
Di kediaman Nugroho
"Clek !."
Sovia membukakan sebuah pintu besar yang ada didalam rumah Aldo.
"Silahkan masuk."
Terlihat, bahwa dibalik pintu tersebut ada sebuah ruang kerja yang sudah dilengkapi banyak pengaman. Lantas mereka pun sudah tak mau menunggu waktu lama lagi, dengan cepat pengacara Adam atau sering disebut pengacara Elios berlari menuju sebuah meja, dan mengeluarkan sebuah flashdisk dimana data yang menjadi petunjuk utama ia simpan.
"Ini laptop yang bisa kamu gunakan." Sovia menyodorkan sebuah laptop besar berwarna putih kehadapan pengacara Adam.
"Terimakasih." Kemudian pengacara Adam menyambutnya dengan cepat.
Pengacara Adam perlahan-lahan membuka laptop tersebut yang sudah ia letakkan diatas meja, ia membukanya sangat penuh dengan kehati-hatian, karena ia tau bahwa harga laptop yang sedang ada ditangannya bisa mencapai miliaran rupiah.
Saat laptop sudah terbuka pun pengacara Adam masih sangat lembut dalam menekan tombol on yang ada pada layar laptop.
Percayalah orang yang melihat cara kerja pengacara Adam pasti akan merasa lelah dan sesak nafas karena untuk membuka laptop saja memerlukan puluhan menit lamanya.
"Mau berapa abad kami nunggu kamu buka laptop." Melihat cara kerja pengacara Adam, pengacara Andika jadi mulai kesal menunggu.
"Sabar." Balas pengacara Adam dengan nada agak meninggi.
"Ck !, kamu lama."
"Hei !."
Pada akhirnya kini tangan yang memegang laptop sudah berganti, dengan sangat lincah jeri-jemari pengacara Andika bermain diatas keyboard sampai menghasilkan suara yang padu.
"Tak...tak...tak...tak." Hanya suara itu yang memenuhi ruang kerja Aldo sekarang.
Semua mata hanya tertuju kepada layar laptop, dengan debaran jantung yang setengah tidak percaya bahwa Jhennite terlibat dalam kasus ini.
Apa lagi Sovia, ia sama sekali tidak percaya bahwa Jhennite terlibat. Sampai pada akhirnya...
"Ini dia !." Seruan pengacara Andika membuat semua terbelalak kaget, mereka semua benar benar melihat kebenaran kelam dibelakang Jhennite sekarang.
Bahkan kebenaran itu membuat Sovia hampir ambruk kebelakang, bersyukur sebelum tubuh Sovia mencapai lantai marmer tangan Aldo sudah sigap duluan menahan tubuh tunangannya itu.
"Sovia Are you alright ?."
"Ye...yes."
"Really ?."
"No...not, hahhh... entahlah aku tidak tahu." Sovia menyenderkan kepalanya kedada bidang miliki Aldo, seraya memijit pelipisnya yang sekarang terasa sakit
"Hey honey, calm down." Aldo pun menyambut hangat kepala Sovia yang datang ke dekapannya. Dielus-elus olehnya rambut Sovia nan panjang dan lembut, sehingga memberikan sensasi menenangkan untuk Sovia.
__ADS_1
"Merasa lebih baik?."
Sovia hanya mengangguk sebagai jawaban iya. Dengan gontai Sovia berusaha berdiri, sambil bertumpu ditangan kekar sang tunangan yang sudah menggenggam tangannya dengan erat.
Disaat ia sudah berdiri sejajar dengan seluruh orang di ruang kerja Aldo, Sovia kembali melontarkan pertanyaan.
"Bagaimana kita akan menangkapnya ?. Jika hanya dengan bukti kecil ini, Jhennite tidak akan bisa dijadikan sebagai seorang tersangka." Jelas Sovia.
"Benar juga, kita butuh bukti yang lebih akurat." Balas pengacara Adam kemudian.
"Hmmm..." Di waktu Sovia dan pengacara Adam sedang berunding, pengacara Andika memikirkan sebuah ide yang bisa digunakan.
"Aku punya ide bagus." Suara pengacara Andika menghentikan pembicaraan antara Sovia dan pengacara Adam.
"Apa ide mu pengacara?."
"Aku tidak yakin ini berhasil atau tidak. Tapi, ini merupakan trik jebakan."
"Aku suka trik jebakan." Sovia menjentikkan jemarinya. "Ayo katakan apa yang ada di kepala mu sekarang."
"Tidak banyak, aku berfikir kita harus mengungkapkap kebohongan ini dari Jhennite sendiri, lalu kita jadikan hal itu bukti."
"Yah ide itu cukup bagus." Di sela-sela pembicaraan pengacara Adam ikut masuk menyampaikan gagasan miliknya.
