
Di bandara...
"Aldo jangan lupa kau berikan surat itu kepada Jhennite".
"Iya tenang aja".
"Yasudah aku harus pergi, kau jangan macam-macam dengan Sovia, ingat itu !".
"Ck !, aku tidak akan pernah macam-macam".
Pembicaraan terakhir menutup obrolan mereka entah untuk sampai kapan. Reno yang melangkahkan kakinya menuju angin berhembus, membuat pandangan Aldo sedikit sulit melihat sosok Reno yang sudah mulai jauh meninggalkan dirinya.
Sekarang tidak ada yang tau kemana Reno akan pergi, bahkan diri Reno sendiri tidak tau secara pasti kemana ia akan menentukan langkah, hanya angin yang tau kemana Reno akan pergi. Lalu hanya waktu dan takdir yang akan membawanya kembali.
Dirumah sakit...
"Jhennite ?". Sovia menyapa dari sebalik tirai hijau. Hingga sapaannya itu menarik perhatian Jhennite yang sedang membaca buku diatas tempat tidur.
"Sovia ?!!". Saat melihat ada seseorang yang ia kenal di sebalik tirai, tanpa sadar dengan spontan Jhennite berteriak dengan wajah sangat senang.
Kegirangan Jhennite ini bukan tanpa alasan, karena akhirnya, setelah sekian hari lamanya ia terkurung dikamar rawat sekarang ada seseorang yang bisa ia ajak mengobrol, sehingga rasa bosannya mungkin bisa berkurang limapuluh persen, begitulah bayangan Jhennite yang keluar ketika melihat kehadiran Sovia dihadapannya.
"Hehehe apa kabar Jhennite ?". Sedangkan Sovia, ia membalas kegirangan Jhennite itu dengan tawa kecil beserta senyum menghiasi wajahnya.
Sovia berjalan mendekat kearah samping tempat tidur Jhennite, lalu setelah sampai Sovia pun duduk di sofa yang ada disamping tempat tidur itu. Berbeda dengan Sovia yang duduk, Aldo hanya memilih berdiri dibelakang tunangannya, bagaikan bodyguard yang sedang menjaga nona muda dari keluarga besar.
"Hufff !!, Jhennite apa kabar ??". Sovia menanyakan ulang pertanyaan sama , guna membuka topik pembicaraan.
"Aku kabar baik Sovia".
"Syukurlah".
Kemudian pertanyaan dari Sovia itu dibalas baik oleh Jhennite.
"Jhennite sekarang kepala kamu masih sering sakit ??".
"Sudah tidak lagi Sovia, selain itu ini sudah seminggu lebih, jadi jahitannya sudah mulai mengering, serta rasa sakitnya juga sudah mulai menghilang".
"Wahhh aku sangat senang mendengarnya".
"Terimakasih ya Sovia sudah menghawatirkan ku. Ohya Sovia ada perlu apa kesini ??".
__ADS_1
"Ouh...hmmm...aku sebenarnya membawa surat Jhennite". Pada pembicaraan bagian ini, hati Sovia merasa sedikit ragu dalam menjawabnya.
"Surat apa ??".
"Surat...dari seseorang".
"Hah ??". Jhennite seketika menegakkan tubuhnya, kemudian menatap Sovia lekat, sebagai bertanda ia sangat penasaran dengan si pengirim surat tersebut.
"Hihihi, Jhennite sangat penasaran ya". Karena melihat tingkah laku Jhennite Sovia tanpa sadar terkekeh kecil, dan mengeluarkan surat titipan Reno dari dalam tasnya untuk diberikan kepada Jhennite.
"Ini dia suratnya". Sovia menyodorkan surat tersebut, kemudian Jhennite menyambutnya dengan mata yang tak lepas memperhatikan setiap sudut surat.
"Kenapa tidak ada nama pengirimnya ??".
Jhennite menanyakan hal itu, setelah beberapa lama ia menyusuri setiap seluk beluk surat dengan pengelihatannya guna mencari identitas dari sang pengirim, namun identitas si pengirim tidak ada sama sekali tertulis di surat tersebut.
Namun, untuk kali ini entah kenapa Sovia hanya memberikan senyuman menanggapi pertanyaan dari Jhennite, lalu ia berkata...
"Kamu akan mengetahui siapa pengirimnya setelah membacanya".
Begitulah ucapan Sovia yang berhasil membuat Jhennite berfikir sejenak, memang ia belum membuka apa isi suratnya namun salah satu wajah dan nama sudah langsung keluar didalam benaknya sekarang ini.
"Apakah Reno ??". (Jhennite menebak didalam hatinya).
"Ouhh tentu saja tidak masalah Sovia, terimakasih sudah datang berkunjung ke sini, dan hati hati dijalan ya".
"Oke, sampai jumpa". Sovia melambaikan tangannya kearah Jhennite, bersamaan dengan lambaian tangan itu Sovia pun pergi meninggalkan Jhennite sendiri ditemani oleh surat yang tidak tahu siapa pengirimnya.
