Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 6: memories


__ADS_3

Di ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion...


"Drap...drap...drap !!". Langkah kaki yang suaranya terdengar begitu cepat berjalan menuju sebuah ruangan. Dan sesampainya di depan ruangan tersebut...


"Brak !!". Suara langkah kakinya berubah menjadi dobrakan pintu yang mengagetkan semua orang.


"Nona muda !!". Panggil seorang dokter dari balik pintu tersebut.


Ternyata suara derapan kaki dan dobrakan pintu tadi berasal dari dokter Candra yang merupakan sikolok pribadi Dafira.


Dokter Candra yang sebelumnya sudah pulang kerumah sakit, kini mendadak balik lagi ke PT Dauson Corporecion, setelah ia mendengar kabar bahwa Dafira kembali jatuh pingsan, padahal cerita sebenarnya bukan seperti itu, hal ini jugalah yang membuat dokter Candra sangat panik hingga berlarian untuk menuju ketempat Dafira berada.


"Yaampun anda baik baik saja kan nona ??". Ucap dokter Candra sambil berjalan mendekati Dafira.


"Ia Dokter Candra, saya baik baik saja".


"Huff".


Dokter Candra pun akhirnya bisa bernafas lega setelah mendengar jawaban itu dari Dafira.


"Yaampun nona apa anda tau jantung saya hampir saja berhenti tadi, saya fikir ada hal buruk yang terjadi kepada anda". Gerutu dokter Candra.


"Untung saja saya ini kuat, jadi saya tidak terkena serangan jantung tadi !!". Omelnya sekali lagi


Dafira yang mendengar gerutuan dari dokter Candra itu hanya bisa tertawa kecil, apa lagi saat ini ia sedang menahan rasa geli ketika mengetahui bahwa seorang dokter Chandra yang selalu rapi bisa menjadi berantakan seperti sekarang ini.


"Maafkan saya dokter, saya tidak bermaksud begitu". Ucapnya dengan menahan tawa.


"Yah tidak masalah, saya bersyukur anda baik baik saja".


"Apa ada yang sakit nona muda ??". Tanya dokter Candra sambil melihat Dafira dari atas kebawah.


"Tidak ada kok dokter Candra, hanya saja kaki saya sedikit terluka".


"Apa ??".


Dokter Candra pun langsung kaget ketika mendengar bahwa ada bagian tubuh dari sang nona muda yang terluka.


"Dibagian mana luka itu nona muda ??". Suara dokter Candra terdengar begitu panik.


"Ehh. jangan khawatir dokter, lukanya hanya sedikit".

__ADS_1


Dafira mengangkat sedikit rok gaun yang sedang ia pakai saat ini untuk menunjukkan lukanya kepada dokter Candra dibagian lutut.


"Astaga~ saya fikir luka bagaimana". Ucap dokter Candra lega.


"Apa terasa mendenyut Nona". Ucapnya sambil mengeluarkan kertas beserta pena dari dalam saku.


"Tidak dokter hanya terasa perih sedikit". Jawab Dafira.


"Hmm baiklah kalau begitu". Gumam dokter Candra sambil menulis resep obat setelah mendengar penjelasan tentang luka yang ada di lutut Dafira.


"Ini adalah salap penyembuhan luka yang sering saya pakai, mungkin hanya satu atau dua Minggu kaki anda sudah sembuh". Ucap dokter Candra sambil memberikan resep obatnya kepada Dafira.


"Terimakasih dokter". Ujar Dafira setelah menerima resep obat dari dokter Candra.


"Tidak masalah nona saya senang bisa membantu. Nah karena Sekarang kondisi anda sehat begini, saya permisi kembali lagi kerumah sakit".


"Silahkan dokter Candra, terimakasih karna sudah mengkhawatirkan saya".


Setelah berpamitan kepada Dafira dokter Candra pun langsung melangkahkan kakinya menuju keluar dari ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion. Bersamaan dengan perginya dokter Candra Dafira yang sedang duduk bersandar di sebuah sofa memberikan perintah kepada Ray agar memanggilkan kembali pria yang sudah membawanya keruang peristirahatan tadi.


...*******...


"Permisi Nona". Seorang pria berambut hitam membuka pintu ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion secara perlahan.


"Bagaimana keadaan anda Sekarang ??". Ujar sang pria berambut hitam sambil melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada dihadapan Dafira


"Saya sudah baik baik saja". Jawab Dafira sambil tersenyum.


"Apa tidak ada yang sakit ??". Tanya pria itu untuk memastikan kembali.


"Tidak ada, tapi terimakasih sudah mengkhawatirkan saya".


