Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter spesial: Malam bulan Oktober


__ADS_3

Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi sekali saja didalam kehidupan kak Rahel, namun terjadi berulang ulang, dan semangkin sering setiap tahunnya hingga membuat mental kakak terganggu.


Aku masih ingat sekali pada tanggal berapa dan dibulan apa semua tekanan yang diberikan oleh bibi tidak bisa dipikul lagi oleh kak Rahel diatas pundaknya.


22 Oktober tahun XXXX, dimusim hujan yang begitu menyejukkan ini aku melihat sosok kakak yang terlihat begitu terpuruk didalam kamarnya.


Rambut dan pakaian yang sudah tidak rapi lagi menambah kesedihan didalam hati ku ketika memandang kakak kesayangan ku ini.


Aku yang melihat keadaannya ini pun mengumpulkan semua keberanian didalam hati untuk bisa menghampirinya.


Dengan mengendap endap aku berjalan menuju kamar kakak sambil membawa coko yang selalu aku makan bersamanya.


"Krekk !!!, Kakak !!". Aku membuka pintu kamar kakak dengan sangat perlahan.


Lalu setelahnya aku pun mulai mendekatinya yang terlihat sedang duduk di kursi belajar dengan keadaan yang begitu kacau.


"Kakak !, lihat ini aku bawa coko". Begitu ucapku setelah berada disamping kakak sambil memperlihatkan coko yang ada didalam genggaman ku.


Kakak pun langsung membalikkan tubuhnya ketika menyadari bahwa aku sekarang tengah berada disampingnya.


"Hm~, ternyata kamu Rafa ?".

__ADS_1


"Iya kakak, lihat ini aku bawa coko".


"huh !!, Kamu baik sekali, terimakasih ya".


Dan seperti biasanya kakak tetap mengelus kepalaku dan tersenyum seakan akan tidak terjadi apa apa, padahal aku yakin bahwa saat ini kakak sangat merasakan sakit didalam hatinya.


Ketika melihat senyuman palsu itu aku langsung terdiam dan terpaku, secara bersamaan pula air mata mengalir dari mataku dan membasahi pipi ku, aku tidak menyangka kalau selama ini kakak diwajibkan memakai dua buah topeng seumur hidup, bahkan didalam kediaman nya sendiri juga seperti itu.


Aku yang menangis tanpa sebab ini membuat kak Rahel menjadi panik, ia langsung turun dari kursi yang ia duduki dan menghapus air mata ku dengan kedua tangannya secara langsung.


"Hei, kamu baik baik saja Rafa ?".


Sebenarnya saat itu aku ingin tertawa karena wajah kakak yang kebingungan beserta panik terlihat begitu lucu dan juga imut. Namun karena masih menimbang perasaan kakak aku menahan rasa tawa itu didalam tangisku.


"Aduh kamu ini, kalau tidak apa apa kenapa menangis".


"Tidak, ini bukan apa apa kak percayalah".


Hati ku sangat ingin jujur ketika itu, tapi entah karena apa mulutku tidak mau mengatakannya kepada kak Rahel yang berada didepan ku ini.


"Seandainya kakak tau aku ini menangis karena kakak, kenapa kakak sekarang terlihat begitu menyedihkan, dasar kakak bodoh sekarang harga diri kakak yang begitu tinggi dan terjaga sudah sangat jatuh dimataku tau !!". Aku pun jadi mengomel didalam hati dan tidak berani mengeluarkan nya karena takut kakak tersinggung ketika mendengar Omelan ku ini.

__ADS_1


Sungguh bodoh ya aku saat itu, aku mengomel didalam hati dengan harapan kakak tidak lagi berkondisi seperti sekarang, namun aku tidak berani melontarkannya.


Namun ketika aku mengomel didalam hati, tanpa disadari tiba tiba kakak langsung memeluk tubuhku dengan erat, pelukan itu terasa sangat dalam dan mengalirkan bejuta rasa yang sedang kakak alami. Aku mengerti apa isi dari pelukan ini karena itu aku pun membalas pelukan itu dengan sangat sangat erat bahkan lebih erat dari pelukanku sebelumnya.


Didalam pelukan itu pula helaan nafas kakak terasa begitu berat dileherku, lalu setelah helaan itu langsung disambung dengan kalimat cirikhas milik kakak.


"Hahhh ~!!, Rafa jangan cengeng, cepat hapus air matamu itu. Kau itu laki laki kan ?".


Aku yang tengah berada diperlukan kakak langsung mengangguk sebagai tanda ia, lalu dengan cepat aku keluar dari pelukan kakak itu dan langsung menghapus air mata ku beserta ingus yang mungkin sudah mengenai kemeja kotak-kotak milik kakak saat ini.


"Hiks...hiks iya kak, aku laki laki". Aku menjawab pertanyaan kakak dengan sangat tegas, tidak ada keraguan didalam hatiku ketika menjawabnya, karena aku memang sudah terlahir sebagai laki-laki lalu untuk apa ragu menjawab hal itu.


Kakak pun tersenyum kearah ku setelah melihat bahwa aku kini sudah tidak menangis lagi.


"Bagus sekali Rafa". Begitu kata kakak. Lalu seperti biasanya kakak kembali mengelus kepala ku dengan lembut.


"sini berikan kakak satu coko itu".


Mendengar kakak yang tiba tiba meminta coko membuat ku merasa sangat senang dan tersenyum lebar, tentu saja tanpa pikir panjang lagi aku langsung memberikan coko itu ketangan kakak yang sedang menadah didepanku saat ini.


Dan seperti biasa kamipun memakan coko itu disofa yang berada dekat dengan jendela kamar kakak yang begitu luas. Ketika itu tidak ada perasaan ganjil yang tersirat didalam hati ku, angin yang begitu sejuk dan cahaya mentari yang hangat tetap terasa sama seperti biasanya.

__ADS_1


Tapi, setelah malam kelam mengalahkan mentari...


__ADS_2