BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Raja VS Regan


__ADS_3

Waktu berlalu dengan sangat cepat, pada akhirnya Raja lulus dengan nilai terbaik dan tertinggi disekolahnya.


Bahkan Raja mendapat nilai tertinggi dikotanya dan hal itu membuat Raja bisa masuk dan mendapatkan beasiswa di Universitas negri dikota J tempat ibunya tinggal lewat jalur prestasinya.


"Kapan kamu berangkat?" Tanya Sarah yang membantu Raja mengemas sisa pakaiannya, karna pakaian lainnya sudah dibawa oleh Rini.


"Nanti malam."


"Aku akan merindukanmu." Ucap nya lirih.


Raja mendekat kearah Sarah dan menarik pelan dagunya agar Sarah bisa menatap mata Raja.


"Tunggu aku Sar, aku akan berjuang untukmu." Ucapnya lembut.


Raja mendekatkan wajahnya kewajah Sarah kemudian mencium sekilas bibir ranum Sarah.


Sarah tidak menolaknya, hal itu membuat Raja semakin bebas, dia menahan tengkuk Sarah dan menciumnya dengan buas, Sarah pun membalas ciuman itu.


Ciuman itu terhenti ketika ponsel Sarah berdering. Sarah melepaskan pagutannya dan menjawab panggilan ponselnya, Sarah menjauh dari Raja saat menerima panggilannya.


Raja melanjutkan mengemas pakaiannya yang tertunda.


"Aku harus pulang Ja." Lirih Sarah.


"Tak bisakah kamu menemaniku hingga nanti malam aku berangkat Sar?" Pinta Raja.


Sarah menggelengkan kepalanya, "Maaf Raja, Papaku menelpon dan dia tau aku disini, aku tidak ingin membuatmu berada dalam posisi sulit."


Raja menghembuskan nafasnya kasar, "Akan aku buktikan pada Papamu, aku akan sukses."


Sarah mengusap pipi Raja. "Maafkan aku yang tidak bisa meeperjuangkan hubungan kita Ja."


Raja meraih tangan Sarah, "Bukan kamu yang salah Sar, salahkan diriku yang miskin ini dan tak pantas bersanding denganmu."


Sarah menggelengkan kepalanya, "Tidak Ja, kamu tidak salah. Maafkan aku."


Itu adalah kali terakhir Raja bertemu dengan Sarah.


***


Raja menaiki bis antar kota untuk tiba di Kota J, lalu dirinya menaiki ojek online untuk tiba dirumah Haris, Orang yang kini menjadi Ayah tirinya.


Raja menatap rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat nyaman itu dibanding rumah kontrakannya dulu bersama ibu dan adiknya.


Rini sudah menunggu Raja seorang diri, jelas saja karna waktu menunjukkan pukul sebelas malam, bahkan Haris dan Regan pun sudah tidur.


"Syukurlah kamu tiba dengan selamat Nak." Ucap Rini dengan lega.


"Dimana Oliv Bu?" Tanya Raja.


"Tentu saja sudah tertidur. Kamu kenapa ambil perjalanan malam?" Tanya Rini.


"Biar adem dijalannya Bu." Jawab Raja sambil mencoba mengedarkan pandangannya.


"Dimana kamarku Bu?"


"Diatas, bersebelahan dengan kamar adikmu, Regan."


"Adikku hanya Olivia seorang Bu."


"Jangan buat ibu malu disini Ja." Lirih Rini.


Raja hanya diam tidak menjawab, sementara Rini hanya menghela nafas, dia sangat tau watak Raja yang keras.


Raja masuk kedalam kamarnya, kamar yang tentunya lebih nyaman dibanding kamarnya yang dulu.


***

__ADS_1


Pagi menyambut dengan begitu hangatnya, Regan perlahan mengerjapkan matanya, hal yang pertama ia ingat adalah Nanda.


