
"Bodoh !".
Tanpa sadar aku mendorong Rahel dengan kekuatan penuh.
Meski aku mendorongnya tapi hatiku terasa sangat sakit, mengetahui bahwa Rahel selama ini merasa bahagia di alam terpisah dari ku.
"Aku...aku selama ini mengharapkan kamu kembali Rahel !, tapi...kenapa kamu, malah ingin meninggalkan aku ?".
"Kamu tidak tau berapa banyak orang-orang memandang ku sebagai pembawa sial, tapi kamu...hiks".
"Rahel jahat !".
Berteriak dengan amarah, aku memalingkan wajah dari hadapan Rahel, air mata lagi-lagi mengalir dan membasahi jari-jari tangan ku yang berusaha menghapusnya.
Jujur aku tidak tau bagaimana reaksi Rahel melihat aku yang tengah menangis, tapi dari arah depan yang jaraknya beberapa sentimeter dari tempatku tersedu, Rahel mulai kembali bercerita.
"Maaf Dafira, aku hanya memikirkan keinginan ku saja".
"Tapi tubuh ini, mau bagaimana pun sudah tidak bisa kamu bawa ke alam dunia. Kita sudah berbeda Dafira, aku sekarang hanya ilusi yang berusaha menenangkan jiwamu, sedangkan kamu, kamu adalah seorang manusia dengan wujud nyata".
"Aku dan kamu tidak bisa bersatu lagi, itu takdir yang sudah ada didepan mata kita berdua".
Seketika mataku membelalak kaget, tidak percaya dengan apa yang tengah dikatakan oleh Rahel. Perasaan didalam hati ku begitu menggebu setelah mendengar semua kenyataannya, entah ini perasaan marah, kecewa, atau ketidak ikhlassan, aku hanya bisa terpaku tanpa reaksi sedikitpun.
"Dafira lihatlah aku". Beberapa saat kemudian, Rahel mulai mendekat kearah ku perlahan-lahan.
"Tidak !, jangan mendekat". Namun dengan hati yang sudah tergores luka, aku jadi menolak permintaan Rahel tadi dengan mentah-mentah.
__ADS_1
Penolakan bukan alasan untuk Rahel putus asa, walau ditolak ia tetap mendekat kearah ku, dari jemarinya yang lembut ia mengeluarkan usapan hangat kepada rambutku.
"Srak".
baru setelahnya ia menyatukan kedua jidat kami didalam keheningan alam mimpiku
"Tuk !".
"Aku selalu mencintaimu Dafira".
Sekali lagi akhirnya aku mendengar kalimat ini, sudah sebelas tahun lamanya aku menunggu kalimat tersebut datang menghampiri diriku yang ditelan kesendirian. Tapi dimalam dengan latar alam bawah sadarku, kalimat yang begitu aku rindukan dapat terdengar dengan jelas serta terasa begitu nyata ditelingaku.
Aku menatap nya, senyum tipis merupakan ciri khas dari Rahel mengukir seperti perputaran waktu kebelakang.
Dalam posisi begitu, tak mungkin rasanya mata kami tidak saling berpandangan, namun pada waktu kami saling berpandangan pula aku dapat melihat diri Rahel mulai memudar.
"Jangan...aku mohon jangan tinggalkan aku, maaf tadi aku marah tanpa sebab, maaf, tolong jangan tinggalkan aku Rahel".
Rahel hanya membalas tersenyum, dengan sebelah tangan menyambut pelukanku, sedangkan sebelahnya lagi ia letakkan diatas kepalaku untuk mengusapnya dengan lembut.
"Dafira kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak ada di sampingmu. Memang benar, beberapa hari kedepan akan menjadi peristiwa paling berat didalam hidupmu, orang yang paling kamu sayangi bagaikan Keluarga, akan melakukan penghianatan".
"Apa, maksud Rahel ?".
"Tapi tenang saja Dafira, kamu tidak perlu takut. Aku akan selalu menjagamu bagaimana pun caranya, aku akan menunjukkan jalan terbaik kepadamu, dan aku akan selalu mendorongmu jika peristiwa itu membuatmu terjatuh".
"Jadi".
__ADS_1
Rahel mulai melepas pelukan ku.
"Semangatlah !".
Dan beralih memandang wajahku dalam raut wajah tersenyum.
"Karena aku akan selalu menjagamu Dafira sayang".
Setelah meninggalkan kesan bagus diselimuti senyum hangat, Rahel kembali meninggalkan aku sendiri dengan perasaan hampa.
.
.
.
"Kringg !...kringg !".
"Meong~".
"Hmmm...sudah pagi ?".
Sangat senang rasanya bisa berjumpa dengan seseorang yang sudah lama kamu inginkan kembali, sehingga tanpa sadar ternyata pagi sudah menyapa dunia ku.
Tapi aneh, aku kira air mata yang keluar tadi hanya dialam mimpi saja, eh...ternyata dialam dunia pun aku menangis hingga mata menjadi sembab. Tak perlu dikatakan lagi kan reaksi seisi rumah ?, jadi aku hanya bisa tersenyum menyimpan rahasia menyenangkan disertai rasa sedih dan kecewa.
" Rahel, aku berharap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti".
__ADS_1