Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 50: Mau lari kemana ?


__ADS_3

Diatas panggung dansa Andika tidak henti-hentinya memandang wajah Jhennite yang tertunduk menahan rasa malu. Andika mengetahui bahwa Jhennite sekarang tengah merasa berdebar, tapi jangan salah, disetiap debaran itu Jhennite selalu mengingat wajah Reno, cinta pertamanya.


"Anda sangat cantik hari ini nona." Andika meluncurkan gombalan maut, yang berhasil membuat jantung Jhennite serasa ingin meledak.


"Te...terimakasih." Jawab Jhennite terbata.


"Kenapa anda tertunduk seperti itu ?, apa saya membuat anda merasa tidak nyaman ?."


"Tidak." Tanpa sadar Jhennite menjawab pertanyaan Andika dengan suara setengah berteriak.


"Oh, benarkah?." Lalu Andika membalasnya dengan terkekeh kecil.


"Saya hanya takut akan memijak kaki tuan Andika, karena saya tidak pandai berdansa".


"Jadi karena itu anda terus menundukkan wajah begitu ?."


"Benar." Jawab Jhennite singkat.


"Yahh...saya fikir anda malu seperti sekarang karena merasa saya adalah pria idaman".


"Krak !."


Terpijaklah kaki andika oleh Jhennite, mereka berdua seketika sama-sama kaget, apalagi Jhennite sang pelaku yang kini sudah membelalakkan matanya.


"Maaf... maafkan saya tuan saya tidak sengangaja." Kepanikan sudah mulai terasa menghampiri Jhennite sekarang, dia begitu cemas karena tidak konsentrasi dalam berdansa, ia harus melakukan kesalahan didepan orang yang baru dia kenal.


"Hahaha tidak masalah nona, tubuh anda sangatlah ringan jadi tidak terasa sakit sedikitpun". Sedangkan Andika kini hanya bisa tertawa renyah, seraya menahan sakit akibat diinjak dengan haihils milik Jhennite.


Disaat mereka sedang sibuk berdansa, jari-jari lentik Sovia mulai memainkan rencana A miliknya.


Tas yang ditinggal Jhennite diatas meja ia bawa ke pangkuannya, lalu ditutupi oleh tubuh Aldo yang besar agar tidak ketahuan. Setelah melihat Kana, kiri beserta sekeliling, Sovia pun sekarang membuka perlahan-lahan tas milik Jhennite, dan meraba-raba isi dalam tas itu dengan jari-jemarinya yang lentik.


"Tuk."


Benda yang ia cari pun berhasil ditemukan. Ia keluarkan dari dalam tas, lalu ia berikan keatas tangan Aldo.


"Ini sayang." Ucapnya sembari menyambungkan sebuah kabel merah kedalam Hp android milik Jhennite.


"Baik sekarang tinggal kita kirimkan."


"Klink !." Pengiriman data selesai.


Hanya perlu waktu sekitar 3 menit saja, hp Jhennite kini berhasil disadap oleh Aldo dan Sovia. Data-data penting milik Jhennite sudah berada ditangan pengacara Adam yang kini sedang menerima data tersebut di kantor CBR.


Karena merasa sudah tidak ada gunanya mereka berada di acara pesta tersebut, Aldo beserta Sovia lebih memilih untuk pergi menemui pengacara Adam di kantor CBR.


Lalu bagaimana kisah pengacara Andika ?... hmmm entahlah, kita tunggu saja setelah ia selesai berdansa.


.


.


.


Dikantor CBR...

__ADS_1


"Kling." Sebuah data masuk kedalam salah satu laptop.


"Bagus sekali." Seorang pria tampak memiringkan senyumnya kearah layar laptop tersebut. "rencana A berjalan dengan lancar."


Lalu, setelahnya ia langsung memeriksa data tersebut dengan amat sangat cepat.


"Oke mari kita buka isi chat dari hp Jhennite."


"Chat 20 Mei."


"Chat 30 Mei."


"Chat 21 Juni."


"Chat 25 Juni."


"Chat 21 Juli."


"Chat 14 Agustus".


Pria itu terus menerus bergumam, mengikuti tanggal-tanggal chat yang dengan cepat berganti dalam hitungan detik.


"Chat 20 Okto..." Namun kalimatnya terhenti ketika melihat chat dibulan Oktober.


Matanya menjadi liar, dengan cepat ia mainkan jarinya diatas keyboard, dibukanya satu satu feil data yang berhubungan dengan 20 Oktober sampai 24 Oktober, dan disanalahh ia menjadi berseru.


"Bingo !, mau lari kemana lagi sekarang Jhennite ?".


Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya siapakah pria tersebut ?, namanya adalah Alexsander Adam Elios, yang sering dikenal dengan sebutan Pengacara Elios. Sama halnya dengan pengacara Andika Lark, pengacara Elios juga memiliki potensi besar disetiap kasusnya, untuk saat ini tercatat ada 40 lebih kasus yang berhasil di menangkan olehnya sebagai seorang pengacara. Jadi wajar saja Aldo dan Sovia memilih mereka berdua untuk membuka kasus kematian Rahel kembali.


📱"Pengacara Lark, aku sudah mendapatkan satu bukti kuat." Karena rumor yang disebarkan benar sekali apa adanya.


📲"Baik saya akan ke sana."


