Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter spesial: Lepaskan aku


__ADS_3

11 tahun yang lalu...


Dikediaman Wiandara


.


.


.


Aku pernah mengatakan sebelumnya, bahwa paman memang berbeda dari bibi.


Tapi perbedaan ini tidaklah jauh seperti yang orang lain bayangkan. Paman memang tidak pernah memukuli kak Rahel seperti bibi, tapi paman merupakan orang yang kaku dan juga tegas melebihi sikap bibi kepada kakak.


Apa yang jadi mayoritas utama juga membuat paman semangkin menekan kakak sebagai orang nomor satu di antara orang lain. Padahal paman sendiri tidak pernah memperhatikan kondisi kakak selama 17 tahun.


Aku yang merupakan titik tengah bagi pertengkaran mereka bertiga, tentu saja memiliki banyak memori tentang bagaimana paman dan bibi menekan kakak ku, terutama disaat kakak sudah mulai menemukan kebahagiaannya didalam dunia bagaikan penjara ini.


Hari itupun, menjadi kegilaan tengah malam...


"Rahel. Kau dari mana ??".


Cerita berawal dari pulangnya Kak Rahel kerumahnya. Kemudian disambut dingin oleh paman yang baru saja menerima telepon dari tempat Les kak Rahel.


"Aku dari tempat Les papa". Namun karena ketakutan, kakak ku ini malah berbohong, sampai membuat amarah paman mencapai ubun-ubun.


"Apa kau bilang !!!!". Paman lantas langsung berteriak keras dengan tatapan mata sangat tajam memandang kearah kak Rahel. Sedangkan kak Rahel didepannya hanya bisa tertunduk tanpa ada perlawanan.


Aku kembali melihat pertengkaran antara kedua orang tua dan anak, entah untuk keberapa kalinya. Aku melihat paman berdiri dari duduknya, menuju kearah kak Rahel dengan kepalan tangan, seakan ia ingin meninju wajah kakak ku.


Tapi walau begitu, aku bisa sedikit tenang. Karena aku juga melihat bibi mengikuti langkah paman dari belakang.


"Sejak kapan aku mengajarkan kau berbohong hah ?!!!!!!". Ini kalimat pertama yang paman lontarkan setelah ia berada didepan kak Rahel.


"Kau tau kan apa yang menjadi tujuan utama, bagi anak pertama di keluarga kita !!!". Lalu disambung lagi dengan kalimat, bagaikan sebilah pisau yang bisa menusuk siapa saja.


"Tapi hanya demi pekerjaan tidak berguna kau malah bolos dari tempat Les !!!!, sampai berbohong kepada ku !!!!".


"Mau berapa kali lagi kau membuat masalah hah ?!!!!!, dari kau yang berkelahi dengan teman sekelas, sampa kau babak belur pulang kerumah !!!!, mau sampai kapan kau menyusahkan aku Rahel ?!!!!".


Kak Rahel sama sekali tidak menjawab perkataan paman, ia hanya bisa terdiam didalam wajah tertunduk nya. Lalu bagaikan sebuah kilatan yang melaju kencang, sebuah layangan tangan langsung menghantam pipi kakak ku.

__ADS_1


"Plakkk !". Suara itu seketika mengheningkan suasana. Aku bahkan dapat melihat kak Rahel mulai bergetar, setelah menerima tamparan dari ayahnya sendiri.


Aku merasa yakin, kak Rahel pasti sangat takut dan kesakitan. Karena aku saja yang hanya melihat ikut merasa kaget dan takut, karena emosi paman sekarang.


"Kenapa kau diam saja hah ???".


Suasana saat itu aku akui semangkin memanas, karena kakak hanya bereaksi diam, ditambah paman didalam emosi tidak terkendali.


"Kau masih memilih diam ?!!".


"Jawab aku, Rahel !!!".


"Akhhhh sayang hentikan, kau ingin membunuh anak kita ?!".


