Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 41: Kenapa baru Sekarang ?


__ADS_3

Dikediaman keluarga Wiandara...


"Aku pulang". Rafaela memasuki ruang utama, yang menyambut dirinya ketika baru saja masuk kedalam rumah megah nan mewah milik keluarga Wiandara.


"Selamat datang tuan muda". Lalu seperti biasanya, seluruh pekerja pasti akan memberikan penghormatan kepada Rafaela ketika ia baru saja masuk kedalam rumah tersebut.


Awalnya seluruh hal didalam kediaman keluarga Wiandara terasa biasa saja. Tidak ada keganjilan, dan juga perasaan tidak enak, tapi... siapa sangka suasana asing tersebut akan membawa seseorang yang dibenci Rafaela dengan sebutan Ratu iblis mendekat kearahnya.


"Ouhh Rafa kamu sudah pulang sayang ??".


Belum sempat Rafaela mengumpat kesal, suara yang sudah berulang kali ia dengar langsung menghampiri telinganya dari lantai atas kediaman Wiandara. Dan tentu saja hal ini membuat kekesalan dihati Rafaela semangkin besar.


"Aku baik, bibi sedang apa disini ??".


"Bibi hanya ingin lihat keponakan bibi tersayang saja kok".


Yah... orang yang selalu disebut Rafaela dengan sebutan ratu iblis itu adalah bibi nya, yang tidak lain merupakan mama dari kakak Rafaela yang telah tiada.


Rafaela memanggil sang bibi dengan nama ratu iblis tentu bukan tanpa alasan, hal ini dikarenakan banyaknya kejadian pilu dari kenangan Rahel yang disebabkan oleh bibi nya itu. Tapi sekarang bibi yang tidak memiliki perasaan itu malah berakting didepan Rafaela hingga membuat ia merasa ingin muntah.


"Bibi, aku sedang lelah, bisakah bibi jangan menggangguku ??". Kalimat kasar akhirnya datang dari mulut Rafaela, hingga berhasil menggetarkan hati bibi nya yang sedang dilantai atas.


Meski ia sudah ditolak mentah mentah sang bibi tetap saja ingin mencari masalah kepada Rafaela, sampai ia yang tadinya ada dilantai atas kini perlahan lahan mulai turun, mendekat kearah Rafaela berada.


"Kamu jangan berbicara kasar begitu dong Rafaela".


"Ohya bibi bawa banyak oleh-oleh dari Korea untuk kamu, kamu pasti suka, ayo kita ke kamar bibi". Bibi Rafaela menarik tangannya agar Rafaela mau ikut bersama mengambil oleh-oleh tersebut, namun lagi lagi Rafaela tetap membuat tembok pembatas yang sangat tebal dan kuat sebagai pemisah antara ia dan bibi nya.


"Tidak perlu". Rafaela menghentakkan tangannya dari genggaman sang bibi, hal ini tentu saja membuat genggaman itu menjadi lepas, hingga membuat sang bibi menjadi kaget seketika.


"Heh !!". Lalu selang beberapa saat kemudian seringai tajam langsung menghiasi wajahnya Rafaela.


"Kenapa baru sekarang bibi ?!!!". Kalimat satu itu terdengar sangat mengerikan, padahal kalimat itu sering dilontarkan dan didengar. Tapi entah mengapa yang keluar dari mulut Rafaela tadi terdengar sangat suram serta menusuk, hingga membuat semua orang yang mendengar nya akan menjadi ketakutan.


"Rafaela kenapa berbicara begitu ??".


"Hah !!!, hahahaha !!!".


"Bibi bertanya mengapa !, setelah sekian lama bibi mencekik kakak ku didalam rumah ini, sekarang bibi mau bersandiwara didepanku ?!!!".


"Bibi tidak...".


"Jangan berbohong !!!".

__ADS_1


Perperangan panas pecah seketika, suara marah Rafaela yang begitu keras memenuhi semua ruangan, hingga terdengar sampai keluar kediaman Wiandara.


Saat ini emosi Rafaela sangat tidak bisa terkendalikan, begitu pula dengan bibinya yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kemarahan pada wajahnya. Namun disaat begini harus ada yang mengalah bukan ??...


"Kamu sekarang mulai berani menuduh bibi ya Rafaela".


"Aku menuduh ??".


"Bibi saja introspeksi diri sendiri, apakah ini salah. Cih !, sejak dulu hingga sekarang bibi selalu saja tidak mau mengalah dan mengaku bahwa bibi lah yang ...".


"Plakk !!".


Tangan bibi Rafaela seketika melayang hingga membuat suara tamparan begitu keras. Sampai sangking kerasnya Rafaela tidak dapat melanjutkan apa yang ingin ia katakan tadi.


Mata Rafaela mebelalak kaget, namun dihatinya Rafaela tertawa merenungi nasibnya sekarang ini. "Sungguh luar biasa". Begitulah kalimat pertama yang dikatakan oleh Rafaela setelah menerima tamparan keras dari tangan bibi nya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan setelah sang bibi puas menampar wajah kakaknya dikala masih hidup, kini malah sang bibi sanggup melayangkan tamparan yang sama kepada dirinya disaat sang kakak sudah tiada.


