
"Sedang apa ??".
"Melihat awan".
"Kau suka awan ya ??".
"Hmm... mungkin, aku hanya penasaran apa dia empuk seperti difilm kartun".
...6 Tahun yang lalu......
Semenjak pertemuan pertama ku dan Rahel diruang musik kamipun menjadi semangkin dekat, setiap sepulang sekolah aku juga menyempatkan diri keruang musik untuk belajar bermain beberapa instrumen tanpa sepengetahuan papa dan juga mama.
Tapi... aku merasa sedikit bingung, sekeras apapun aku belajar dan mengulang ulang nya kembali aku tetap tidak bisa memainkan biola.
Yah~mungkin itu bukan besikku jadi aku menerimanya saja.
Namun, apa kalian tau ??...
Kedekatan ini hanya bisa kami tunjukkan ketika sedang berdua dan berada didalam ruangan sepi, lalu disaat sedang berada di keramaian hubungan kami kembali sebagai orang asing dan saling tidak mengenal.
Tak apa fikirku saat itu, karena meski hubungan sandiwara ini terus berlanjut tak ada sebuah kerugian yang akan menimpaku malah aku mendapatkan sebuah keuntungan dari hubungan ini. Sehingga aku tidak begitu mempermasalahkan nya.
Baiklah kita kembali ketopik awal...
Saat ini seperti biasanya aku sedang berada didalam perjalanan menuju ruang musik. Musim panas yang menyiksa mengikuti keinginan ku untuk mempelajari piano hari ini.
"Hah...panas sekali". Begitu gumamku sambil mengipas diri dengan selembar kertas.
Untung jarak kelas dan ruang musik dekat jadi aku tak perlu berjalan lama disaat cuaca sepanas ini.
"Tok tok, permisi". Ini kebiasaan ku selalu mengetuk sebelum masuk kedalam ruang apapun yang bukan ruang pribadi ku, namun tidak ada jawaban dari orang satupun, karena biasanya dengan ketukan pintu yang pelan saja Rahel pasti akan menjawabnya. Namun sekarang jawaban itu lenyap dan hanya angin yang terdengar.
"Apa Rahel tidak mendengar ku ?". Aku mengulang kembali ketukannya untuk kedua kali. Namun tetap sama tak ada jawaban, jadi mau bagaimana lagi akupun terpaksa masuk tanpa izin kedalam ruang musik ini.
"Clek !!".
"Rahel ??". Aku membuka pintu dan melihat keseluruh penjuru ruangan, namun disana aku tidak mendapati keberadaan Rahel. Pantas saja tak ada yang menjawab saat aku mengetuk tadi.
Akupun masuk kedalam ruang musik itu, lalu berputar putar dan masih mencari keberadaan Rahel, tapi sepertinya Rahel memang tidak ada.
"Dimana dia ??". Aku berfikir sambil bergumam diruang kosong itu.
"Mau makan apa nanti ?".
"Aku lagi diet tau !".
"Hahaha kasihan nasibmu, kami mau makan ayam panggang saja deh".
"Ya benar sekali, itu pasti enak".
"CK!!!, dasar jahat".
Untung disaat seperti itu ada tiga orang yang sedang lewat didepan ruang musik, tanpa berfikir panjang akupun langsung menghentikan langkah mereka.
"Permisi !!". Begitu panggil ku dengan suara setengah memekik.
"Hah ?!!". Tentu saja orang yang aku panggil itupun menjadi kaget dan menatap kearah ku dengan wajah heran.
Saat itu sungguh sangat memalukan, aku rasanya ingin menutup mungka dan juga pintu ruangan musik ini.
__ADS_1
"Apa kamu memanggil kami ??". Tanya salah seorang dari tiga berkawan itu.
"I...iya, maaf saya sudah mengagetkan anda".
"Tidak apa...".
"Apa ada yang bisa kami bantu ?".
"HM... begini apa kalian pernah melihat laki laki yang sedang memainkan biola didalam ruang ini".
Tiga berkawan itupun berfikir sebentar, dan sesekali bercerita tentang pendapat mereka siapa laki-laki yang aku maksudkan itu.
"Apa yang kamu maksud tuan muda Wiandara ?".
Salah seorang diantara tiga berkawan itu mengangkat suaranya.
Aku tidak tau apa nama kepanjangan dari Rahel jadi ketika salah seorang itu menyebutkan nama keluarga Rahel aku merasa bingung dan tidak tau harus menjawab ia atau tidak.
"Apa kalian bisa menyebutkan nama lengkapnya ?". Pada akhirnya akupun menemukan cara yang jitu.
"Nama tuan muda itu adalah Rahel Wiandara, hanya dia laki laki yang sering bermain biola disini. Apa laki-laki itu yang kamu maksud ?".
"Ya benar sekali, dia yang aku maksud".
"Ouh... biasanya tuan muda itu sering pergi ke atap sekolah kalau musim panas sudah tiba".
"Ouh...diatap ya".Aku mengangguk sebagai tanda mengerti."Terimakasih bantuannya ya".
"Iya tidak masalah, apa ada lagi yang bisa dibantu ?".
"Sudah tidak ada lagi".
"Yasudah kalau begitu kami permisi".
Mereka bertiga pun langsung pergi meninggalkan ku, menuju arah luar gerbang sekolah.
Setelah mendapatkan informasi aku sempat berfikir sebentar, sekarang misiku bertambah satu lagi, yaitu mencari tau kemana arah menuju atap sekolah.
"Hmm... diatap ya".
Aku bergumam seraya melihat sekeliling yang kemungkinan bisa jadi tempat meletakkan informasi gedung sekolah.
