Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
chapter 24: Kakak benci hujan


__ADS_3

Ditaman studio pemotretan...


"Setelah masa masa itu aku dan Rahel selalu bersama, hubungan kami juga bertambah dekat setiap harinya".


"Ah !... benar. Ada satu kenangan yang sangat aku ingat".


"Tentang apa itu". Rafaela bertanya dengan penasaran.


"Kami bermain main di tengah hujan hingga biola Rahel rusak". Dafira tersenyum hangat sambil memutarkan bayangan dari cerita tersebut.


"Hujan?". Namun berbeda dengan Dafira, Rafaela malah membalas cerita itu dengan kalimat dingin.


sontak hal ini membuat Dafira kaget dan langsung menoleh kearah Rafaela, seraya menatap wajah tertunduk nya dengan lekat.


"Kakak membawa kakak ku pergi membaurkan diri dengan hujan ??". Ucap Rafaela sekali lagi dengan nada yang tetap dingin.


"Me-memangnya kenapa Rafaela ??".


"Kakak ku benci hujan".


"Lebih tepatnya ada trauma akan hal itu".


"Apa ?...".


Dafira hanya bisa tertegu setelah mendengar informasi dari Rafaela ini, ia juga tak tau harus merespon apa, Karena sepanjang masa ia berteman dengan Rahel, Rahel sama sekali tidak pernah menceritakan traumanya atau masalah yang ia hadapi.


"A-aku sama sekali tidak tahu hal itu". Ucap Dafira sambil termenung.


"Hahh !, memang hanya aku saja yang mengetahui hal ini. Bahkan bibi pun tidak mengetahui nya".

__ADS_1


"Tapi kak, karena kakak, kak Rahel jadi sedikit menyukai hujan".


.


.


.


"Ada seorang gadis yang kekanak-kanakan berkata kepada kakak, hujan itu harus di isi dengan kebahagiaan dan kenangan".


"Kalau begitu kakak sudah suka hujan kan sekarang".


"Yah sepertinya sedikit".


Kenangan yang pernah terjadi dikala hujan bersama kakaknya tiba tiba berputar dikepala Rafaela. Setelah kenangan itu selesai Rafaela barulah tersenyum tipis, sambil menoleh menatap Dafira.


"Kak, apa kakak tau. Bagi kak Rahel kakak adalah cahaya keduanya".


Melihat kebingungan Dafira Rafaela hanya meresponnya tersenyum.


"Aku pernah mendapatkan cerita itu dari suatu sumber, dan sumber itu sangat terpercaya pastinya".


"Ya sudahlah, ayo kita pulang kak ini sudah larut, tak baik kan pulang malam".


"Aku permisi duluan". Sambil melambaikan tangan Rafaela meninggalkan Dafira sendiri dengan tanda tanya besar atas cerita singkat dan tak jelas miliknya itu.


Bahu Rafaela sudah menjauh dari pandangan, namun Dafira tetap tidak bergerak, ia terbelenggu dengan tempat berdirinya saat ini. Ia menatap Rafaela dengan meraba raba maksud ucapan Rafaela tadi, ia merasa hal itu terlalu romantis bagi seorang Rahel Wiandara.


4 jam kemudian

__ADS_1


Dikediaman keluarga Dauson...


"Oh ?, hujan turun".


Saat ini Dafira sedang mengisi buku hariannya kembali, tanpa disadari disaat itu pula hujan turun dengan derasnya.


Dafira tersenyum memandang keluar pintu kaca balkon, suara hujan dan gemuruh petir seakan mengulang kembali ingatan Dafira yang sudah lalu.


Dafira menutup bukunya lalu berjalan keluar balkon untuk berbaur dengan hujan secara langsung. Rasa sensasi menyegarkan yang sama dapat dirasakan Dafira hingga seluruh bebannya menghilang.


Dafira kembali membuka matanya lalu melihat kelangit hitam tanpa ada bintang dan bulan menghias.


"Apa kamu sedang menikmati hujan juga Rahel ??". Begitulah kalimat Dafira yang sedang memandangi langit kosong.


Bersamaan dengan itu pula Dafira memutar kembali memori yang sudah terlewat lama. Memori tentang hari, dimana hujan tiba tiba turun dan rajutan dari benang merah tersempurnakan diantara mereka.


...~~~...


25 Oktober


......Hujan turun membasahi dunia......


...Namun ia turun tanpa memberi pertanda sedikitpun...


...Hingga pada akhirnya membuat ku jadi kesulitan...


...Aku dan dia menerobos hujan tanpa ada fikir panjang...


...Lalu mengenang apa yang terjadi Sampai kapan pun...

__ADS_1


...Disaat itu pula perasaan asing yang tidak ku ketahui muncul seketika...


...Perasaan apa sebenarnya ini ?...


__ADS_2