Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Reno & Jhennite: Perasaan yang tidak sesuai


__ADS_3

Dirumah sakit...


"Cepetan Al !!!".


"Ck !!, iya iya".


Derapan kaki Reno dan Aldo yang berlarian memenuhi lorong jalan menuju ruang ICU. Sejak mendapatkan kabar buruk tentang Jhennite mereka berdua langsung pergi kerumah sakit dengan secepat kilat, bahkan ketika membawa mobil saja Reno sampai ngebut tidak terkendali, untungnya saja nyawa mereka tidak dalam masalah.


"Hah...hah...hah... cepetan Al !!!". Reno kembali berteriak sekali lagi kepada Aldo yang sedang terduduk lelah dianak tangga menuju ruang ICU.


"Hah... kamu gak bisa sabar ya ??, aku capek tau". Dan Aldo semangkin meluruskan kakinya dengan santai, disertai nafas tidak beraturan.


"Kamu ini !!..."


"Apa ??, kamu mau maksa lagi ??, Jhennite itukan tunangan mu, jadi kamu aja yang lanjut lari sana". Aldo memotong omelan Reno dengan kalimat yang kurang menyenangkan, tapi meski begitu Reno seperti tidak menghiraukannya, Reno malah langsung berlari melanjutkan perjalanan menuju ruang ICU tanpa ada Aldo mengikuti.


Sebenarnya kalau ditanya apakah Reno tidak lelah, maka jawabannya tentu saja Reno lelah, ditambah lagi sejak seminggu yang lalu Reno kurang tidur dan beristirahat, jadi sekarang pasti sudah bisa dibayangkan bagaimana rasanya kondisi tubuh Reno.


Meski dengan kondisi tidak baik, Reno tetap memaksakan kakinya menaiki anak tangga satu persatu, hingga berhasil berlari menyusuri jalan dimana ruang ICU berada di ujungnya.


Namun saat sudah sampai...


"Yaampun ...".


Langkah kaki Reno langsung terhenti seketika, matanya terbelalak, dengan suara nafas terengah-engah. Lalu setelah itu kalimat bergetar pun keluar dari mulutnya.


"Pa...papa ?".


Disisi lain Aldo yang sudah cukup beristirahat langsung berlari kembali menyusul Reno yang sudah sampai dilantai atas, sama halnya dengan Reno, Aldo juga terbelalak kaget ketika melihat kearah depan ruang ICU.


"Ini tidak baik".

__ADS_1


Mereka berdua...bukan lebih tepatnya mereka berempat, termasuk Sovia dan Dafira yang setia menunggu. Menunjukkan reaksi yang sama persis ketika melihat seorang pria berjas hitam, dengan kacamata, dan juga bodyguard yang mendampinginya.


Pria itu terlihat sangat tampan jika sekilas, tapi kalau sudah dilihat dengan baik, matanya terlihat sangat menyeramkan, karena memiliki sorot yang tajam dan juga kejam, hingga semua orang yang melihatnya pasti akan bergidik ngeri.


Yahh... kalian pasti bisa menebak kan siapa pria itu ??.


Kalau kalian menjawab pria itu adalah papa Jhennite, maka jawabannya benar. Pria kejam, dengan sorot mata tajam, dan seperti tidak memiliki belas kasih ini adalah kepala keluarga, dari keluarga Respansyah. Papa Jhennite yang awalnya di Korea, tiba-tiba langsung memutuskan pulang kenegara dimana anaknya tinggal setelah mendengar kabar bahwa Jhennite sedang kritis. Lalu sekarang ayah dari wanita yang sudah disakiti oleh Reno itu sedang menatapnya dengan tajam, seakan laser akan keluar dan membunuhnya.


Aldo melirik kearah Sovia dengan harapan tunangannya ini memiliki rencana ampuh agar tidak ada perperangan didalam situasi sekarang, namun harapan itu nihil karena Sovia menggeleng menandakan tak ada ide bagus dikepalanya saat ini.


"Hufff !!!".


Aldo pun dengan terpaksa menghela nafas frustasi, tak ada cara lain menyelamatkan Reno dari badai besar yang akan berhembus.


"Puk". Disela sela itu Reno memukul pundak Aldo pelan.


"Tak apa". Lalu melangkahkan kaki mendekati papa Jhennite dengan senyum mengandung makna.


Ketika sudah disamping papa Jhennite Reno menarik nafasnya dalam terlebih dahulu, lalu barulah dengan perasaan tidak yakin ia membuka percakapan dingin diantara dirinya dan papanya Jhennite.


"Jangan panggil aku papa".


"Dek !!". Kalimat dingin itu merayap menyucuk hati Reno, ia terpaku tidak percaya dengan respon yang diberikan oleh papa Jhennite.


Respon ini sangat berbeda dengan perkiraan Reno sebelumnya. Reno tidak menyangka papa Jhennite akan menjawab perkataan ramah nya dengan kasar, dan begitu dingin.


"Papa, maaf aku...".


"Jhennite selalu memandang mu ada Reno. Tapi kau tidak pernah melihat dia sekali pun, kan ??, aku tahu kalian hanya tunangan yang terikat perusahaan, tapi...tidak bisakah kau menjaga perasaan putriku satu satunya ???".


