BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Nanda Pergi


__ADS_3

Ayla bangun dengan wajah sembab, Regan pun memutuskan untuk mengambil cuti secara dadakan, ia begitu mengkhawatirkan kondisi hati Ayla dan juga Nanda. Ini adalah pertama kalinya Ayla dan Nanda mempunyai masalah yang sama.


"Ay, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Regan penuh khawatir. Semalaman, Ayla sama sekali tidak berbicara, hingga ia tertidur.


"Aku baik, Re. Tidak perlu khawatir." Jawabnya.


"Kita berkemas, aku ingin pulang kerumah Papa Aryo. Aku ingin menemani Nanda. Pasti Nanda merasa sendirian." Ucapnya lagi.


Regan menangkup wajah Ayla, "Kamu tidak marah pada Nanda? Kamu tidak menyalahkan Nanda?" Tanya Regan.


"Mungkin aku sedikit shock, tapi kamu lihat sendiri kan Re, bagaimana perlakuan Papa Aryo selama ini sama aku?" Tanya Ayla.


Regan mengangguk,


"Aku menyayangi Papa Aryo, dia tetap pahlawan untukku. Dan Nanda tetap saudariku. Dulu, mereka slalu menjagaku, kini gantian aku yang akan menjaga dan menemani Nanda." Kata Ayla dengan tulus.


Regan mengangguk, "Baiklah, kita pulang kerumah Papa Aryo."


Ayla mulai mengemasi barang-barang yang ia bawa sebelum datang kerumah Pras, Ayla sama sekali tidak membawa apa yangs sudah diberikan Irwan padanya.


"Re, apa kamu membeli jam tangan baru?" Tanya Nanda saat memasukan barang-barang Regan.


"Oh bukan, itu hadiah dari Nanda." Jawab Regan.


Ayla mendekat pada Regan. "Hadiah? Kapan Nanda memberikannya?"


"Siang sebelum malamnya Papa Aryo drop dan dibawa kerumah sakit."


Ayla tampak berfikir, malam sebelum kejadian Aryo drop pun Nanda masih mengunjunginya. "Kenapa Nanda tidak menitipkannya padaku? hari itu juga Nanda kesini dan memberiku liontin ini." Ucap Ayla yang memperlihatkan liontin yang masih melingkar dileher Ayla.


"Ah anak itu, mungkin dia lagi gak ada kerjaan, abis dari sini ketemu kamu lalu kerumah sakit hanya untuk minta ditraktir bakso. Nanda bilang dia belikan jam tangan itu untuk Papa Aryo, taunya Papa Aryo udah punya jam tangan yang sama percis dengan jam tangan itu, jadinya Nanda kasih ke aku." Jelas Regan panjang lebar.


"Papa Aryo?" Tanya Ayla meyakinkan.


Regan mengangguk.


"Re, Papa Aryo gak suka pake jam tangan. bahkan Papa Aryo tidak punya satupun jam tangan karna Papa memang tidak menyukainya. Kulitnya bisa alergi jika memakai jam tangan dengan bahan apapun."


"Lalu, kenapa Nanda berbohong dengan mengatakan jam itu sebelumnya untuk Papa?"


Ayla pun berfikir, "Entahlah, mungkin memang Nanda ingin memberikannya untukmu, kamu kan suka menolak hadiah jika hadiah itu mahal, terlebih jam tangan ini harganya sangat fantastis."


"Ya, kamu benar." Jawab Regan.


selesai berkemas, Ayla dan Regan turun, mereka tetap sarapan bersama sekalian berpamitan untuk mulai tinggal bersama Nanda.


"Hana, menurut Mama, kamu selesaikan dulu masalahmu dengan Nanda. Bagaimana jika nanti Nanda yang tidak mau tinggal bersama kalian. Kasian Ryu kalau dibawa bolak balik."


"Iya Han, kunjungilah Nanda dulu, jika nanti keputusannya sudah ada, kalian bisa jemput Ryu kembali." Bujuk Pras.


Sementara Irwan hanya diam dan menyimak saja, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Aku akan ikut bersama kalian, biar Ryu tetap disini dulu." Ucap Pras.


"Lebih baik Mas tidak usah ikut, dan jangan dekati Nanda lagi. Mas tidak bisa membela Nanda. Aku kecewa sama Mas."


"Han, aku mohon. Aku ingin bertemu Nanda, aku sungguh mengkhawatirkan Nanda."


"Ay, sudahlah. Soal Mas Pras dan Nanda biar jadi urusan mereka. Sekarang kita lihat dulu Nanda." Bujuk Regan.


"Daddy, apa hari ini Disya dijemput Mommy?" Tanya Disya.


"Disya pulang dijemput Mbak dulu, ya. Mommy masih sakit." Jawab Pras.


"Disya mau ketemu Mommy."


"Iya, nanti siang Daddy bawa Disya bertemu Mommy." Jawab Pras sambil merapihkan dan menyelipkan anak rambut Disya kebelakang telinganya.


