
Akhirnya tanpa disadari dua jam pun telah lewat, waktu untuk menyewa studio musik ini juga sudah habis tanpa ada meninggalkan kesan sedikitpun.
Dari tadi aku sama sekali tidak bisa fokus belajar musik dengan Rahel, not not yang diajarkan pun sama sekali tidak masuk dikepalaku. Sungguh hal ini membuatku frustasi hingga menghela nafas panjang.
"Hah~~". Begitulah helaan nafas ku yang penuh frustasi dan rasa kesal.
"Kenapa menghela nafas panjang begitu ?".
Aku menoleh kearah Rahel ketika ia melayangkan pertanyaan seperti ini, aku melihat dari raut wajah Rahel ia pasti belum tau tentang yang dikatakan oleh madam Lolita tadi.
Andai Rahel ini tau apa yang dikatakan oleh madam Lolita, aku yakin dia pasti akan menghela nafas seperti aku saat ini.
"Tidak ada aku hanya lelah".
"Oh...". Rahel meresponnya dengan datar.
"Rahel".
"Ya ?".
"Setelah ini kamu mau kemana lagi ??".
"Mungkin pulang, memang ada apa ??".
"Apa kamu tidak ada jadwal ??".
"Tidak, aku mengosongkan jadwal ku untuk hari ini".
"Wahh". Sontak mendengar hal itu aku pun langsung bersorak gembira. Bukan karena apa apa, aku merasa senang karena sebenarnya sejak semalam ada rencana lain yang ingin aku lakukan, atau lebih tepatnya aku ingin tunjukkan kepada Rahel.
Lalu siapa sangka ternyata hari ini rencana itu bisa aku laksana bersamanya.
"Kalau begitu ayo kita kestudio melukis bersama".
"Hah ??". Rahel langsung bingung seketika.
Aku faham sih kebingungan Rahel saat ini, soalnya tiba tiba aku mengajaknya ketempat lain diluar dari perjanjian kami, jadi aku tidak akan memaksa kali ini.
"Yahh..., karna sudah selesai aku fikir bagus kalau kamu kestudio melukis. Disana ada banyak sekali pajangan pajangan indah loh, apa kamu tidak penasaran ??".
"Bukan itu masalahnya, dimana tempat keberadaan studio melukis ini ??".
Sekarang aku mengerti mengapa Rahel terkejut saat aku mengajak nya kestudio melukis tadi, karena dia pasti berfikir letak studio melukis itu jauh dan terpisah dari gedung ini.
__ADS_1
"Studio melukis nya tidak diluar dari gedung ini kok Rahel, kita tinggal naik satu lantai saja, dan disana deh tempatnya". Jelasku kepada Rahel.
Sesaat Rahel terdiam sebentar, lalu melihat jam tangannya dan mengeluarkan ponselnya. Aku tak tau apa yang dia lakukan, tapi setelah itu dia pun setuju untuk pergi kestudio melukis bersama ku.
Jika ditanya bagaimana perasaan ku saat ini, aku agak bimbang menjawabnya. Sesaat tadi aku merasa senang karena akan bisa melukis seperti dulu, ditambah ada teman baru yang ikut. Namun setelah beberapa waktu berselang aku malah merasa takut dan malu kalau lukisan dan karya seniku 10 tahun yang lalu masih tersimpan didalam studio, dan terlihat oleh Rahel.
"Bagaimana ini ~?".
.
.
.
Sesampainya distudio melukis.
"Cling !!".(suara bel)
"Permisi".
"Hmm ??". Seorang pria menoleh kearah Dafira.
"Apa kabar pak Andre. Sudah lama ya kita tidak jumpa".
Pria itu menatapku dengan tatapan kaget sekaligus senang, aku belum pernah melihatnya berekspresi seperti ini.
Pria yang sedang berekspresi kaget itu adalah guru seniku dulu, ketika aku berumur tiga tahun mama mengundang guru seni untuk merangsang pertumbuhan otakku, dan peria inilah guruku satu satunya hingga aku berusia 6 tahun.
Peria itu bernama Andreyano Putra Nugroho, satu satunya anak dari keluarga Nugroho yang terkenal dengan bakat melukisnya. Aku tidak tau apakah bakat melukis itu sudah diturunkan secara genetik atau tidak didalam keluarga Nugroho, tapi selama beberapa generasi keluarga Nugroho selalu melahirkan seorang pelukis hebat hingga terkenal diseluruh penjuru dunia.
