Benang Merah Yang Terputus

Benang Merah Yang Terputus
Chapter 45: Foto


__ADS_3

"Tik...tok".


"Tik...tok".


Jam berdentang setiap detiknya, angin juga sudah lelah hingga tak mau bergerak lagi. Semua orang sudah menyatu dengan alam bawah sadarnya masing masing, tapi mereka berdua tidak menghiraukannya.


Lelah itu pasti, rasa mengantuk yang menghampiri pun seakan sirna saat mencari kebenaran demi sang sahabat.


Setiap album mereka buka satu-persatu dengan sangat teliti, mereka zoom agar lebih besar dengan harapan ada satu saja titik masalah yang dapat membuka jalur baru.


Harapan itu sama dengan dua jam yang lalu, namun didetik hampir menyerah, bantuan takdir baru datang menghampiri.


"Sayang !". Begitulah teriak Aldo kepada Sovia. Sangking kagetnya Sovia melihat tunangannya bereaksi tiba-tiba, laptop ditangannya sekarang ini hampir saja jatuh kebawah.


"CK !". Kekesalan berubah menjadi decakan jengkel.


"Kamu bisa gak sih jangan seperti itu ?!, Aku kaget tau". Lalu kejengkelan itu berubah menjadi omelan dari Sovia.


"Aduh maaf deh, coba kamu lihat ini". Tidak mau membuang waktu sedetik pun, Aldo langsung menunjukkan foto Jhennite yang sudah berada di hp android miliknya.


"Iya terus kenapa ?". Reaksi Sovia berbeda dari ekspetasi, karena pengaruh malam atau apalah itu namanya, kecerdasan sang bintang populer redup sesaat hingga ia menjadi loading seketika.


"Tak !!". Dan akhirnya sentilan jari kekesalan Aldo meluncur tepat dijidat Sovia.


"Aww !!, sakit tau".


"Kamu ini gak lihat apa ??, coba besarkan lagi matamu itu kemari". Dengan telunjuk kekarnya Aldo menunjuk kearah layar hp, di layar hp itu Aldo lebih menunjuk kebagian latar belakang dari foto Jhennite.


"Apa ini, kamu tertarik dengan Jhennite ??".


Jatuhlah bom diatas kepala Aldo, hatinya sungguh tidak mood ditengah malam ini. Ingin rasanya ia berteriak karena Sovia mulai ngaur akibat dari kelelahan, tapi bagaimana lah lagi, itu tunangannya tercinta, tak mungkin ia bisa membentak nyaring hingga membuat Sovia terluka.


"Sayang bukan begitu". Dengan tangan dikepala Aldo tetap menjelaskan apa yang sedang ia maksud sebenarnya tadi.


"Kamu lihat latar belakang ini, bukankah kamu familiar dengan dekorasinya ?".


"Tunggu sebentar". Sovia memperhatikan dengan sangat ditail, bahkan sampai hiasan lampu pun tak ia lewatkan.


"Ohya aku ingat, ini adalah restoran yang ada diatas gunung bukan ??".


"Benar sekali, tepatnya restoran ini ada di Fila tempat kita semua menginap".


"Lalu ??". Dengan gaya imut Sovia memiringkan kepala.


"Kamu ingat sayang, saat itu jam 8 malam tidak ada satupun yang kembali ke Fila, karena kita bermain diatas perahu sambil memandang bintang".


"Oahhh iya benar sekali, saat itu sangat menyenangkan".

__ADS_1


"Iya kamu benar, tapi ada satu hal lagi. Kamu ingat kan kalau saat itu Rahel dan Dafira pergi ke Fila. Karena Dafira suka memandangi suasana kota dari atas gedung tinggi ?".


"Ah iya aku ingat, dan aku ingin ikut kamu bilang tidak usah". Sovia seketika mengingat memori lama yang tidak ia suka.


"Jangan cemberut Sovia, aku ingin kamu menyusun semua potongan cerita ini".


"Huh. Yasudah deh".


"Kalau benar latar belakang Jhennite ini adalah restoran yang ada didalam Fila. Apa yang sedang ia lakukan ?, bukankah Reno bersama kita saat itu, ada keperluan apa Jhennite sebenarnya kedalam Fila, bersamaan dengan waktu Rahel dan Dafira berada tepat didalam satu bangunan ?".


