
Satu jam kemudian...
"Hei Dafira". (Menggigil)
"Apa ??".
Sesaat tadi aku sempat lupa
"Sekarang bagaimana lagi hah ??".
"Hmm... aku...".
Bahwa terakhir kali aku bermain hujan adalah saat aku berusia 5 tahun, lalu setelahnya cerita pun diakhiri dengan flu dan demam dua hari.
.
.
.
"Sebenarnya terakhir kali aku melakukan ini ketika berusia 5 tahun". Begitulah jelasku kepada Rahel dengan canggung. Lalu setelahnya kekesalan Rahel pun melompat langsung dari mulutnya.
"Kau cari mati ya ?!!".
Aku faham dengan teriakan kesal Rahel itu, tapi mau bagaimana lagi hal ini sudah terlanjur terjadi.
"maaf ~". Hanya itu yang bisa aku ucapkan lagi setelah melihat wajah kesal Rahel yang menyeramkan.
" Ck !. Kita cari tempat berteduh dulu".
"Tapi dimana ??, sekolah pasti sudah tutup, jika aku pulang dalam kondisi begini bisa bisa Mama marah besar".
Sesaat setelahnya Rahel sempat berfikir sebentar. Lalu...
"Bagaimana kalau ke studio melukis ?".
"Ahh...".
Kenapa aku lupa tadi, bahwa tempat kami berlindung dari masalah kan masih ada studio melukis. "Benar juga".
"Yasudah ayo kita langsung kesana, cuaca semangkin tidak baik".
"Yasudah ayo cepat".
Tanpa membuang waktu aku dan Rahel pun langsung berlari menuju studio musik yang jaraknya tidak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. Namun saat sedang ditengah perjalanan aku melihat ada teman sekelas yang sedang lewat dijalan yang sama dengan kami.
Hingga pada akhirnya aku memberhentikan langkah Rahel, lalu menyeretnya ke lorong ruko yang tepat berada di samping kami.
"Hei apa yang kau lakukan ??". Begitu ucap Rahel yang bingung ketika aku menariknya kelorong sepi itu.
__ADS_1
"Shtt !!". Dengan tangan dibibir ku, aku memberi kode kepada Rahel agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Setelah aku yakin mereka sudah lewat jauh dari posisi kami sekarang, barulah aku menjawab pertanyaan Rahel tadi.
"Kita sedang sembunyi". Ucapku sambil melirik kedua teman sekelas tadi.
"Kenapa kita sembunyi dari mereka ??". Ternyata Rahel yang melihat aku sedang melirik, sekarang ikut serta melakukan apa yang aku lakukan.
"Apa yang kamu lakukan ?".
"Apa lagi, tentu saja mengikuti mu. Selain itu kau sembunyi dari teman sekelas mu sendiri ??".
"Kamu tidak tau apa apa !!, Aku hanya tidak mau terkena masalah karena dekat dengan pangeran sekolah".
"Lalu mau sampai kapan disini ??".
"Tunggu sampai mereka jauh dulu".
"Baiklah".
Beberapa saat kemudian...
"Akh !!, kenapa bajuku jadi lengket begini ??".
"Tentu saja kamu kan habis main hujan Rahel".
"Ck, merepotkan !".
"Tapi".
"Rahel !".
Dari perjalanan menuju studio Rahel tak henti hentinya mempermasalahkan bajunya yang basah kuyup. Ia seakan akan tak rela merasakan sensasi lengket yang disebabkan oleh sang hujan dikala ia sedang menerobosnya.
Tapi sensasi itu kan memang harus dirasakan bagaimana pun, hakikat kain yang terkena air adalah basah dan membuat pemakainya merasakan lengket. Tapi entah apa yang tengah difikirkan oleh Rahel hingga protes seperti itu.
"Rahel ayo cepat keruang pak Andre".
"Ck !!, Iya..."
Meski dalam perasaan kesal dan tak nyaman Rahel tetap mengikuti langkah kakiku yang berlari menuju lantai studio melukis.
Sepanjang jalan kami berlarian, kami dapat melihat keadaan studio yang saat ini sangatlah sepi dan juga hening. Namun hal ini wajar sih, karena jam segini studio memang sudah istirahat dan buka kembali jam 8 nanti.
Aku sangat bersyukur karena hal itu, jika studio ramai seperti sebelumnya aku pasti akan menanggung malu sepanjang masa.
