
"Sini aku suapi, Ay." Regan mencoba meraih sendok dari tangan kiri Ayla, karna tangan kanan Ayla terpasang jarum infus.
"Tidak usah Re, Terimakasih." Jawab Ayla sambil mencoba makan meski sedikit kesulitan karna memegang sendok dengan tangan kiri.
Ada perasaan sedih dihati Regan mendapat penolakan dari Ayla. Regan merasa Ayla seperti menjaga jarak, padahal dulu mereka begitu dekat, sangat dekat.
Ceklekk,
Pintu ruang perawatan Ayla terbuka.
Terlihat Tyas, Doni dan Fathir memasuki ruangan Ayla.
"Ya ampun, Miss." Tyas berhambur memeluk Ayla setelah Regan beranjak dari sisi brankar Ayla dan duduk disofa.
"Kalian kesini? Technical meeting nya udah beres?" Tanya Ayla yang masih saja memikirkan pekerjaanya.
"Jangan dulu dipikirin, Miss. TM udah beres dan gak ada kendali. Tadi juga Mas Fathir banyak bantu kita kordinasi dengan EO rekanan." Jawab Doni.
Pandangan Ayla beralih pada Fathir, "Makasih Mas, udah banyak bantu." Ucap Ayla tulus.
Tyas beranjak, yang tadinya duduk disisi brankar Ayla kini berdiri dan digantikan oleh Fathir.
"Sama-sama. Lebih baik kamu banyak istirahat biar cepet pulih. Ada luka serius?" Tanya Fathir dengan tatapan hangat.
"Engga, hanya benturan keras dikepala dan memar dibeberapa bagian. Tapi hasil check semua bagus." Jawab Ayla.
Fathir tersenyum, "Lagi makan ya, sini aku bantu." Ucapnya.
"Eh jangan Mas." Ayla berusaha menolak.
"Tangan kanan kamu diinfus, kamu kan gak kidal, mana bisa makan pake tangan kiri." Fathir mengambil alih sendok dan mulai menyuapi Ayla.
Regan yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka merasakan dadanya mulai bergemuruh.
Regan berdiri dari duduknya dan memghampiri Ayla.
"Ay, aku ke poli dulu. Nanti aku kesini lagi selesai praktik." Regan memberhentikan langkahnya saat akan membuka pintu lalu menoleh kearah Ayla, "Kamu masih belum pulih, lebih baik jangan terlalu banyak mengobrol dulu." Regan melangkah keluar dan menutup kembali pintunya.
Tyas memperhatikan wajah Regan, seperti tidak asing, dan berusaha menyusulnya setelah ijin pada Ayla dengan beralasan mau menelfon adiknya diluar.
"Dokter.." Panggil Tyas saat menyusul Regan yang baru saja akan menekan tombol lift.
Regan menoleh dan melihat kearah Tyas.
Tyas berhenti tepat dihadapan Regan, menatap wajah Regan seolah menelisiknya. "Ahh ternyata benar, dokter orang difoto itu." Ucapnya bergumam.
"Apa maksud kamu?" Tanya Regan heran dan megernyitkan dahinya.
"Maaf dok, tadi saya cuma mau mastiin, soalnya wajah dokter mirip sama foto dimeja kerja Miss Ayla."
"Kamu lihat foto saya?" Tanya Regan menyelidik.
"Iya dok, waktu itu saya lagi beresin meja kerja Miss Ayla, gak sengaja lihat foto yang mirip sama dokter, biasanya gak ada foto apa-apa dimeja Miss Ay selain foto Miss Ay bersama Miss Nanda. Mungkin Miss Ayla lupa menaruh lagi ketempatnya."
Regan menghela nafas. "Dan apa maksud kamu memberitahu saya?"
"Hmm, Maaf dok, gak ada maksud apa-apa. Cuma saya salut sama Miss Ayla, tiga tahun ikut kerja sama Miss Ayla, belum pernah Miss Ayla dekat dengan pria, saya berfikir mungkin Miss Ay menunggu pria yang berada difoto itu yang tak lain adalah dokter."
"Sudah?" Tanya Regan yang tak memberikan respon pada Tyas.
"Iya dok, maaf mengganggu waktunya." Tyas memutar tubuhnya untuk kembali kekamar perawatan Ayla.
