
Seminggu kemudian...
Dirumah Reno
"Reno kamu yakin mau pergi ??".
"Iya Al". Reno menjawab dengan tangan yang masih sibuk memasukkan barang barangnya kedalam sebuah koper besar.
"Tapi kamu mau kemana ??".
"Aku tidak tau, tapi yang penting aku harus pergi dari sini".
"Hufff !!!". Aldo menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. "Kamu mau ninggalin Jhennite yang sedang sakit". Namun ketika Aldo melontarkan kalimat satu itu, tangan Reno terhenti seketika.
"Aku bukan mau meninggalkannya". Begitulah jawab Reno kemudian atas pertanyaan dari Aldo.
"Lalu apa ??".
"Aku hanya ingin menenangkan diri, aku merasa selalu sesak saat melihat semua barang barang, dan seluk beluk kota dengan bayangan Jhennite didalamnya".
"Kamu cinta dia ??".
"Tentu saja. Aku menyadarinya sekarang, tapi ini terlalu besar untuk aku hadapi, aku merasa tidak mampu".
Aldo tersenyum seketika mendengar jawaban dari sahabatnya itu, dari yang mulanya ia duduk di sudut kepala tempat tidur, kini Aldo mulai melangkah mendekat kearah Reno yang posisinya ada dibagian ujung tempat tidur.
"Stop !!". Ucap Aldo dengan tangan menutup koper.
"Kamu kenapa lagi sih Al ?".
"Hei bro, jangan jadi pengecut gitu !. Sekarang aku tanya kamu udah bilang ke Jhennite bahwa kamu akan pergi menjauh darinya ??".
Reno tertunduk seketika. "Bagaimana aku mengatakannya ?". Didalam wajah tertunduk itu ia menjawab dengan gumaman yang tidak jelas.
"Nah ini yang aku benci, kamu harus bilang kepada Jhennite bahwa kamu akan pergi dari negara ini. Coba kamu bayangkan jika nanti Jhennite mencari cari keberadaan mu yang entah dimana rimbanya, kamu gak kasihan apa".
__ADS_1
Aldo menjelaskan opininya dengan nada suara sangat kencang kepada Reno, tapi itu berhasil, Reno yang awalnya menolak usulan Aldo kini sudah mulai luluh, hingga ia merebahkan diri di samping koper besar miliknya.
"Aku bingung". Reno menutupi matanya dengan lengan kekarnya.
"Apa lagi yang membuatmu bingung ??".
"Aku bingung menyampaikan semuanya...aku tidak akan mampu menemui Jhennite setelah apa yang terjadi".
"Huffff ~". Melihat Reno yang begitu pusing dengan urusan asmaranya sendiri, Aldo menghela nafas seraya memegang kepalanya yang sakit.
"Bukkh !!".
"Jangan berfikiran konyol !". Aldo mengagetkan jantung Reno dengan suara pukulan keras diatas sebuah benda, tidak lain yaitu koper.
"Kamu Fikir mengungkapkan perasaan harus saling pandang pandangan gitu ???!!!!. Kamu itu bisa menyampaikan semuanya melalui surat !!".
Reno membuka sedikit celah dari tangan kekarnya, sehingga bulu matan dan pupil Reno mengintip kearah luar. "Heh... surat ??". Reno menertawakan ide Aldo.
Tapi Aldo tidak ambil pusing atas ledekan Reno ini, dengan perlahan ia menjelaskan tentang bagaimana maksud dari perkataan dirinya tadi. "Bagiku sih surat itu lebih dari kata kata, karena kalau kamu mau nulis kata kata aja kamu bisa melalui chat, tapi aku yakin kamu pasti akan merasa chat itu sangat tidak sopan, karena itu aku usulin surat". Kalimat Aldo terjeda, dengan lirikan mata menuju kearah Reno.
"Yahhh... bagaimana ya, kalau aku dan Sofia sih sukanya mengutarakan rasa cinta dengan surat, karena untuk kami berdua kalimat dari hati bagaikan puisi indah nan merdu itu, bisa kami simpan hingga sudah tua nanti. Benar kan ??".
Dengan penjelasan tadi Aldo dapat melihat bahwa Reno sudah membuka pikirannya untuk menyampaikan isi hati dilema, beserta suka duka miliknya sekarang kepada Jhennite.
