Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter spesial: Kami tidak pacaran \\\


__ADS_3

Karena Pekono menggigit tanganku aku jadi sedikit lama bersiap siapa pergi kestudio, jadi seperti yang kalian lihat aku terlambat satu jam dari perjanjian.


Lalu seperti nya hal ini membuat orang didepanku itu menjadi sangat kesal. Lihatlah, kalian tidak akan percaya seberapa seramnya wajah Rahel saat ini.


"Maaf ya Rahel, aku sudah membuat mu menunggu".


"Kau ini lama sekali sih !!, hampir saja aku pulang tadi!".


"Iya iya maaf, tadi ada sedikit kendala mangkanya aku terlambat".


"Seharusnya bilang dulu donk".


"Kamu gak tau sih rasanya nunggu di bawah matahari yang panas begini".


"Kamu mau buat aku dehidrasi ya ?!".


"Iya makanya aku minta maaf".


"Ck...aku kesal banget tau gak, gimana kalau aku pingsan cobak !!!".


"Iya maafkan aku".


Akhirnya diawal libur musim panas ini aku berhasil membuat Rahel Wiandara marah dan mengomel panjang lebar untuk pertama kalinya. "Sepertinya ini tidak akan selesai dengan mudah".


.


.


.


Setelah sekian lama berdebat diluar...


"Panas nya~ !!".


Aku akhirnya berhasil meredam amarah Rahel sesaat, dan sekarang kami sudah masuk kedalam studio musik dengan keringat yang sudah membasahi pakaian kami.


"Hah~ rasanya aku mau pingsan, panas sekali".


"Kau baru beberapa menit saja diluar sana, bagaimana dengan ku yang satujam ?!!".


Nah lihat kan, inilah sang Rahel Wiandara yang populer itu sebenarnya. Iya sangat suka menyimpan marah, dan marah itu sangat sulit untuk dihilangkan. Mungkin kalau dia sudah dendam maka dendam itu akan sampai mati dia bawa. Hahh...aku sempat bingung menghadapi orang itu.


"Yaampun Rahel, kamu masih marah tentang hal itu ??. Nanti sebagai gantinya aku belikan eskrim deh".


"Gak usah. Aku lagi gak pengen !!". Aku yang sudah berusaha baik ini tiba tiba dijawab oleh seseorang dengan jawaban ketus nan menyebalkan, jujur aku sangat kesal dengan hal ini.

__ADS_1


"Yasudah deh, ayo kita masuk keruang instrumen musiknya. Aku menyewa ruangan itu hanya 3 jam, jadi tidak asik kalau kita terlambat kan ??".


Seketika manusia menyebalkan itu terkekeh tanpa sebab dihadapan ku. "Heh !!, memangnya siapa yang membuat kita terlambat". Begitu ucapnya kemudian setelah terkekeh. Ternyata masalah tadi benar benar belum selesai.


"Rahel kamu mau sampai kapan marah begitu ??". Itulah ucapan pertamaku kepada Rahel yang sepertinya masih menyimpan amarah besar dihatinya.


Aku sebenarnya adalah tipe orang yang sungguh sangat tidak suka jika ada seorang yang cemberut dengan wajah marah disekitar ku, jadi jika sudah muak aku akan melontarkan semua isi hatiku tanpa ada pertimbangan, jadi aku merasa hal itu akan terjadi sekarang.


"Aku sudah minta maaf loh. Kamu tidak bisa menyimpan amarah terus terusan, nanti kamu sakit".


"Tapi itu semua terserah kamu juga sih, masih mau marah atau tidak itu pilihan mu".


"Tapi ingat Rahel sebuah kemarahan tidak baik jika kamu pendam pendam".


Aku tidak tau apa yang aku katakan sesaat tadi, aku sungguh sungguh tidak mencerna apa kalimat ku kepada Rahel ini. Aku hanya berharap hal ini tidak menambah api di hati Rahel.


"Hei". Namun setelah itu ia malah memanggil ku.


"Iya, ada apa ??".


"Maaf ya, aku tidak bersikap dewasa tadi".


"Ehh ??". Aku kaget, tapi bersamaan juga senang. Aku tidak tau kalau Rahel adalah orang yang mudah dinasehati, jadi saat mendengar maaf itu aku lumayan tercengang.


"Hahh~ maaf".


