Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 28: Perbincangan rahasia


__ADS_3

11 Tahun kemudian.


Di keesokan harinya...


.


.


.


Jam menunjukkan pukul setengah lima dini hari.


"Kling !".


"Kling !".


"Kling !".


Seperti biasanya, di pagi yang belum ada mentari terbit, Dafira terbangun dari tidurnya akibat suara ponsel yang berdering.


"Hmmm ??".


Karena takut deringan tersebut menandakan informasi penting, pada akhirnya dengan kondisi setengah sadar dan setengah tidur Dafira pun mengangkat ponsel itu dengan keterpaksaan dihati.


Disana lah ia melihat bahwa deringan ponsel tadi bukan dari masalah pekerjaan, namun deringan chat yang berasal dari Sovia sahabatnya, bukan dari serketaris Kim.


Dafira menatap chat dari Sovia itu dengan kesal, hampir saja ia membanting ponsel digenggamannya karena kesal terbangun ditengah mentari menyapa dunia. Untung saja hasrat membanting ponsel itu terurungkan karena mengingat dokumen pekerjaan yang begitu banyak didalamnya.


Demi merendam amarah, Dafira pun memilih kembali membaringkan tubuhnya keatas tempat tidur. Tapi bagaikan tak mengizinkan ia beristirahat ponsel disampingnya itu kembali berdering.


"Ada apa sih ??". Gumam Dafira sambil melihat isi chat dari Sovia.


"Dafira kamu lagi apa ?". Tanya Sovia didalam chat.


"Aku lagi tidur, dan Sovia membangunkan aku".


"Hehehe, maaf Daf. Btw hari ini kamu harus datang ya ke acara kumpul kumpul kami".


"Hmm ?, dimana ?".


"Tenang aku kirimkan nih tempatnya".


"Kling !!". Lima detik kemudian peta menuju lokasi yang dimaksud Sovia pun datang melalui ponsel Dafira.

__ADS_1


"Sepertinya akan sangat sulit untuk aku pergi Sovia, ada dokumen yang menumpuk di kantor"


"Aduh... Daf, kamu harus ikut. Apa kamu tau, ada teman lama yang datang nanti, kamu pasti senang dan kaget deh pokoknya~".


"Hahh...!, oke, aku akan datang nanti".


"Yes. Asik, aku tunggu kedatangan mu nanti".


Percakapan itu pun berhenti sampai disitu. Pada akhirnya, karena permohonan Sovia, ini menjadi kali pertama seorang Dafira melakukan bolos kerja. "Tapi tak apa seorang nona besar juga membutuhkan istirahat dan refreshing". Begitu batin Dafira sekarang ini, jadi bisa dibilang karena opini itu Dafira setengah tidak khawatir sekarang.


Disela sela waktu mencapai puncak sang surya, Dafira langsung teringat dengan Rafaela adik dari tunangannya. Ia berfikir bagaimana kalau Rafaela diajak ke acara kumpul kumpul itu, karena disana juga pasti banyak teman Rahel, dan Rafaela bisa menanyakan apa yang ia ingin tau tentang kakaknya itu.


Atas dasar fikiran inilah Dafira langsung mengajak Rafaela keacara yang dimaksud Sovia tadi, dengan cepat, tanpa menunggu waktu lama Dafira langsung mengambil ponselnya dan mengabari Rafaela melalui chat. Lalu kini berharap Rafaela setuju untuk datang ke acara itu.


.


.


.


Dimalam hari kemudian...


"Ck !!, mana semua sih orang orang nya ??".


Wanita berambut pink itu tidak lain adalah Sovia, orang yang membuat acara kumpul kumpul berlangsung pada hari kerja dan di jam kerja.


Sudah setengah jam berlalu sejak Sovia menunggu sahabat sahabat, yang katanya akan datang pada acara malam ini. Namun hingga detik ini tak ada seorangpun yang menunjukkan wujudnya.


Lantas Sovia pasti merasa kesal dengan hal itu, hingga sekarang tak dapat dibantahkan Sovia menggerutu dengan wajah marah yang menyeramkan.


Disela-sela itu pula seorang pria dengan kacamata dan berambut cokelat masuk kedalam kafe sambil mencari cari dimana keberadaan seseorang.


"Aldo !!". Begitulah teriak Sovia yang melihat bahwa tunangannya sekarang sudah datang.


