
Seorang wanita yang begitu cantik dengan rambut hitam panjang yang digerai tampak sedang duduk didepan jendela kamarnya.
Iya terlihat sedang menulis sebuah buku yang bewarna pink, dengan lukisan bunga sakura didepannya.
Ia tersenyum senyum sendiri, sesaat sedang mengisi lembaran demi lembaran buku tersebut, namun tak jarang pula gadis itu memasang wajah sendu ketika ia membaca ulang rangkaian tulisan yang ia buat beberapa tahun lalu.
"My favorite memory. Maaf ya aku sekarang sangat jarang melihat dan mengisimu. Selama beberapa tahun ini aku merasa tidak sanggup setiap kali melihat isi mu, karena itu maafkanlah aku jika tidak pernah menuangkan cerita lagi didalam mu".
"Oh ya ada satu hal yang ingin aku beritahu kepadamu, hari ini tepatnya dipagi hari aku berjumpa dengan adiknya Rahel, kamu pasti sudah tau siapa itu Rahel karena dilembaran mu sebelumnya nama itu tertulis banyak sekali hingga memenuhi mu".
"Adiknya Rahel itu juga bercerita tentang masa lalu kelam yang pernah dilewati oleh Rahel, lalu dia juga berkata kalau ada pesan yang dikirimkan oleh Rahel untuk ku. Aku begitu penasaran kapan Rahel menulis surat itu, namun adiknya Rahel tidak mau menjawabnya sama sekali".
"Baiklah My favorit memory, sampai disini dulu ya ceritaku, sampai jumpa di lain waktu".
Wanita itupun menutup buku catatan kecil nya, lalu memandang keluar jendela yang tepat berada disamping meja belajar. Wanita itu tidak lain adalah Dafira yang saat ini tengah menikmati langit malam.
__ADS_1
Hembusan angin malam yang begitu lembut terasa seperti mengelus pipi Dafira. Dafira begitu menikmatinya lalu memandang keangkasa yang saat itu sedang ditaburi bintang, bintang malam yang berkelap-kelip begitu menggoda Dafira untuk keluar dan bercengkrama langsung dengan suasana malam.
"Sungguh indah". Begitu ucap Dafira sambil menatap bintang dibalkon kamarnya. Lalu sesaat sedang memandangi bintang cerita legenda Jepang langsung terlintas dibenak Dafira.
"Hei Rahel, Apakah benar saat ini kamu sedang mengawasi kami dari bintang bintang ??".
Wajah Dafira kembali terlihat sendu, lalu angin yang kuat pun langsung menerpa Dafira seakan akan menyampaikan peluk hangat dari Rahel yang mendengar suara Dafira dimalam itu.
Dafira juga langsung merentangkan tangannya dan memejamkan mata, ia begitu menikmati terpaan angin kencang tersebut yang seakan akan sedang memberikan pelukan kepadanya.
Tiga puluh menit berselang, Dafira memilih untuk masuk kedalam kamarnya kembali karena udara malam sudah terasa tidak menyehatkan.
Setelah masuk kedalam kamar Dafira merapikan buku catatan kecil diatas rak rak spesial. Diatas rak tersebut tampak barang barang yang begitu imut dan lucu dengan susunan rapi. Dafira tersenyum dan jari jari lentik tangannya menyusuri satu persatu rak rak tersebut, tanpa disadari...
"Brak !!!".
__ADS_1
Jari lentik Dafira yang menyusuri rak rak tersebut menjatuhkan satu catatan kecil lainnya.
"Oh... Yaampun !". Dafira kaget dengan suara jatuhnya buku itu.
Dengan cepat Dafira langsung memungutnya lalu meletakkannya di rak rak seharusnya, namun sebelum melakukan itu tangan Safira terhenti dan matanya tak dapat berpaling memandangi buku yang ada ditangannya itu.
Dengan hati penasaran Dafira membawa buku itu keatas tempat tidurnya, disana ia duduk sambil membuka halaman pertama dari sang buku.
Seperti dugaannya tadi, buku itu adalah memori yang sudah lama ia tinggalkan.
Dafira langsung meletakkan buku itu didalam laci terbawah, dan menghempaskan tubuhnya keatas kasur dengan selimut yang menutupi wajahnya.
Dafira begitu keras berusaha untuk bisa tidur dan melupakan semua isi buku tidak berguna itu. tapi lagi lagi senyum seorang pria yang ia anggap istimewa menghampiri alam bawah sadarnya.
"Ahh~~aku tak akan bisa tidur malam ini".
__ADS_1