Telfon mati, dengan bunyi 'Tit', kaki pengacara Elios dengan cepat langsung memutar balikkan tubuhnya, kemudian berlari menuju kearah luar gedung CBR.


Waktu terus berdetak tiada henti, setiap langkah kaki pengacara Elios terasa diikuti oleh waktu yang mengejar sekarang. Dengan mengendap-endapa menyembunyikan file bukti tadi, ia melesat sekuat tenaga berusaha agar tidak ada orang lain melihat kelakuan janggal dirinya.


Disaat sedang berlari, hampir menyentuh mobil, kakinya terhenti dan fokusnya tergantikan kepada orang dihadapannya.


"Pengacara Elios ?, anda mau kemana ?".


"Saya mengucapkan salam kepada nona muda, dan tuan muda." Ternyata ada Sovia dan Aldo berdiri dihadapan Elios.


Seperti yang Aldo dan Sovia rencanakan tadi, mereka memang ingin datang ke kantor CBR untuk melihat perkembangan bukti penyerangan Rahel dibulan Oktober, jadi tak perlu waktu lama kini mereka telah sampai ditempat tujuan, bahkan mereka langsung bisa bertemu dengan orang yang bersangkutan langsung.


Diwaktu bersamaan pula...


"Pengacara Elios". Suara teriakan Andika yang tersengal, seketika terdengar ditelinga mereka bertiga. "Bagaimana bukti itu, bisa kau perlihatkan kepada ku ?." Dan dia melanjutkan pembicaraan dengan seenak hati, tanpa memberi penghormatan terlebih dahulu kepada Sovia dan Aldo yang berada didekatnya.


"Bukti ?, kalian sudah menemukannya." Andika pun tersentak, dia baru menyadari seketika bahwa ada sang nona dan tuan muda saat Aldo mengeluarkan suara diakhir kalimat dirinya tadi.


Menyadari kesalahannya begitu besar, dengan tubuh sedikit gemetar, Andika cepat-cepat langsung membungkuk kan tubuhnya menandakan bahwa ia sedang memberikan penghormatan kepada Sovia dan Aldo.


"Yaampun pengacara Lark, kamu tidak perlu takut begitu, aku gak masalah kok." Sovia terkekeh geli melihat kelakuan Andika saat ini, tapi di sela kekehannya itu, Sovia menunjukkan sedikit senyuman Jahil.

__ADS_1


"Ehem." Sovia sedikit berdeham. "Gimana hubungan kamu dengan Jhennite Pengacara Lark ?, apa sudah melangkah menuju lebih maju, hmmm ?".


Kejahilan benar keluar dari mulut Sovia, Andika sebagai orang digosipin hanya bisa terdiam seraya memegangi kepalanya yang pusing, sekarang ia ingin marah tidak mungkin, tapi kalau dijelaskan masalahnya tidak akan semudah itu selesai.


"Hahh...." Pada akhirnya dia hanya bisa menghela nafas. "Nona saya hanya menjalankan perintah anda untuk menahan Jhennite. Saya tidak pernah merasakan apapun saat sedang berdansa dengan nya."


"Oh benarkah ?, padahal Jhennite cantik banget loh."


"Saya sedang ingin membangun karir untuk sekarang nona, jadi saya tidak berfikir kearah sana."


"CK !, pengacara Lark selalu saja begitu, mau kapan lagi sih mencari jodohnya". Entah utusan asrama siapa, tuba tiba Sovia terbawa emosi sendiri sampai ia mengeluarkan decakan.


"Saya hanya akan menunggu diwaktu yang tepat nona." Namun lagi lagi Andika tetap membalas perkataan sang nona muda dengan lembut dan tenang.


"Terserah anda saja deh." Karena kejahilannya sudah dipadankan dengan mudah oleh Andika, Sovia pun menjadi menyerah dan mengganti kejahilannya dengan rasa penasaran.


"Oke pengacara Elios mana buktinya, aku ingin melihat bukti itu." Sovia berbicara dengan api semangat membara dibelakang.


"Baik, saya akan menunjukkan nya, tapi kita harus ketempat yang aman, karena saya merasa ada yang mengikuti dari tadi." Pengacara Elios menjelaskan sambil setengah berbisik kepada Sovia.


"Oke." Sovia menaikkan jempolnya keatas. "Ayo kita ke rumah Aldo."


"Baik."


Mereka pun pergi menuju tempat yang diberitahu oleh Sovia tadi, dengan harapan besar bahwa malam ini kasus kematian Rahel dapat dibuka kembali, dan mereka bisa melapor ke polisi agar sang pelaku bisa mendapatkan balasan.


Tapi...


"Nona dalam bahaya sekarang ketua."


"Lindungi nona sekuat tenaga kalian !."


"Baik !."


Tidak ada yang akan. memastikan, rencana yang mereka susun akan berjalan atau tidak.


...----------------...



Nama: Alexsander Adam Elios


Umur: 25 tahun


Golongan darah: AB


Status: Jomblo ( Author: 'tokoh author ini betah sekali jomblo, selama 25 tahun dia sama sekali tidak mencari pasangan 😎, maklum saja hobinya kerja )


pekerjaan: Pengacara


Hobi: Kerja, mencari kerjaan, dan membaca artikel misteri


Makanan favorit: Udang goreng


Hal dibenci: Gak ada kerja

__ADS_1


Moto: Dunia terus berputar, jadi untuk menjadi yang terbaik kamu harus berlari dan mengejarnya


__ADS_2