
"Ukhhh kepalaku." Dafira terbangun karena reaksi biusnya sudah habis.
Dilihatnya sekeliling satu-persatu, seluruh ruangan yang didominasi oleh putih dan coklat membuat dirinya bisa menebak dimana keberadaanya sekarang.
"Ck !." Ia berdecak seraya berdiri, lalu berjalan membuka pintu dari kamar tersebut.
Dilihatnya banyak sekali para bodyguard yang berdiri melindungi kamar nomor 23. Hal itu membuatnya kembali masuk kedalam kamar.
"Bruk." Ia menjatuhkan tubuhnya keatas kasur dengan kasar.
Air mata tiba-tiba mengalir mengenai bantal yang sedang Dafira peluk, kebenaran yang belum bisa ia terima membuat reaksi buruk untuk sikologis nya.
"Rahel !. Hiks, ini terlalu sakit, aku dikhianati oleh temanku sendiri. Sebenarnya apa salah mu sampai dia harus membunuhmu."
Belum...
Rasa amarah dihati Dafira tidak kunjung mereda. Perasaan bahwa tidak ada orang yang bisa ia percaya, menjadikannya terus terdorong ke ujung tebing.
Lalu saat sudah diujung tebing, putus asa membuatnya terjatuh dari sisi tebing tinggi itu.
"Aku ingin bersama Rahel."
Mata Dafira mengarah ke jendela luar nan besar. Dengan perlahan tapi pasti ia melangkah menuju jendela tersebut.
"Wushhh ~ "
Terpaan angin yang lumayan kuat membuat pemandangan begitu indah bagi Dafira. Seperti lambaian tangan, para pepohonan menyapanya dengan anggun.
"Dunia indah." Ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Tapi manusia didalamnya yang terlihat jelek, sehingga aku menjadi muak saat melihat isi dunia ini." Sambung Dafira.
"Disini sudah tidak ada yang peduli aku kan ?."
Dafira melihat kebawah dari balkon kamar psikiater yang ada di lantai 3, ia menarik nafas dalam dengan memejamkan mata.
"Ini tidak tinggi. Aku tidak perlu takut."
"Hanya tinggal lompat saja." Ia sudah mulai menaikkan satu kaki di sebrang pagar balkon.
"Lalu rasa sakit sedikit." Sekarang sudah kedua kakinya keluar dari pembatas balkon.
"Dan aku akan menemui Rahel untuk selamanya."
"Syushhhh."
Pemandangan yang sangat mengerikan pun tersaji ketika suara jendela yang tertutup angin berbunyi sangat keras. Sepertinya angin tidak merelakan kalau Dafira harus meninggal hanya karena perbuatan Jhennite, karena itu ia membuat si jendela berteriak sampai berhasil memanggil beberapa bodyguard.
"Akhhhhhhhhh !." Pekik dari Sovia menghamburkan seluruh isi psikiater.
"Akhhhh !, Dafira ! AKHHHHHHHHHH !."
Mereka yang melihat Dafira tercengang karena darah sangat banyak mengalir dari hidung, telinga dan mulut Dafira, serta beberapa tulang Dafira pasti sudah patah.
"Cepat kalian panggil ambulance!." Pekik seorang dokter dari arah dalam psikiater.
"Baik dokter."
"Dokter Chandra ayo lakukan penanganan pertama!."
__ADS_1
"Ok-oke."
"Ketua Fahri tolong panggilkan dokter dari keluarga Nugroho ke mari."
"Baik dokter Elisa."
Elisa adalah psikiater yang menangani depresi berat Dafira, dalam kondisi sekarang seharusnya yang cekatan adalah dokter Chandra, tapi dokter Candra tidak bisa menangani kepanikannya. Jadi dokter Elisa lah yang mengambil alih ini semua.
Dunia nyata menjadi heboh akibat perbuatannya. Pasti sudah tergambar jelas bagaimana keadaan mereka dibenak para pembaca ku. Yahhh... tapi sebenarnya ini adalah yang paling diinginkan oleh Dafira sejak lama.
...~~~...
Tokoh utama BMYT
Nama: Fahri Resfansyah
Umur: 25 tahun
golongan darah: A
Hobi: Olah raga, dan membaca buku dan memecahkan teka-teki
Pekerjaan: Tangan kanan Sovia
Makanan favorit: Ayam pedas
Status: Jomblo
__ADS_1
Hal yang dibenci: Kotor, lambat dan pekerjaan tidak benar
Moto: Semua kasus pasti ada petunjuknya