Dan pak Andre ini pun merupakan salah satu pelukis hebat yang sudah diakui oleh dunia.
"Iya benar sekali pak Andre, ini saya Dafira". Begitulah ucapku kepada pak Andre yang sudah lama tidak aku temui.
Sejak pak Andre membawaku mengikuti lomba seni mama memecatnya dan tidak mengizinkan aku untuk menjumpai pak Andre lagi.
"Grep !!". Tanpa disangka disangka pak Andre secara tiba tiba langsung memelukku dengan erat didalam dekapan.
Lalu didalam dekapan itu pak Andre berkata, bahwa iya sangat senang bisa bertemu kembali dengan ku, pak Andre juga bilang kalau ia ingin meminta maaf karena kesalahannya aku harus mendapatkan hukuman yang sangat panjang.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk sambil menahan haru, aku sangat menyayangi pak Andre karena ia lah satu satunya orang yang mendukung ku dalam melakukan hobi ini. Aku tidak akan pernah melupakan jasa pak Andre itu.
"Nah, nona sekarang anda sedang mencari apa kesini ??". Tanya pak Andre setelah reoni kami berdua selesai.
__ADS_1
"Tidak ada pak Andre, hanya saja saya ingin melihat lukisan lukisan indah di studio, saya rindu melihatnya".
Pak Andre hanya meresponnya dengan tersenyum kearah ku. Lalu setelahnya kami pun diizinkan untuk melihat lihat kumpulan lukisan dari murid ataupun seniman yang pernah berkunjung kestudio.
Aku memulai tur ini dari bagian pojok sebelah kanan ruangan, disana ada banyak sekali rak rak yang berisikan guci atau karya seni lainnya. Pajangan seni itu sangat indah dimataku, terlebih ada satu karya seni yang menarik mataku, yaitu lukisan langit malam disertai bulan purnama yang menghiasi.
Aku terpukau dengan lukisan itu karena aku dapat melihat lukisan tersebut bercerita bahwa didalamnya ada kesedihan dan kecewa tengah tertuang.
Disela sela aku sedang mengagumi lukisan tersebut percakapan antara Rahel dan pak Andre pun terdengar.
"Hmm ...? mereka sedang bicara apa ??". Begitulah gumamku dengan rasa penasaran.
Aku pun pada akhirnya meninggal kan lukisan langit malam tadi dan berjalan menuju tempat pak Andre dan Rahel berada. Namun masih setengah berjalan aku sudah langsung bisa melihat bahwa yang aku takutkan tadi sedang terjadi saat ini.
Aku yang sudah malu luar biasa akhirnya langsung berlari menuju panjang tempat lukisan ku berada, kemudian menutupinya dengan tubuhku.
"Akhhh !!!, apa yang kalian lihat ??". Ucapku gugup beserta malu.
"Kamu kenapa sih Dafira ??, katanya mau kesini karena mau melihat lihat, tapi kenapa tidak memperbolehkan melihat lukisan itu ???". Rahel membalas kalimatku dengan wajah cemberutnya.
"Kamu tidak tau apa apa, pokoknya jangan lihat !!!".
"CK !!".
"Sudah terlihat tuh, kamu mau nutupinya kayak apa lagi ??".
Ketika itulah aku langsung terpaku, kecemasan yang dari tadi aku takuti ternyata terjadi sekarang, Rahel melihat lukisan terburuk ku sepanjang masa.
Tapi...
"Tuan Rahel namun lukisan itu adalah karya nona usia tiga tahun setengah, jadi wajar kan bentuknya unik". Pak Andre tiba tiba datang dan menengahi perdebatan kami berdua dengan senyum yang mengukir wajahnya.
"Lihatlah ini". Ucap pak Andre sambil mengeluarkan satu karya lagi.
Lukisan Dafira.
"Ini adalah lukisan nona saat menginjak usia 8 tahun, sangat mengagumkan bukan ??".
Pak Andre terlihat begitu bangga menunjukkan lukisanku kepada Rahel, dan Rahel pun terlihat sangat mengagumi lukisan milikku tersebut.
Jujur hal ini membuat ku sangat bangga dan sekaligus senang.
__ADS_1