
Didalam ruang ICU
"Sayang." Dia mengecup tangan sang tunangan.
"Aku sangat sedih melihatmu begini." Lalu perlahan tangannya memberikan buaiyan lembut kepada tunangannya itu.
"Aku tidak pernah melihat tubuh lemah mu. Kau yang terbaring dengan berbagai alat terpasang ditubuh mu, membuat hatiku bergetar. Aku mohon, bangunlah sayang."
Lagi lagi wanita yang tak lain Sovia, mendaratkan kecupan hangat ke tangan sang tunangan. Kecemasan pasti sangat terlihat diwajahnya, kulit yang memucat akibat stres, serta ditambah dengan kecemasan para media yang akan mempublikasikan pembunuhan Rahel, membuat Sovia semangkin tertekan.
Biasanya waktu sulit seperti sekarang, pasti akan langsung diatasi oleh Aldo, tapi sekarang Aldo pun dalam keadaan kritis, jadi bisa dibayangkan bagaimana keadaan Sovia saat ini.
"Clek."
"Nona ?." Ketua Fahri menghadap kepada Sovia.
"Bagaimana semuanya."
"Sudah berjalan dengan baik. Nona saya ingin bertanya, apakah anda perlu pengobatan dokter ?." Ketua Fahri berkata sesuai dengan perawakan Sovia yang percis sama seperti orang demam.
"Aku stres !. Kepalaku juga sakit sekali, saat berjalan aku seperti melayang-layang. Aku...hufff sudahlah."
"Saya akan antar anda ke dokter."
"Tidak perlu." Sovia menolak dengan cepat.
"Drap ! drap !."
"Begini saja, aku ingin."
"Drap! drap!."
"kau membantuku agar daf."
"Sovia !, apa berita ini benar."
Seketika mata mereka membulat, saat suara Dafira menggema memanggil nama Sovia.
Dengan rasa tidak percaya, Dafira mendekat dengan sebuah berita elektronik digenggamannya.
"Ini, Sovia apa ini benar ?."
Sovia hanya dapat terdiam.
"Sovia cepat baca !, baca berita ini Sovia !, apa ini benar ?."
__ADS_1
Sedangkan Dafira sudah mulai histeris, akan tetapi Sovia tetap terdiam.
"Sovia jawab aku !, jawab !, jawabbbbb !."
"Ini hoax kan, ini pasti berita palsu, gak mungkin teman kita membunuh tunangan ku. iyakan ?."
Sejujurnya hati Sovia sangat terenyuh, melihat Dafira seperti akan mengalami depresi lagi. Tapi mulut ini tak mampu melontarkan kalimat iya dan memberikan jawaban atas pertanyaan nya.
Hingga rasa tak sanggup itu membuat Sovia memalingkan wajahnya. Dafira adalah gadis pintar, dengan reaksi janggal dari Sovia Dafira dapat mengetahui bahwa berita ini adalah benar.
"Ketua Fahri, jawab aku sekarang !. Apa berita itu benar ?, apa Jhennite yang membunuh Rahel ?."
"Kenapa diam saja ayo jawab aku !." Dengan refleks Dafira mencengkram kerah leher Ketua Fahri.
"Jawab !, jawab aku !." Perilaku Dafira semangkin kasar setiap menitnya, suaranya juga bertambah histeris persis seperti awal ia depresi.
Ketua Fahri tidak dapat membiarkan keributan terjadi di rumah sakit, hingga pada akhirnya kejelasan pun terbuka.
"Benar nona, Jhennite adalah yang membuanuh tuan muda Rahel."
Lagi-lagi, entah untuk kesekian kalinya, dunia hancur dirasakan oleh Dafira kembali. Tubuh ambruk, air mata, tangisan, getaran tubuh, serta teriakan, tanpa sisa sudah menjadi pemandangan biasa yang disaksikan oleh Sovia dan ketua Fahri.
"Dafira kamu harus tenang sayang." Sovia merangkul tubuh Dafira didekapannya, tapi Dafira malah melepaskannya dengan kasar.
"Kenapa kamu tadi bohong ?!, kenapa kamu tidak menjawab ku ?!."
"hah, hahahaha.... hahahaha. Sungguh gila, apa yang terjadi di kehidupan ku, bukankah lucu, seorang teman membuat tunangan temannya yang lain meninggal ?."
"Hahahaha, aku sampai ingin tertawa terbahak-bahak membayangkannya."
Dafira seketika menggila, tawanya yang begitu pilu berhasil membuat semua orang bergidik, hingga seluruh bodyguard dilantai 6 naik ke lantai 7, untung saja lantai 5,6,dan 7 sudah dikosongkan, kalau tidak pasti akan terjadi keributan luar biasa.
"Dafira tenangkan dirimu."
"Lepaskan aku Sovia !. Aku harus mengatakan hal ini kepada Rahel, aku harus bilang ke Rahel agar manusia itu mendapatkan hukuman mati."
"Apa?." Seketika Sovia kebingungan.
"A-apa maksumu ?, Dafira sadarlah Rahel sudah tidak ada !."
"Diam !, berani sekali kau mengatakan hal itu !, kau sudah lancang Sovia !. Tunanganku masih hidup, aku akan menemuinya sekarang." Dengan langkah gontai Dafira berjalan menuju anak tangga.
Sovia ingin menghentikannya tapi Ketua Fahri menahan bahu Sovia. Lalu setelah itu terlihat bahwa Rayhan sudah memeluk tubuh Dafira, sambil menyuntikkan sebuah obat.
"Tak." Akhirnya Dafira tenang dalam keadaan pingsan.
__ADS_1
"Bagaimana ?."
"Nona sudah tenang, tapi saya tidak yakin obat ini bekerja pada sikologis nya. Nona sangat terguncang hingga ia seperti tadi."
"Banar, aku...tadi aku melihat dia bukan seperti Dafira yang tengah depresi, Dafira yang tadi terasa lebih menggila dan mengerikan."
Rayhan hanya terdiam, dengan mata tak lepas menatap wajah Dafira yang tertutupi oleh rambut kusut.
"Maaf aku lancang."
"Tidak, tidak apa. Saya akan membawa nona ke Psikiater, apa nona Sovia bisa ikut ?. Nona harus menjelaskan kejadian ini nanti."
"Baiklah aku akan ikut."
"Ketua Fahri tolong jaga Aldo."
"Baik Nona."
"Ayo kita pergi Rayhan."
Sovia, Rayhan yang menggendong Dafira, dan beberapa bodyguard pun, sekarang langsung menunju psikiater yang dimaksud oleh Rayhan.
Pada akhirnya, Dafira kembali lagi ketempat itu.
...~~~...
Tokoh utama BMYT:
Nama: Dafira Reyli Putri Dauson
Umur: 23 tahun
golongan darah: O
Hobi: Menggambar dan musik
Makanan favorit: Ayam goreng
Pekerjaan: (Merupakan pewaris utama, dari perusahaan Dauson dan beauty Ava skincare)
Status: Tunangan Rahel Wiandara
Moto: _
__ADS_1