
Dirumah Dafira...
"Ayo menghadap kesini, kakak akan berikan sedikit obat dipipi mu".
"Terimakasih kak". Rafaela memutarkan kepalanya 20° kesebelah kiri, hingga sekarang pipi Rafaela menghadap ke arah Dafira.
Saat itu suasana sempat hening sejenak, dalam kelincahan tangan Dafira mengoleskan obat ke pipi kiri Rafaela. Tidak tau apa yang dibahas, juga menjadi salah satu penyebab ruangan tersebut menjadi tenang tanpa suara.
Pipi Rafaela yang memerah sebenarnya dapat menjadi topik pembicaraan, tapi Dafira yang merasa penasaran secara bersamaan memiliki perasaan cemas bahwa hari ini sedang ada langit kelabu merundung hati Rafaela.
Menit menit berlalu dengan begitu saja, sekarang Rafaela sudah tidak merasakan panas dan perih dibagian pipinya, karena pengobatan dari Dafira selesai lebih cepat dari perkiraan.
Menyadari bahwa suasana canggung tak menyenangkan seperti ini harus dihilangkan, pada akhirnya untuk pertama kali Rafaela lah yang memulai topik pembicaraan...
"Terimakasih kak".
"Iya tidak masalah".
Hanya kalimat itu yang dapat keluar dikepala Rafaela setelah berfikir sangat keras, didalam kecanggungan mencekam diruangan tersebut. Kemudian Dafira yang melihat Rafaela merasa tidak nyaman, pada akhirnya menambahkan topik pembicaraan lagi...
"Rafaela, maaf sebelumnya". walau dengan ragu ia berusaha menanyakannya apa yang sedang ingin ia ketahui. "Sebenarnya apa yang terjadi hingga pipi mu memerah, kakak merasa...itu adalah bekas tamparan...".
Rafaela hanya tersenyum sebagai reaksi dari pertanyaan Dafira.
"Ini memang tamparan". Kemudian jawaban Rafaela setelahnya berhasil membuat Dafira terpaku seketika.
__ADS_1
"Tamparan ??, dari siapa ??".
"Bibiku".
"Hah ?!".
Tadi Dafira kaget, namun sekarang Dafira merasa sangat kaget, serta merasa sedikit kesal melihat wajah adik kesayangan sang tunangan memerah karena tamparan dari seseorang.
Tanpa disadari Dafira membuat ekspresi marah didalam reaksi yang menunjukkan ia sedang kaget. Karena sudah begini Rafaela pun langsung memilih untuk menceritakan semua kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu, didalam kediaman keluarga Wiandara...
.
.
.
"Hahhh...aku sangat membenci mereka, seharusnya apa yang mereka lakukan kepadaku, itu adalah hak kakak 11 tahun yang lalu". Rafaela menutupkan tangan kekarnya keatas wajah. Hingga hanya tersisa rambut coklat gelap mengintip dari sela sela tangannya itu.
"Sabar saja ya Rafaela, kamu... sebenarnya apa yang membuat kamu menjadi sebenci itu dengan bibi, yang merupakan mama dari kakak kesayangan mu, Rahel ??".
"Heh !, ada banyak hal yang membuat ku membencinya, aku sudah menceritakan sedikit kan kepada kakak ??".
"Tapi... bukannya bibi mu saat itu sangat terpukul hingga histeris ??".
"Bibi ya tetap bibi, bagaimana pun kondisinya bibi akan mendahulukan apa yang sedang ia kejar. Yang semangkin membuat aku muak adalah sandiwara yang ia suguhkan kepada ku tadi, setelah ia puas menyiksa kakak ku disaat masih hidup !!!".
__ADS_1
"Aku...aku selalu menjadi titik tengah diantara mereka, aku juga yang selalu menjadi tonggak berdiri kak Rahel, aku mulai mengetahui semuanya disaat aku menemukan diary kak Rahel".
"Aku sungguh ingin muntah dikala membacanya, sejak dulu dan sampai sekarang paman beserta bibi tidak pernah menganggap bahwa kak Rahel adalah anaknya".
Saat semua curahan hati Rafaela keluar suasana menjadi kembali hening, apalagi curahan hati Rafaela sekarang sungguh sangat mengabarkan isi hatinya.
Tatapan mata tajam menandakan kemarahan, disertai dengan kepalan tangan kuat dan juga gaya tubuh dalam duduk, menjadi pedoman bagi Dafira bagaimana keadaan Rafaela sekarang, sama percis dengan Rahel dibeberapa tahun lalu.
.
.
.
11 tahun yang lalu...
"Rahel !!!".
"Apa ini Rahel Wiandara ?!!".
"Pa...maaf, maafkan".
"Plakkk !!".
"Anak tidak berguna !!!!".
__ADS_1