
"Keluarga nona Jhennite selamat, nona Jhennite sekarang sudah terlepas dari komanya dan sudah sadar sejak setengah jam yang lalu".
Sudah dua hari berlalu sejak pernyataan detak jantung Jhennite, kembali berdetak bagaikan keajaiban dunia.
Keajaiban pun tidak berhenti sampai di sana, ia sekarang kembali menghampiri Jhennite yang sedang koma, sampai membuat Jhennite menjadi terbangun.
Saat mendengar suara perawat yang menyatakan bahwa Jhennite sudah sadar.
Sorak gembira, serta mengucapkan syukur, tidak pernah terhenti keluar dari mulut ketiga orang yang senantiasa menunggu di depan ruang ICU.
Yahhh...siapa lagi mereka kalau bukan, Aldo, Sovia, dan Dafira. Tidak terlepas dari kabar membahagiakan tersebut, Reno pun menunjukkan reaksi yang sama juga dengan teman teman nya, bahkan hal ini sampai membuat ia menumpahkan setetes air mata sebagai tanda bahwa rasa bahagia sangat menyelimutinya saat ini.
"Kalau begitu bisakah sekarang aku masuk menemui Jhennite ??". Reno bertanya dengan semangat, kepada seorang perawat dihadapannya.
"Maaf tuan, anda harus menunggu sejam lagi untuk bisa menjenguk nona Jhennite kedalam". Namun semangatnya Reno berkurang 39% karena mendengar jawaban dari sang perawat.
Ia tertunduk lesu, padahal keinginan untuk berjumpa dengan tunangannya itu sangat besar, sudah hampir 5 hari ia menahan diri berjumpa dengan Jhennite, jadi sekarang perasaan rindu itu sangat meluap hingga menguasai dirinya.
Aldo merangkul pundak Reno setelah melihat perawat melangkah pergi dari tempat mereka berada. "Udah Ren, gak perlu cemberut gitu". Didalam rangkulannya itu, Aldo mengeluarkan sedikit candaan dengan tujuan mencairkan sedikit suasana gundah di hati Reno. "Mending kamu makan, aku khawatir Jhennite akan drop lagi melihat wajah pucat mu".
"Plakk !!!!!". Namun tidak seperti ekspetasi bayangan Aldo, Reno malah memukul pundak Aldo dengan sangat kuat hingga berhasil membuat Aldo meringis.
"Hus !!, kamu doakan Jhennite saki lagi ya ??!!". Reno mengerutkan dahinya disertai sorot mata yang sangat tajam.
"Aduhhh...!!!, Reno kamu ini yah, udah mukul marah marah pula lagi. Badan tunangan ku bukan samsak untuk kamu pukul setengah power begitu !!!!".
Perperangan pun pecah seketika, berawal dari niat bercanda namun tidak diterima dengan baik, kini malah merambat hingga membuat Sovia ikut campur didalam pihak Aldo.
Sedangkan Dafira, ia sungguh kasihan, hanya terdiam tanpa tau apa inti masalah yang sedang ia saksikan. Dafira juga sekarang sangat gundah antara memilih membela Aldo atau Reno, namun jika tidak dibela dan dihentikan, maka lagi lagi mereka akan menjadi pusat perhatian seperti yang sebelumnya.
"Yaampun ~". Begitulah keluhan batin Dafira yang selalu pusing menghadapi tingkah kekanakan teman temannya.
Perkelahian berlanjut, debat panjang antara Sovia dan Reno tidak ada yang berhasil menghentikan. Tatapan mata tajam juga berhasil membuat siapa saja menjadi mundur ketika ingin melerainya.
Sudah dua menit berselang, namun perang tidak menemukan titik terang. Kini bukan hanya Dafira saja yang seperti batu, namun Aldo sang pembuat masalah awalnya pun sekarang ikut ikutan menjadi batu.
__ADS_1
Jika orang orang melihat sekilas, Aldo dan Dafira tampak seperti dua patung lukisan yang tidak bernyawa dan juga tidak perlu dihiraukan, hingga hal ini yang membuat Sovia beserta Reno melupakan keberadaan mereka.
"Oi, Dafira". Aldo memulai pembicaraan dimenit selanjutnya.
"Ada apa ???". Dafira menoleh saat mendengar bisikan Aldo.
"Kamu nyadar gak sih, semua orang memandang kearah kita ??".
Dafira pun spontan melirik sekitarnya, dari pandangan matanya, ia dapat melihat bahwa hampir semua orang yang lewat menoleh kearah dimana perperangan sedang terjadi.
"Yaampun". Dafira menutup wajahnya dengan malu.
