Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter Spesial: Tangan yang terlepas


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sedangkan aku belum sama sekali merasa mengantuk. Kali ini aku merasa sangat segar, tanpa ada rasa lelah yang biasanya aku hadapi.


Aku sudah berkeliling kamar, meminum susu coklat, serta mendengarkan musik, agar aku dapat tertidur. Tapi lagi-lagi usaha itu gagal, rasa kantuk belum juga menghampiriku.


Aku jadi termenung diatas tempat tidur, memandangi langit-langit kamarku tanpa tau harus melakukan apa guna menghilangkan kebiasaan ini.


Tapi apa kalian tau. Disaat aku termenung begitu, entah mengapa wajah Rahel langsung terlintas dikepalaku.


"Dek !".


Sontak aku jadi kaget, lalu buru-buru aku bangkit menjadi posisi duduk. Dengan kaki bersila aku menarik nafas guna menenangkan debaran jantung ku.


Aku bertanya-tanya. "Apa yang terjadi sebenarnya tadi ?".


"Rahel, apa yang terjadi ??". Begitulah pertanyaan yang terus-menerus berputar dikepalaku.


Secara bersamaan dengan itu pula aku merasakan bahwa depresi tidak menyenangkan ini akan kembali. Lagi-lagi tubuh ku mulai bergetar, keringat dingin juga mulai membasahi tubuhku, detak jantung yang belum stabil semangkin berdebar kencang tidak terkendali.


Aku terengah-engah masih mencoba berbagai cara untuk menenangkan depresi yang datang. Tapi semuanya tidak ada yang berhasil, depresi ku sama sekali tidak mau meninggalkan aku.


Disaat yang seperti itu aku sudah putus asa mencari cari menghilangkan depresi ini sendirian, untungnya diwaktu yang tepat mama datang ke kamarku.


"Dafira ?". Aku menoleh kearah mama yang membuka pintu secara perlahan.


Aku yakin mama pasti berfikir bahwa aku sudah berada didalam mimpi, karena itu ia membuka pintu perlahan-lahan. Tapi ternyata bukannya berada didalam mimpi, depresi yang tidak diinginkan kedatangannya malah menghampiri ku.


Mama yang melihat aku dalam kondisi tidak baik tentu saja langsung menjadi panik, mama berlari kearah ku seraya mengecek keadaan ku. Dengan ligat mama mengambilkanku segelas air hangat beserta obat yang sudah dicampur dalam air tersebut.


"Bagaimana sayang, sudah baikan". Wajah cemas sangat tergambar jelas di wajah mama, lalu aku dengan terpaksa mengangguk iya padahal sebenarnya aku tidak yakin depresi ini membaik.


"Syukurlah..."


"Dafira sekarang kamu tidur oke. Mama yakin kalau kamu tidur keadaan mu akan menjadi lebih baik".


Aku menuruti perkataan mama, dengan perlahan mama membantu ku untuk membaringkan tubuh diatas tempat tidur, dan menarik selimut hingga menyelimuti seluruh tubuhku.


Aku akhirnya terlelap, tidak tau apakah ini efek obat, atau memang tubuh ku sudah merasa lelah.


.

__ADS_1


.


.


Satu jam kemudian


"Dafira".


"Dafira, ayo buka matamu". Suara yang aku kenal samar-samar memanggil nama ku.


"Hmmm ?, kenapa sih". Aku menggeliat, dengan mata terbuka sedikit.


"Aduh. Kamu masih sulit saja dibangunkan". Saat aku membuka mata dengan redup, ukiran senyum seorang pria yang aku kenal begitu terlihat jelas di mataku.


Hingga, aku menjadi terpaku tak bisa berkata kata. Air mataku menetes dengan sendirinya, aku sungguh tak menyangka malam ini, di jam ini, dan di detik ini juga, takdir akan mempertemukan aku dengan Rahel dialam bawah sadar ku.


"Ra...Rahel ?".