Entah mengapa Raja bisa mencintai Nanda namun tidak berani mengungkapkannya. Ia hanya berharap suatu saat nanti mempunyai keberanian untuk mengungkapkan perasaannya pada Nanda.


Regan meraih ponselnya lalu membuka akun medsosnya, meski ia menjadi sahabat Nanda, namun Regan juga menjadi stalker medsos Nanda dengan memakai akun palsunya.


"Kamu cantik Nan, aku begitu menyukaimu. Semoga aku bisa memantaskan diri untuk menjadi pasanganmu." Gumam Regan dengan lengkungan senyum dibibirnya.


Regan bergegas bangkit dari tempat tidurnya, ia meraih handuk dan akan mandi di kamar mandi diluar kamarnya, karna di kamar Regan tidak terdapat kamar mandi. Rumah Haris memang cukup besar, hanya saja fasilitas seperti kamar mandi hanya ada dikamar utama, dilantai atas yang diapit oleh dua kamar Regan dan Raja, juga didekat dapur.


"Apa semalam Raja jadi datang?" Tanya Haris saat sarapan bersama.


"Sudah Mas, semalam datang jam sebelas malam." Jawab Rini sambil menata menu sarapannya dimeja makan.


"Maaf aku tidak menemanimu menunggunya, kemarin pekerjaanku sedamg banyak dan aku lelah sekali."


"Tidak apa-apa Mas, aku mengerti." Rini menampilkan senyumnya.


Olivia dan Regan bersamaan tiba diruang makan dan duduk diposisinya masing-masing.


"Kamu sudah rapih, mau pergi Re?" Tanya Haris.


Regan mengangguk, "Nunggu Ayla kesini terus kami kerumah Nanda." Jawab Regan sambil menyeruput kopi susunya.


"Pagi-pagi, ada apa?"


"Om Aryo ngajak kami liburan ke pantai, katanya sih Om Aryo baru aja beli kapal boat Yah. Aku sama Ayla mau diajak nyebrang pulau pake boat yang baru Om Aryo beli."


"Keren sekali itu Re." Ucap Haris.


"Tadinya Om Aryo ngajakin Ayah juga, katanya udah lama gak main catur sama Ayah, tapi kan Ayah lagi sibuk."


"Iya, yang libur kan hanya anak sekolah, orang bekerja tetap masuk dan Ayah lagi banyak kerjaan, sampaikan salam Ayah pada Papanya Nanda."


Regan hanya mengangguk. Sementara Olivia terus memasang telinga mendengarkan obrolan Regan bersama Haris.


"Kaya banget kayaknya temen Kak Regan, andai aku bisa ikut, kan lumayan untuk foto dikapal buat sekedar pajangin di medsos aku. Biar semua temen lama ku tau, disini aku hidup enak." Gumam Olivia didalam hatinya.


"Mas ini Raja." Ucap Rini memperkenalkan. Karna Haris belum pernah bertemu dengan Raja sebelumnya, hal itu dikarnakan Raja yang slalu menghindar saat diajak berkenalan dulu.


"Raja, ini Om Haris, kamu bisa memanggilnya Ayah." Ucap Rini hati-hati.


Raja hanya diam tidak merespon.


"Raja, cium tangan Ayahmu dulu." Ujar Rini merasa tak enak.


"Dia bukan Ayahku." Jawab Raja dingin dan datar.


"Raja!!" Pekik Rini.


Raja berdiri dari duduknya dan menatap Rini, "Bu, dia memang suami Ibu, tapi dia bukan ayahku."


Regan yang sedari tadi menahan kesal akhirnya buka suara.


"Hei, setidaknya lu menghargai Ayah gue meski dia bukan Ayah lu, sama seperti gue yang menghargai ibu lu meski dia bukan ibu gue."


Raja menatap sinis kearah Regan, dan tatapan Regan tak kalah sengit.


Regan sudah mengepalkan tangannya seperti bersiap jika harus meninju wajah Raja yang menyebalkan itu.


