Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 53: Truth


__ADS_3

"Sovia !."


"Sovia !!."


"Nona Sovia !!."


"Nona !!."


Suara orang-orang yang mencari Sovia memenuhi segala penjuru Lovely hotel. Sudah 1 jam lebih mereka melakukan pencarian tapi Sovia tetap tidak ditemukan, bukan hanya di sekitar Lovely hotel saja, di desa atau permukiman warga juga sudah dilakukan pencarian, tapi jejak penculikan Sovia tetap tidak terlihat.


"Dimana kamu sayang." Deruhan suara berat memancarkan rasa cemas, terdengar dari suara Aldo.


Guna menghilangkan rasa lelah ia menyenderkan tubuhnya disebuah batang pohon nan besar dan tinggi, di waktu bersamaan pula pengacara Andika datang menghampiri.


"Tuan besar !."


Suara teriakannya mengagetkan Aldo, sambil berlari, dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ada apa ?." Tanya Aldo kemudian.


"Sepertinya saya tau dimana nona Sovia."


"Benarkah?!." Posisi Aldo seketika berubah menjadi berdiri tegak.


Mulai berjalan, hingga jarak antara dirinya dan pengacara Andika hanya beberapa jengkal saja.


"Benar tuan."


Karena melihat raut wajah Andika sangat serius Aldo pun mempercayainya. "Dimana tempat tunangan ku disembunyikan ?."


"Di rumah yang berada di jalan dong-ca."


"Untuk sekarang tidak ada gunanya aku tidak mempercayai mu, ayo kita langsung menuju ketempat itu."


"Baik."


Dengan secepat yang Aldo bisa, dia pun langsung berlari serta melajukan mobil menuju ketempat yang dikatakan oleh pengacara Andika.


Saat itu Aldo benar-benar membawa mobil tanpa perhitungan, laju mobil pun sudah melewati batas wajar, untung saja tidak ada polisi yang mengejarnya saat berkendara sangat kencang dijalan raya.


Tapi hal itu tidak percuma, dengan waktu 5 menit Aldo sudah sampai pada tempat tujuan, padahal seharusnya untuk menuju jalan dong-ca dari hotel lovely orang-orang membutuhkan waktu selama 15 menit untuk tiba di tempat tujuan.


"Clak !."


"Apa ini rumahnya ?."

__ADS_1


Aldo berbicara kepada Andika didepan mobil hitam miliknya. Lalu Andika menjawab dengan anggukan kecil.


Tanpa rasa ragu mereka langsung masuk kedalam rumah tersebut, Aldo beserta Andika masuk melalui jendela yang terbuka sedikit diarah samping.


"Ahhh sungguh merepotkan." Ketika memanjat jendela yang lumayan tinggi, Andika mendongkol didalam hatinya.


"Ayo cepat Andika, kita harus menemukan tunangan ku !."


"Iya."


Mereka berdua pada akhirnya berpencar guna menyusuri setiap sudut dari rumah tersebut. Suasana rumah sangat mencurigakan, karena begitu tenang tanpa ada perlindungan sedikitpun, hal ini membuat Aldo sedikit berfikir bahwa mereka sudah merencanakan sesuatu.


Aldo terus berjaga-jaga, mengendap-endapa, serta sudah mulai mengeluarkan alat pertahanan diri. Ada begitu banyak kamar didalam rumah itu, hal ini membuat Aldo semangkin waspada dan perasaan tidak enak semangkin kuat. Diarah depan Aldo melihat satu ruangan dengan pintu terbuka, disanalah suara Sovia mulai terdengar oleh Aldo.


"Sovia ?!." Secara spontan Aldo berlari kearah ruangan tersebut.


Aldo sebenarnya sudah mengetahui bahwa kemungkinan besar ruangan besar tersebut merupakan perangkap, tapi ia tidak menghiraukannya karena ada seorang wanita yang sangat ia cintai didalamnya.


Saat pertama kali Aldo melihat Sovia didalam ruangan tersebut hatinya begitu senang, dia bergegas menghampiri Sovia yang tengah terikat disebuah kursi. Namun bukannya senang saat melihat Aldo datang, Sovia malah terus menjerit dengan suara yang tidak jelas.


"Hpphhh...hpphhhhh...hphhhh!!!." Begitu teriakan Sovia yang setidaknya terdengar di telinga Aldo.


"Sudah senanglah jangan cemas lagi." Tanpa memperdulikan teriakan Sovia Aldo melepas lakban hitam yang ada di bibir Sovia. Disaat itulah Sovia langsung berteriak sangat kencang kepada Aldo.