"i-ini benar kamu ?".


"Ya tentu saja Dafira".


"Dafira".


"Grepp !". Tiba-tiba ia mendekapku.


"Tolong jangan menangis, aku tidak bisa melihatmu menangis lagi seperti sekarang. Tolong jangan menangis lagi Dafira".


Tangisanku pecah didalam dekapan erat yang sangat aku rindukan. Kehangatannya saat ini, kelembutan yang ia berikan, serta aroma yang masih sama, merupakan hayalan ku disetiap hari dalam hidupku.


Suara Rahel yang menenangkan ini begitu aku rindukan, tatapan mata yang memandangku dengan lembut juga merupakan hal yang sangat aku rindukan.


Tapi...tapi sekarang itu semua bisa kembali aku rasakan setalah bertahun-tahun merindukannya. Aku tau ini tidak nyata, tapi aku sekarang sangat menginginkan Rahel tidak melepaskan aku beserta dekapannya.


"Sudah jangan menangis".


"Tidak, hiks...jangan lepaskan aku Rahel". Aku semangkin mengeratkan tanganku di pinggang Rahel.


"Yasudah, kalau kamu nyaman dalam keadaan begini, aku akan terus memelukmu".

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mu Dafira". Rahel memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Buruk".


"Hufff...aku tau, bagaimana kalau kamu cerita kepadaku sekarang".


"Setelah kejadian itu".


Jujur aku sebenarnya tak kuasa mengingat semua kejadian dimana Rahel meninggalkan ku, namun aku ingin Rahel mendengar kalimat maaf ku, aku ingin ia mendengar semua curahan hati yang selama ini aku tahan. Jadi karena itu akan lebih aman bagiku jika aku memendamkan wajah di dada bidang miliki Rahel.


"Hidupku terasa sangat kosong, tidak ada yang namanya tawa, aku juga jadi depresi karena salah mu".


"Deoresiku membuat semua orang menjadi remeh, itu salah mu Rahel".


"Peffff". Rahel tertawa kecil.


"Aku selalu menyalahkan mu karena kamu meninggalkan aku sendiri di dunia kejam ini. Tapi aku melupakan sesuatu, bahwa akulah penyebab kematian mu".


"Rahel, kamu tidak akan mengetahui betapa besarnya rasa bersalah ku, setiap hari dan detik didalam kehidupan ku, aku selalu ingin menjumpai mu agar bisa meminta maaf secara langsung".


"Aku sering ingin mati karena mu, aku hampir mati itu juga karena mu".


"Rahel...kenapa, kenapa kamu harus menyelamatkan aku, seharusnya biarkan saja aku yang...".


"Hentikan Dafira". Tiba-tiba Rahel memotong kalimatku.


Ia melepaskan dekapannya, dibukanya kunci tanganku yang melingkar di pinggangnya, lalu pelukan Rahel berganti menjadi tatapan mata dalam kearah mata ku.


Disaat itu, aku bisa melihat jelas wajah tunangan yang sangat aku cinta, mata jernihnya begitu tenang tidak seperti biasa yang selalu penuh beban. Aku yakin melihat Rahel dengan ketenangan abadi secara tidak langsung membuat ku merasa bahagia.


Tapi tetap saja hatiku masih tidak bisa menerima bahwa tunangan ku sudah pergi untuk selama-lamanya.


"Aku yang salah, ini pilihanku, bukan pilihanmu". Didalam tatapan mata tajam milik Rahel, ia berbicara kepada ku.


"Kamu sudah mendengar semuanya dari Rafaela kan ?, keluarga ku sangat rusak, tidak ada kebahagiaan didalamnya".


"Lalu buat apa Dafira. Aku masih hidup didalam kesengsaraan ??".


"Akan lebih baik aku begini, mengawasimu dari atas tanpa memikirkan beban yang ada di pundak ku selama 21 tahun lamanya".

__ADS_1


__ADS_2