
11 Tahun yang lalu...
"Bagaimana ??".
"Apanya yang bagaimana ??".
"Kau sudah berhasil memainkannya".
"Belum, aku juga heran entah kenapa memainkan biola terasa begitu sulit".
"Hah~, kamu ini harus berusaha lagi".
Tanpa disadari kedekatan kami berdua semangkin erat setiap hari nya, dan Rahel pun sudah tak malu malu untuk mengajak ku ngobrol disaat istirahat belajar musik.
Percakapan yang kami bahas tak pernah yang berat berat karena kami ingin melepaskan beban dengan percakapan itu, jadi percakapan kami seperti ini saja tak terlepas dari musik atau lagu favorit.
"Ohya, Rahel jadi sejak kapan kamu menekuni musik".
"Entahlah, biasanya aku main biola hanya gesek kanan kiri. Tapi karna guru seni kelasku berkata permainan ku bagus jadi dia menyuruh ku untuk menekuninya".
"Jadi bisa dibilang ini berawal dari tugas guru seniku".
"Ouh... begitu".
Tapi entah kenapa aku merasa dia sedikit tertekan, meski dalam ekspresi wajah datar yang dingin.
"Hei Dafira...".
Akupun menoleh kearahnya, seraya bergumam sedikit. "Ada apa ??".
"Kenapa aku tak pernah melihat mu bersama teman, apa hanya aku yang kau kenal disekolah ini ??".
__ADS_1
Aku terpaku seketika, aku merasakan ucapan itu langsung menancap tepat dihatiku, entah bagaimana caranya lelaki dihadapan ku ini selalu saja benar dalam menebak keadaan ku.
Aku tentu tidak menjawab ia karena malu, tapi aku juga tak boleh berbohong, jadi Jawaban yang aku berikan setandar setandar saja sesuai dengan yang terjadi.
"Tidak, dulu aku punya teman baik".
"Lalu ??".
"Tanpa ada pesan atau pemberitahuan, tiba tiba ia pergi ke Amerika untuk mengikuti tes beasiswa. Setelah itu aku tamat dan naik kelas, disana seratus persen siswanya adalah orang asing, jadi aku sedikit kurang bisa berbaur dengan mereka. Jadi, yahh...kamu taulah apa kelanjutannya".
Setelah ceritaku selesai Rahel hanya terdiam tanpa suara.
Awalnya aku fikir dia diam karena merasa iba dengan ceritaku itu, tapi diluar dugaan suara tawa yang membuat ku kesal malah keluar dari mulut nya.
"peff !!". Begitu suara tawanya dimulai.
"Hahahaha, yaampun kenapa kau menceritakan itu dengan ekspresi menyediakan ??'.
"Hahaha, itu masih masalah kecil bagaimana kalau masalah besar, mungkin kamu akan pingsan".
"Aku bilang jangan tertawa !!". Dan semangkin kesal karena ia tak mau berhenti.
"Duh... bagaimana ya ini sudah panggilan alam jadi aku tak bisa berhenti".
Suara tawa Rahel semangkin lama semangkin jadi, dan kekesalan aku juga semangkin meningkat bersamaan dengan tawa jahilnya. Ia belum tau kemarahan seorang Dafira bagaimana...
"Pak !!!". Karena kekesalan ku sudah maksimal, aku jadi melayangkan sebuah hadiah kecil ketangan Rahel yang sedang tertawa terbahak bahak. Bersama dengan itu pula suara ringisan Rahel terdengar dan mengheningkan tawanya.
"Aduh". Ucap Rahel sambil mengelus tangannya yang aku pukul.
"Gimana sakit ??". Sedangkan aku sama sekali tidak merasa kasihan melihat tangannya yang memerah.
__ADS_1
Tapi laki laki didepan ku sepertinya tidak jera dengan hadiah kecil yang kulayangkan, karena setelah hadiah itu terlaksana kejahilan yang lain pun muncul.
"Syukurnya enggak sih". Begitu ucapnya dengan wajah biasa saja.
Lantas aku yang mendengar ini juga langsung menambah satu hadiah kecil lagi yang lebih kuat dari tadi. "Pak !!!". Suaranya bergema hingga memenuhi ruangan.
"Aduhh, yang ini kok sakit sih ??". Ucapnya dengan serius.
"Jangan macam macam !". Tapi aku tak menghiraukan kata sakit yang ia ucapkan sungguh sungguh itu.
"Kamu gak merasa bersalah ya, tanganku udah merah merah nih".
"Enggak !!, ngapain aku kasihan katanya gak sakit". Begitu balasku dengan ketus.
"Jadi sekarang seorang Dafira marah ??".
"Enggak !".
"Benarkah ??".
Aku hanya mendiamkan pertanyaan jahilnya itu, dan melanjutkan permainan piano ku tanpa menganggap ada manusia didepanku.
"Maaf deh, aku salah, jangan marah lagi donk".
Aku tetap mendiamkan ucapannya itu, bagaikan ia adalah manusia transparan yang tak bersuara.
"Hei, nanti cantiknya ilang loh kalau cemberut terus".
Tapi jantung dan otak ku langsung tak konek bekerja, otakku bilang marah saja biar dia sadar, tapi jantung ku malah berdebar dan ingin memaafkannya.
"Ada apa dengan mu jantung, tolong konek lah??". Begitu batinku yang bertanya tanya dengan debaran jantung yang tak karuan ini.
__ADS_1
Dia yang berada didepanku tiba tiba kembali tertawa entah karena apa, sedangkan aku merasa udara musim panas tahun ini lebih menyengat dari tahun lalu, padahal didalam ruangan sudah ada kipas angin menyala tapi aku tetap merasa gerah dan kepanasan.