Karena mendengar teriakan dari Sovia itu, Aldo pun langsung menoleh kearah meja yang berada dibawah lampu indah dan dekat dengan beberapa instrumen musik kafe. Menyadari tunangannya sudah menunggu disana, Aldo membalas teriakan tadi dengan tersenyum dan melambaikan tangannya juga.


Sekarang...Aldo langsung berlari menuju tempat Sovia berada, diluar dugaan Aldo, saat melihat kehadiran dirinya Sovia langsung bereaksi sangat senang dan girang hingga melompat, padahal dua Minggu yang lalu mereka baru saja berjumpa.


"Selamat datang sayang". Sovia menyambut tunangannya itu sambil senyum senyum sendiri.


"Hah~ Yaampun. Sofia jangan panggil aku dengan kalimat aneh". Sedangkan Aldo membalas kalimat Sovia dengan wajah syok, serta tidak suka.


"Hahaha". Melihat wajah tidak suka sang tunangan, Sovia pun tanpa sadar langsung tertawa geli didepan Aldo yang masih syok mendengar ucapan dari tunangannya tadi.

__ADS_1


"Iya iya. Aku juga geli kok mengucapkannya". Canda Sovia kepada Aldo setelahnya.


Candaan tadi hanya sebatas itu saja, dan sekarang candaannya sudah berakhir. Lalu setelahnya Sovia pun langsung mempersilahkan Aldo duduk didalam meja yang sama dengan dirinya.


"Ayo duduk Al".


"Baiklah". Aldo pun berjalan menuju sisi kana Sovia, lalu memilih duduk dikursi samping tunangannya itu.


Sambil menunggu semua hadir Aldo memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Via..". Panggil Aldo kepada tunangannya itu.


"Apa". Dan Sovia menoleh kearah Aldo karena merasa dirinya dipanggil.


Suasana sedikit berubah karena raut wajah Aldo juga berubah, yang awalnya Aldo berekspresi girang kini malah menunjukkan ekspresi tegang serta serius. Dalam keheningan beberapa detik itu Aldo langsung membuka suara dan menyampaikan apa yang ada dikepalanya saat ini.


"Kamu tau aku sedang membuka kasus itu kan ?". Tanya Aldo kepada Sovia dengan serius.


"Ouhhh... ya aku tau, setelah ada satu petunjuk, keluarga Dauson dan Wiandara membuka kembali kasusnya". Jawab Sovia dengan tak kalah serius.


"Benar sekali. Kasus itu kini dibawah komando ku, aku dan rekan rekan yang lainnya juga sudah menemukan salah satu tersangka yang kemungkinan besar melakukan penyerangan itu".


"Benarkah siapa tersangkanya ??". Sekarang suasana didalam meja besar itu menjadi sangat tegang dan dingin, ditambah lagi keingintahuan seorang Sovia sangat besar terhadap kasus itu.


Aldo awalnya hanya diam dan enggan menjawab pertanyaan dari Sovia, tapi karena Sovia terus menerus bertanya dengan perasaan penasaran menggebu, Aldo pada akhirnya terpaksa memberitahukan hal itu kepada Sovia.


"Kemarilah". Ajak Aldo agar Sovia mendekatkan telinganya. Tanpa butuh waktu lama Sovia langsung melakukan apa yang disuruh oleh Aldo. Disanalah Aldo membisikkan nama tersangka yang sekarang sedang ia curigai.


Dan seperti dugaan Aldo sebelumnya, Sovia langsung membelalak dan berteriak kaget, tidak menyangka setelah mendengar nama tersangka yang dibisikkan oleh Aldo ditelinganya.


"Apa itu benar ??". Begitu pertanyaan pertama, yang keluar dari mulut Sovia dengan perasaan kaget tidak kepalang.


"Aku belum bisa mengatakannya dengan pasti, tapi itulah yang kami temukan setelah melakukan penyelidikan". Jawab Aldo dengan tegas.


"Tapi kenapa Al ??".


"Dia itu sangat terobsesi kepada Dafira Sovia. Jadi hal itu mungkin dia lakukan demi mendapatkan Dafira kembali". Jelas Aldo kepada Sovia.


Sovia sekarang hanya bisa termenung dengan perasaan tidak percaya. Dia tidak tau harus melakukan apa setelah mendengar semua kenyataan itu. Apakah sekarang Sovia harus mempercayai Aldo tunangannya, atau dia malah harus tidak percaya ???.


...~~~...


...Kira kira siapa dan apa yang sedang dibicarakan oleh Aldo ya ??......

__ADS_1


...Nantikan terus di episode selanjutnya 😉...


__ADS_2