Disya mengangguk.


"Sya, anting-antingnya bagus sekali. Apa Oma yang membelikannya?" Tanya Pras.


"Bukan Dad, tapi ini dari Mommy."


Ayla yang mendengarnya merasa tak enak perasaan. "Kapan Mommy memberikannya Sya?"


"Kemarin waktu Mommy kesini dan main dikamar Aunti Ay. Kata Mommy, kalo Disya kangen Mommy, pegang aja anting anting ini." Jawab Disya polos sambil memakan roti lapisnya


Deg..

__ADS_1


"Ada yang gak beres Re." Ayla menoleh kearah Regan.


"Aku rasa juga begitu, kita berangkat sekarang, Ay."


Regan menarik tangan Ayla. Sementara Ayla menahannya sebentar.


"Mam, titip dulu Ryu." Pintanya.


"Pergilah Han, selesaikan dulu masalahmu. Mami akan menjaga Ryu."


Sementara Pras yang kurang peka pun menyusul Regan dan Ayla.


"Aku ikut bersama kalian." Ucapnya.


Mereka pergi dalam satu mobil, hingga tiba dirumah Aryo. Seseorang yang asing menghampiri Regan yang membuka kaca mobilnya.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya orang itu.


Regan dan Ayla saling pandang. "Dimana Pak Amin dan Pak Amir?" Tanya Regan.


"Maaf, anda cari siapa? Disini tidak ada yang bernama Amin maupun Amir. Saya bejo penjaga rumah ini yang baru."


"Saya Regan, saya dan istri saya tinggal disini." Ucap Regan.


Satu temannya ikut menghampiri. "Sepertinya mereka keluarganya juga, wajah mereka sama dengan yang ada difoto yang terpajang di ruang tamu."


Lalu kedua orang itu membukakan pintu gerbang. Ayla segera turun dan masuk kedalam rumah. Tampak beberapa pelayan yang wajahnya asing sedang membersihkan rumah.


"Kalian siapa?" Tanya Ayla.


Regan dan Pras pun segera menyusul Ayla.


"Maaf Non, saya Tini, dan ini teman saya Sri. Kami pelayan baru disini."


"Dimana Bi Ning dan Bi Nur?"


Tini dan Sri saling pandang. "Maaf Non, kami tidak tau. Pagi ini kami baru mulai bekerja disini dan sudah tidak ada orang disini."


Ayla segera berlari kekamar Nanda, diikuti Regan juga Pras.


Brakk


Namun kamar Nanda sunyi, rapih, dan tidak ada siapapun didalamnya.


Ayla segera menuju walk in closet, dilihatnya pakaian Nanda dan koper Nanda.


"Kopernya tidak ada Re. Nanda pergi. Nanda kemana Re." Ayla mulai dilanda panik.


"Sabar Ay. kita cari dulu." Jawab Regan menenangkan.


"Engga Re, Nanda pergi. Pasti Nanda pergi. Pasti Nanda beranggapan kalau dia hanya sendirian, dan aku marah padanya. Ya Tuhan, Nanda kamu kemana?" Ayla menangis. "Harusnya dari semalam kita susul Nanda, Re." Ayla semakin histeris.


"Ay, tenang Ay. Kita akan cari Nanda, jangan seperti ini." Bujuk Regan.


"Nandaaa.. Maafin aku Nan. Aku tidak mau kamu pergi." Ayla terlihat semakin kacau.


Regan memeluk Ayla. Sementara Pras ia merasa bersalah karna semalam tidak membela Nanda. Pras yang berjanji akan menjaganya, Pras yang berjanji akan menikahinya, kini kehilangan Nanda.


Seketika Pras mengingat kejadian sewaktu dikota K.


"Udah ga takut kalo aku kebablasan?"


Nanda mengerdikkan bahunya, "Engga, kan bentar lagi kamu nikahin aku."


"Gak takut aku lari?" Tanya Pras dengan menaikan satu halisnya.


Nanda tertawa, "Sebelum kamu yang lari, aku duluan yang akan lari meninggalkanmu."


Deg.. Degg.. Deg...


"Bodoh!! Aku memang bodoh." Umpat Pras dalam hati.


Ini semua sudah direncanakan Nanda. Nanda sudah mempersiapkan salam perpisahannya untuk kita semua." Gumam Pras yang terdengar oleh Regan dan Ayla.


Ayla dan Regan menatap Pras,


"Nanda memberikan anting-anting pada Disya, dan sepertinya itu adalah salam perpisahannya dengan Disya." Ucap Pras.


"Sepertinya memang begitu, bahkan dihari yang sama Nanda memberikan liontin untuk Ayla juga mendatangiku ke rumahsakit dan memberikanku jam tangan." Kata Regan.

