
Sejak kepergian Dafira, para kedua belah pihak keluarga sepakat untuk menyumbangkan semua barang anaknya kepada orang yang membutuhkan. Jadi bertepatan dengan tanggal lahir Rahel Wiandara, keluarga Dauson beserta keluarga Wiandara melakukan seleksi kepada barang Yanga akan disumbangkan.
Andika, Fahri beserta Adam juga ikut andil dalam penyeleksian barang kedua sejoli itu. Andika memilah barang Dafira dikediaman Dauson, sedangkan Adam dan Fahri memilah barang Rahel dikediaman Wiandara.
Tanpa disangka banyak barang sederhana yang dijumpai dalam kamar Dafira, sebagai seorang pewaris utama barang didalam kamar itu sangat tidak cocok untuk status dirinya. Andika sudah selesai memilih beberapa buku dirak lemari, kini waktunya ia untuk memilah barang-barang yang ada di lemari pakaian.
Andika membuka satu persatu pintu dari lemari besar milik Dafira terdahulu, dilihatnya banyak sekali baju Dafira tersusun rapi didalamnya. Aroma parfum yang selalu di pakai sang nona besar juga tercium dikala Andika membuka lemarinya, bernostalgia sebentar membuat dirinya jadi terenyuh kembali.
"Tuk!."
Hayalan pun berhenti ketika perhatian Andika tertuju kepada sebuah kertas, yang terjatuh tanpa sadar mengenai kepalanya.
"Apa ini?." Dengan rasa penasaran Andika mengambil kertas tersebut kemudian membaca isinya.
Isi kertas tadi bukanlah tulisan biasa, namun kertas itu merupakan curahan hati seorang Dafira selama hidup tanpa adanya kehadiran Rahel. Jika dilihat lebih tepatnya kertas itu adalah surat, surat yang selalu ditujukan kepada seseorang, tapi sayang orang yang di tuju oleh sang pengirim tidak akan pernah bisa menerima suratnya.
Andika terpaku ketika membaca isi surat ukiran langsung dari tangan Dafira.
"Dear my son" Awal surat dimulai dari kata tersebut.
...Telah lama kau pergi meninggalkan ku, jejak akan dirimu belum memudar sama sekali hingga kini. Ku lihat rembulan masih sama seperti malam itu, tapi hanya dirimu yang telah tiada disampingku. Kulihat kembali bintang berkedip kepadaku, satu bintang besar terasa begitu terang dimataku. ...
...Aku akhirnya teringat satu kisah, kisah yang menceritakan tentang semua arwah akan berubah menjadi bintang, lalu mengawasi umat manusia dari atas langit. Aku menulis surat ketika ingat akan kisah itu, aku berharap surat ini bisa sampai kepadamu. ...
...Sebelum hari dimana adikmu datang menemui ku, aku merasa setiap detik sangat berat, dihantui akan dirimu yang belum bisa aku relakan, membuat diri ini menjadi wanita depresi....
...Dikala depresi aku selalu berfikir, apakah dunia sudah tidak adil lagi ?. Apa dunia melakukan kesalahan kepadaku?....
...Sinar mata hari tidak pernah aku rasakan setelah kepergian mu. Kebahagiaan saat melihatmu juga pupus terbawa kenyataan, dekapan yang masih ingin ku rasakan ditubuh ini juga ikut hilang begitu saja....
...Setiap kali aku berpikir, seandainya, sekali saja, hanya sekali, dunia mengizinkan kau kembali. Apakah itu mungkin?. Namun secara bersamaan ketika aku sedang memikirkannya, aku tau kemungkinan hal itu adalah minus....
__ADS_1
...Kamu kini tengah berada diatas, apakah saat aku menyanyi kamu bisa mendengarkan?. Jika ya, aku ingin menyanyi dan terus bernyanyi, hingga suara ku habis, aku akan selalu menyanyikan isi hatiku kepada mu....
...Aku disini mengharapkan perputaran roda didalam sebuah takdir....
...Aku menunggu mu, dimana, suatu saat nanti kita akan bertemu ditempat cahaya pertama mulai muncul....