"Dek !". Sekarang jalan menuju pintu kebenaran sudah dapat terbuka satu, potongan cerita pun sudah bisa menyatu hingga membentuk sebuah cerita utuh yang singkat.


Meski belum sepenuhnya terkuak, tapi bukti sekarang bisa menjadi pendorong menuju terbukanya kasus Rahel kembali. Bisa saja saat itu semua akan menerima hukumannya sesuai dengan seharusnya.


"Jangan bilang..."


"Dari awal aku sudah mencurigai dia Sovia".


"Tapi kamu bilang Reno !".


"Tidak. Semenjak aku berjumpa dengan Jhennite di reoni kita, aku merasakan ada yang tidak beres dengan tatapan Jhennite dikala ia memandang Dafira".


"Jadi mulai saat itu yang kamu curigai berubah ?".


"Tidak sepenuhnya, hanya 60% kecurigaan ku berpindah kepada Jhennite, tapi selebihnya tetap aku mencurigai Reno".


Sovia hanya bisa terdiam tanpa bergeming sedikitpun, dia sama sekali tidak tau harus senang atau sedih mendengar semua kenyataan mulai terbuka didepan mata.


"Al". Sovia memasang raut wajah khawatir seketika.


"Ada apa". Sedangkan Aldo yang melihatnya, menjadi bergerak cepat dan menghampiri sang tunangan.


Didepan mata Aldo yang teduh, tanpa sadar Sovia meneteskan air mata, hingga air mata itu berhasil mengejutkan Aldo.


"Hei, sayang kenapa, apa yang membuat mu menangis". Tangannya mengusap lembut mata Sovia, dihapusnya air mata yang mengalir dengan kehangatan, sampai-sampai kehangatan dari tangan Aldo dapat menghentikan air mata yang tengah keluar tadi.


"Apa... apa menurut mu Dafira bisa menerima ini semua ?".


"Aku tidak tau, mau tidak mau dia harus menerimanya".


"Tapi...". Hatinya Sovia sungguh tersayat sekarang, ia tidak mau membayangkan kejadian buruk yang akan menimpa sahabatnya untuk kedua kalinya. Namun beruntung, Aldo selalu menguatkan Sovia dari belakang.


Dalam perasaan sama dengan Sovia, ia tetap menggambarkan senyum demi menyejukkan hati sang tunangan.


"Sayang tenang saja, Dafira memiliki kita disampingnya, ada aku, kamu, dan teman-teman lain. Dia pasti bisa tegar".


"Lalu aku juga percaya, Rahel tidak akan tinggal diam dalam situasi seperti sekarang".

__ADS_1


Kalimat itu datang seperti musim hujan didalam kekeringan, Sovia merespon kalimat Aldo walau hanya anggukan. Setelahnya pujian langsung meluncurkan dari bibir Aldo.


"my good girl".


.


.


.


Malam pencarian berakhir, ini saatnya untuk mereka beristirahat. Tapi untuk kedepannya setelah malam berganti belum ada yang tau, siapa sebenarnya dalang dibalik kejadian pilu hingga merenggut nyawa Rahel.


jika benar Salah satu dari mereka yang melakukannya, apa cinta mereka masih bisa dipertahankan, atau malah kebenaran kelam yang memutuskan ikatan Benang merah ditangan mereka ?.


Entahlah, permainan takdir selaku tidak bisa ditebak. Namun hanya ada satu kepastian, jika takdir mengizinkan mereka bersatu, maka ikatan mereka tidak akan terputus.



...----------------...


Terimakasih semuanya sudah mau membaca karya author sampai disini, 😄🙏.


Semoga semuanya suka ya dengan alur cerita author.


Dan maaf jika masih ada beberapa kesalahan didalam novel ini.


Ikuti terus kisah mereka 🎉


...----------------...


Salah satu tokoh BMYT



Nama: Jhennite Rosella Putri Agraham


Umur: 25 tahun


Golongan darah: AB


Hobi: Membaca


Status: Tunangan Reno


Makanan favorit: Bubur kacang


Pekerjaan: Model sekaligus pewaris perusahaan keluarga utama Agraham

__ADS_1


Yang tidak disukai: Sendirian


Moto: Tidak perlu ditemani banyak boneka sandiwara dunia.


__ADS_2