"Ishh dasar dokter dingin. Modal ganteng doang tapi jutek banget. Kenapa Miss Ayla bisa menyukai dokter dingin itu ya. Gue sumpahin besok besok tuh dokter bucin setengah mati ke Miss Ayla." Tyas mendumel pada dirinya sendiri saat menelusuri lorong rumah sakit menuju kamar perawatan Ayla.
"Dokter yang tadi itu, kamu kenal Ay?" Tanya Fathir.
"Oh kebetulan dia teman lamaku Mas. Sudah tujuh tahun kami tidak bertemu, dan dia bekerja dirumah sakit ini." Jawab Ayla.
"Aku kira dia kekasihmu."
__ADS_1
"Miss Ay jomblo Mas." Sahut Doni.
"Doni..!!" Pekik Ayla.
Doni hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Wahh, berarti ga ada yang marah dong kalo mau deket."
Ayla hanya tersenyum dan tidak menanggapi ucapan Fathir.
***
Selesai praktik dipolinya, Regan duduk termenung diruangannya. Ia mengingat ucapan Tyas soal foto yang tak sengaja Tyas lihat dimeja kerja Ayla.
"Apa perasaanmu masih sama, Ay? apa kamu masih menyukaiku, ini sudah lewat tujuh tahun, Ay. Mengapa menyukaiku selama itu?" Batin Regan.
Malam hari, Regan kembali keruangan Ayla. Ayla duduk bersandar pada brankarnya sambil menonton televisi.
"Sudah malam, Ay. Tidurlah."
"Kamu pulang aja, Re. Tidak usah menjagaku disini." Jawab Ayla dingin.
"Aku akan menjagamu, Ay. Slama disini kamu adalah tanggung jawabku."
"Re, aku mengucapkan banyak terimakasih padamu karna sudah menolongku. Tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Lebih baik kamu pulang aja."
"Ay, berhenti bersikap asing padaku. Kita ini sahabat, dan tidak ada sahabat yang meninggalkan sahabatnya yang sedang susah."
"Tapi kamu meninggalkan aku dan Nanda tujuh tahun yang lalu, Re."
"Ay..." Lirih Regan.
"Setelah kejadian itu kamu pergi tanpa pamit, aku dan Nanda selalu menunggu kamu menghubungi kami dan memberi kabar, tapi tak pernah ada tanda-tanda kamu menghubungi kami, Re. Setahun berlalu, dua tahun terlewati, tiga hingga tujuh tahun akhirnya kami terbiasa tanpamu lagi, Re. Sekarang kamu datang dan mengingatkanku bahwa kamu sahabat yang tidak akan meninggalkan sahabatnya?" Ayla menghela nafas. "Boleh aku tertawa, Re?"
Ayla mematikan televisi dan mulai merebahkan tubuhnya, memejamkan mata dan menahan air mata itu agar tidak keluar.
"Aku salah. Maafkan aku, Ay." Lirih Regan yang kini duduk ditepi brankar Ayla.
Ayla membuka matanya kemudian mencoba duduk kembali, duduk berhadapan dengan Regan diatas brankar. Tangan Regan terulur kembali mengusap pipi Ayla.
"Maafkan kebodohanku." Lirih Regan.
"Aku tau kamu menyimpan cinta yang besar untuk Nanda, dan aku tau--"
"Sst Ay, jangan bahas Nanda, jangan bahas perasaanku ke Nanda, itu hanya masa lalu, Nanda tetap sahabat aku." Jari telunjuk Regan mendarat dibibir Ayla, kemudian perlahan mengusapnya.
Cupp
Ayla membelalakan matanya saat satu kecupan mendarat dibibirnya.
"Tidak, ini tidak benar. Ini hanya mimpi, ini pasti efek obat, aku hanya bermimpi." Batin Ayla yang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu mencintaiku dan kamu tidak pernah jujur padaku." Lirih Regan.
"Re..."
Cupp
Kali ini Regan mencium Ayla dengan dalam, tangannya menahan tengkuk Ayla agar Ayla tidak menghindar.
Ayla mendorong dada bidang Regan, "Regan!!" Pekik Ayla. "Kamu membuatku kehabisan nafas."
