Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter spesial: Rahel Wiandara


__ADS_3

Dulu aku dan kakak memiliki hubungan yang begitu dekat, bahkan orang orang sering menyebut kami sebagai anak kembar, karena tidak pernah terlepas dari satu dengan yang lain.


Selain itu aku juga memiliki paras yang sangat mirip dengan kakak, mungkin karena papa kami berdua merupakan anak kembar jadi peluang aku dan kakak memiliki wajah sama itu sangat besar. Hanya saja jika diperhatikan lebih dekat aku memiliki mata yang sedikit lebih coklat dari pada milik kakak, inilah yang sering dijadikan tempat pembeda antara aku dan kakak oleh orang orang.


Meski orang orang menganggap kami ini mirip, tapi tetap saja aku merasa bahwa kakak selalu mengambil posisi diatasku, kakak selalu jadi yang terbaik dan nomor satu dalam segala hal, hingga aku merasa tidak akan bisa mengejar langkah kakak yang begitu cepat dan juga gemilang.


Apa kalian tau ?...


Bagiku kakak itu adalah orang yang sungguh luar biasa, ia adalah orang yang selalu mengulurkan tangannya ketika aku terjatuh,


"Huwaa!!!!!, kakak !".


"Sudah sudah jangan menangis ya. Apa kamu ingin kakak gendongan ?".


"Asikkk digendong kakak !!".


"Dasar anak ini".


"Hehehe !".


kakak juga selalu membalikkan badannya ketika aku memanggilnya, tidak perduli bagaimana keadaannya atau selelah apapun dirinya kakak tidak pernah sekalipun mengabaikan panggilan dari ku.


"Kakkkk !!".


"Aduh Rafa kakak jadi kaget nih".


Meski aku merepotkan dan juga cengeng kakak tidak pernah memarahiku dan juga membenciku, kakak juga tidak pernah mendorong ku jika aku merangkul dirinya, bahkan kakak selalu menyambut semua tingkahku yang bermacam macam itu dengan senyuman hangatnya.


"My brother is the most extraordinary person in this world"


Tapi dibalik seorang kak Rahel yang ramah dan selalu sabar, terdapat luka yang begitu besar didalam hatinya, luka yang selalu ia kubur dan ia lupakan agar tidak menjadi kelemahannya sebagai pewaris utama. Sehingga kakak itu bisa diibaratkan dengan sebuah kaca yang sudah pecah berkeping-keping, sulit bagi seseorang untuk menyatukan pecah tersebut, meski sudah dapat disatukan namun tetap tidak bisa seperti semula, begitulah keadaan dari kak Rahel yang benar nya.


Kalau ditanya apa penyebabnya, aku juga tidak tahu seratus persen karena aku tidak berada disisi kakak selama dua puluh empat jam, namun delapan puluh persennya aku bisa menjawab bahwa"itu adalah hal pasti".


Bibiku adalah seseorang yang begitu ambisius, bibi selalu menuntut kak Rahel untuk menjadi yang terbaik meski kakak sudah menjadi bintang diseluruh mata pergaulan kelas atas.

__ADS_1


Sedangkan paman ia adalah sosok seorang ayah yang lebih baik dari pada bibi, paman yang mengerti bahwa kakak sudah mengalami tekanan dari bibi tidak mau menambahkan beban lagi yang harus dipikul oleh kakak sebagai pewaris utama, namun meski begitu paman tidak pernah melirik kakak dengan tatapan hangat layaknya tatapan seorang ayah kepada anaknya, paman juga sangat dingin kepada kakak sehingga membuat jarak pemisah antara paman dan juga kakak.


jarak antara dua orang tua dan anak ini semangkin parah ketika kakak sudah memasuki umur dewasa atau tepatnya 14 tahun, pada umur yang seharusnya dilakukan untuk mencari jati diri, kakak malah melewatinya dengan kekerasan dan juga kehidupan yang dikekang.


Bagaikan burung yang dikurung dalam sangkar emas, kakak benar benar tidak diperbolehkan untuk keluar saat itu, jangankan keluar untuk bertemu dengan teman, keluar hanya untuk menghirup udara ditaman pun bibi jarang mengizinkannya, bibi lebih bahagia dan tertarik jika kakak mengurung diri dikamar yang luas itu lalu dikelilingi dengan tumpukan buku yang seharusnya belum dipelajari oleh kakak.


Jika dilihat sekilas saat itu kakak memang terlihat seperti digelimangi oleh harta kekayaan yang berlimpah, kesempurnaan, dan juga kepoleran. Namun tidak ada yang tau kehidupan seperti sampah yang selalu kakak hadapi setiap menit, detik dan jamnya.


...……………...


