Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 16: Rekan baru, hari baru, dan cerita baru


__ADS_3

Setelah berlarian sekuat tenaga, akhirnya Dafira pun sampai ke ruang pemotretan yang sudah ditentukan sebelumnya. Dan benar saja seperti dugaan Dafira, semua orang yang terlibat dalam pemotretan ini sudah menunggunya dari tadi.


"Kak Dafira kenapa lama sekali ??". Suara seseorang yang Dafira kenal terdengar dari arah belakang.


Dafira pun langsung memutar tubuhnya agar bisa melihat siapa orang yang ada dibelakangnya, ketika melihat kebelakang Dafira menjumpai bahwa orang yang memanggil nama nya tadi adalah Rafaela.


"Rafaela, ka-kamu memanggilku kakak ??". Tanya Dafira dengan wajah terharu.


"Ck!!, apa apaan ekspresi kakak itu. Bukannya kakak yang memintaku memanggil seperti ini ?!!". Rafaela terdengar sedikit kesal saat menjawab pertanyaan dari Dafira, namun disela sela itu Rafaela juga terlihat sedikit malu dan Canggung dengan panggilan barunya ini.


Dafira yang melihat wajah malu malu Rafaela menjadi gemas, hingga ia secara spontan langsung mengelus elus kepala Rafaela seperti ia sedang mengelus kepala adiknya Sofia yang berumur 6 tahun. Tentu saja hal ini membuat Rafaela marah, dan merasa terhina.


"Plak!!". Rafaela menepis tangan Dafira dengan kasar.


"Aduh".


"Jangan pernah sentuh aku sembarangan".


Dafira langsung kaget ketika melihat amarah Rafaela, saat itu suara Rafaela yang sedang berbicara terdengar begitu dingin dan juga menakutkan ditelinga Dafira, apalagi ditambah dengan tatapan mata tajam yang menggambarkan sebuah kebencian menambah kesan buruk ketika itu.


"Ma... maafkan aku". Dafira langsung merasa bersalah dan menundukkan wajahnya dihadapan Rafaela.


Namun Rafaela tetap tidak bisa meredakan amarahnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia langsung pergi keruang ganti pakaian dan meninggalkan Dafira yang berada didepannya sendiri.


"Apa aku salah saat mengelus kepala nya ??". Batin Dafira sambil memegangi tangannya yang merah karena tepisan Rafaela tadi.


...~~~...


Tiga puluh menit pun berlalu, kini Dafira dan juga Rafaela sudah selesai melakukan pemotretannya. Tapi...apa kalian tau siapa fotografer Dafira saat ini ??.


Hal ini sebenarnya tidak pernah disangka sangka oleh Dafira sebelumnya, karena fotografer pemotretannya kali ini adalah teman SMA yang sudah sangat lama tidak ia jumpai.


Teman SMA Dafira ini bernama Reno, ia adalah salah satu murid berbakat dan berprestasi di SMA Nasional yang Dafira masuki sebelumnya. Lalu saat umur 16 tahun Reno sudah bisa menyelesaikan SMA nya dengan nilai sempurna dan mendapatkan beasiswa ke Amerika sebagai siswa undangan di bidang seni dan mode, lalu siapa sangka, setelah bertahun tahun lamanya Dafira dan Reno dapat berjumpa kembali didalam sebuah pekerjaan.


"Terimakasih ya Ren atas kerjasamanya". Dafira mengulurkan tangan kepada teman lamanya itu.


"Tidak masalah Daf aku senang bisa membantu mu". Reno membalas uluran tangan Dafira itu dengan senyuman.


"Tapi Daf aku mau tanya nih". Mata Reno sedikit melirik kearah Rafaela. "Model itu siapa sih ?, aku merasa...".


"Kamu merasa dia mirip dengan Rahel ?". Sambung Dafira begitu saja.


"eh...bukan begitu, aku hanya ...".

__ADS_1


"Tidak apa Ren, aku sudah tidak masalah dengan itu".


"Huff !!, iya aku merasa begitu. Bagaimana menurutmu ?".


"Yah aku juga merasa begitu".


Sesaat setelah percakapan itu Reno pun berfikir sejenak, dan kembali melayangkan pertanyaan kepada Dafira.


"Daf, apa Rahel punya adik sebelumnya ??". Tanya Reno setelah beberapa saat berfikir.


"Tidak. Rahel adalah anak tunggal".


"Hmm... kalau begitu apa ini sebuah kebetulan ?". Tanya Reno sekali lagi.


"Tidak, dia anak dari kembaran papa Rahel".


Sontak Reno menjadi terkejut dengan informasi baru yang ia dapatkan ini, karena selama bertahun-tahun tidak ada berita yang mengatakan bahwa kembaran ayah Rahel yang bernama Brayen sudah memiliki istri apalagi anak.


"Kamu serius Daf ??". Tanya Reno dengan wajah syok.


"Mana mungkin aku berbohong".


"Yaampun" Reno hanya bisa mengucapkan kalimat itu ketika mendengar penjelasan Dafira, ia tidak tau harus berkata apa dan hanya bisa mematung ditempat sambil mempercayai sesuatu hal yang sulit dipercaya.


"Aku tau apa yang kamu fikiran Ren, tapi itulah kenyataannya. Adik Rahel itu selalu saja disembunyikan dari dunia maya, jadi tidak akan ada yang tau tentang adiknya ini".


"Kalau itu aku tidak bisa menceritakan nya kepada mu, maaf ya Ren".