"Aku tau kamu malu, karena aku juga begitu, bagaimana ini ??, kamu tidak punya ide ??".
"Entahlah, seketika otakku tidak mau bekerja Aldo".
"CK !!!, kalau begini terus kita bisa diseret keluar rumah sakit".
"Eh... tunggu sebentar".
"Apa, kamu punya ide ??".
"Ya sepertinya begitu". Dengan gaya kedua tangan dilipat kedada, Dafira mulai mengembangkan ide yang sempat menghampiri dirinya tadi perlahan lahan. Sampai belum sempat satu menit ide tadi sudah terangkai dengan baik dikepala Dafira.
"Hei Aldo, aku yakin Reno akan berhenti jika Reno mendengarkan hal ini".
"Mendengarkan tentang apa ??". Aldo bersemangat menanyakan jalan rencana Dafira akan dimulai.
"Kemarilah". Ajak Dafira agar Aldo mendekatkan telinganya kepada Dafira.
"Jadi begini........". Setelah Aldo mendekatkan telinganya kepada Dafira ia pun mulai menjelaskan semua idenya dari awal hingga akhir, secara panjang lebar kepada Aldo. Beruntung Aldo dapat menerima ide ini dengan baik.
.
.
__ADS_1
.
Lima menit kemudian...
"Tuan Reno, dan nona Sovia".
Suara seseorang yang sangat diinginkan didengar oleh telinga tiba tiba merambat masuk ke dalam telinga Reno serta Sovia, hingga perperangan mereka pun menjadi terhenti seketika.
"Dokter Chandra !". Begitulah kalimat Reno terdengar saat melihat sumber dari suara tersebut.
Saat melihat dokter Chandra didepannya, Reno dengan sangat mudah langsung melupakan perang antara dirinya dengan Sovia yang sedang berlangsung, lalu tanpa pertimbangan Reno dengan spontan seenaknya meninggalkan Sovia, dan berjalan cepat menghampiri dokter Chandra.
Disaat melihat semua perilaku Reno, Sovia hanya bisa diam membeku tanpa sepatah kata, hingga reaksinya Sovia memecahkan tawa kecil Aldo yang tertahan.
"Udah jangan ngelamun gitu Fia". Aldo menggenggam tangan Sovia hingga kembuayarkan lamunannya sesaat tadi.
"Ck !, iya". Walau dengan nada kesal membalas kalimat Aldo, Sovia tetap menyambut genggaman tangan dari tunangannya itu, dengan cara lebih mempereratnya lagi. Sontak apa yang dilakukan Sovia berhasil membuat hati Aldo berdebar hingga wajahnya memerah.
"Kamu kenapa ??" Sovia bertanya setelah melihat wajah tunangannya merona.
"Gak papa". Sedangkan Aldo masih saja gengsi seperti biasanya. "Udah ayo kita mendekat ke sana, siapa tau ada kabar gembira".
"Hummm... Al kamu selalu aja gitu, yaudah deh aku capek debat, ayo kita kesana".
Kemesraan mereka terpaksa berhenti sampai di situ, dengan melangkahkan kaki seirama, Aldo dan Sovia pun berjalan dengan sangat kompak menuju ke tempat dimana dokter Chandra sedang menjelaskan sesuatu.
"Jadi karena kondisinya sejauh ini sudah membaik, saya akan mengizinkan tuan Reno masuk kedalam menjumpai nona Jhennite. Saya juga sudah bermusyawarah dengan dokter yang lain, dan mereka bilang tidak masalah, saya yakin ada banyak hal yang ingin anda ucapkan. Benarkah tuan ??".
Aldo dan Sovia ketinggalan informasi sangat jauh, sesampainya mereka didekat dokter Chandra, dan mulai ingin menyimak keputusan dari sang dokter, mereka malah langsung mendapatkan kesimpulan dan akhir dari perundingan dokter Chandra dengan Reno.
Meski ketinggalan informasi, anehnya mereka tidak merasa khawatir sedikitpun, malah mereka menjadi tertawa kecil karena merasa geli. Entah kenapa perasaan mereka tentang Jhennite sekarang sangat tenang, dan hati mereka sangat percaya bahwa sekarang Jhennite akan pulih seutuhnya.
"Baiklah aku akan masuk menjumpai Jhennite sekarang". Reno berdiri dari duduknya dengan tawa ceria yang mengiringi.
"Lalu setelah itu baru kita gantian oke". Dan tidak perlu waktu lama, Reno langsung melesat memasuki ruang ICU demi menemui seseorang yang sangat ingin ia ucapkan beribu ribu kalimat maaf , serta memperbaiki kebahagiaannya yang telah ia rusak selamat tiga tuhun ini.
__ADS_1
"Jhennite".