Aku yang saat itu masih kecil selalu menyempatkan diri untuk pergi kerumah kakak setiap harinya, dan disaat itu pula aku sering melihat kondisi kakak yang begitu terpuruk karena kakak belum bisa menggapai standar yang diinginkan oleh bibiku.


"Plak !!". Suara tamparan yang begitu kencang membuat ruangan hening seketika.


Derasnya hujan dan juga rasa dingin yang menusuk ini membuat suasana semangkin tidak baik, disaat itu aku melihat dengan mata kepala sendiri kakak sedang tertunduk dengan wajah yang merah menyala akibat tamparan keras dari tangan bibi.


"Dasar tidak berguna !!".


Lalu, hanya dengan hitungan detik umpatan dari mulut bibiku pun keluar dan melayang menuju kak Rahel.


Aku kagum ketika melihat itu, seorang anak 14 tahun bisa menahan emosinya dan tidak menangis ketika menghadapi perlakuan kasar dari ibunya.


"Maaf...ibu, aku".


"Plak !!".


Suara tamparan yang kedua pun kembali terdengar dan lebih menggema dari sebelumnya, suara kakak yang tadinya terdengar hanya untuk menjelaskan, kini lenyap begitu saja bersamaan dengan tamparan tangan dari bibi.


"Kau fikir maaf bisa menyelesaikan semuanya hah ?!!!".


"Kau itu anak pertama dikeluarga ini, bagaimana bisa kau membuat ku malu !!!!".


"Dasar payah !!!, kau sudah aku masukkan kursus termahal disini, Lalu dengan mudahnya kau meninggalkan itu dan pergi entah kemana !!".


"Plak !!, kau bodoh Asala kau tau, anak mana yang mau menyia-nyiakan kesempatan seperti itu Rahel ?!!!".

__ADS_1


Suara bibi yang sangat besar saat itu memenuhi seluruh rumah, dari sudut kesudut, depan, dan juga belakang, tidak ada seorang pun yang tidak bisa mendengar suara bibi.


Aku melihatnya, wajah para pekerja yang ketakutan dan juga kasihan melihat kondisi kak Rahel saat itu.


Suara deras hujan dan petir terdengar bertambah kuat diluar, kilatan kencang dan juga angin dingin begitu mendukung suasana kediaman Wiandara saat itu, bagaikan isyarat saat itu langit ikut bersedih melihat penderitaan kak Rahel.


Namun hal ini tidak dapat menghentikan bibi, semangkin besar suara derasnya hujan dan gemuruh petir, maka semangkin besar pula suara amarah dari bibi.


"Bibi~, tolong hentikan ini...!".


Akhirnya aku angkat bicara karena sudah tak tahan lagi dengan perlakuan bibi terhadap kakakku. Walau...aku masih berbicara didalam Isak tangis dan ketakutan.


"Hmm ??". Begitu gumam bibiku setelah mendengar panggilanku.


"Hen... hentikan bibi, hiks... ja-jangan marahi kak Rahel".


Keberanian ku untuk menghentikan bibi tadi hilang seketika setelah mendengar suara bibi yang begitu dingin. Aku juga semangkin takut ketika bibi menoleh kearah ku karena mendengar ucapan ku tadi, amarah bibi yang belum mereda membuat ekspresi dan tatapan mata bibi menjadi begitu mengerikan, hingga aku gemetaran dan menangis sekuat tenaga.


"Aku...aku mohon bibi, huwaaa !!. Ak-aku takut".


"Huwaaaa".


Syukurlah tangisan sekuat tenaga ini tidak keluar percuma cuma. Bibi yang mendengar tangisan kuat dari ku yang mengisyaratkan sebuah ketakutan menghela nafas panjang, bersamaan dengan itu bibi tidak melanjutkan amarah nya lagi.


"Huff!!, maaf kan bibi Rafaela".


Bibi pun mendekatiku sambil menyeka air mata yang keluar begitu deras, lalu setelahnya bibi kembali membalikkan tubuhnya dan menatap kak Rahel.


"Masuklah kedalam kamar, perbaiki semua kesalahanmu, lalu tunjukkan kepada mama kalau kau adalah putra mama".


"Baik mama, aku permisi dulu".


Setelah ucapan bibi yang begitu dingin, kak Rahel pun langsung berjalan menuju kamarnya dengan wajah yang bisa dibilang sangat tidak baik.


Disaat kak Rahel membalikkan tubuhnya untuk menuju kamar, aku dapat melihat bahwa pundak yang begitu kokoh ketika aku menumpahkan banyak sekali air mata, kini ternyata bisa terlihat begitu lemah, bahkan untuk menahan sedikit beban saja seakan akan bisa rubuh seketika.

__ADS_1


__ADS_2