Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 11: Kita mulai perkenalan ini


__ADS_3

Diruang peristirahatan PT Dauson Corporecion...


"Setelah kejadian itu bibi dan paman langsung bertengkar hebat, aku tidak tau pastinya apa yang mereka debatkan hingga bertengkar seperti itu. Tapi... keesokan harinya setelah pertengkaran mereka berdua, sebuah keputusan yang menyatakan bahwa kak Rahel diperintahkan untuk pindah ke Amerika beberapa tahun pun langsung turun secara tiba tiba".


sesudah menyelesaikan semua ceritanya, Rafaela pun perlahan lahan mengangkat kepalanya sambil melihat bagaimana raut wajah Dafira saat ini. Dan seperti dugaannya beberapa saat tadi, hati Dafira memang tidak akan kuat mendengar kenyataan dari hidup yang dijalani oleh kakaknya.


"Hahh !!... seperti dugaan ku wanita ini belum siap mendengarkan semuanya". Ucap Rafaela didalam hatinya.


Untuk beberapa waktu Rafaela sempat diam dan tidak berkutik sedikitpun, dia hanya menatap kearah Dafira yang tengah menangis tersedu-sedu.


Namun disaat seperti itu Rafaela merasakan perasaan ganjil yang tak pernah ia rasakan, waktu yang berputar terasa begitu lama dan juga lambat, ruangan peristirahatan ini pun menjadi sangat tidak nyaman bercampur dengan ketegangan.


Ditambah lagi dengan suara Isak tangis Dafira yang memenuhi ruangan, menambah rasa tidak nyaman didalam hati Rafaela.


20 menit pun berlalu tanpa adanya sepatah kata yang keluar dari mulut kedua orang ini, mata Dafira yang sembab dan bengkak akibat menangis tersedu-sedu juga sudah tak bisa disembunyikan lagi. Akhirnya Rafaela pun sudah tak tahan lagi dengan situasi yang sangat tidak menyenangkan ini, ia mulai mengambil nafas panjang dan memanggil nama wanita yang sedang menangis dihadapannya.


"Nona Dafira". Panggil Rafaela. Namun panggilan ini tidak dijawab sama sekali oleh Dafira.


"Aku sungguh tak berniat menceritakan semua ini jika hatimu belum siap untuk menerimanya. Kau tidak perlu menangis seperti itu karna kak Rahel telah tenang dialamnya. Lalu seperti yang aku katakan tadi, kakak pasti sudah senang sekarang karena penderitaan nya sudah tidak menjadi bayang bayang".


Dafira semangkin dalam menundukkan kepalanya setelah mendengar kalimat Rafaela ini. "Aku adalah tunangannya, tapi aku sama sekali tidak mengetahui hal ini. Memang dari dulu aku tidak pantas bersama dia". Air mata Dafira kembali jatuh dan membasahi pipi nya.


"Itu tidak benar !!". Namun Rafaela langsung menepis ucapan Dafira itu dengan sangat yakin. "Kau adalah salah satu orang yang menjadi penguat kakak untuk hidup didunia sampah ini".


Dafira pun langsung kaget saat mendengar pernyataan dari Rafaela.


"Apa... apa yang kau maksud, dan... kenapa kau begitu yakin mengucapkan hal itu ??". Dafira mulai mengangkat kepalanya dan menatap kearah Rafaela.


"Ada beberapa cerita yang tidak aku beritahukan kepada mu".


"Dek !!".


"Tapi kenapa ?!!". Suara Dafira mulai meninggi ketika mendengar hal itu. Tapi Rafaela tetap tenang seperti biasanya karena ia mengerti bagaimana kondisi wanita yang ada didepannya saat ini.


"Karena anda belum bisa menerima semua kenyataan itu, saya akan menceritakan nya secara rinci jika anda sudah menyiapkan hati".


Dafira pun terdiam seribu bahasa, ia tidak bisa menyela semua perkataan pria ini karena semua ucapannya itu benar. Tapi disisi lain ia begitu ingin mengetahui semua hal tentang diri tunangannya yang belum ia ketahui selama ini.


"Apa perkataan anda itu benar ??".


"Hah !!, apa ekspresi saya mengatakan bahwa saya berbohong".


"Kalau begitu berjanjilah, jika saya sudah siap mendengar semuanya maka anda akan menceritakan semua hal tentang Rahel kepada saya".

__ADS_1


Pria itupun mengangguk sebagai tanda setuju.


"Baiklah itu bukan masalah besar".


"Nah. Aku sudah cerita tentang kak Rahel kepada anda, sekarang giliran anda untuk bercerita tentang kak Rahel berdasarkan fersi anda".


Dafira pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. " Baiklah". Lalu ia memulai cerita ini dengan menghapus air mata yang membanjiri pipinya tadi, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan hati agar air mata tidak tumpah disela sela cerita nanti.


Tapi...


"Tok !!, tok !!. tuan ?!!".


Belum sempat bercerita sepatah kata pun, suara seseorang langsung terdengar dari arah luar pintu ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion. Rasa kaget karna tiba tiba seseorang datang membuat Dafira dan Rafaela saling bertatapan.


"Siapa itu ?". Tanya Dafira kepada Rafaela.


"Huff !!, sepertinya itu serketaris ku, namanya Yoo". Jawab Rafaela.


"oh... begitu".


"Tok !!, tok !!, tuan anda didalam ?!!". Ketukan pintu pun kembali terdengar karna tak ada sama sekali jawaban dari dalam ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion.


"Nona apa serketaris saya boleh masuk ?". Rafaela bertanya kepada kepada Dafira yang duduk dihadapannya.


"Terimakasih Nona". Rafaela sedikit membungkuk dihadapan Dafira sebagai tanda terimakasih.