Selama paman berada dibawah emosinya itu, tanpa sadar paman hampir saja melayangkan kepalan tangannya kearah kakak, beruntung bibi masih sempat menahannya, serta aku pun berhasil melarang paman.


"Paman jangan pukul kakak ku !!!". Aku terlepas dari kendali diriku sendiri. Dengan tubuh kecil mungil, aku berdiri didepan kakak entah dengan fikiran apa.


Tapi aku mengetahui satu hal, bahwa paman tidak akan menyakitiku apapun keadaannya.


Karena sudah begini paman pun tidak bisa melawan, aku melihat paman berdecak sambil menyentak tangan bibi yang sedang menggenggam tangannya.


Tapi jika kalian berfikir masalah keluarga ini sudah berakhir, maka jawabannya salah.


Sedangkan kak Rahel yang melihatnya secara spontan langsung mengejar langkah kaki paman.


Padahal dari tadi kakak ku itu diam saja ditempatnya.


"Kakak, kakak mau kemana ??".


Kakak ku tidak menghiraukan sedikitpun panggilan ku itu, ia tetap fokus pada langkah kakinya yang tengah mengejar paman.


Aku beserta bibi saat itu dengan cepat sengaja mengiti mereka berdua kembali, guna mencegah hal tidak diinginkan terjadi kepada kakak ku Rahel.


Tapi untung saja paman tidak melakukan sesuatu hal yang nekat kepada kakak seperti tadi.


"Ini kan yang membuatmu bolos les ?". Paman mengeluarkan semua gambar kak Rahel dari dalam sebuah kota.


"Papa, mau diapakan gambar itu semua ??".


"Menurut mu !".

__ADS_1


"Sarakkk !!".


"Srakkk !!".


Tidak ada yang menyadari kejadian ini akan terjadi, kami semua terdiam hingga mematung, menyaksikan seluruh karya gambar kakak ku yang dibuatnya dengan susah payah, dalam sedetik berubah menjadi potongan kecil tidak berharga.


Sungguh kasihan aku melihat kondisi kakak dikala itu, hatinya pasti sakit karena paman memperlakukan dirinya seperti anak tiri. Tapi walau kakak merasa kesal, dia masih saja diam seribu bahasa, padahal tidak ada yang melarang kan, kalau kakak ku itu mengutarakan pendapatnya ??.


Setelah malam kelabu terlewati dalam waktu panjang, aku dilarang bertemu dengan kakak, lalu seminggu kemudian aku mendapat kabar bahwa kakak sudah pergi ke Amerika, kakak pergi tanpa berpamitan dan juga ucapan selamat tinggal.


.


.


.


11 tahun kemudian...


"Jadi karena itu kamu membenci mereka ??".


"Ya...jika kakak yang melihatnya, apa kakak juga tidak merasa kesal ??".


"Aku yakin, aku akan merasa kesal".


"Bahkan sekarang saja Rafaela, aku sudah merasa kesal. Aku tidak tau ada masalah didalam keluarga Rahel. Tapi tiba-tiba dia meninggal aku selama 3 bulan tanpa kabar". Dafira mulai menunjukkan raut wajah sedih. "Sedangkan aku yang merasa ditinggal, marah begitu saja tanpa mengetahui masalah dibaliknya".


"Kakak ku memang tidak pernah ingin menyusahkan orang lain, bahkan aku sendiri baru mengetahui semuanya dari diary kak Rahel".


"Diary ??".


"Ya...".


"Aku baru tau Rahel punya sebuah diary


"Kakak ku itu punya diary, walau hanya satu sih... Tapi aku akan mengijinkan kakak untuk membacanya suatu saat nanti, oke".


"Hufff... baiklah aku menantikannya".


"Apa sekarang kamu sudah merasa lebih tenang ??".


"Iya, bahkan jauh lebih tenang. Terimakasih banyak kak".

__ADS_1


"Tidak masalah kok, aku merasa seperti ada Rahel, jika melihat dirimu".


__ADS_2