Mas, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu Honey."
Pras menumpahkan rasa rindunya, sementara untuk Nanda ini adalah salam perpisahannya.
Mereka saling memberi kenikma*tan dan menghabiskan malam panjangnya hanya dengan bercin*ta.
Pras terus mengulang aktifitasnya seolah tidak ada bosannya, entah mereka melakukannya berapa kali, yang jelas mereka baru tertidur setelah menjelang subuh.
***
Sinar matahari menembus gorden jendela, Perlahan Nanda mengerjapkan matanya, Ia bersandar didada bidang Pras dan tangan Pras menjadi bantalannya.
Nanda menengadahkan wajahnya melihat wajah tampan Pras, ia mengusapnya perlahan, air matanya kembali menetas dipipinya.
"Maafkan Papaku Mas, maafkan Papaku." Batin Nanda.
Pras membuka matanya saat tetesan air mata Nanda jatuh mengenai kulitnya. "Hai, kamu kenapa?" Tanya Pras yang khawatir melihat Nanda menangis.
Nanda hanya diam, masih dengan menatap wajah Pras.
Pras menganggap dirinya tlah menyakiti Nanda karna telah meniduri Nanda sebelum ikatan pernikahan.
"Honey, maafkan aku. Aku janji akan tanggung jawab, aku akan segera menikahimu." Pras mengecupi seluruh wajah Nanda, sungguh ia merasa sangat bersalah. Padahal bukan hal itu yang membuat Nanda menangis, Nanda menangisi nasibnya, ia tidak akan pernah bisa bersatu dengan Pras karna kesalahan yang dibuat oleh Papanya sendiri.
Nanda bangkit dari tempat tidur, ia akan beranjak kekamar mandi namun tangannya dicekal oleh Pras.
"Aku minta maaf. Sungguh aku akan menikahimu Nan."
Nanda menangkup wajah Pras, "Aku menangis karna bahagia." Nanda tersenyum.
Pras menggendong Nanda kedalam kamar mandi, ia berendam bersama dengan Nanda di dalam bathup.
"Kita pulang hari ini?" Tanya Pras.
"Apa kamu sedang terburu-buru?"
"Tidak, hanya saja besok aku harus kekota S, ada seminar kesehatan disana. Kamu mau ikut, Honey?" Pras menelusuri pundak Nanda yang terbuka dengan bibirnya.
"Aku ingin, tapi aku tidak bisa, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Jawab Nanda.
"Aku akan merindukanmu." Tangan Pras sudah menjalar ketubuh Nanda.
"Ishhh nyosor aja." Nanda tertawa.
"Abisnya kamu enak banget, bikin aku males dan maunya dikamar terus makan kamu."
"Andai bisa seperti itu, Mas. Sayangnya ini pertemuan terakhir kita." Batin Nanda.
"Aku harus segera menikahimu, bagaimana jika kamu hamil duluan? Aku tidak memakai pengaman dan menaburnya didalam." Ucap Pras sambil mengusap perut Nanda.
"Aku sangat berharap jika aku memang bisa hamil. Tapi kamu tenang saja Mas, aku bermasalah, aku tidak akan mungkin hamil."
"Honey, kenapa kamu slalu berfikiran kalau kamu bermasalah? Padahal kamu belum pernah menjalankan medical check up."
"Sudahlah Mas, jangan dibahas. Hal itu hanya membuatku teringat kembali pada pengkhianatan mantan suamiku dulu."
Pras merasa bersalah ia hanya ingin membuat Nanda menghilangkan pikiran negatif ke dirinya sendiri.
"Maafkan aku." Pras mengecup sekilas bahu Nanda. "Setelah kita menikah, aku akan memeriksamu aku yakin tidak ada masalah didirimu, dan jikapun ada, aku akan mengobatinya."
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....