Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter spesial: Cerita baru tambah satu lagi


__ADS_3

Hari hari yang kami lewati berdua memang hanya seperti itu saja. Kami belajar musik, saling menjahili dan juga bercanda ria untuk kesenangan.


Meski terlihat sangat sederhana, namun hal ini sudah membuat kami merasa sangat senang dan bahagia.


Hingga tak terasa waktu bergulir begitu cepat, rahasia masing masing juga bertambah diantara kami berdua, kenangan kenangan manis yang sederhana juga tak lupa bertambah sedikit demi sedikit.


Sampai aku pernah berfikir, apakah hubungan ini bisa lebih lama ??, atau bisakah hal ini lebih dari sekarang ??.


Karena nikmatnya kebahagiaan dan kehangatan yang aku dambakan selama ini, seketika aku sempat melupakannya...


"Rahel kamu mengenal wanita itu ??".


"Siapa ?".


"Itu loh yang duduk disana, dia melihatmu terus".


"Oh... tidak, aku tidak mengenalnya".


Kalau hubungan hangat ini hanya bisa ada didalam ruang musik...


"Jangan mengharapkan hal aneh Dafira".


Jujur, saat menyadari semua itu aku sedikit merasa sedih, padahal dulu perasaan ini sangat aku kesampingkan, tapi entah kenapa sekarang aku tak bisa berbuat hal yang sama.


Namun, apakah kalian tau...


Raja es yang tidak pernah menghiraukan aku itu pernah membuat jantungku hampir berhenti sekali, didalam musim panas yang sama, namun waktu berbeda.


Ruang Musik...


"Panasnya sungguh menyiksa, apa aku tidak latihan saja ya ??".


Pelajaran hari itu baru saja selesai, meski sudah menghabiskan sebotol air mineral aku tetap tidak bisa menghilangkan kegerahan ini, aku sungguh merasa lemas dan sesak saat itu, hingga untuk berjalan keruang musik saja rasanya sangat malas.


Namun disaat bersamaan pula aku jadi menimbang perasaan Rahel. Aku yakin pasti Rahel sudah menunggu ku sangat lama, lalu disaat panas terik begini pasti berat untuk menunggu seseorang disebuah ruangan yang gerah seperti ruang musik.


Yahh...


Jadi apa boleh buat, karena perasaan yang seperti itu akupun jadi melangkah pergi menuju ruang musik.


Saat sedang diperjalanan menuju ruang musik aku mendengar suara melodi biola yang begitu indah, aku sungguh menyukai melodinya itu, sangat lembut, hangat, dan seperti mengukir kan sebuah cerita dari hati sang pemainnya.


Tanpa dilihat pun semua orang pasti sudah tau siapa yang sedang bermain biola ini. Yap... dia adalah Rahel, salah satu murid sekolah kami yang memiliki segudang bakat.


Aku selalu terkekeh saat mengucapkan kalimat itu, karena sebenarnya itu adalah kalimat anak perempuan dikelas ku yang sangat menggemari Rahel, mereka selalu saja berteriak girang jika sudah menceritakan seorang Rahel Wiandara.

__ADS_1


Karena sudah menyadari bahwa Rahel tengah menunggu diruang musik, aku dengan cepat langsung membesarkan langkah agar bisa lebih cepat sampai ke ruangan musik.


Tapi..., saat aku membuka pintu ruang musik pemandangan langka langsung tersaji di mataku...


"Eh.....???".


"Apaaaa...?!!!". Begitulah teriakan batinku sesaat setelah melihat pemandangan langka tersebut.


Aku langsung diliputi rasa bingung setengah mati, atas apa yang harus aku lakukan. Aku merasa dilema antara harus pergi atau tetap diam didalam ruangan musik ini. Tapi meskipun hatiku merasa harus pergi, kaki ku tidak mau konsekuen dan tetap terpaku ditempat ku berdiri tadi.


"Ra...Rahel. Seorang Rahel Wiandara menangis ???".


"Aku dan dia sudah sepakat mengabaikan cerita privasi, ta... tapi...?".


