Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 44: Kasus ini berat


__ADS_3

Ditempat berbeda.


Kini dua pasang sejoli sedang membicarakan sesuatu. Siapa lagi jika bukan Aldo dan Sovia, mereka berdua tengah berada di Kediaman Nugroho.


"Al, ini minum mu". Sovia meletakkan secangkir kopi susu tepat di sebelah meja Aldo. Kemudian sang tunangan yang tengah sibuk memainkan jari jarinya pada keyboard laptop, hanya berterimakasih tanpa memperhatikan Sovia.


"Ya terimakasih Sovia".


"Hufff ~".


Sovia menghela nafas frustasi. Sedih rasanya melihat tunangan sendiri tega tidak memperhatikan kita saat sedang mencoba memberi perhatian, tapi itulah yang dirasakan oleh Sovia sekarang.


Tak mau ambil pusing dengan sikap dingin tunangannya yang sudah biasa, Sovia pun pada akhirnya memilih untuk duduk di sofa dengan jarak sangat jauh dari meja kerja Aldo.


Disofa tersebut Sovia sangat menikmati hidupnya. Kaki ia selinjorkan, pinggang diberi bantal, lalu ada secangkir susu coklat bertabur marshmellow diatasnya.


"Sungguh, ini adalah nikmat dunia". Begitulah kalimat pertama yang dilontarkan oleh Sovia sesudah ia meminum sedikit susu coklat ditangannya.


Sesudah itu barulah Aldo menyadari bahwa sang tunangan tengah merajuk kepada dirinya.


"Sovia sayang, kenapa disana duduknya". Aldo memberikan sedikit bujukan kepada Sovia, tapi tetap dalam keadaan sibuk dengan laptopnya.


Sovia tentu tidak memperdulikan Aldo, karna dilihatnya Aldo masih tidak memperdulikan dirinya yang berada sangat jauh, tapi tepat didepan mata Aldo.


"Sayang kamu marah nih kok aku gak dijawab".


"..." Sovia masih tetap diam.


"Huffff~". Aldo menutup laptopnya, seraya berjalan mendekat ke arah Sovia.


"Maaf ya sayang, aku tidak memperhatikan mu tadi. Sayang kamu tau kan kasus ini sangat berat dan besar, aku harus menemukannya demi sahabat kita, jadi plis kamu jangan marah ya".


Mata mereka saling memandang, dalam sekala yang sudah dekat. Aldo duduk didepan Sovia, sedangkan Sovia sekarang sudah berada pada posisi duduk bersila. Bibir manyun yang menandakan bahwa dirinya masih marah membuat Aldo tersenyum seketika.


"Ck !, kenapa ketawa ??". Kalimat ketus keluar dari mulut Sovia.


"Gak, cuma semangkin dilihat tunanganku sangat cantik sekali ternyata".


Yah begitulah si Aldo, disaat Sovia tengah merajuk, disaat itu pula dia meluncurkan gombalan maut.


Namun apalah daya, yang ia gombalin merupakan wanita kaku yang tidak suka mendengar gombalan dari siapapun. Jadi akhir kisah Sovia memukulkan bantal kursi sofa disampingnya menuju wajah Aldo.


"Buk !!". Suaranya mengagetkan jantung.


"Aduh !, sayang".


"Gak usah gombal deh !!, aku gak suka digombalin".


"Yaampun, oke deh oke, tapi jangan marah lagi dong".

__ADS_1


"CK !!".


Hati Sovia lama-lama luluh akibat dari bius gombal milih tunangannya, sampai tanpa sadar senyuman kecil mulai menghiasi wajahnya.


Namun Aldo malah semangkin mengganggu Sovia yang sudah mulai tersenyum.


"Aduh-aduh". Aldo meletakkan tangannya di dada, seakan dadanya itu terasa sakit hingga membuat Sovia terkejut.


"Eh kamu gak papa ??".


"Aduh, senyum kamu Sovia, membuat hatiku berdebar sampai akan meledak".


"Yaampun Aldo Satria Putra Nugroho !".


Lagi lagi amarah Sovia keluar, dicubitnya pinggang Aldo hingga Aldo meringis kesakitan.


