Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Reno & Jhennite: Awal dan akhir kisah kita


__ADS_3

"Tap tap tap".


Suara kaki berat terdengar perlahan-lahan mendekat kearah Jhennite.


Suara telapak kaki itu berhasil memecah keheningan Jhennite dikala ia sedang melamun. Jhennite menoleh kearah asal suara telapak kaki, dari sebalik tirai penutup berwarna hijau, ia dapat melihat bahwa seorang pria dengan pakaian kaus ditutupi dengan kemeja sedang berjalan mendekati dirinya.


Jhennite sama sekali tidak kaget, karena ia mengenal siapa pria itu.


"Re...no ??". Dengan nada suara yang masih lemah akibat pengaruh bius, Jhennite memanggil nama pria yang sangat ia cintai selama tiga tahun lebih.


Menanggapi panggilan lemah dari tunangannya Reno pun tersenyum manis, lalu duduk disamping Jhennite, serta menggenggam tangan Jhennite yang ia bawa kebawah pipinya.


"Iya aku disini Jhennite". Begitulah balas Reno dengan senyum yang sama sekali tidak pernah dilihat oleh seorang Jhennite dari dulu.


Meski senyumannya Reno terasa sangat tulus dan hangat, dada Jhennite malah dibuatnya menjadi berdebar. Debaran ini bukan debaran yang akan membuat tersipu malu, tapi debaran yang membuat dada sesak hingga ingin rasanya menangis.


Jhennite menggigit bibir bawahnya, sebagai reaksi bahwa ia sedang menahan rasa sakit didalam hati sekarang ini. Ia berkali-kali melihat wajah tampan sang tunangan yang sedang tersenyum, namun semangkin dipandang semangkin sakit dan sesak hati Jhennite terasa.


Sampai tanpa disadari, Jhennite spontan menutup matanya, sambil menelan sesak dihati dalam dalam.


"Jhennite ada apa ?? apa yang sakit ??". Reno yang tidak faham dengan apa yang sedang dirasakan oleh Jhennite, tiba tiba merasa panik karena ia melihat tunangannya memejamkan mata seperti sedang kesakitan.


Namun Jhennite menenangkan Reno dengan gelengan kepala disertai senyum khasnya, sebagai isyarat bahwa ia baik baik saja dan kamu tidak perlu takut sama sekali.


"Huffff !!". Reno menghela nafas karena lega mengetahui bahwa Jhennite sekarang baik baik saja, lalu sama dengan tadi, ia kembali memberikan senyuman manisnya kepada Jhennite yang tengah terbaring lemah.


Saat melihat kelakuan Reno, Jhennite tersenyum tipis lalu membuka topik pembicaraan untuk pertama kalinya.


"Kenapa...kamu...ter-senyum... begitu ??". Jhennite terkekeh kecil sambil membungkus rasa sesaknya didalam tawa.


Sedangkan Reno mengambil kesempatan situasi itu untuk meluncurkan gombalan maut kepada Jhennite.


"Hmmmm... kenapa ya ?, aku juga tidak tau alasan aku senyum seperti ini, mungkin karena didepanku ada seorang wanita cantik yang sangat menggemaskan". Begitulah gombalan maut Reno yang berhasil diluncurkan.

__ADS_1


Tapi lagi lagi, gombalan manis yang seharusnya membuat berdebar setiap hati seorang gadis, malah membuat hati Jhennite terasa menjadi sesak. Ia merasa semua kelakuan Reno hanyalah sandiwara seperti sebelumnya, namun disisi hati kecil Jhennite yang lain, ia merasa bahwa Reno sangat tulus dengan apa yang ia lakukan sekarang.


Jhennite menumpahkan air mata nya kedalam, lalu berusaha menanggapi gombalan Reno dengan tawa kecil, seolah-olah ia sedang merasa malu-malu kucing. Dan benar saja apa yang difikirkan Jhennite, melihat tunangannya tertawa karena gombalan maut milik dirinya, Reno pun menjadi tertawa bahagia, tanpa mengetahui apa isi tawa Jhennite sebenarnya.


"Kamu sangat cantik jika tertawa". Reno kembali menggoda Jhennite, sambil meletakkan pipinya diatas tangan Jhennite.


"Re-no, hentikan gombalan...mu itu".


"Memangnya kenapa, apa kamu tidak senang ??".


Jhennite hanya terdiam membisu, ia mengalihkan pandangannya dari wajah Reno, dan menarik nafas dalam dalam.


"Kenapa baru sekarang Reno ?!!".


Tak bisa dipungkiri meski hati Jhennite sangat lembut dan baik, tapi ia sama dengan manusia lainnya, ia masih bisa merasakan sakit hati seperti yang ia rasakan saat ini.


Hati Jhennite semangkin sakit setiap detiknya, ia melampiaskan rasa sakit hatinya itu kepada seprai yang ada disebelah kiri tangannya. Jhennite meremas seprai itu dengan sangat kuat tanpa mengetahui seberapa besar kekuatan yang sedang ia salurkan. Tak masalah begitu lah fikir nya, yang penting rasa sakit didalam hati ku hilang.