"Raja, duduk!!" Perintah Rini.


Dengan terpaksa Raja duduk kembali.


Haris menghela nafas, namun dia harus bersikap bijaksana.


"Raja, saya tau saya bukan Ayahmu, tapi setidaknya sekarang Saya dan Ibumu sekarang pasangan suami istri dan kita semua terikat menjadi satu keluarga. Setidakanya terimalah keputusan Ibumu untuk menikah dengan saya. Saya tidak tau alasan apa kamu bersikap seperti pada saya, tetapi disini Saya adalah kepala keluarga, dan saya tidak menyukai keributan dipagi hari."

__ADS_1


Ketegangan terpecahkan ketika suara Ayla masuk keruang makan setelah dirinya dipersilahkan masuk oleh asisiten rumah tangga dan menyusul keruang makan, karna sebelum Ayla datang, melalui chat Regan menyuruhnya langsung masuk dan ikut sarapan bersama.


"Ayla duduklah." Panggil Haris.


"Maaf Om, sepertinya Ayla datang diwaktu yang tidak tepat." Ucap Ayla hati-hati.


"Tidak apa-apa Ayla, kamu sudah seperti anak Om sendiri, duduklah disebelah Regan."


"Maaf Yah, Regan mengajak Ayla untuk sarapan bersama."


Haris mengangguk.


Ayla makan dengan menunduk, dan Olivia terus saja memperhatikan interaksi Regan dengan Ayla.


Raja mendorong kursinya mundur dan berdiri,


"Raja, duduk. Ayah masih belum selesai." Ucap Rini tidak enak.


Raja menghela nafas kemudian duduk kembali, "Banyak sekali aturannya." Umpatnya.


Regan berdiri sambil mengepalkan tangannya. "Kalo lu gak suka banyak aturan, silahkan lu keluar dari rumah ini, gue gak terima lu ngedumel soal Ayah."


Raja juga berdiri kembali, "Gue gak ada urusan sama lu."


Regan semakin geram dan menarik kerah baju Raja, "Urusan Ayah juga urusan gue." Regan hendak melayangkan tinju diwajah Raja, namun dihalangi oleh Ayla.


"Re, udah Re." Ucap Ayla sambil menahan tangan Regan.


"Dia keterlaluan Ay." Jawab Regan.


"Udah Re, lepas.. Ingat kamu udah janji sama aku dan Nanda untuk tidak memukul orang lagi."


Regan menghela nafas dan melepaskan dengan kasar kerah baju Raja.


Haris berdiri dari duduknya, "Regan, Ayla, Ayo keteras." Haris melangkahkan kakinya menuju teras rumahnya.


"Lebih baik mulut lu diem dari pada bicara nyakitin orang." Ucap Regan sesaat setelah itu menggandeng tangan Ayla untuk menuju teras.


Rini duduk kembali dan memegang kedua kepalanya. "Kenapa kamu membuat posisi ibu jadi serba salah Ja. Sekali aja kamu buat ibu tenang."


Olivia mengusap punggung Rini. "Sudah Bu, nanti tekanan darah Ibu naik lagi."


Sementara diteras,


"Ayla, maaf kamu menyaksikan hal tidak baik dirumah ini." Ucap Haris.


"Sudah Om, jangan dipikirkan." Jawab Ayla.


"Yah, maafkan Regan." Sahut Regan lirih.


"Tidak apa Re, Ayah malah jadi merasa bersalah denganmu Nak."


"Tidak Yah."


"Bukankah kalian akan pergi bersenang-senang?" Tanya Haris.


"Ayah baik-baik saja?" Tanya Regan.


"Tentu saja." Jawab Haris santai. "Kalian mau bareng Ayah atau mau naik motor saja?"


"Naik motor aja ya Yah, arah rumah Nanda dan kantor Ayah kan berbeda."


Haris mengangguk, kemudian Regan dan Ayla berpamitan setelah mencium punggung tangan Haris.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2