"Aku benci". Rafaela sebenarnya sekarang sangat ingin melakukan hal diluar kendali diri, namun tidak mungkin hal itu bisa ia lakukan kepada CEO dari PT Wiandara, jadi untuk menahan semua amarah Rafaela lebih memilih melarikan diri menuju kamar milik Rahel sebelum meninggal.


"Hei Rafaela kamu mau kemana ?!!!, aku belum selesai bicara kepada mu !!".


Didalam kamar...


"Brakk !!".


"Pranggg !!!".


"Aku benciiiiii !!".


Kamar adalah salah satu tempat terbaik untuk melepaskan setres, dan tempat paling tenang untuk menyendiri. Seperti yang dilakukan oleh Rafaela sekarang, jika diluar ia harus terlihat baik dan berwibawa, tapi didalam kamar ia bisa menjadi seorang Rafaela sesungguhnya.


Seorang Rafaela, dengan luka bertubi-tubi, dan harus dapat mengejar bintang emas demi keluarga yang selalu memperlakukan ia seperti boneka.


Rafaela memang jarang menahan diri jika sudah berada didalam kamar, ia biasanya melepas semua beban hidup sesuai dengan suasana hatinya. Jika saat ini suasana Rafaela sedang diselimuti amarah membara, maka ia sedang melepaskan semua beban hidup dengan menghancurkan beberapa barang di sekitarnya.


Yahh... paling setelah malam nanti para pekerja hanya akan kaget sesaat, lalu setelah itu mereka akan faham dengan sendirinya.


"Hahhh !!!". Setelah beberapa lama menghancurkan barang Rafaela akhirnya memilih untuk merebahkan diri keatas tempat tidur.


Tapi merebahkan diri ini bukan berarti ia sudah terlepas dari amarah, walaupun sudah dengan beberapa barang yang hancur, suasana hati buruk milik Rafaela belum dapat hilang sepenuhnya.


Bersamaan dengan itu pula, tiba tiba Rafaela jadi teringat dengan satu nama...


"Aku ingin bercerita dengan kak Dafira".

__ADS_1


Nama itu yang langsung keluar dari kepala Rafaela, entah karena apa atau alasan bagaimana, Rafaela sudah merasa sangat akrab dengan tunangan kakaknya itu sejak awal pertemuan. Mungkin itulah yang membuat Rafaela lebih nyaman jika curhat kepada Dafira daripada kedua orang tuanya.


.


.


.


Ditempat berbeda ternyata saat ini Dafira sedang sangat sibuk menerima terlfon dari sekretaris Kim yang ada di Jerman, meski di Jerman sekretaris Kim tetap bertugas menyusun jadwal Dafira sejak awal pagi hingga akhir malam. Jadi demi melaksanakan tugas pentingnya itu, sekretaris Kim menyampaikan semuanya kepada Dafira melalui telefon seperti saat ini...


📲\= "Nona Dafira besok ada rapat ya".


Begitulah kalimat sekretaris Kim yang terdengar melalui ponsel.


📱\= "Hahhh... ya baiklah".


Kemudian Dafira membalasnya dengan nada suara lelah. Perbincangan antara nona muda dan sekretaris pribadinya, memakan waktu cukup lama, namun Dafira belum mengetahui bahwa ada seseorang sedang menunggunya disebalik pintu masuk kediaman keluarga Dauson.


Tapi bagaikan bantuan takdir, Dafira yang saat ini sedang merasa sangat lelah tiba-tiba merasa sangat bahagia jika bisa melihat suasana alam dari luar kediaman Dauson.


Jadi atas dasar itulah, Dafira mulai melangkahkan kaki menuju ke arah luar rumahnya, sambil tetap mendengarkan susunan jadwal untuk besok dari sekretaris Kim.


📲\= "Ohya anda juga akan melakukan pertemuan dengan tuan Rafaela nanti".


📱\= "Ouhhh... benar...kah ??". Dafira terpenggal penggal menjawab informasi dari sekretaris Kim, lalu seketika tanpa sadar ia menjadi terpaku. Diwaktu bersamaan itulah Dafira langsung dapat melihat Rafaela yang tengah berdiri menunggu dirinya.


"Hai kak Dafira". Rafaela menyapa Dafira dengan raut canggung. Lalu Dafira hanya bereaksi melambaikan tangan, sambil mengakhiri terfon sekretaris Kim.


📱\= "Sepertinya pertemuan itu tidak diperlukan lagi sekretaris Kim".


📲\= "Hahh ??".


📱\= "Sampai jumpa... nanti aku telfon lagi".


📲\= "Tut...".


Telfon kini sudah berakhir, kemudian Dafira sudah mulai fokus kepada Rafaela dihadapannya. Merasa ada hal tidak baik Dafira pun mendongak menatap sang adik dari tunangannya itu, dari pandangan matanya sekarang lah Dafira dapat merasakan perasaan hati yang cukup tidak enak.


"Rafaela ??".


"Ada apa ?".


"Kak... bisakah mendengar cerita dari ku... sebentar saja".

__ADS_1


"Yah... tentu saja, ayo masuk".


__ADS_2