"Ditambah ada seorang pegawai di foto ini yang bisa kita jadikan saksi."
"Ehhh !." Sovia berteriak kaget.
"Fufufu." Dengan tawa sombongnya, pengacara Adam melakukan zoom pada salah satu foto Jhennite. Pada awalnya Sovia dan Aldo yang tidak memperhatikan dengan baik, sekarang bisa melihat bahwa difoto tersebut bukan hanya ada Jhennite seorang, tapi ada pegawai kafe yang berada di belakangnya.
Tentu kebenaran ini bisa menjadi jalan keluar untuk kasus pembunuhan Rahel, ditambah...
"Jhennite itu terlalu polos, kita akan mudah mengelabui nya." Kedua pengacara hebat sudah memiliki persepsi yang sepertinya benar.
"Yasudah, kita akan melakukan rencana ini dua hari lagi. Apa ada yang keberatan ?." Pengacara Adam melihat kesekeliling memastikan bahwa semua orang yang ada didalam ruangan itu setuju dengan pendapat nya.
"Kami setuju dengan mu pengacara Adam."
Disela-sela suasana tegang...
📱: "Tit...tit !."
"Eh, hp ku berbunyi." Sovia dengan bergegas mengambil hp yang berada didalam tas.
📲: "Halo siapa ini ?."
📱: "Sovia kamu dimana ?, aku sudah datang ke pestamu, tapi kamu entah dimana sekarang."
📲: "Ouhh yaampun Dafira, maaf aku lupa memberi tahumu bahwa aku sedang ada urusan diluar tadi."
__ADS_1
📱: "Yah jadi bagaimana dong sekarang aku udah datang jauh-jauh loh."
📲: "Yaudah, begini aja deh. Aku datang kesana sekarang, kamu tunggu aku ya."
📱: "Oke aku tunggu."
📲: "Tut !".
Setelah telepon mati Sovia langsung menghela nafas berat, melihat reaksi sang tunangan tentu Aldo menjadi penasaran dengan apa yang sedang tunangannya itu bicara ditelepon.
"Kenapa ?."
"Astaga Aldo aku lupa kalau aku juga mengirimkan undangan pesta ke Dafira." Lagi-lagi Sovia memijat pelipis yang sakit entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Jangan bingung begitu, ayo kita langsung menjumpai Dafira. Rapat saat ini juga sudah selesai."
"Yasudah ayo."
Pergilah Aldo dan Sovia ketempat dimana pesta diselenggarakan, rapat diakhiri dengan kedua pemimpin utama pergi karena sahabat sang calon nyonya besar sudah marah karena tidak dalat bertemu dengan pemilik pesta itu sendiri.
Sedangkan kedua pengacara tadi, mereka bersantai dengan cara masing-masing. Andika bersantai dengan membaca artikel pembunuhan, sedangkan Adam bersantai dengan mendengarkan musik di telinganya.
.
.
.
2 Hari kemudian
"Halo nona Jhennite." Di atap sebuah gedung pencakar langit, pengacara Andika menyapa dengan senyum menyilaukan, bahkan lebih menyilaukan dari matahari diatasnya.
"Halo juga pengacara Andika." Senyum menyilaukan itu ternyata berhasil membuat Jhennite tersenyum ramah pula, lalu disaat itulah ciri khas pengacara kita satu ini tidak pernah ketinggalan.
"Sungguh indah ya hari ini, ditambah anda memakai anting beserta kalung yang sesuai dengan gaya anda, pantulan sang Surya membuatnya berkilau, sehingga diri anda lebih terlihat bercahaya terang." Begitulah gombalan maut dari pengacara Andika.
"Hahaha itu terlalu berlebihan." Tapi Jhennite menanggapi nya dengan santai seperti biasa.
"Apa kamu suka tempat ini nona Jhennite ?."
"Hmm." Jhennite mengangguk. "Aku sangat suka."
"Yah aku juga. Aku merasa suasana ini, sama seperti suasana disebuah hotel yang sangat aku sukai."
"Ohh hotel apa itu ?."
"Hotel itu sangat cantik karena selalu menghadirkan awan putih seperti sekarang." Pengacara Andika melihat kearah sisi kanannya, dimana terdapat sebuah pegunungan yang sedang diselimuti oleh lapisan kabut, seakan membuat sensasi mereka sedang terbang dimanja oleh pemandangan alam.
"Nama hotel itu adalah Lovely hotel." Sambung pengacara Andika kemudian. "Apakah kamu pernah ketempat itu nona Jhennite ?".
__ADS_1
"Entahlah, tapi seingatku aku pernah pergi kesebuah hotel yang memiliki nama dengan hotel tersebut."