
...~*~*~*~*~*~*~*~*~*~...
...Malam kelam...
...………...
...ketika cahaya rembulan redup...
...maka kegelapan akan datang...
...Saat musim panas menghilang maka udara dingin akan menyelimuti semua kota...
...Kegelapan saat ini menyelimuti ku...
...ketika cahaya itu tertelan oleh kegelapan...
...Mimpi buruk seakan datang menghampiri ku...
...kemudian datang kealam mimpiku...
...~*~*~...
Tidak pernah sekalipun hari hari didalam hidup yang ku jalani tanpa adanya bayang bayangmu. Setiap detik nya, setiap menit, dan setiap jam hidupku selalu diselimuti dengan rasa bersalah dan keinginan untuk kau kembali. Padahal saat itu aku berharap menjadi kenangan kita berdua, tapi entah kenapa takdir kita tidak menginginkan hal itu.
...benang merah terputus dan memisahkan dua pasang kekasih...
...takdir membelenggu rasa cinta itu sampai akhir hayat...
...cinta ku yang menghilang ditelan ombak...
...bagaikan mimpi kelam yang membuat diriku tidak bisa bangun...
Suara alat yang berbunyi hanya untuk memastikan detak jantung mu sampai sekarang masih terdengar jelas ditelinga ku, bau obat yang memenuhi ruangan dan juga menyelimuti tubuh mu masih bisa aku cium dengan jelas sampai sekarang.
" Tiiiiiiittttttt...".
Dan suara isyarat kau telah tiada itupun masih ada didalam benakku, selalu menghantuiku, dan mengejarku sampai ke ujung kekuatan bawah sadarku.
Saat melihat mesin memprediksi jantungmu sudah berhenti duniaku seakan runtuh dan berhenti berputar, teriakan dan airmata tidak bisa aku tahan lagi, aku melampiaskan semuanya dihadapanmu sambil mendekap dirimu dengan erat.
Tubuh dingin perlahan lahan terasa merambat ketubuhku, aku berkali-kali mencoba membuatmu bangun namun tidak ada reaksi sama sekali dari dirimu, saat itu aku sadar kalau mentari, cahaya, dan musim panas ku telah pergi meninggalkan diriku sendirian.
Aku terpaku dan gemetaran menyaksikan kenyataan itu airmata, jeritan, dan rasa sakit dihati tidak bisa aku kendalikan lagi .
Jika kau tanya berapa sakit hatiku ketika itu maka jawabannya adalah aku tidak tau, tapi yang pasti saat itu semua dunia ini terasa tidak nyata, suara orang orang berhenti terdengar ditelinga ku, berjalan diatas bumi inipun seperti sudah melayang layang entah kemana.
Sejak saat itu aku tidak tau sudah berapa kali kau muncul di dalam mimpiku dengan senyum yang tetap sama, namun saat melihat senyum itu aku selalu teringat semua kenangan buruk tentang dirimu , seandainya… seandainya hanya sekali saja dunia ini bisa mundur aku sangat ingin menyelamatkan nyawamu, aku sangat ingin bergantian memelukmu agar aku jadi perisainya, dan ketika itu pula aku ingin memeluk tubuhmu yang nyata dengan erat sambil mengucapkan beribu ribu kalimat maaf.
...Aku ingin kembali kemasa itu...
Beberapa tahun yang lalu …
"Drap!!!...Drap !!!!...Drap !!!...". Suara langkah kaki dan juga serine ambulans saat ini terdengar begitu nyaring, semua dokter dan perawat bergerak secepat mungkin untuk dapat menyelamatkan nyawa Rahel yang sedang diambang Kematian.
"Kita harus melakukan operasi sekarang juga tolong siap kan semua kebutuhan operasi dan ruang operasi". Ucap salah satu dokter yang saat itu sedang menangani Rahel.
" Baik dokter !!!".
Beberapa menit setelah kejadian penembakan itu para bodyguard kelas S dari keluarga Dauson datang ketempat kejadian karena menerima sinyal dari teman teman Dafira, saat itu juga penolongan pertama dilakukan untuk mencegah pendarahan dari luka tembakan Rahel, namun karena keterlambatan datangnya ambulans saat ini Rahel sedang berada dalam keadaan kritis karena kehilangan banyak darah.