"Surat ya ??". Reno kembali bergumam.
"Jadi kamu mau buat enggak nihh ??".
Pertanyaan Aldo sempat lama tidak dijawab oleh Reno, karena didalam persembunyian dari tangan kekarnya Reno masih kurang yakin bahwa surat adalah hal terbaik menuliskan semua isi hatinya kepada Jhennite.
Tapi semangkin difikirkan oleh si Reno tak ada lagi jalan selain surat untuk mengungkap apa perasaannya sekarang, karena apa yang dibilang oleh Aldo tadi, sangatlah benar jika semua isi hati dituangkan dalam bentuk chat maka hal itu akan terlihat tidak sopan. Tapi jika dia tidak mengungkapkan isi hatinya maka Jhennite tidak akan mengetahui apa kebenaran dari perasaannya sekarang.
"Tidak ada pilihan lain, aku ingin Jhennite tidak salah faham". Atas dasar itulah akhirnya Reno menyetujui bahwa ia akan mengungkapkan semua perasaannya kedalam selembar kertas yang diukir oleh tinta berwarna hitam.
"Aku akan menulis surat untuk Jhennite". Reno menjawab pertanyaan Aldo selang beberapa menit kemudian, seraya ia bangkit menjadi posisi duduk.
__ADS_1
"Nah gitu dong". Karena senang atau apalah itu namanya, Aldo jadi spontan langsung merangkul pundak Reno sang sahabat.
"Astaga !! Al lepas gak ?!". Sedangkan Reno menggeliat tiada henti berusaha lepas dari rangkulan Aldo.
"Yahh... ini sih sesuai dengan dugaan ku tadi, jadi...bentar...". Aldo merogoh rogoh isi tasnya hingga ke isi terdalam.
"Cari apa sih ??".
"Kamu diam aja".
"Oh...dapat !, ini dia kertas edisi terbatas, aku yakin Jhennite pasti senang mendapatkan surat darimu nanti".
"Pffff !!, hahahaha". Reno tertawa kecil melihat bahwa seorang pria seperti Aldo ternyata selalu membawa bawa secerca kertas bewarna pink, yang ia sebut sebagai kertas edisi terbatas.
"Kamu yakin itu edisi terbatas ?". Reno sedikit mengejek Aldo yang sangat bersemangat memamerkan keindahan kertas edisi terbatas miliknya.
"Kamu gak percaya ?!!". Sedangkan Aldo mengeluarkan reaksi sesuai dengan dugaan Reno.
Melihat kelakuan temannya itu Reno hanya menyeringai, lalu ia berjalan menuju meja belajar disudut kamarnya, dan membuka sebuah laci dimana ada sebuah buku kecil berwarna hitam mengkilap didalamnya.
"Aku gak perlu kertas edisi terbatas milik mu". Ucap Reno yang kini sedang membuka lembaran buku tersebut.
"Jhennite tidak menyukai warna pink seperti itu, tapi ia menyukai warna hitam yang begini". Reno menunjukkan salah satu kertas pilihannya yang berasal dari lembaran buku berwarna hitam mengkilap tadi.
Karena bagi Aldo, Reno seperti mencari masalah, Aldo tidak bisa berbuat apa-apa selain menghela nafasnya, dan langsung beralih menuju inti permasalahan.
"Terserah kamu saja Reno. Sekarang duduklah". Aldo menekan pundak Reno sangat kuat hingga Reno terduduk dikursi meja belajarnya.
"Ackkk !!, sakit tau".
"Udah gak perlu berisik, sekarang tulis semua yang ada di hatimu lalu kau berikan suratnya kepada ku. Nanti aku dan Sovia yang akan menyampaikannya".
"Hmmm... oke".
Peroses pembuatan surat yang diwarnai dengan berbagai macam perkelahian dan debat pun berakhir, setelah Reno menggariskan tinta penanya keatas kertas putih berhiaskan warna hitam mengkilap.
__ADS_1
Sekarang kertas putih itu sudah tidak putih karena ada tulisan isi hati Reno didalamnya, angin yang berhembus menerpa rambut mereka berdua menjadi saksi bisu bagaimana ekspresi wajah Reno dikala ia sedang menulis surat terakhirnya kepada Jhennite.
Surat terakhir yang dapat mendaji kenangan indah sepanjang hidup Jhennite.