Reno hanya tersenyum, dan mengangguk sebagai tanda bahwa ia faham kalau cerita keluarga Wiandara adalah salah satu hal yang disembunyikan dari dunia luar.


Saat sedang asik berbincang bincang seorang wanita dengan tubuh semampai tiba tiba masuk kedalam ruang studio, wanita itu seperti mencari cari sesuatu, kemudian setelah melihat keberadaan Reno dia pun langsung datang menghampiri Reno.


Ketika wanita itu menghampiri Reno tanpa disadari mata Dafira dan wanita itu saling bertatapan, dan mereka pun tiba tiba kaget secara bersamaan.


"Nona ?!!". Teriak mereka secara bersamaan


"Wah apa yang aku lewatkan nih ??, apa kalian saling mengenal ??". Reno tertawa kecil dan melayangkan sebuah pertanyaan kepada dua orang wanita yang ada didepannya ini.


"Iya, tadi kami bertemu tidak sengaja". Jelas wanita itu kepada Reno.


"Woah... benarkah, menarik". Ucap Reno menjahili. Tapi kedua wanita yang mendengar jahilan Reno hanya diam dan tidak menggubris sedikitpun.


"Ohya nona, kebetulan kita berjumpa disini...aku mau mengembalikan barang milik nona yang terjatuh". Wanita itu membuka tasnya dan mulai mencari cari keberadaan barang yang ia maksud, berapa detik kemudian wanita itu pun mengeluarkan sebuah jepit rambut berwarna pink dari dalam tasnya.

__ADS_1


Karena melihat jepit rambut yang begitu mirip dengan milik dirinya, Dafira secara sepontan langsung meraba bagian kepala yang tadi pagi dijepit oleh Eleen dengan jepitan rambut. Dan... benar saja tidak ada sama sekali terasa sebuah jepitan rambut dikepala Dafira.


"Wah...ini jepit punya saya". Ucap Dafira sambil meraih jepit rambut yang ada ditangan wanita itu. Sungguh saat melihat jepit rambut ini Dafira merasa sangat senang, ia bersyukur karena jepit rambut itu tidak hilang atau rusak karena terjatuh.


"terimakasih banyak ya nona".


"Tidak masalah nona, mau saya bantu memasangkannya ??".


"Tidak...tidak perlu saya bisa memasang ini sendiri". Dafira langsung menjepitkan jepitan rambut pink itu dikepalanya, agar tidak hilang kalau disimpan dalam tas.


"Selesai". Gumam Dafira setelah jepit rambut itu berhasil terpasang dikepalanya.


"Woahh anda sangat manis nona". Wanita yang sedari tadi melihat proses pemasangan pita dikepala Dafira, secara spontan memberikan pujian dari apa yang ia lihat. Lantas pujian ini membuat Dafira menjadi malu.


"Ah~!, nona bisa saja". Balas Dafira malu malu.


Wanita yang berdiri didepan Dafira hanya tersenyum geli saat melihat tingkah yang ditunjukkan oleh Dafira ini.


Berbeda dengan percakapan menyenangkan Dafira dan wanita asing, Reno malah merasa sedikit tersakiti karena ia merasa seperti obat nyamuk yang hanya duduk diam padahal tengah berada diantara percakapan kedua wanita.


"Hahh !!, kalian ini sungguh membuatku seperti manusia transparan ya ?". Ucap Reno jengkel.


Dafira yang melihat wajah kesal temannya ini langsung berusaha untuk mengubah suasana hatinya.


"Maaf Ren, aku lupa kalau ada kamu disana".


"Ouh... tidak papa lanjutkan saja percakapan kalian, anggap aku salah satu udara yang bergerak". Amarah Reno ternyata masih menyelimuti hatinya.


Syukur saja suara dari sang penenang Reno terdengar beberapa saat kemudian, dan berhasil meluluhkan badai topan didalam hati Reno.


"Sayang sudahlah jangan diperpanjang begitu". Ucap sang suara penenang.


"Sayang ?.........". Tanda tanya besar langsung terukir dikepala Dafira saat mendengar wanita asing tadi memanggil Reno dengan sebutan sayang. Ketidak tahuan Dafira ini pun langsung membuat dirinya menjadi bingung seketika, "sebenarnya situasi seperti apa saat ini ??".


"Ehh !!, aku lupa kamu belum tau soal ini ya Dafira". Kekeh Reno melihat ekspresi kebingungan Dafira. "Ini adalah tunangan ku, namanya Jhennite. Jhennite perkenalkan ini adalah teman SMA ku Dafira".


"Woahh !!, apa apaan ini Ren, sudah bertunangan tapi tidak memberi tahu aku".


"Hehehe, maaf ya".


"Iya deh, kalau begitu salam kenal ya Jhennite senang bisa bertemu dengan mu". Dafira terlihat begitu senang bisa berkenalan dengan Jhennite, ia secara langsung mengulurkan tangannya dengan senyuman lembut yang khas milik seorang Dafira.


Tentu saja Jhennite yang mendapatkan perlakuan baik dan ramah ini menjadi senang, ia tanpa ragu langsung menerima uluran tangan dari Dafira dan membalas senyuman itu dengan senyuman hangat pula.

__ADS_1


"Aku juga senang bertemu dengan mu Dafira. Semoga kita bisa jadi teman baik ya".


Akhirnya identitas wanita asing itupun terpecahkan, siapa sangka dari peristiwa tabrakan bisa menjadi persahabatan. Semoga perjalanan baik ini bisa berlanjut dalam waktu yang lama.


__ADS_2