Didalam ruangan yang sudah sunyi ditinggalkan oleh Sovia dan Aldo, Jhennite mulai membuka surat tersebut dengan perlahan-lahan. Surat itu tidak mewah, tidak pula harum, dan tidak pula memiliki kertas dan tinta yang menggambarkan perasaan romantis, namun semua warna kertas dan tinta yang disatukan didalam surat tersebut merupakan warna kesukaan Jhennite.
Jhennite semangkin penasaran akan isi didalamnya, dengan cepat, tanpa basa-basi ia pun mulai membaca surat tersebut.
..."Untuk Jhennite"...
Itulah awal pembukaan surat dimulai, lalu awalan tadi disambut langsung oleh isi sang surat, yang mulai menunjukkan identitas dari sang pengirimnya.
..."Bagaimana kabarmu sekarang ?, aku harap kamu baik ya. Maaf sebelumnya aku tidak bisa memberikan apa yang kamu mau, maaf juga aku selalu membuatmu mengeluarkan air mata untuk yang kesekian kalinya....
...Pfff...lucu sekali bukan aku langsung mengatakan hal itu, seharusnya isi surat ini diawali dengan basa-basi, namun aku tidak bisa melakukannya, maaf......
...Jhennite mungkin surat dariku ini tidak bisa tertulis sangat panjang dan mencangkup semua kalimat yang ingin aku sampaikan, namun meski hanya sekilas dan sedikit ini adalah seluruh isi hati yang ingin aku sampaikan sejak pertama kali aku mengerti apa yang dikatakan dengan cinta dan kasih sayang....
__ADS_1
...Seperti yang kamu ketahui, aku adalah broken home dari keluarga kaya tidak bahagia. Aku tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari kedua orang tua ku. Karena itupula saat aku berjumpa dengan dia yang memperlakukan aku dengan tulus, aku jadi merasa terikat, hingga aku sampai tidak bisa terlepas darinya....
...Aku dikala itu sangat bodoh, aku tidak bisa memilah mana yang masa lalu dan mana yang harus aku hadapi sekarang, sampai aku menyakiti mu....
...Aku tidak faham apa cinta sesungguhnya, selama ini aku selalu mencari-cari dan tidak pernah merasakan dengan benar, namun sejak kamu membawaku ke tepi sungai dibawah langit bintang, aku jadi mulai merasakan apa itu yang namanya cinta....
...Tapi lagi-lagi aku masih menyangkal perasaan itu dan lebih memandang kebelakang, dari pada mengejar tanganmu....
...Aku minta maaf Jhennite, aku tidak tau harus berapa kali maaf keluar dari mulut ku, karena aku tahu ini bukanlah masalah kecil yang bisa di lupakan hanya dengan satu kalimat maaf...
...Karena itu, maafkan aku, maaf, maaf, maaf, aku sungguh minta maaf....
......Lalu yang terakhir, terimakasih.........
......Sekarang aku faham apa yang selalu kamu harapkan dari ku, sekarang aku faham apa itu cinta sesungguhnya, aku faham apa yang ada di hatiku setelah kamu memberitahu ku dalam waktu yang sangat lama.......
...Dan......
...Sekarang aku merasakan perasaan apa yang dikatakan oleh Cinta, meski terlambat tapi aku ingin mengatakan, kalau aku sangat mencintaimu Jhennite....
...Meski sekarang aku lebih memilih menjauh dari lingkaran aman, tapi percayalah aku akan pulang suatu saat nanti. Disaat aku pulang itu, aku berjanji akan menemui mu dan menggenggam tangan mu dengan erat....
Suratnya berakhir sampai disitu, tanpa disadari air mata Jhennite mengalir dan tumpah tanpa ada suruhan dan keinginan dari hati Jhennite sendiri.
Seperti apa yang dikatakan oleh Sovia tadi, kini Jhennite sudah mengetahui siapa identitas dari sang pengirim surat setelah isi surat ditangannya selesai ia baca.
Didalam keheningan mencekam didalam ruang rawat VVIP suara Isak tangis yang tertahan menggema dan memenuhi ruangan tersebut. Bahkan sang angin saja tidak berani berhembus dan mengganggu Jhennite yang tengah tertunduk menahan Isak tangisnya.
"Reno terimakasih, hiks... terimakasih...hiks, terimakasih Reno".
...Sekarang tidak ada yang tau bagaimana kelanjutan kisah dari mereka berdua, apakah takdir benang merah mereka terputus ?, atau hanya kusut saja ??. Namun jika benang merah tersebut hanya kusut, maka percayalah ia akan menyatukan kedua belahan hati itu karena mereka sudah ditakdirkan bersama. Mungkin sekarang hanya awal bagi mereka berdua menuju kearah bahagia. Karena takdir tidak akan pernah lelah memainkan para tokoh tokoh dunia, hingga ia merasa para tokoh itu sudah mampu merasakan yang namanya kebahagiaan....
.
.
.
Kisah cinta Reno dan Jhennite sampai disini dulu ya para pembaca author 🤧
nanti kita sambung dengan kisah Dafira kembali...
__ADS_1
Sebelumnya terimakasih ya para pembaca yang sudah mau membaca karya author, dan author juga berharap pada kisah mereka berdua para pembaca menyukainya.😊