Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 17: Pesawat kertas


__ADS_3

Pemotretan kini sudah selesai, Reno dan Jhennite juga sudah pergi ketempat tujuan mereka masing masing. Sekarang tinggal Dafira seorang diri didalam ruangan itu, berserta Rafaela yang entah pergi kemana.


Dafira yang mulai merasa takut sendirian berusaha mencari cari keberadaan Rafaela, ia berkeliling ruangan dan mengecek kamar mandi untuk menemukan adik tunangannya itu, tapi hasilnya nihil. Sepertinya Rafaela tidak ada didalam ruang pemotretan itu.


"Dimana ya Rafaela ??". Dafira bergumam seraya berfikir sejenak. "Hmm...dulu Rahel suka sekali taman apa Rafaela juga suka taman ya, tapi tidak semua saudara menyukai hal yang sama".


"Hah~. Yaampun adik dan kakak sama saja, keberadaannya tidak jelas". Begitulah gerutu Dafira yang sedang kesal.


Tapi sebenarnya apa yang dibilang Dafira tidak salah juga, karena seperti yang kita ketahui kondisi seperti saat ini juga pernah dialami oleh Dafira sebelumnya, namun bedanya yang menghilang adalah kakaknya Rafaela bukan Rafaela nya.


Sama juga dengan kejadian saat itu, seorang karyawan kebetulan lewat didepan ruang pemotretan Dafira, sehingga Dafira pun bisa menanyakan apakah ia melihat Rafaela pergi kemana.


"Permisi !!". Panggil Dafira kepada karyawan tersebut.


"Ada apa nona ??". Jawab karyawan itu melihat kearah Dafira.


"Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya apa anda melihat Rafaela ?, salah satu model disini".


"Oh. Model baru itu ya nona ??".


"Iya benar sekali apa anda melihatnya ?".


"Tadi sepertinya saya melihat tuan Rafaela pergi menuju taman yang ada dibelakang studio". Jelas karyawan itu kepada Dafira.


"Wah benarkah ?, kalau begitu terimakasih ya atas bantuannya".


"Iya nona tidak masalah, kalau begitu saya permisi dulu ya".


"iya".


Karyawan itu pun langsung kembali berjalan menuju tempat yang ia tuju sebelumnya.


Sekarang karena Dafira sudah tau dimana keberadaan taman studio, ia pun langsung berjalan menuju kesana. Tanpa mencari cari peta seperti beberapa tahun yang lalu.


"Hah akhirnya Sampai juga~". Gumam Dafira.


Seperti tujuan awal tadi, sesampainya ditaman studio Dafira langsung mencari keberadaan Rafaela. Syukur nya keberadaan Rafaela ini sangat mudah dicari, karena ia berdiri ditepi taman studio yang berada dipuncak bukit.


"Ohh !! itu dia". Mata Dafira langsung menuju kearah Rafaela yang tengah menerbangkan sebuah pesawat kertas.


"Sedang apa Rafaela ??". Tanya nya sedikit heran didalam hati. "Hah sudahlah aku hampiri saja".

__ADS_1


"Rafaela !!!!". Begitu teriak Dafira sambil berlari menuju Rafaela. Karena merasa ada orang yang memanggil Rafaela langsung menoleh kearah datang nya suara tersebut, lalu tanpa diduga pemilik suara yang begitu cempreng adalah Dafira.


"Hah ??. Apa yang kakak lakukan ??". Tanya Rafaela dengan heran.


"Duh jangan buat ekspresi memandang aneh begitu deh. Aku dari tadi mencarimu tau". Jawab Dafira sedikit terengah-engah


"Kenapa kakak mencari ku ?".


"Wah !!, kamu ini rekan bagaimana sih, kakak masak ditinggal sendiri didalam ruang pemotretan".


"Jadi kakak takut ??". Rafaela terkekeh ketika mendengar pernyataan Dafira tadi.


"Emm... mungkin". Sedangkan Dafira yang malu hanya memalingkan pandangannya, agar tidak ketahuan bahwa ia sangat takut sendirian didalam sebuah ruang kosong.


"Ya sudah deh maaf kan aku".


"Mmm...tak masalah kok. Ohya kamu sedang apa disini ?".


"Melihat pemandangan, lalu apa lagi ?".


"Benarkah, tadi kakak melihat kamu menerbangkan pesawat kertas".


"Hah ??". Sontak Dafira langsung bingung dengan jawaban Rafaela ini.