"Hei". Hingga akhirnya panggilan Rahel datang dan membuyarkan semua lamunanku.


"Iya tidak papa kok, aku juga minta maaf karna sudah membuatmu menunggu. Maaf ya Rahel".


"Iya, tidak masalah. Sekarang kita keruang instrumen ??".


"Baiklah, ayo kearah sini Rahel".


Akhirnya masalah satujam yang lalu sudah selesai, kini perperangan sudah berhasil kami tandatangan kontrak perdamaian.


Seperti rencana sebelumnya aku dan Rahel pun langsung berjalan menuju ruang instrumen musik yang berada dilantai empat gedung ini.


Ohya aku hampir saja lupa, gedung ini sebenarnya bukan hanya ada studio musik nya saja. Tapi studio ini juga bisa digunakan sebagai pemotretan dan juga tempat syuting. Pemilik studio ini adalah nyonya Akari, mama dari salah satu sahabat ku yang bernama Leonard.


Sebenarnya aku sih sudah sangat sering kesini, apalagi di studio bibi Akari ada tempat untuk khusus melukis jadi tak ada alasan untuk ku tidak datang kesini. Selama aku kenal dengan bibi Akari entah sudah berapa gambar dan karya seni yang aku buat, dan sampai sekarang aku juga tidak tau apakah gambar itu masih disimpan atau tidak.


.


.

__ADS_1


.


Sesampainya di ruangan instrumen musik


"Selamat siang madam Lolita".


"Selamat siang juga nona muda Dafira, bagaimana kabar anda ??".


"Kabar saya baik, terimakasi madam sudah menanyakan keadaan saya".


Wanita elegan, berambut hitam panjang didepanku ini adalah madam Lolita. la merupakan pianis terkenal dari keluarga arktis yang terkenal pula. Karena itu jika dilihat sekilas madam Lolita terlihat sudah sangat tertata rapi, bagaikan sebuah lukisan sempurna yang tak memiliki kekurangan.


la juga merupakan kenalan dari bibi Akari, karena itu setiap Minggu madam Lolita ada di studio ini untuk mengajarkan beberapa murid yang mengikuti les musik bersamanya.


Namun, aku sedikit merasa aneh saat melihat tatapan tajam madam Lolita kepada Rahel saat ini. Aku merasa hari ini akan ada sedikit kesalah fahamman tentang diriku.


"A-ada apa dengan madam Lolita ??".


Begitulah isi hatiku yang sangat bertanya tanya, dengan ekspresi madam Lolita. Ditambah lagi dari tiga puluh menit berselang madam Lolita tidak melepaskan pandangannya kepada Rahel.


"Aku sungguh berharap hari ini tidak ada badai".


Aku sangat tidak tahan dengan perasaan begini, perasaan penasaran tapi tak tau apa yang sedang terjadi. Hingga pada akhirnya aku memilih untuk menanyakan apa yang sedang difikirkan oleh madam Lolita saat menatap lekat Rahel seperti itu.


"Hmm, madam Lolita. Maaf sebelumnya tapi saya ingin bertanya, kenapa anda memandang Rahel seperti itu ???". Begitulah awal pertanyaan ku dimulai, lalu ...


"Apa dia pacar anda nona muda ???".


Kesalahpahaman yang aku khawatirkan tadi ternyata benar benar terjadi.


"Ehhh...?!!!. Tidak madam, tentu saja tidak. Dia hanya teman saya, dan saya kesini bersama dengan dia hanya untuk keperluan belajar musik saja". (Panik)


"Ho ?, benarkah ?".


"Tentu saja memangnya kenapa saya harus berbohong ??, dia benar bukan pacar saya madam".


"Baiklah kalau begitu. Tapi nona, jika dia benar pacar anda juga tak masalah kan ??".


Aku mengetahui ekspresi itu, ekspresi madam Lolita ketika sedang menggoda karena ia telah berhasil membaca fikiran seseorang.


Aku sungguh tidak tau dari sudut mana madam Lolita melihat kami sepasang kekasih.


"Kami benar benar tidak pacaran madam !!".


Namun setelah itu aku pun secara tiba tiba kembali merasakan kegerahan yang tidak asing seperti sebelumnya.

__ADS_1


..."Ada apa sebenarnya dimusim panas ini ??"....


__ADS_2