Mata Aldo seketika membelalak, ia bergerak cepat menoleh kebelakang dengan alat pertahanan diri yang siap untuk dilayangkan. Namun kecepatan Aldo masih kurang, hingga sebilah besi menembus bagian belakang tubuh Aldo.


"Crakk !."


"Aldoo !!."


Suara yang mengerikan, serta darah yang mengalir, secara langsung disaksikan oleh Sovia. Teriakan syok serta kaget tidak dapat ditahan oleh Sovia. Air mata ketakutan pun mulai mengalir dari matanya, tubuhnya mulai bergetar, isakan juga terdengar begitu kerasa bersamaan dengan mengalirinya bulir bening pada pipi Sovia.


Seorang pria membentuk seringai dengan sorot mata tajam, ia berkata kepada Sovia. "Nona yang malang, kau seharusnya tidak mengusik milikku dan aku tidak akan mengusik milik mu."


"Apa, apa yang aku usik ?!. Apa yang aku usik darimu hah ?!!."


Suara amarah bercampur tangis dari Sovia menggema hingga terdengar keseluruh penjuru rumah, bahkan Andika yang berada di belakang rumah itu pun dapat mendengar suara Sovia. Andika langsung berlari menuju suara Sovia berada.


Ketika Andika mulai mendekat kearah ruangan dimana Sovia berada, seorang wanita secara bersamaan juga masuk kedalam ruangan tersebut, hingga langkah kaki Andika pun terhenti.


"Jhe... Jhennite ?!." Andika sontak langsung membelalak, matanya pun sedikit mengintip kearah dalam ruangan tersebut, disana ia dapat melihat bahwa wanita tadi memang Jhennite, yang merupakan tunangan dari Reno.


"Aku sudah tau kau akan mengungkap semua ini." Dengan tangan menekan kedua pipi Sovia, Jhennite menyeringai.


"Karena itu aku buat kau jatuh dalam jebakan ku, kau fikir aku sebodoh itu Sofia ?."

__ADS_1


"Gawat !."


Dalam keadaan yang tidak terduga, pengacara Andika langsung bergerak cepat. Hal pertama yang ia lakukan adalah menelfon pengacara Adam yang keberadaannya tak jauh dari keberadaan dirinya saat ini.


Setelah mengetahui Adam sedang dalam perjalanan menuju ke tempat yang ia kirim. Andika beralih menelfon Ketua Fahri, memberitahu bagaimana keadaan Sovia dan Aldo saat ini.


.


.


.


Kantor CBR...


"Niuwww...niuwwww...niuwwww."


Serine menjerit dengan kencang, memanggil seluruh bodyguard untuk berkumpul di lapangan yang ada tepat di belakang gedung CBR.


Disana sudah terlihat 80% para bodyguard berbaris rapi menunggu komando, dari ketua Fahri Resfansyah. Sampai hanya 1 menit berselang, seluruh bodyguard sudah mengambil tempatnya.


"Tak !, semuanya dengar !." Power suara ketua Fahri berhasil mengambil seluruh perhatian bodyguard.


"Sekarang nona masih disandera belum ada yang bisa menyelamatkannya. Sedangkan tuan dalam keadaan kritis akibat luka tusuk."


"Apa ?!." Wajah cemas para bodyguard langsung tergambar, ketika mendengar bahwa Aldo kritis akibat luka tusukkan.


Tapi power suara Ketua Fahri berhasil mengambil perhatian didalam keriuhan itu.


"Jangan berisik !."


"Tidak ada yang bisa kalian lakukan jika seperti itu, pelaku yang berani menangkap nona pasti orang yang sangat hebat dan memiliki kekuatan diatas hukum negara."


"Apa ada yang tau kenapa aku mengatakan hal ini ?."


"..." Semua bodyguard terdiam.


"Karena keluarga yang kita layani adalah keluarga yang sangat berpengaruh dalam perdagangan internasional." Lalu didalam keheningan, suara berat meletup memberi jawaban kepada ketua Fahri.


"Yah benar, jadi kalian pasti tau sekuat apa lawan kita."


"Sekarang kami tau Ketua." Seluruh bodyguard menjawab.


"Bagus !. Setiap ketua kelompok kalian susun rencana, aku akan pergi dengan pihak kepolisian. Aku juga akan memanggil para pelindung keluarga Fahreza. Jadi jangan biarkan ada celah untuk mereka mengalahkan kita, kalian faham ?!."


"Ya Ketua !!."

__ADS_1


__ADS_2