Tapi Rafaela hanya tersenyum menanggapi kebingungan Dafira, lalu dengan tiba tiba Rafaela mengeluarkan selembar kertas lagi dari dalam sakunya.


"Ini untuk kakak". Rafaela memberikan kertas tadi kepada Dafira.


"Untuk apa ??". Tanya Dafira yang masih bingung.


"Kata mama kalau angin itu selalu bergerak kemana pun, bahkan sampai kelangit saja angin juga masih bergerak. Jadi jika ada pesan yang ingin disampaikan kepada seseorang yang jaraknya bermil-mil mungkin angin bisa membawanya dan menyampaikan isi pesan tersebut. Jadi aku mengirimkan pesan dengan cara menerbangkan pesawat kertas yang berisi surat". Begitu jelas Rafaela kepada Dafira.


Dafira yang mendengarkan penjelasan Rafaela menjadi terdiam sesaat dengan selembar kertas ditangannya.


"Rafaela". Panggil Dafira.


"Ada apa ??".


"Apa aku bisa mengirimkan sebuah surat kepada Rahel ??". Wajah Dafira kembali terlihat sendu setelah mengucapkan pertanyaan itu. Sedangkan Rafaela, ia kembali tersenyum saat melihat Dafira yang berada dihadapannya ini.


"Tentu saja bisa, kakak jangan khawatir aku saja tadi mengirimkan pesan kepada kak Rahel". Begitu Jawab Rafaela dengan riang seraya menjentikkan jari.

__ADS_1


Dafira yang melihat sikap Rafaela menjadi tersenyum, entah kenapa saat ini sosok Rafaela yang sedang menjentikkan jari terlihat begitu sama persis dengan tunangannya yang telah tiada Rahel.


Karena apa kalian tau...


Menjentikkan jari adalah salah satu kebiasaan Rahel didalam suasana yang menurut nya menyenangkan, jadi hal itu terlihat sama persis dengan yang dilakukan Rafaela saat ini.


"Kenapa kakak tidak mencobanya saja". Rafaela mencoba untuk memberikan tawaran yang kedua kali kepada Dafira yang masih terdiam.


"Yahh, benar aku harus mencobanya". Gumam Dafira menjawab tawaran Rahel.


"Yap, benar sekali". Lalu Rafaela menunjuk sebuah kursi taman yang keberadaannya tidak jauh dari tempat mereka berdiri. "Ayo kesana, tulis lah surat kakak terlebih dahulu baru kita sampaikan kepada angin".


Dafira pun mengangguk sebagai tanda ia, mereka berdua langsung berjalan menuju kursi tersebut. Disana Dafira langsung menuliskan apa yang ingin ia sampaikan, suratnya tak panjang tapi memiliki beribu ribu makna bagi sang penerimanya.


"Apa sudah siap kak ??". Tanya Rafaela kepada Dafira.


"Iya, sudah selesai". Jawab Dafira.


"Nah sekarang tinggal langkah terakhir, kakak tinggal lipat saja kertas itu menjadi pesawat, lalu terbangkan pesawat kertasnya kelangit lepas, setelah nya biarkan sang pesawat dibawa oleh angin, kemudian surat itu akan tersampaikan nanti".


Dafira pun melakukan apa yang dibilang oleh Rafaela, ia melipat kertas tersebut menjadi pesawat kertas lalu menerbangkannya tinggi tinggi hingga bisa mencapai awan.


Saat menerbangkan pesawat kertas itu tersirat sedikit harapan didalam hati Dafira.


"Rahel please accept my little letter". Itulah harapan yang Dafira gumamkan ketika menerbangkan pesawat kertasnya.


"Bagaimana kak ??, apa hati kakak merasa lebih baik sekarang ??". Rafaela kembali melayangkan sebuah pertanyaan kepada Dafira. Dan Dafira membalas pertanyaan itu dengan senyum manis khas miliknya.


"Iya, kamu benar sekali, hati kakak lebih baik sekarang".


"Hah !!, aku tau. Karena sebenarnya aku sering melakukan ini jika aku sedang rindu kakak atau sedang bersedih".


"Oh... benarkah ??".


"Yah, begitulah... Sebaiknya hal ini jangan dibahas lagi, ohya kakak kan janji akan menceritakan tentang kak Rahel bagaimana kalau sekarang ??".


"Bagaimana kak Rahel dipandangan kakak ??".


"Huff !!, baiklah kakak akan ceritakan, tentang Rahel kepadamu".


11 Tahun yang lalu...

__ADS_1


__ADS_2