Didalam keadaan yang begitu pula Reno memulai topik baru didalam ruangan ICU yang sempat hening.


"Kenapa". Jhennite membalas kalimat Reno dengan suara yang mulai bergetar.


"Maaf atas perlakuan ku selama ini, aku sangat naif saat itu, hingga aku tidak menyadari apa yang sudah aku buat".


Jhennite menguatkan remasan tangannya diatas seprai, ia sangat bahagia mengetahui bahwa tunangannya sekarang sudah menyadari kalau sikapnya selama ini salah, tapi disisi lain Jhennite merasa takut, jika suatu saat nanti perasaan si tunangan kembali berubah seperti dulu.


"Aku tau ini berat untuk mu Jhennite". Reno menyambung kalimat nya karena merasa tidak mendapatkan tanggapan dari Jhennite.


"Tapi bisakah kita mulai pertunangan ini dari awal ??, kita mulai dari saat aku dan kamu saling berkenalan ??".


Air mata Jhennite tumpah seketika, hatinya yang sudah hancur berkeping keping kini menjadi lebih hancur lagi setelah mendengar pernyataan Reno. Didalam hati kecilnya Jhennite berdebat atas jawaban apa yang akan ia pilih, namun disaat ia sedang berdebat rasa sakit dibagian kepala melanda tubuhnya.


Jhennite meringis kecil menahan sakit yang begitu luar biasa disertai dengan dengingan hebat ditelinganya. Berkali-kali ia bertahan dan tidak menjerit, namun tubuhnya terkalahkan hingga kering dingin membasahi seluruh wajah Jhennite.

__ADS_1


"Jhennite kamu kenapa ?!!!". Reno lagi lagi panik melihat kondisi tunangannya saat ini, tapi sama seperti tadi Jhennite tetap menggeleng menandakan bahwa ia baik baik saja.


Bagi Jhennite rasa sakit seperti itu tidak ada apa apanya, karena selama hidup dia dimulai Jhennite sudah merasakan sakit yang lebih dari rasa sakit sekarang. Didalam penderitaan menahan sakit Jhennite sudah membulatkan sebuah keputusan, demi masa depannya dan Reno.


"Re-no...ma...af...aku...". Jhennite terbata bata mengucapkan isi hatinya karena sambil menahan rasa sakit, tapi ditelinga Reno meski terbata bata apa yang dikatakan oleh Jhennite itu sangatlah jelas ditelinganya.


"Aku...ti...dak...bisa... melanjutkan...per... tunangan ini".


"Duarrrrrr !!!". Suara bom meledak langsung jatuh keatas kepala Reno. Reno sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mengalami penolakan dari Jhennite sang tunangan.


Tepi sekarang itulah kenyataan pahitnya, cinta Reno ditolak mentah mentah oleh Jhennite dikala ia mulai menyadari sesuatu.


"Ta...tapi mengapa Jhennite, bukankah ini hal bagus, aku dan kamu bisa menjalankan hubungan seperti yang kamu impikan".


"Aku...tidak bisa, Re...no".


"Tapi kenapa !!!". Suara Reno mulai meninggi. Disaat Jhennite ingin menjelaskannya...


"Reno... hentikan...aku...akhhhhhhhh !!!". Rasa sakit dibagian kepala tidak bisa ditahan lagi oleh Jhennite. Jeritan rasa sakit sampai memutus kalimat terakhir Jhennite kepada Reno, kemarahan yang menyelimuti hati Reno pun menjadi berganti dengan kepanikan.


"Tittt...titttt....titttt...".


Suara alat Elektrokardiogram juga ikut memekik kencang, menghamburkan ketenangan dari setiap orang disekitarnya.


"Jhennite, bertahanlah. Dokter !!!, dokter !!!, dokter !!!".


Reno berteriak sekeras mungkin guna memanggil dokter keruang ICU, dan cepat menangani tunangannya yang sedang kesakitan. Para dokter sudah tau bagaimana dengan kondisi Jhennite sekarang, karena itu semua tenaga medis unggul berkumpul guna bekerja secara cepat secepat kilat mempertahankan kondisi tubuh Jhennite yang sebelumnya sempat stabil.


Malam ini pasti akan dipenuhi dengan sandiwara dunia, dengan boneka boneka rapuh yang terus-menerus dimainkan hingga takdir merasa puas. Apa lagi bagi Reno, takdir itu merupakan sesuatu menakutkan yang berhasil membuat dirinya mengalami keterpurukan hingga jatuh ke dasar terbawah alam sadar.


.


.

__ADS_1


.


"Reno maaf, bukan itu sebenarnya yang mau aku katakan kepadamu. Tapi aku takut jika semuanya terbongkar, kamu sendiri yang akan memutuskan benang merah yang sudah mulai terajut rapi ini".


__ADS_2