"Serketaris Yoo kamu boleh masuk".


Mendengar suara sang tuan besar yang sudah mengizinkan dirinya untuk masuk, sekertaris Yoo pun langsung membuka pintu ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion dan masuk kedalamnya.


"Permisi tuan".


Namun saat baru saja masuk kedalam ruang peristirahatan serketaris Yoo langsung tercengang menatap kearah Dafira.


"Nona besar !!". Teriak serketaris Yoo sambil membungkukkan tubuhnya. "Senang bertemu dengan anda, maaf sudah mengganggu perbincangan antara kalian berdua".


"Ti-tidak masalah serketaris Yoo. Ayo silahkan duduk dulu".


"Tidak perlu nona besar, biara saya tetap disini saja !".


Rafaela yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi, langsung merasa bingung dengan apa yang diperbuat oleh sang serketaris dihadapan Dafira, karena selama 7 tahun sang serketaris bekerja dengan nya Rafaela belum pernah melihat Yoo bersikap sangat sopan dan juga formal kepada seseorang seperti saat ini, bahkan terhadap dirinya pun hal ini tak pernah terjadi.


"Hei !!, apa yang kau lakukan ??, sejak kapan juga kau jadi canggung kepada seseorang ?".

__ADS_1


Serketaris Yoo yang mengetahui identitas dari Dafira langsung membelalakkan matanya ketika mendengar kalimat dari tuan besar yang ia layani begitu santai tanpa pertimbangan.


"Hei tuan muda !". Serketaris Yoo mendekat kearah Rafaela dan membisikkan sesuatu ditelinganya.


"Hoh ??... lalu kenapa kalau begitu, bukannya hal ini bagus aku sudah sangat akrab dengan rekan kerjaku selanjutnya".


Serketaris Yoo hanya bisa diam seribu bahasa setelah mendengar ucapan dari sang tuan besar, dia tak habis pikir apa sebenarnya yang ada didalam kepala tuannya saat ini, dihadapan pemimpin tertinggi PT cabang Dauson Corporecion ia bisa berbicara sangat tidak formal dan juga santai.


"Hahhh~ Astaga tuan saya tak tau harus mengatakan apa lagi". Serketaris Yoo menghela nafas berat sambil memijat pelipisnya yang terasa sakit.


Beberapa saat setelah perdebatan kecil itu serketaris Dafira yang bernama Kim juga datang keruang peristirahatan PT Dauson Corporecion.


"Tok !, tok !, nona apa anda didalam ??". Suara serketaris Kim terdengar dari luar pintu ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion.


"Ya serketaris Kim, aku ada didalam". Dafira menjawab pertanyaan dari serketaris nya itu dengan suara setengah berteriak, karena faktor ruangan yang begitu besar dan juga luas.


"Kalau begitu apa saya boleh masuk ??". Tanya serketaris Kim sekali lagi.


"Tentu saja serketaris Kim".


"Baiklah, permisi Nona". Serketaris Kim membuka pintu ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion secara perlahan. "Selamat siang nona muda". Setelah masuk kedalam ruang peristirahatan, serketaris Kim pun langsung menghadap ke arah Dafira sambil mengucapkan salam formal seperti biasanya.


"Selamat siang juga serketaris Kim, apa ada yang ingin disampaikan".


"Hmm...". Serketaris Kim bergumam seraya melirik ke arah Rafaela yang duduk didepan nona besarnya. "Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan tadi, tapi sekarang sepertinya hal itu tidak perlu".


"Ehh !... tapi kenapa ??".


"Karena kedatangan saya kesini adalah untuk memberitahukan bahwa waktu anda bertemu dengan partner model selanjutnya sudah lewat 30 menit dari jadwal perjanjian, namun ternyata anda sudah bertemu dengan rekan model anda tersebut tanpa sepengetahuan saya".


"Apa ?!!". Suara teriakan kaget Dafira langsung menggema didalam ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion. Ia mengetahui bahwa hari ini partner model nya akan datang untuk saling menyatukan ide, tidak ia tidak menyangka bahwa partner itu adalah adik dari tunangannya yang telah tiada.


"Astaga nona, jaga sikap anda".


"Ma-maafkan sikapku ini". Dafira langsung tertunduk malu dihadapan Rafaela beserta serketarisnya.


"Tak masalah nona, saya juga minta maaf atas kelancangan saya tadi". Rafaela tersenyum kearah Dafira yang sedang tertunduk malu dengan wajah yang memerah.


"Karena tadi saya tidak memperkenalkan diri dengan baik saya akan mengulanginya kembali, perkenalkan nama saya adalah Rafaela Putra wiandara, saya adalah model dari PT Dauson Corporecion sejak tahun XXXX dan sekarang akan berkolaborasi dengan anda nona besar, jadi mohon bantuan anda". Setelah perkenalan diri itu Rafaela langsung mengulurkan tangannya kepada Dafira, tentu saja uluran tangan ini disambut dengan baik oleh Dafira sambil tersenyum hangat.


"Salam kenal tuan Rafaela, nama saya adalah Dafira Rilye Putri Dauson, saya juga meminta bantuan anda".


"Tentu saja". Rafaela menjawabnya dengan kembali tersenyuman hangat.

__ADS_1


Setelah perbincangan panjang yang dipenuhi oleh banyak warna, akhirnya hari itupun diakhiri dengan perkenalan diri oleh kedua orang yang bagaikan sudah dipertemukan oleh takdir. Mulai hari itu mereka mulai saling mengenal dan menceritakan semua hal yang ingin mereka tau, seraya beradaptasi dengan kepribadian mereka berdua yang berbeda.


__ADS_2