"Sayang... sayang kamu harus bertahan ya, kamu tidak boleh pergi meninggalkan aku disini". Suara histeris dan tangisan Dafira saat itu juga memenuhi langit malam hujan dan gemuruh petir.
Sejak dari ambulans sampai saat ini Dafira secara terus-menerus menggenggam tangan tunangannya itu dengan erat bersamaan dengan mengalirnya air mata yang tak terkendali.
"Maaf nona hanya dokter dan pasien yang diperbolehkan masuk kedalam ruang operasi". Ucap seorang suster sambil menahan Dafira.
__ADS_1
"Ta... tapi pasien itu adalah tunangan saya suster !!!!, saya ingin masuk kedalam juga !!".
" Maaf nona tidak bisa ini demi keselamatan pasien sendiri".
"Apa kamu tidak tau ?!!!!, aku adalah pewaris satu satunya dari keluarga Dauson !!, berani sekali kamu menahanku !!". Amarah Dafira tiba tiba memuncak saat mengetahui kalau dirinya tetap tidak diperbolehkan masuk kedalam ruang operasi. Kemarahan Dafira ini terjadi karena ia sangat syok ditambah kecemasan berlebihan tentang keadaan tunangannya.
Melihat reaksi Dafira yang tidak baik Rayhan yang merupakan bodyguard pribadinya berusaha menenangkan hati Dafira.
"Nona besar tenangkan diri anda dulu". Ucap Reyhan sambil memegangi pundak Dafira.
"Apa !!, sekarang kamu ikut ikutan juga menahan ku Ray ??". Bentak Dafira.
"Tidak bukan begitu nona besar. Coba anda fikirkan jika didalam sana kondisi tuan sedang gawat lalu reaksi nona begini apa yang akan terjadi ??". Jelas Rayhan. "Nona pasti akan menjadi penghalang dan menyusahkan tim dokter, kita hanya memikirkan kemungkinan terburuk nona bagaimana kalau saat didalam kondisi tuan Rahel memburuk dan anda menjadi panik seperti sekarang, bisa saja nyawa tuan Rahel tidak selamat".
Saat mendengar penjelasan Rayhan itu Dafira menjadi terpaku, tulang tulang tubuhnya menjadi lemas semua
"Bruk !!!". Tiba-tiba Dafira terjatuh kelantai karena tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya yang lemas.
"Nona !!". teriak Rayhan sambil menopang tubuhnya Dafira.
"Aku baik baik saja Ray, jangan khawatir". Ucap Dafira lirih
"Ayo duduk dulu disini nona".
Dafira duduk di kursi yang berada didepan ruang operasi sambil menyenderkan kepalanya Kedinding, saat itu semua kemungkinan hal buruk yang akan terjadi kepada Rahel berputar dikepalanya. Bersamaan dengan bayangan itu air mata Dafira mengalir dan menetes keatas tangannya.
Lampu hijau sebagai tanda operasi dimulai sekarang sudah menyala, jantung Dafira yang tadinya sudah berdebar sekarang semangkin berdebar lagi, bahkan Dafira saat ini merasa kalau jantungnya itu akan meledak karena berdebar sangat cepat.
"**Sangat lama... sudah berapa jam Rahel didalam sana** ??". Ucap Dafira didalam hati.
"Tapi Ray, aku merasa sesuatu yang tidak baik didalam sini". Dafira memegang dadanya. "Aku merasakan firasat buruk, jantung inipun berdebar dengan debaran yang berbeda, aku merasa hal ini sangat janggal". Raut wajah Dafira langsung berubah menjadi sendu setelah mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada Rayhan.
"Jangan berfikir buruk dulu nona, kita berdoa saja yang terbaik untuk tuan Rahel".
"...". Dafira tidak menjawab perkataan itu, namun ia sedikit menganggukkan kepalanya.