Regan tersenyum smirk, "Mulai hari ini kamu adalah kekasihku."
Ayla mengernyitkan dahinya, harusnya ia bahagia, namun hal ini masih sangat aneh untuknya.
"Re, jangan bercanda, pulang sana!! Aku mau tidur!!" Ucap Ayla yang kini berbaring dan membelakangi Regan.
Jantung Ayla berdegup kencang, ia mencoba mengatur nafasnya karna gugup melanda dirinya.
__ADS_1
Regan dengan santainya ikut naik keatas brankar Ayla, lalu memeluknya dari belakang, menelusupkan wajahnya diceruk leher Ayla.
"Re..!!" Pekik Ayla mencoba melepaskan tangan Regan yang melingkar dipinggangnya.
"Apa, Sayang. Tidurlah ini sudah malam."
"Regan, kamu tidur disana!!" Ucap Ayla yang merasa gugup.
"Ay, jangan berisik, nanti kedengeran sama suster jaga."
"Biarin, biar suster disini pada tau, ada dokter mesum dirumah sakit ini."
Regan tertawa, "Mesum sama calon istri sendiri. Bukan sama orang lain."
Ayla tertegun mendengar kata calon istri, apa benar Regan akan menjadikannya istri.
"Aku akan menikahimu, Ay." Bisik Regan tepat dibelakang telinga Ayla.
"Re..."
"Umurmu sudah dua puluh lima tahun dan kamu belum menikah. Aku akan menikahimu sesuai dengan janjiku dulu."
"Jan.. janji yang mana Re?" Tanya Ayla pura-pura.
"Saat kita makan direstoran jepang, saat kita sedang memanggang slice daging, aku bilang akan menikahinu jika tidak ada pria yang menikahimu."
Hati Ayla terenyuh, ternyata Regan mengingat candaan itu. Candaan yang kini sepertinya akan menjadi kenyataan.
"Ay, kamu dengar aku kan?" Tanya Regan.
"Jangan mengasihaniku Re. Aku bisa hidup dengan sendirian sampai aku bertemu dengan seorang pria yang benar mencintaiku."
"Maksudmu pria yang tadi menyuapimu makan didepan pegawaimu?" Tanya Regan dengan nada tak suka.
"Dia hanya photographer direkanan EO ku Re. Kami baru bertemu dua kali."
"Tapi dia menyukaimu, aku tau caranya menatapmu, dan hatiku sakit saat kamu memerima disuapi olehnya sedangkan sebelumnya kamu menolakku untuk menyuapimu."
"Dia hanya menyukaiku, Re. Dan akan mundur perlahan saat tau asal usulku yang tidak jelas."
"Kalau begitu jangan lagi dekat dengannya. Hanya aku dan Ayah yang bisa menerimamu."
"Ayah?" Tanya Ayla.
"Ayah pasti senang jika aku membawamu pulang bukan lagi sebagai sahabat, tapi sebagai kekasih dan calon istri."
"Re.."
"Tidur, Ay. Aku lelah sekali hari ini. Besok kita bicara lagi." Regan semakin mengeratkan pelukannya pada Ayla, dan Ayla merasa nyaman berada dalam pelukan Regan.
Semoga ini bukan mimpi.
Batin Ayla.
***
"Mas.. Akhh, pelan Mas." Desah Nanda saat mereka sedang menyatu.
Raja tidak mendengarkan Nanda dan terus menggempurnya, dua tahun belakangan ini Nanda tidak pernah mendapati pelepasannya. Raja hanya menuntaskan hasratnya sendiri tanpa memikirkan Nanda.
"Ouhhhh." Erangan Raja saat tiba dipelepasannya.
Nanda hanya tersenyum kecut, lagi-lagi Raja egois dan tidak memikirkan perasaan Nanda.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bisa menahannya." Ucap Raja. Pasalnya Raja hanya melakukannya sekitar sepuluh menit saja, benar-benar hanya menuntaskan hasratnya saja.
Raja menjatuhkan tubuhnya disebelah Nanda, tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus pertanda dirinya sudah masuk kealam mimpi, Nanda hanya menghela nafas, kemudian beranjak kekamar mandi untuk membersihkan sisa percintaan mereka.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....