"Apa yang harus aku lakukan ??". Begitulah ucap batinku yang sudah kebingungan.


Aku tidak tau apa yang sedang terjadi sekarang, namun setelah selesai memainkan biola Rahel langsung mengeluarkan air matanya tanpa ada sepatah katapun.


Namun disela sela kebingungan yang membunuh ku ini, suara Rahel tiba tiba keluar dan langsung membuyarkan semua susunan rencana ku.


"Hei...". Begitu panggil Rahel yang menggemparkan jantung ku.


"Ah... aku, aku tidak melihat apa apa, aku tiba tiba rabun karena panas ini jadi kau teruskan saja apa yang mau kau lakukan".


"Aku, aku akan pergi dari sini, aku ingin ambil kacamata dulu, jadi buatlah dirimu nyaman oke".


Karena aku kaget ketika dipanggil Rahel, aku secara sepontan langsung mengatakan kalimat alasan yang tidak masuk akal, aku tidak tau bagaimana ekspresi ku saat itu, namun setelah kalimat ngaurku terselesaikan tawa Rahel langsung pecah dan menenangkan kepanikan ku.


"Pff !!!".


"Hahahaha !, apa apaan sih. Sejak kapan panas bisa membuat orang rabun, kamu bolos kelas biologi ya ??".


Rahel tersenyum kearah ku, seakan akan semua hal yang aku lihat tadi hanyalah faktamorgana yang tidak nyata.


"Hah !!, bagaimana sih, padahal kau seseru ini tapi kenapa tidak punya teman ??".


"Kemarilah, anggap saja hal tadi hanya hayalan mu sesaat".


"Hmm...". Aku masih terpaku dan tidak mendekat kearah Rahel, padahal Rahel sudah menyuruh ku untuk mendekat kearahnya.


"Kenapa lagi ??". Begitu ucap Rahel dengan menatapku bingung.


Aku sebenarnya ingin menanyakan apa yang sedang terjadi tadi, tapi aku takut Rahel tersinggung, jadi aku diam saja. Namun didalam diam aku jadi sangat penasaran apa yang sedang terjadi tadi, namun aku sangat takut. Jadi dengan dilema yang kembali lagi seperti ini aku memutuskan untuk menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi tadi.


"Hmm...begini, tadi, kamu menangis tidak". Aku bergumam dengan suara lirih selirih yang aku bisa.

__ADS_1


"Hah ??, kau bilang apa ??".


"Yaampun, aku bukan dewa, suara sekecil itu mana mungkin aku dengar. Bicaralah yang jelas".


"Begini, aku hanya mau bertanya sedikit... hanya sedikit saja".


"Hmmm...apa kamu menangis tadi ??".


"Siapa bilang aku menangis, aku tidak pernah menangis".


"Sebentar lagi liburan".


"Aku hanya merasa sedih karena tidak akan bisa bermain biola disini lagi".


"Jadi aku tidak menangis".


Sebenarnya saat mendengar alasan ini aku tidak percaya sih, tapi mau bagaimana lagi aku tidak mau membuat musuh bebuyutan, jadi aku iyakan saja biar cepat selesai.


"Ouh begitu".


"Kamu mau belajar bermain musik lagi tidak ??".


"Oh iya, maaf sudah menunggu".


Sejujurnya aku merasa sedikit takut pada liburan dimusim panas kali ini...


"Hmm... Rahel".


"Ya. kenapa ?".


Aku takut hubungan yang sandiwara ini tidak membekas di hati masing masing.


"Bagaimana kalau kita latihan di studio teman mamaku".


Lalu pertemanan, atau pertemanan sandiwara ku dan dia putus tak meninggalkan sisa sama sekali setelah liburan selesai.


Aku tidak berharap banyak...


Tapi...


"Boleh saja, kau mau latihan saat liburan hari pertama ??".


"Yah, apa kamu bisa ??".


"Tentu saja bisa".

__ADS_1


Aku malah melalui libur musim panas yang sangat menyenangkan.


Aku yakin kenangan liburan tahun ini tidak akan pernah tergantikan oleh kenangan lain.


__ADS_2