Waktu berjalan begitu cepatnya... dua puluh menit, empat puluh menit, setengah jam, satu jam, dan bahkan tiga jam sekarang sudah berlalu begitu saja. Rahel yang tengah berjuang didalam ruang operasi belum menunjukkan keadaannya yang membaik.
"Ting". Lampu ruang operasi berubah menjadi merah, dokter yang menangani operasi Rahel pun langsung keluar dan menemui Dafira.
"Dokter !!!, bagaimana keadaan Rahel ??". Tanya Dafira panik.
"...". dokter itu awalnya tidak menjawab pertanyaan Dafira, namun dari ekspresi wajahnya semua orang dapat mengetahui kalau keadaan pasien yang ditanganinya tidak baik baik saja.
__ADS_1
"Dokter !!!!, Jawab saya !!!". teriak Dafira histeris.
"Maaf tuan dan nona kami sudah melakukan yang terbaik untuk keselamatan pasien, tapi takdir berkata lain nyawa pasien sudah tidak bisa kami selamatkan".
Saat mendengar hal itu tubuh Dafira langsung gemetaran lalu seketika jatuh kelantai.
"Tidak... tidak mungkin, ini tidak benarkan dokter, tunangan saya itu orang yang kuat... dia...dia tidak mungkin kalah hanya luka begitu, dokter pasti bercanda kan". Dafira sudah tidak bisa mengetahui mana yang benar sekarang, didalam hatinya ia yakin bahwa tunangannya itu akan baik baik saja, sedangkan kenyataan menghadapkannya dengan kematian Rahel tunangannya.
"Nona anda harus bisa bersabar dan kuat, ini sudah takdir nona anda tidak boleh begini". Rayhan berusaha menenangkan Dafira yang terlihat begitu terpukul.
"Tidak... tidak !!!!, ini tidak benar !!!, Rahel itu masih hidup !!!!, pasti... itu pasti !!!". Teriakkan Dafira yang masih belum bisa percaya bahwa tunangannya tiada menggema dan memenuhi ruangan sekitar.
"Rahellll !!!!!, Rahel jangan tinggalkan aku !!!". Teriakkan itu semangkin terdengar menyedihkan karena diiringi dengan rintih penyesalan.
Ketika itu juga Dafira melihat seorang pasien yang sudah ditutup dengan kain putih, ia langsung terpaku melihat pasien yang tidak lain adalah tunangannya.
Dafira mendekati tunangannya itu dengan tertatih tatih.
"Rahel~". Ucap Dafira sambil membuka kain putih yang menutupi wajah tunangannya itu.
"Rahel bangun sayang, hiks... kamu tidak boleh pergi. Kamu berjanji akan selalu ada disamping ku, kamu berjanji saat kita menikah lusa akan menjadi kebahagiaan ku seumur hidup. kamu hiks... kamu berjanji semua itu kan Rahel ???, ayo bangun Rahel".
Dafira tak kuasa menahan kesedihannya nya, ia berteriak histeris didepan Rahel yang tak lagi bernyawa, berkali-kali ia mencoba membangunkan Rahel dengan cara menggoyangkan tubuh tunangannya itu, namun percuma saja Rahel tidak merespon apapun. Menyadari hal itu saat ini tidak ada harapan lagi, Dafira pun langsung memeluk tubuh dingin Rahel sambil menangis dan berteriak diiringi rintihan pilu.
Malam itu menjadi malam kelam bagi Dafira, hanya dalam satu malam ia harus melepaskan kepergian tunangannya itu, bukan pergi yang akan kembali lagi namun pergi untuk selamanya.
...***Saat itu cahaya menghilang bersamaan dengan kegelapan***...
...***Mentari hangat tenggelam terkalahkan oleh bulan***...
...***kehidupan ku terhenti di kala detak jantung mu berhenti***...
Sejak saat itu juga entah sudah berapa kali aku mencoba melakukan bunuh diri yang bertujuan agar bisa bertemu dengan mu
Berkeinginan untuk memeluk tubuh nyatamu
mengucapkan seribu maaf
__ADS_1
dan membalikkan waktu ketempatnya semula