__ADS_1


"Engga.. Nanda gak boleh pergi." kemudian Ayla pergi menuju kamarnya, ia mencari pasport Nanda yang pernah Nanda titipkan pada Ayla, karna Nanda pelupa dan sering melupakannya.


Matanya tertuju pada selembar kertas bertuliskan tangan Nanda diatas meja rias Ayla.


Dear Ayla.


Hai Ay.. Entah kamu membaca surat ini atau tidak. Tapi mungkin saat kamu membacanya, aku dan Papa sudah tidak berada disini lagi.


Aku ikut bahagia karna kamu akhirnya bisa menemukan keluargamu. Hidupmu kini sempurna, Ay. Ada Regan yang begitu mencintaimu, Ryu pelengkap kebahagiaanmu, orang tua yang begitu baik, dan seorang Kakak yang akan menjagamu.


Maka dari itu Ay, aku minta maafkan Papa, lepaskan Papa dan jangan hukum Papa.


jika kini kamu memiliki segalanya, maka yang aku punya hanya tinggal Papa, jika Papa tidak ada, aku hanya seorang diri. Bolehkan Ay aku memintamu untuk memaafkan Papa dan jangan menghukumnya kepenjara.


Aylaku sayang, jika kamu membenci Papa, maka bencilah aku juga, jika kamu menyayangiku, maka sayangilah juga Papa, maafkan perbuatannya. Aku berjanji, tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi.


Aku mohon, Ay. Ampuni dan lepaskan kami.


Salam sayang,


Nanda Alifia.


Ayla menjatuhkan kertas itu dan Regan mengambilnya dan membacanya.


"Nanda pergi, Re. Dia berfikir aku akan memenjarakan Papa. Kenapa Nanda berfikir seperti itu? Nanda bilang hanya punya Papa. Lalu apa artinya kita, Re?? Ya Tuhan, Nandaaa kenapa kamu berfikir seperti itu, mana mungkin aku memasukan Papa kepenjara. Pulanglah Nanda, mari kita hidup bersama." Ayla histeris kembali, Regan memeluk Ayla, Regan sendiripun merasakan kesedihan dari dua sahabatnya itu.


Pras juga membaca isi surat Nanda.


"Bodohnya aku.. Maafkan aku Nanda, maaf." Batin Pras.


"Nanda bilang akan pergi bersama Papa, itu tandanya Nanda sudah merencanakan kepergiannya jauh-jauh hari sebelum Papa sakit." Ucap Regan.


Regan dan Ayla mencari Robi, namun Robi enggan memberitahu Ayla.


meski Ayla memohon-mohon, Robi tetap tutup mulut, ia tetap pada pendiriannya untuk tidak memberitahu dimana Nanda berada.


"Kak, aku mohon. Beritahu aku dimana Nanda?" Pinta Ayla sekali lagi.


"Kakak tidak tau, Ay. Dan jika Kakak tau pun Kakak tidak akan memberitahumu." Robi tetap pada jawabannya.


"Aku akan terus mencari Nanda, Kak. Aku akan mencari walau tanpa bantuan Kakak."


Robi terdiam, ia tidak pernah melihat Ayla sehancur ini.


Nanda dan Ayla sama-sama hancur. Tapi Robi tetap memegang teguh janjinya pada mendiang Aryo untuk menjaga Nanda.


"Maafkan Kakak, Ay." Lirih Robi.


Kesetiaan Robi pada Nanda tidak perlu dipertanyalan lagi. Robi belajar dari Ramli sang Ayah untuk membalas budi pada keluarga Aryo dengan cara mengabdikan hidupnya seumur hidup.


Sementara di Amsterdam.


Robi sudah menyiapkan sebuah rumah yang akan Nanda tempati. Rumah yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau sehingga cocok untuk Nanda menjernihkan pikirannya. Nanda teinggal disana bersama beberapa pelayan yang sudsh disiapkan Robi untuk menemani Nanda.



Nanda masuk kedalam kamarnya, ia mengistirahatkan tubuhnya. Kamar yang tidak terlalu besar seperti kamarnya dulu, namun Nanda sangat menyukainya.



"Ay.. Apa kau merindukanku? Atau kini kau membenciku?" Tanya Nanda sambil memejamkan kedua matanya dan tertidur.


"Ayla, Regan, aku merindukan kalian." Gumamnya sebelum masuk kealam bawah sadarnya, berharap didalam mimpi Nanda dapat bertemu Ayla dan juga Regan.


***


Pras mengambil tindakan, ia menyuruh orang untuk mengawasi Robi. Pras yakin jika suatu saat Robi pasti akan mengunjungi Nanda.


Namun Robi bukanlah orang yang bodoh, ia dapat membaca pergerakan lawan. Hingga membuat Robi lebih waspada.


Diam-diam Irwan pun membantu Pras dan Ayla untuk mencari Nanda. Irwan menyesali perbuatannya, ia berjanji pada dirimya sendiri akan menemukan Nanda dan membawanya pulang untuk Pras dan Ayla.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2