Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 12: Buku kecil Rahel


__ADS_3

Dikediaman keluarga Wiandara


Mobil bewarna hitam yang begitu mewah saat ini sudah tiba didepan gerbang kediaman keluarga Wiandara, tanpa dilihat siapa orang didalam nya pun para pekerja sudah mengetahui bahwa Tuan muda mereka saat ini sudah pulang kerumah.


Para bodyguard yang menyadari hal ini langsung menghampiri Rafaela untuk membukakan pintu mobilnya dan memberikan salam hormat kepada Tuan muda mereka itu.


"Selamat datang Tuan muda". Ucap para bodyguard.


"Terimakasih atas sambutannya".


Rafaela tersenyum dan membalas salam para bodyguard itu.


Rafaela sang pewaris utama keluarga saat ini tidak hanya disambut didepan gerbang kediaman keluarga Wiandara saja, namun setelah masuk kedalam rumah yang bagaikan istana para maid pribadi dan juga kepala pelayan juga ikut menanti kepulangan dari sang tuan muda mereka ini.


"Selamat datang tuan muda". Rafaela kembali menerima sambutan dari tiga orang maid pribadinya dan juga satu orang kepala pelayan.


"Huff !!!. Aku kan sudah bilang kalian tidak perlu memperlakukan diriku seperti kak Rahel".


"Mana bisa seperti itu tuan, saat ini anda adalah penerus keluarga, dan tugas kami adalah selalu setia dan melayani anda". Tepis seorang maid bernama Lia.


"Benar apa yang dikatakan Lia, mau bagaimana pun saat ini anda adalah tuan besar kami dan itu memang kenyataannya, tidak ada seorang pun yang bisa menyeka kenyataan itu. Jadi tuan anda tidak perlu merendahkan diri seperti itu". Secara bersamaan, kedua maid yang berada disamping Rafaela langsung mengutarakan pendapatnya yang setuju dengan kalimat maid Lia tadi.


Rafaela yang sudah terbiasa dengan suasana ini hanya tersenyum lebar sambil sedikit terkekeh kecil. "Terimakasih, kalian sudah mau menerima ku". Ucap Rafaela kepada para maidnya.


"Yaampun... tuan !!, sudah berapa kali kami bilang anda itu adalah tuan kami, melayani anda sepenuh hati dan selalu setia merupakan sumpah kami sebelum bisa bekerja dikediaman Wiandara ini. Jadi anda tidak perlu berterimakasih setiap saat". Salah seorang maid bernama Lin mengomeli Rafaela sekuat tenaganya.


Rafaela hanya bisa terkekeh geli ketika mendengar omelan dari Lin yang setiap saat selalu ia dengar kan seperti kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1


Meski suasana kediaman Wiandara selalu sama seperti ini Rafaela tidak pernah sekalipun merasakan yang namanya bosan, ia selalu bahagia dan senang ketika melihat sikap unik para maid pribadinya setiap hari.


Berdebat tentang pakaian Rafaela, makanan apa yang cocok untuk Rafaela, pertengkaran kecil hanya karna membela Rafaela, dan juga omelan mereka satu persatu tidak pernah terasa seperti beban hidup bagi Rafaela, malah ia merasa senang ketika melihat perkelahian antar maid pribadinya tersebut. Meski memang tak dapat dipungkiri bahwa telinga Rafaela juga kadang kadang sakit ketika tiga orang maid pribadinya ini menjadi kompak dan mengomelinya secara bersamaan. Namun mereka inilah yang menjadikan suasana kediaman keluarga Wiandara hidup setelah kepergian sang tuan muda sebelumnya.


"Kalian, berhenti berbicara !".


Tanpa disadari, ditengan tengah perdebatan tiga maid pribadinya Rafaela, suara seorang pria yang begitu khas dan juga berwibawa terdengar dan mengheningkan ketiga suara yang dari tadi mengoceh tanpa henti.


"Apa kalian tidak faham kalau ini sudah malam ??, apa kalian tidak faham kalau tuan muda saat ini pasti lelah ??, apa kalian tidak faham semua itu ?!!!!". Suasana yang tadinya ceria tiba tiba menjadi menyeramkan karena kemarahan kepala pelayan keluarga Wiandara sudah mencapai puncak tertinggi.


