
Alam bawah sadar Dafira...
.
.
.
Didalam mimpi. Aku melihat sisokmu lagi. Kau yang begitu nyata, kau yang begitu bersinar, kau yang begitu tampan, setelah sekian lama berhasil membuat hatiku bergetar kembali.
Entah mengapa aku terpaku, ku pandangi wajahmu dari kejauhan, lalu setelah kau menyadari keberadaan diriku, kau pun berlari kearah ku.
"Grep !."
"Hai... bagaimana kabarmu ?."
Kehangatan yang sungguh aku rindukan akhirnya kembali merambat ke tubuhku, aku berusaha menyangkal nya, aku berusaha menyadarkan diriku bahwa kau hanyalah ilusi ku. Tapi...tapi kenapa, Kenapa, sekali saja hatiku bisa menerimanya. Kenapa aku tidak bisa menganggap mu telah pergi ?
"Rahel...hiks...hiks."
Aku rasa kau pasti bosan, hanya menangis yang bisa aku tunjukkan didepanmu. Dan aku kembali menangis lagi sekarang, didalam dekapanmu.
Disanalah kau kembali mengusap air mataku.
"Jangan menangis."
Jemarimu yang sangat besar dan kuat, seakan tak bisa hancur oleh kekejaman dunia, membuatku terdiam sejenak, isakku tersembunyi seketika, sang air mata pun malu untuk keluar dari asalnya.
__ADS_1
Aku menoleh keatas, kulihat wajahmu sedang tersenyum, senyum jujur yang sangat berseri. Aku mengetahuinya, bahwa senyum itu bukanlah senyum munafik seperti biasanya, aku tau kau bahagia, tapi...tapi lagi lagi tapi... Kenapa aku tidak bisa menerimanya, kesesakan ini, kesedihan ini, amarah, penyesalan, kenapa semuanya menimpaku.
Sangat banyak yang ingin aku sampaikan Rahel, sang kesesakan pun mengunciku hingga terbelenggu.
Didalam keheningan kau membuka pembicaraan.
"Aku bahagia Dafira." Kalimat utama mu membuatku tersentak seketika.
"Bukankah aku pernah bilang, bahwa aku berdoa kepada Tuhan agar aku menghilang dari dunia ini ?."
"Saat itu aku bertanya terus kenapa tidak dikabulkan, aku sempat kesal. Tapi... sekarang aku baru menyadari bahwa skenario yang disusun sangat indah, jika aku diambil dari awal maka aku tidak akan merasakan kebahagiaan semangat darimu, lalu setelah semuanya benar terasa berat barulah keinginan ku terkabul."
"Jadi aku berani bersumpah sekarang kepadamu."
"Aku."
"Merasa sangat bahagia." Senyuman yang satu ini terasa berbeda, kau membuatku menjadi bergetar dari ujung rambut hingga ujung kaki, kau berhasil membuatku jadi sadar sekarang, bahwa dunia kita berbeda, bahwa apa yang kau inginkan dan kau rasakan tak sama lagi.
"Kau benar bahagia Rahel ?." Untuk sekali saja aku ingin mendengar nya lagi.
"Iya."
"Aku tidak ada di dunia ini, Rafa juga tidak ada, apa kau masih bahagia ?."
"Aku bahagia Dafira, meski aku tidak bisa berjumpa dengan kalian, aku bisa mengawasi dan melindungi kalian dari sini."
"Begitu ya." Aku pun sudah mendengar nya sekali lagi.
__ADS_1
Jujur, aku sedih Rahel.
"Aku merasa." Karena selama ini aku berharap kau tidak mau tinggal didunia ini.
"Sangat bersyukur kalau begitu. Dari dulu hingga sekarang aku ingin melihat mu bahagia, bahagia untuk selamanya." Tapi ternyata kau malah menemukan kebahagiaan sesungguhnya disini.
"Aku senang mendengarnya, aku sangat senang." Tapi tidak apa Rahel. Selama kau bahagia aku akan mengalah, aku akan mulai membuka awal album baru.
"Iya, aku bahagia. Karena itu, kamu jangan khawatir, kamu jangan sedih Dafira, jangan khawatir kan aku, lakukanlah apa yang kamu mau, lakukan semuanya, apa yang kamu inginkan, raihlah semuanya. Aku juga ingin melihat mu merasakan bahagia sesungguhnya."
"Iya."
Tapi, tentu saja Album itu tetap menyiratkan dirimu, meski tidak sepenuhnya, tapi setidaknya sedikit, karena sampai kapan pun aku akan menyimpan mu didalam hati.
"Rahel."
"Apa ?."
"Jangan pernah lupakan aku ya."
"Dasar kau ini." Senyum. "Mana mungkin aku melupakanmu."
"Kalau begitu aku berjanji akan hidup demi mencapai kebahagiaan ku."
"Lakukanlah, ohya tak terasa waktu ku sudah habis, jaga dirimu Dafira."
"Kau adalah kenangan ku yang terindah."
__ADS_1
"Kau juga Rahel. Meskipun kau hadir tidak dalam waktu lama, tapi kau adalah cinta pertamaku yang sungguh luar biasa."
"Semoga kita bisa berjumpa dilain waktu."