
Seminggu kemudian...
Rahel
"Aku bolos dari tempat les".
"Apa ?!!!.
Tiba-tiba pergi dari tempat les secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Memangnya mereka tidak akan menelfon mama mu ?".
"Ah~!, benar juga ya. Tapi biarkan itu masalah esok.
Lalu mengganti jadwal lesnya dengan pergi ke studio melukis, dan belajar teknik melukis.
"Perasaan ku tidak enak mendengar ini".
Sedangkan aku merasa badai akan datang lebih awal dari perkiraan.
"Aku lelah belajar terus-menerus".
"Wahh !!, anak-anak pintar itu belajar mati matian ya untuk jadi yang teratas".
"Haha. Benar juga ya, akan lebih bagus kalau aku menjadi anak jenius dari lahir seperti seseorang".
Namun Rahel benar-benar tidak memikirkan hari esok, dan tetap bisa bercanda dengan ku.
"Apakah itu pujian ??".
"Tak".
"Menurut mu apa lagi".
Bahkan sikap Rahel lebih enjoy dari biasanya.
"Aduh Rahel kepalaku sakit nih". Aku meringis kesakitan karena Rahel menyentil kepalaku dengan tenaga power nya.
"Masak itu saja sakit sih".
"Tak".
Namun ia mengulanginya untuk yang kedua kali tanpa memikirkan nasib kepalaku yang berharga.
"Rahell !". Teriakku dengan kesal.
"Orang-orang yang berusaha pintar itu punya dilema masing-masing tau".
"Orang yang bisa melakukan keinginannya mana mengerti penderitaan ku".
Aku merasa ucapan itu sangat bermakna dalam dan juga mengandung beribu makna.
"Tak !".
"Aduh~".
"Jangan berikan ekspresi menyediakan".
Aku sungguh tak tau apa yang terjadi didalam keluarga Wiandara , hingga menciptakan Rahel yang berkepribadian ganda.
"Aku tidak berekspresi menyediakan tau".
"Ho... benarkah".
Namun ada harapan kecil saat ini.
"Pak Andre ~!. Lihatlah Rahel ingin membuat kepala saya benjol".
__ADS_1
Harapan agar aku bisa menjadi tempat berbagi cerita Rahel...
"Tak !".
"Dasar tukang ngadu".
"Akhh !!, itu sakit tau".
Hingga ia tak harus menahan beban hidup sendiri.
.
.
.
Taman kota
"Rahel bisakah kamu membantuku ??".
"Ya tentu saja".
Setelah banyak waktu yang kami habiskan bersama.
"Eh itu gadis yang menatapmu dikolidor kan ?".
"Hmmm ??".
"Entahlah, tapi sepertinya iya".
*Rasanya a**da sebuah benang yang terajut diantara kami, namun rajutan benang itu sangat transparan dan tak terlihat oleh orang lain*.
"Dia tersenyum kearah ku". (Gumam)
.
.
.
Studio musik...
"Pff !!, permainan apa itu".
"Akhh !!, jangan tertawa !!".
"Kau benar-benar payah memainkan biola. Hahaha".
"Aku bilang hentikan Rahel !!".
Karena rajutan itu pula
"Sebaiknya kamu menyerah saja deh".
"Tidak akan pernah !!".
Hubungan kami jadi cepat akrab, dan semangkin dekat setiap detiknya...
"Hmm... Rahel".
"Apa ??". Rahel menoleh kearah ku.
"Bukankah pita ini panjang sebelah ??". Aku memperlihatkan pita merah yang berada di rambut ku kepada Rahel.
"Coba sini aku lihat". Kemudian Rahel pun berjalan kebelakang ku, guna membandingkan ujung pita yang aku rasa tidak sama panjang.
"Hmm ...". Begitulah gumam Rahel seraya berfikir.
__ADS_1
"Sepertinya benar ini panjang sebelah".
"Hah... aku juga merasa begitu. Aneh rasanya jika memakai pita yang tak sama panjang".
Disaat aku berkata seperti itu, ide tak terduga Rahel pun muncul.
"Tak masalah".
Ia berjalan mengambil gunting diatas meja studio musik, lalu menunjukkan kepada ku.
Perasaan ku sungguh tak enak saat melihat gunting itu.
"Apa yang mau kamu lakukan".
"Jangan khawatir, aku pasti akan memotongnya sama panjang".
"Ermm... sebaiknya tak usah saja Rahel".
"Tak apa jangan khawatir, aku bisa melakukan hal ini".
"Tapi~".
"Diam lah dulu nanti aku bisa salah potong".
Seharusnya aku mempercayai perasaan ku tadi...
"Srek !!".
Karena. Saat proses memotong pita berlangsung, aku mendengar suara guntingan yang sangat janggal.
"Ahh~".
Ditambah ada helaan nafas Rahel yang berat terdengar oleh ku.
"Da-dafira".
"Ya ??'.
"Ayo buka matamu".
"Baiklah".
Dan benar apa firasat ku tadi.
"Maaf ya".
Seharusnya aku tak mempercayai Rahel memotong pita milikku ini.
"Akhhhhh !!!!!, Dasar kau Rahelll !!!".
Aku berteriak histeris karena syok melihat rambutku sudah terpotong bersamaan dengan pita yang tak sama panjang itu.
"Pff !!, ma-af".
Lalu tanpa dosa si menyebalkan itu menyembunyikan rasa lucunya saat melihat rambutku terpotong.
"Kau ingin mati ya !".
Jujur aku sungguh sangat kesal hingga ingin rasanya menghajar Manusia itu sampai puas.
"Haha, maaf Dafira".
Sedangkan orang yang melakukan kesalahan malah tertawa canggung dan mengalihkan pandangannya dari ku.
"Sebenarnya dia merasa bersalah tidak sih ?!!!".
...~...
__ADS_1
...Begitulah nasib rambutku yang berharga di liburan musim panas pertama....