Beberapa menit kemudian setelah mencari cari, informasi tentang gedung sekolah pun aku dapatkan. Tanpa menunggu lama lagi, aku langsung melangkah pergi menuju tangga yang mengarah ke atap sekolah sesuai dengan peta yang ada di informasi gedung sekolah.
Aku sempat mengira tangga menuju atap hanya memiliki anak yang sedikit saja, namun kenyataannya...anak tangga menuju atap begitu banyak dan juga panjang sekali. Dicuaca panas seperti ini semangatku yang membara tadi langsung hilang ketika melihat anak tangga yang begitu banyak.
"Yaampun ~~". Begitu keluhku ketika melihat anak tangga yang begitu banyak.
Dengan perasaan yang terpaksa akupun menaiki anak tangga yang banyak dan panjang ini satu persatu, Kalau bukan karena keterpaksaan aku tidak akan mau menaiki tangga panjang ini dicuaca panas membara.
Ketika aku menaiki tangga rasanya waktu untuk mencapai puncak begitu lama dan juga melelahkan, syukurlah aku bisa mencapai puncak tangga dan membuka pintu mengarah ke atap sekolah.
"Hah !, bagaimana sih Rahel menaiki tangga ini?". Gumamku.
Seperti yang dikatakan oleh tiga berkawan tadi, mataku langsung bisa melihat seorang Rahel sesaat setelah membuka pintu.
Dicuaca panas begini aku melihat Rahel tengah berbaring diatap tanpa beralaskan apapun, namun ketika itu Rahel terlihat begitu tenang dan juga menikmati teriknya matahari yang tengah menyusahkan semua orang dikota.
"Apa yang dilakukan pria ini ??". Aku tentu saja langsung menjadi bingung dengan kelakuan Rahel yang tidak masuk akal. Sebenarnya orang mana yang mau berjemur di suasana terik seperti saat ini, hanya Rahel lah orang pertama yang melakukan hal itu.
__ADS_1
Meski dengan perasaan bingung aku tetap menghampiri Rahel yang tengah tidur ditangan tengah atap sekolah.
"Rahel". Begitu panggil ku ketika sudah berada disampingnya. Rahel yang mendengar suara dari ku itupun langsung menoleh ke arah ku yang berada disamping kanal tubuhnya.
"Sedang apa kamu disini ??". Rahel bertanya dengan heran.
"Kamu lupa ya, hari ini kan aku ingin belajar main piano lagi".
"Oh ya, aku lupa. Maafkan aku ya Dafira".
Karena sudah ada aku disampingnya, Rahel yang tadinya sedang berbaring pun langsung memilih untuk duduk, agar bisa sejajar dengan ku.
"Tak apa, sebenarnya kamu sedang apa diatas sini ?".
"Tidak ada aku hanya sedang memandangi awan".
"Kamu suka awan ya ?".
"Entahlah, aku hanya suka musim panas ini".
"Kenapa suka ??". Aku bertanya dengan heran. "Tidakkah kamu merasa sesak karena teriknya matahari ??".
"Huh !!". Tiba tuba setelah mendengar ucapan ku itu helaan nafas panjang dari Rahel pun terdengar.
"Aku selalu merasa sesak tau, tapi tetap saja aku menyukai musim panas yang terik ini".
"Kenapa ??". Aku kembali bertanya kepada Rahel.
"Karena pada musim panas yang begini adik berhargaku lahir kedunia".
Ketika itu aku dapat melihat seberapa besar cinta Rahel kepada adiknya itu, ia memandang kearah langit lalu tersenyum bagaikan adiknya ada didepan sana.
"Sungguh beruntung adiknya Rahel memiliki seorang kakak yang perhatian". Begitu batinku ketika melihat kehangatan dari Rahel yang sangat mencintai adiknya itu.
Aku yang tidak memiliki siapa siapa pun menjadi tertunduk sedih dengan sedikit harapan untuk memiliki seseorang yang perhatian seperti Rahel ini.
Namun ditengah tengah suasana buruk hatiku Rahel langsung meluncurkan sebuah lelucon yang tidak lucu, namun berhasil membuat ku tertawa.
"Hei Dafira". Akupun mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah Rahel.
"Ada apa". Jawabku.
"Bagaimana menurutmu, apakah awan itu empuk. Aku dari dulu sangat ingin mendudukinya".
Aku langsung terdiam seribu bahasa setelah mendengar ucapan tidak masuk akal dari Rahel ini, namun meskipun tak masuk akal entah kenapa aku merasa pertanyaan ini sedikit lucu.
"Hahahaha". Aku langsung tertawa sambil menjelaskan bagaimana pendapat ku tentang pertanyaan Rahel ini.
"Saat pelajaran biologi kamu kemana sih Rahel, awan itu kan merupakan tumpukan es jadi mana mungkin bisa empuk. Pesawat saja rusak jika menabraknya". Aku tetap tertawa dan tertawa lagi hingga mendengar satu jawaban Rahel yang kembali membuatku merasa geli.
"Yah...siapa tau awan itu bisa empuk seperti didalam film kartun".
Ketika mendengar pernyataan yang satu ini tawaku sudah tak bisa tertahankan dan pecah memenuhi langit musim panas yang terik.
"Hahaha, diumur segini kamu masih mempercayai hal itu ??".
"Hahahaha, lucu kan".
"Yaampun Rahel".
__ADS_1
Kami berdua pun tertawa bersama setelah gurauan jenaka dari Rahel itu terlayangkan, entah berapa jam kami berdua bergurau terus menerus diatas atap yang begitu terik karena cahaya matahari dimusim panas. Namun entah kenapa saat sedang berada diatap bersama Rahel terik matahari yang begitu panas tidak terasa di tubuhku, malah aku merasa teriknya matahari hari ini seperti cahaya yang ada di pantai, begitu hangat, menggoda dan juga menyangkan.