Dengan kecepatan lari yang maksimal akhirnya aku dan Rahel pun sampai didepan studio melukis lima belas menit kemudian.
Kami datang ditengah petir yang begitu kuat, dan kilat yang begitu kencang. Hingga kami mengagetkan pak Andre yang sedang menyelesaikan lukisan barunya.
__ADS_1
"Astaga~, saya fikir anda tadi seorang hantu". Begitulah ucap pak Andre yang jantungnya hampir copot ketika melihat kami dalam kondisi berantakan.
Kami hanya bisa tertawa saat melihat pak Andre menjerit beriringan dengan suara petir mengguncang, pak Andre bilang dia hampir pingsan karena mengira kami hantu yang bergentayangan. Sebenarnya ini cukup seru, karena aku baru pertama kali melihat wajah pak Andre yang ketakutan setengah mati.
"Hahaha... maafkan kami ya pak Andre". Aku membalas ucapan pak Andre tadi dengan senyum setengah menyesal.
"Yahh... tidak masalah nona. Tunggu sebentar disini ya".
Sesaat pak Andre meninggalkan kami ditengah studio melukis berdua, ia sepertinya pergi kesebuah ruangan lain yang tak jauh dari studio melukis ini.
Lalu setelah kembali, dua pasang pakaian baru pun sudah berada ditangan pak Andre.
"Pakai ini cepat sebelum kalian sakit". Pak Andre menyerahkan pakaian itu kepada aku dan Rahel.
Aku dan Rahel pun menerima pakaian dari pak Andre itu dengan senang hati, kami langsung memakainya dan mengganti pakaian kami yang sudah basah dengan pakaian baru.
Tapi karena ini studio melukis yang dikelola pak Andre, hanya ada pakaian pria yang tersisa, ditambah pakaian itu sangat besar karena memiliki ukuran tubuh pak Andre, hingga aku merasa tenggelam saat memakainya.
"Sangat besar". (Gumam)
"Dafira kamu memakai pakaian siapa ??".
Rahel yang baru saja keluar dari ruang ganti langsung berjalan kearah ku, dan meledekku tanpa membuang waktu lagi.
Tentu saja aku merasa kesal dengan hal ini, hingga aku membalas kejahilannya dengan wajah yang cemberut.
"Kamu tidak lihat kalau ini baju pak Andre hah ??". Ucapku dengan nada ketus.
"Hahaha, maaf deh jangan cemberut begitu".
Lalu setelah satu kalimat dari Rahel, ia pun langsung menghampiri ku dan memperbaiki baju pak Andre agar tidak kebesaran saat aku kenakan.
Rahel memulainya dengan menggulung lengan baju ini keatas, lalu mengikatkan tali pinggang miliknya ke pinggangku hingga volume baju pak Andre tidak terasa menenggelamkan ku lagi, lalu yang terakhir Rahel memberikan sebuah pita merah kepadaku yang entah darimana asalnya.
Aku kaget melihat apa yang dilakukan oleh Rahel ini, tapi karena cara kerjanya sungguh cepat aku sudah tak bisa menghindar serta menghentikan nya, hingga aku hanya bereaksi diam ditempat tak berkutik sedikitpun.
Pita yang diberikan Rahel itu tentu aku terima dengan senang hati, tapi aku tetap menanyakan dari mana ia mendapatkan pitanya.
"Rahel kamu dapat darimana pita ini ??". Aku bertanya kepada Rahel dengan menaruh sedikit curiga.
Saat itu aku melihat Rahel sedikit canggung ketika menjawabnya, namun setelah ia menjawab pertanyaan dari ku, kecurigaan ku malah berubah menjadi perasaan asing.
"Aku...".
"Aku, membelinya tadi, sebagai tanda maaf karena sudah memotong rambut mu". Begitulah jawabannya Rahel yang dilontarkan ragu ragu.
"Aku sungguh tak sengaja saat itu, jadi maaf ya".
Aku pun tanpa sadar langsung terkekeh kecil saat mendengar alasan dari Rahel ini. Aku tidak menyangka bahwa dia masih mengingat nasib rambut berhargaku, hingga harus membelikan pita baru sebagai pertanda maaf.
__ADS_1
Karna sudah mendengar asal usul sang pita, aku pun langsung memasangkannya kekepala ku, sambil mengikatkannya aku berterimakasih kepada Rahel dengan senyuman manis yang mengukir.