Kalimat Reno terpotong dengan fakta nyata. Kemudian seketika fakta dari papa Jhennite berhasil membuat suasana menjadi hening dan senyap, tak ada suara sedikitpun yang menggangu ungkapan hati sang ayah itu, bahkan angin saja tidak berani membuat kegaduhan, begitu pula dengan Reno, ia sudah diam membisu dengan perasaan hati bersalah.

__ADS_1


Tapi sama dengan waktu waktu sebelumnya, kalimat tadi belum selesai, sampai sambungannya langsung bisa menggemparkan semua orang di depan ruang ICU ...


"Heh !!".(Papa Jhennite menyeringai)


"Mungkin ini adalah kebijakan yang seharusnya aku ambil sejak melihat kau menghindari Jhennite. Jika kau memang tidak mencintainya maka aku akan membatalkan pertunangan kalian hari ini juga !".


"Apa ?!!". Semua orang langsung tersentak kaget hingga perhatian hanya tertuju kepada Reno dan juga papa Jhennite, sekarang dapat dilihat bahwa wajah Reno sangat syok dan juga pucat mendengar perkataan dari papa Jhennite.


Didetik yang sama, detak jantung Reno berdebar sangat kencang, ia sama sekali tidak faham debaran apa ini ?, ia sama sekali tidak faham apa alasan debaran ini ?. Seharusnya ia merasa senang karena ikatan tunangannya dengan Jhennite akan dibatalkan oleh pihak Jhennite sendiri, tapi tidak tau alasannya mengapa debaran dihati Reno muncul hingga membuat sesak.


Wajahnya menunduk karena perasaan tidak nyaman itu, lalu dengan spontan. "Papa jangan lakukan itu, aku...aku akan memperlakukan Jhennite lebih baik lagi". Ucapan entah dari dasar apa keluar dari mulut Reno dengan sendirinya.


"Untuk apa kau mempertahankan Jhennite ??, Apa kau tau Reno, sejak dulu anak ku itu menginginkan cinta hangat dan tulus, tapi aku membuat kesalahan dalam mencari tunangannya".


"Tidak papa bukan begitu, aku ingin mengembalikan apa yang sudah aku renggut dari Jhennite. Aku mau... mengembalikan kebahagiaan yang seharusnya Jhennite dapatkan 3 tahun silam, tolong ijinkan aku papa". Wajah Reno semangkin menunduk menandakan ia semangkin menyesal.


"Tidak bisa !, cinta didasarkan oleh perasaan iba tidak mungkin bisa bertahan". Tapi papa Jhennite menolak penyesalan dari Reno.


"Dari mana papa tau perasaan ku sebenarnya ??". Mendengar penolakan papa Jhennite tangan Reno perlahan-lahan mulai mengeras, bersamaan dengan hatinya yang tadi sesak sekarang semangkin bertambah sesak seiring berjalannya waktu.


Meski sudah melihat kondisi tunangan dari anaknya itu, pendirian papa Jhennite tetap tidak bisa tergoyahkan, ia tetap ingin membatalkan pertunangan anaknya dengan pria yang tidak ingin ia ingat namanya ini.


Tapi karena ada teman teman Reno yang menyaksikan hubungan Reno dan Jhennite akan terputus, mereka pun akhirnya memilih angkat bicara.


"Maaf sebelumnya om, walaupun tidak mengenal Jhennite lama tapi saya bisa melihat bagaimana rasa cinta Jhennite yang begitu besar kepada Reno". Dari keempat teman temannya Aldo yang pertama kali angkat bicara. Lalu disusul oleh Sovia yang mempertegas pendapat tunangannya.


"Benar sekali, saya juga merasa seperti itu saat melihat pandangan Jhennite terhadap Reno, jika minsalnya om membatalkan pertunangan yang sudah dijaga oleh Jhennite selama 3 tahun, apakah om tidak berfikir kalau Jhennite akan merasa kecewa dan tersakiti ??".


Mendengar penuturan dari dua orang teman Reno papa Jhennite awalanya hanya terdiam dan tidak menghiraukan sedikitpun, tapi hal itu hanya sesaat sampai pernyataan dari Dafira keluar.


"Saya yakin hal ini akan berat bagi Jhennite jika pertunangannya dibatalkan, jika seseorang yang dicintai hilang, itu rasanya sangat tidak menyenangkan. Jika orang itu memang menghilang meninggalkan kita kedimensi yang berbeda itu tidak akan terlalu berat, tapi kalau orang itu masih dibawah langit yang sama dengan kita lalu melihatnya dengan orang lain saling berpegangan tangan. Saya... yakin itu akan menyakiti Jhennite lebih dari perkiraan om saat ini".

__ADS_1


Papa Jhennite sedikit tersentak menandakan bahwa ucapan Dafira berhasil mencairkan hati nya yang sempat membeku tadi, bersamaan dengan itu pula suasana menjadi hening diisi dengan raut wajah papa Jhennite yang sepertinya sedang berfikir, lalu setelah itu Reno berhasil melalui setengah badai yang berhembus.


"Oke ... demi perasaan Jhennite aku tidak akan membatalkan pertunangan kalian, tapi jika akau bertanya apa Jhennite masih mau bersama mu dan jawabannya tidak, aku akan membatalkan pertunangannya didetik itu juga !!".


__ADS_2