Sebastian merupakan nama dari kepala pelayan keluarga Wiandara, ia terkenal begitu tegas dan tak kenal ampun jika ada salah seorang pekerja tidak mematuhi aturan, sehingga tidak ada seorang pun yang tidak takut ketika melihat ekspresi wajah pak Sebastian ketika sudah marah besar. Dan perasaan ini lah yang sedang dirasakan oleh ketika maid pribadi Rafaela.


"Ma... maafkan kami pak Sebastian !!!". Ketiga maid langsung membungkuk dihadapan pak Sebastian dan Rafaela dengan rasa takut dan juga gemetaran.


"Hahh !!. Cepat siap kan air mandi untuk tuan besar !!".


Telinga para maid langsung berdiri ketika mendengar perintah dari pak Sebastian, lalu secepat kilat mereka langsung melakukan apa yang dikatakan oleh pak Sebastian tersebut.


Namun sebelum mereka melakukannya suara Rafaela langsung menghentikan langkah kaki mereka bertiga.


"Itu tidak perlu". Ucap Rafaela dengan nada sedikit dingin.


"Ada apa tuan muda ???".


Lia yang mengetahui ekspresi sang tuan yang sedang tidak baik langsung memberikan kode kepada dua orang maid lainnya.


"Aku tidak apa, hanya saja aku sangat lelah hari ini, jadi aku mau langsung beristirahat saja".

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat itu Rafaela langsung melangkah pergi menuju kamarnya yang berada dilantai atas, sedangkan ketiga maid dan kepala pelayan hanya membungkuk hormat tanpa ada mengeluarkan sepatah kata lagi.


Di kamar Rafaela Putra Wiandara……


"Klak!!!". Suara membuka pintu terdengar nyaring dimalam yang sunyi ini.


Setelah suara pintu terbuka tampak seorang pria berambut hitam muncul dari balik pintu tersebut, ya... pria itu adalah Rafaela.


Kondisi Rafaela yang awalnya terlihat baik diluar seketika berubah sesaat ia baru saja masuk kedalam kamar, Rafaela menghempaskan tubuhnya keatas kasur sambil menghela nafas berat dengan tangan menutupi matanya.


Cahaya bulan yang menari dan kelipan bintang yang menggoda sungguh menambah keindahan dimalam yang sunyi itu, namun keindahan ini tetap tidak membuat Rafaela merasa ceria seperti sebelumnya. Ia bahkan tidak menghiraukan cahaya bulan yang masuk untuk mengganggunya keluar, ia juga tidak menghiraukan nyanyian malam yang indah dan tak ada duanya.


Rafaela tetap pada posisinya, dengan tangan yang berada diatas matanya. 30 menit pun berselang tak terasa waktu berjalan, pada akhirnya Rafaela pun bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju sofa didekat jendela besar yang terbuat dari kaca.


Yah, Seperti dugaan kalian semua...


kamar yang ditempati oleh Rafaela sekarang adalah kamar mendiang Kakak nya Rahel sebelum meninggal. Jadi wajar saja perasaan Rafaela menjadi campur aduk menjadi satu ketika memasuki kamar besar nan luas tersebut.


Dengan membawa buku yang sudah ia ambil sebelumnya, Rafaela pun duduk disofa tersebut.


"Angin yang tetap sama". Batin Rafaela berbicara sesaat ia menerima terpaan lembut angin malam yang menerobos jendela kaca.


Lalu dengan perlahan lahan ia membuka lembaran buku tersebut dengan sangat hati hati. Buku bersampul merah, dengan satu tangkai bunga sakura kering didalamnya, dengan bertuliskan inisial nama RW menjadi petunjuk siapa saja yang melihat buku ini.


Buku itu adalah catatan bersejarah yang ditinggal kan oleh Rahel dikala dirinya belum meninggal, didalam buku itu pula semua keinginan, penderita, kebahagiaan, dan seluruh cerita hidup Rahel dituangkan menjadi satu dan berubah menjadi sebuah cerita.


Rafaela kembali membaca buku yang sudah entah berapa kali ia baca sampai tamat, lalu seperti biasanya setelah membaca buku itu Rafaela akan mengambil dua lembar surat yang berwarna pink dan bewarna putih.

__ADS_1


"Huff". Rafaela mengeluarkan senyum terpaksa miliknya.


"Maaf kakak aku belum bisa memberikan ini kepadanya".


__ADS_2