...Tak masalah jika saat itu kau tidak mengingat apapun, tak masalah jika kau tidak mengingat diriku....
...Ayo, sekali lagi, ayo kita putar waktu, maka saat itu tolong raihlah aku. Aku akan memaklumi dirimu yang tidak tahu apa-apa, karena saat itu aku yang akan berbalik mendekapmu, dan menunjukkan segala isi dunia yang telah kau tinggalkan kepada mu....
...Dari tunanganmu tercinta...
...Dafira....
.
.
.
"Apa ini?."
"Aku menemukan kertas."
Sama halnya dengan Andika, Fahri juga mendapati sebuah surat terselip dalam buku diary milik Rahel dahulu. Surat berwarna pink dengan hiasan bunga putih berhasil membuat kedua orang pembacanya menjadi berlinang air mata.
...Kepada Dafira....
...Aku tidak tau harus mulai dari mana. Aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menerima mu sebagai tunanganmu....
...Dikehidupan ku banyak sekali yang telah menganggap ku sebagai musuh, sesungguhnya aku takut saat menyetujui perjodohan kita, karena aku tidak mau jika kamu dikemudian hari nanti tersiksa akibat dirku ini....
__ADS_1
...Pada suatu saat nanti dimasa depan, aku ingin kamu tau bahwa banyak keluarga konglomerat mengincar nyawa ini, kalau aku suatu hari tiada akibat rencana mereka aku ingin kamu jangan mengingat ku....
...Lupakan saja aku, anggap aku bukan bagian dari hidup mu. Aku tidak masalah jika kamu melakukan semua itu, yang penting aku tetap mengingat mu sampai akhir. Kalau sudah begitu, aku dapat mengingatkan semua kenangan lagi kepadamu dikehidupan berbeda....
...Sayang, aku dari dulu tidak dapat menuliskan kalimat mesra, karena itu seperti biasa surat ku juga ditulis dalam keadaan seadanya. Dafira ingatlah satu hal atas diriku, meski aku meninggalkan mu jauh, bahkan tak bisa kembali lagi, aku akan menjaga mu dari kejauhan sana....
.
.
.
Surat mereka berdua ditulis dalam jangka waktu yang berbeda, Andika memutuskan untuk meletakkan surat itu diatas makam Dafira, sedangkan Fahri keputusan sama juga diambil oleh nya.
Mereka mendatangi pemakaman Dafira beserta Rahel, berdoa dengan khusyuk, menabur bunga, baru setelahnya meletakkan surat diatas makam mereka berdua.
"Aku tidak tau apa kalian bisa membaca surat ini, tapi aku rasa ini adalah hal terbaik yang dilakukan kepada si Surat, tidak mungkin kami membuat ia kehilangan pemilik bukan?." Andika tertawa dengan gaya bicara seakan sedang mengajak orang lain mengobrol.
"Semoga dengan surat itu, kamu bisa lebih mudah membuat Dafira ingat akan dirimu Rahel." Andika berdiri dari duduk menyamakan posisinya dengan Fahri serta Adam.
Fahri menatap langit diatasnya, dipandangi oleh nya langit biru tanpa ada awan sedikit pun, cuaca panas menyengat dapat teredakan karena angin berhembus begitu kencang.
"Aku rasa angin sedang menyampaikan surat itu." Kemudian dia angkat bicara, sampai membuat kedua teman disamping tersenyum.
"Benar, angin bergerak tanpa arah, gerakan sang angin tanpa batasan, dia pasti akan menyampaikan kedua surat tanpa pemilik, kepada sang penerimanya."
Ketiga orang didepan makam sepasang kekasih sekarang tengah tersenyum lebar, menatap kearah makam dengan tatapan yang agak sulit diungkapkan. Tidak ada yang tau bagaimana keadaan surat bersama angin, apakah sudah disampaikan ataupun belum. Semua masih menjadi rahasia semata, membuat cahaya yang tadinya tertutup bayangan kini mulai terlihat sedikit demi sedikit dari celah bayangan.
"Wushh~."
"Thank you wind."
__ADS_1