"Syukurlah". Ucapnya seraya duduk di sofa yang ada dihadapan Dafira.


Setelah perbincangan singkat ini ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion menjadi hening dan canggung beberapa saat, namun untungnya keheningan ini dapat dipecah dengan pertanyaan yang dilontarkannya oleh pria berambut hitam.


"Nona". Panggil pria itu. Dafira yang mendengar panggilan ini pun langsung menoleh kearah sang pria yang ada dihadapannya. "Ada apa". Jawab Dafira.


"Maaf sebelumnya aku menanyakan hal ini, tapi... sepertinya tadi saya mendengar anda memanggil saya dengan nama Rahel. Apa anda mengenal orang itu ?".


Tanpa disadari oleh Dafira pria dihadapannya ini melemparkan sebuah pertanyaan yang sangat ingin ia lupakan untuk hari ini saja.

__ADS_1


Jantung yang dari tadi sudah stabil berdetak kini kembali berdegup kencang karena mendengar pertanyaan dari pria berambut hitam itu, getaran tubuh yang ia usahakan secara mati matian untuk menahannya sekarang perlahan lahan sudah tidak tertahankan lagi, keringat dingin juga mulai membasahi kening Dafira, kegelisahan dan kenangan bersama Rahel pun berputar secara cepat didalam kepalanya.


"Anda baik baik saja nona ?".


Pria berambut hitam itu langsung berjalan menghampiri Dafira ketika ia melihat tubuh wanita yang ada dihadapannya ini sedang bergetar dan wajahnya memucat.


"Hah...hah...hah...iya... aku baik-baik saja kamu... tidak perlu khawatir". Dafira berusaha menjawab pertanyaan itu dengan nafasnya yang terengah-engah.


"Aku akan ambilkan air untuk mu ya".


Dafira menganggukkan kepalanya dengan pelan. "terimakasih ya". ucapnya setelah itu.


Pria berambut hitam tadi langsung berjalan menuju rak rak yang berada sedikit terpisah dari ruang peristirahatan PT Dauson Corporecion, syukur saja air mineral yang dikemas dengan botol masih ada tersisa satu setelah rapat CEO dibubarkan, air mineral ini lah yang dibawakan oleh sang pria berambut hitam untuk Dafira minum.


"Ini airnya". Ucap pria itu sambil menyodorkan air mineralnya.


"Terimakasih". Ujar Dafira setelah menerima air mineral yang diberikan oleh pria berambut hitam itu.


"Apa ada lagi yang kamu perlukan ??". Tanya pria itu setelah Dafira meminum air mineralnya.


"Sudah tidak ada, ini saja cukup bagiku. Terimakasih sekali lagi ya tuan".


"Tidak masalah".


Setelah meminum air mineral dan menenangkan dirinya, perlahan lahan Dafira pun mulai bisa mengendalikan emosi yang beberapa saat tadi sempat meluap hingga membuat dirinya kembali depresi.


"Huff!!". Hela Dafira setelah menarik nafas panjang.


"Sekarang sudah lebih baik ?". Pria berambut hitam itu kembali menanyakan hal yang sama lagi.


"Iya. sekarang rasanya lebih baik". Jawab Dafira sambil menganggukkan kepalanya.


Proses menenangkan diri Dafira ini berjalan cukup lama, hampir sepuluh menit lebih Dafira menggunakan waktu itu hanya untuk mengontrol emosi dan juga pengendalian nafas nya. Tapi hal itu tidak masalah bagi pria berambut hitam yang saat ini sedang duduk di hadapan Dafira, baginya sekarang yang paling penting adalah kondisi sang wanita yang sedang terkena serangan panik.


Setelah melihat serangan panik Dafira menghilang, pria berambut hitam tadi kembali melontarkan pertanyaan yang sama, namun kali ini emosi Dafira tidak lagi meluap seperti tadi.


"Nona saya tidak tau apakah boleh menanyakan hal ini, namun apa yang sebenarnya terjadi dengan anda tadi ??".


Dafira pun menundukkan wajahnya ketika mendengar pertanyaan dari pria dihadapannya ini.


"Tenang Dafira kamu bisa melakukannya". Batin Dafira untuk memberikan sedikit motivasi kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sebenarnya Rahel itu adalah tunangan saya yang sudah meninggal tuan". Jawab Dafira sambil meremas ujung gaun yang sedang ia gunakan.


Namun berbeda dengan yang ada difikirkan Dafira, reaksi dari sang pria yang ada dihadapannya itu sangatlah mengejutkan, pria itu langsung memasang ekspresi wajah tidak menyangka dan sangat terkejut ketika mendengar jawaban dari Dafira.


__ADS_2