
Ditempat lain...
"Aldo, hei sayang !. Ayo buka matamu!. Aldo !."
Aku gemetaran, rasa panik yang ada didalam hatiku sudah tidak bisa tersembunyikan.
Aku tidak tau harus melakukan apa. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat darah keluar sangat deras, bagaikan air kran keluar dari tubuh tunangan ku.
Aku ingin menutup luka itu. Luka yang disebabkan oleh sebilah besi tajam, yang menancap dipunggung Aldo. Tapi apalah daya, kedua tangan ku sedang dalam posisi terikat.
Aku cemas, sangat cemas, bahkan rasa cemas itu sampai membuat ku ketakutan. Rasa takut ini membawa ku berpikiran negatif.
"Bagaimana jika nasib tunangan ku seperti Rahel ?."
"Bagaimana kalau dia tidak mendapatkan darah yang cukup, hingga tubuhnya kekurangan darah dan membuat resiko Aldo meninggal dunia."
"Atau... bagaimana kalau beberapa menit dari sekarang Aldo menghembuskan nafas terakhirnya di depan mata ku?."
Semua fikiran negatif itu terus menerus berputar dikepala ku.
Didalam ketakutan, aku hanya bisa berdoa kepada Allah.
"Ya Allah, aku tidak tau harus berbuat apa, aku benar-benar merasa takut. Aku tidak bisa kehilangan Aldo, aku juga tidak bisa meminta pertolongan orang lain. Hanya engkaulah yang bisa menolong hambamu ini ya Allah, jadi tolonglah hambamu ini ya Allah, tolong selamatkan tunangan hamba dari kondisinya saat ini."
Pada detik sekarang, hanya Allah yang dapat membantu ku, aku mempercayai itu. Karenanya aku sekarang sudah pasrah, melihat wajah pucat Aldo beserta genangan darah dibawah tubuhnya, aku merasa ikhlas jika Allah mengambilnya.
"Aldo, jika kamu mendengar suara ku, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan."
__ADS_1
Entah mengapa aku merasa ini hari terakhir aku bersama dengan tunangan yang aku cintai. Karena itu aku berusaha mengatakan semua yang belum pernah aku katakan kepadanya.
"Pertama, aku sangat berterima kasih kepada mu, karena mu aku bisa merasakan cinta yang begitu aku ingin dari dulu. Kamu pasti tahu kan, kalau anak konglomerat tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Tapi karena ada kamu, aku bisa merasakan semua itu."
Walau dengan air mata berlinang, dan suara berpadu isakan tangis, aku berusaha mengatakan isi hati ku, didepan sosoknya yang terkapar lemah.
"Lalu selanjutnya. Aku ingin kau tau bahwa aku mencintaimu, aku tidak pernah mengatakan ini bukan ?, sejak pertama kali kita bertemu, hingga sekarang aku tidak pernah mengakui nya kepada mu. Tapi sekarang dihadapan mu aku mengakuinya."
"Hap...hufff." Nafas berat aku hela.
Kupandang lagi wajah Aldo yang semakin pucat. Rasa tak sanggup mengutarakan kata terakhir, berhasil membuat lidahku keluh. Aku sempat menangis. Tidak ada kata yang tepat selain, kejam terhadap perempuan tak berperasaan tersebut.
"Dimana hati nurani mu hah ?!." Dengan emosi tidak stabil aku berteriak secara tiba-tiba kepada Jhennite yang entah dimana keberadaan nya.
"Melihat aku dan Aldo begini apa kau tidak merasa hatimu sakit ?!, aku tidak tau harus mengatakan kau ini apa, kau tidak layak menyandang status sebagai manusia !!."
Sekarang aku faham kenapa Dafira bisa begitu terguncang hingga mengalami depresi berat. Karena rasa sakit melihat orang yang kau cinta sekarat, tidak dapat dijelaskan seperti apa rasa sakit nya. Rasa sakit yang begitu besar hingga dunia ini kau rasakan begitu gelap, otak yang tidak bisa berfikir jernih lagi hingga kau bisa menjadi gila sesaat.
Pada waktu aku putus asa, tanpa disadari pertolongan Allah pun datang. Semua bodyguard tingkat S yang menjalin kerjasama dengan keluarga ku datang membobol rumah yang sebelumnya dijaga sangat ketat.
Seketika aku menjadi terbelalak, ketua Fahri dengan kedudukan sangat tinggi kini sedang berada dihadapan ku. Aku menatapnya dengan lekat, tidak menyangka dia akan datang menyelamatkan ku.
"Nona anda baik-baik saja ?."
"Iya. Aku baik ketua, hanya saja... tunangan ku..."
"Yah aku tau, jangan khawatir dengan kondisi nya. Joy akan datang sebentar lagi dengan tim medis."
__ADS_1
"Ahh." Aku tanpa sadar mengeluarkan air mata kembali, tapi yang satu ini berbeda, air mata yang aku keluarkan bukan kesedihan namun merupakan tanda kebahagiaan ku.
"Syukurlah."
"Jangan menangis nona." Disaat bersamaan, ketua Fahri berjongkok dihadapan ku, dibukanya semua ikatan ditubuhku hingga aku bebas sepenuhnya. Lalu ia menyodorkan sebuah sapu tangan kepadaku.
"Hapus lah air mata anda nona, saya yakin tuan tidak ingin melihat nona menangis saat ia sadar nanti."
Aku menyambutnya dengan senyum sangat tipis, lalu beberapa waktu berselang, para tenaga medis yang dikatakan oleh ketua Fahri pun datang.
"Cepat !, bawa tuan Aldo kedalam ambulance, kita akan memberikan pertolongan pertama disana."
"Baik dokter Chandra !."
Semua dokter bekerja dengan cekatan, mereka membawa Aldo keatas ambulance dengan meninggalkan aku sendirian di sini. Akhirnya aku hanya bisa menyaksikan pertarungan antara dua keluarga besar, sungguh menakjubkan aku suka menyaksikan hal ini karena sangat menegangkan, tapi pertarungan itu hanya berlangsung sebentar karena bodyguard tingkat S milikku lah yang memenangkan pertarungan itu.
"Lepaskan aku !." Jeritan suara kini berganti, pada awalnya jeritan tersebut dari suaraku sekarang suara yang memenuhi rumah merupakan suara jeritan Jhennite.
Aku hampir tertawa dihadapannya ketika para bodyguard membawa Jhennite di hadapan ku, aku menertawakan keadaan dirinya, dia mengatakan bahwa ia tidak bodoh, tapi aku malah melihat dia sangat bodoh dan payah. Strategi yang dia susun sangat mudah untuk aku rubuhkan.
"Nona apa yang anda inginkan untuk wanita ini ?."
"Terserah saja, tapi jangan terlalu berlebihan, karena Reno adalah temanku, aku tidak mau dia sedih."
"Baik Nona, saya faham."
"Terimakasih ya ketua Fahri."
__ADS_1