Tapi walau Sovia mengungkapkan rasa kesal dirinya yang terus-terusan digoda Aldo, didalam hatinya kini sudah tidak ada sama sekali perasaan marah yang menyelimuti. Malah senyuman mereka yang menghias sekarang.


Sampai para pekerja yang berada disitu guna menemani Aldo dan Sovia, menjadi baper melihat cara mereka mengungkap kasih sayang antara satu dengan yang lain.


.


.


.


1 Jam setelah bercanda gurau...


"Tunggu sebentar, ini chat yang ada di hp Reno ?".


"Iya benar, aku memindahkan semua data di hp nya ke laptop ku saat hp dia tertinggal disini".


Bibir tipis Sovia seketika tertarik, hingga membuat sedikit seringai diwajahnya. "Bagus dong kalau gitu".


"Hufff... apanya yang bagus, dari tadi aku baca satu persatu di setiap chat ini, hanya ada masalah pekerjaan didalamnya".


"Oh benar kah ??".


"Iya".


"Hmmm". Sovia berfikir sejenak, sambil ia juga membuka satu persatu isi dari chat di laptop Aldo. Namun ketika melihat tanggal di chat tersebut, ada satu ide yang terlintas di kepala Sovia.


"Al, apa kamu sudah mencocokkan setiap chat ini dengan tanggal saat terjadinya penyerangan ?".


"Aku sudah melakukannya. Kamu bermaksud menyelidiki orang yang melakukan chat kepada Reno saat malam penyerangan tersebut kan ??".


"Yap". Sovia menjentikkan jarinya. "Itu yang aku pikirkan. Apa yang kamu dapatkan Al ?".


"Tidak ada".

__ADS_1


"Hah ??". Seketika Sovia terdiam, lalu ia bertanya lagi, tapi dengan berpikir cepat menyusun setiap potongan cerita agar menjadi saru kisah rinci.


"Disetiap chat apa saja isinya Al ??".


"Tidak banyak, disana ada permintaan meeting, pembicaraan Reno dengan sekretaris nya, dan ada chat dari Jhennite juga".


"Jhennite ??... sebentar Al, bisakah kamu menyebutkan siapa saja yang melakukan chat dengan Reno dimalam itu ?".


"Biar aku ingat". Aldo menyenderkan bahunya ke lengan sofa, hingga posisi antara Aldo dan Sovia kembali saling berhadapan.


"Malam itu hanya ada beberapa chat yang masuk ke hp Reno. Disana ada chat dari 3 orang rekan bisnis Reno, lalu ada pula guru Reno yang mengabarkan bahwa seminggu dari kejadian itu ada seorang arktis melakukan pemotretan, kemudian ada chat dari sekretaris Reno, dan terakhir ada chat dari Jhennite juga".


Sovia langsung merasakan ada sesuatu hal yang janggal, dari nama nama tersebut entah kenapa perasaannya tidak enak ketika mendengar nama Jhennite.


"Al, kenapa Jhennite mengirim chat ke Reno, saat itu kan dia ikut".


"Apa ?, dia ikut sayang ??, siapa yang mengajak dia ??".


"Aku tidak tau, tapi pokoknya setengah jam setelah kami bermain, tiba tiba dia datang menghampiri Reno, tapi saat itu kami tidak tau dia tunangan Reno, kami kira dia cuma pdkt aja sama Reno".


"Sovia kamu merasa sesuatu yang janggal gak ??".


"Tentu Al. Disini aku melihat banyak sekali foto yang dikirimkan Jhennite kepada Reno, gimana kalau kita cek foto tersebut ?".


"Ya, aku setuju".


...----------------...


Salah satu tokoh BMYT :



Nama : Rayhan


Pekerjaan : Pengawal pribadi Dafira (Rayhan juga teman kecil Dafira).


Status : Jomblo


Makanan favorit : (Rayhan tidak pilih-pilih makanan).


Hobi : Olahraga


Umur : (Hanya Dafira yang tau)


Golongan darah : A


Ketakutan : Dafira terluka (Hal ini karena tuan besar akan meledak jika putrinya tergores walau sedikit)


Hal dibenci : Depresi Dafira yang kembali

__ADS_1


Moto : Keselamatan nona besar diatas segalanya


__ADS_2