
"Hmmm..." Andika bergumam.
"Saya jadi penasaran tentang hotel tersebut, bisakah anda memberi tahu saya dimana keberadaan hotel nya ?."
"Kalau tidak salah hotel itu berada Puncak, tidak jauh dari butik Ava."
"Butik Ava ya." Suasana semangkin menegang, seringai Andika yang bermakna dalam, kini sudah terukir di wajahnya. Ia mulai menyadari bahwa Jhennite tidak sebodoh yang ia kira, ditambah sekarang semua pernyataan Jhennite memang sengaja dikarang tidak sesuai fakta.
"Saya tidak pernah melihat butik Ava itu nona, apa anda memiliki gambar tempatnya ?."
"Ya, aku memilikinya." Jhennite mengeluarkan hp android dari dalam tas, lalu menunjukkan sebuah gambar butik yang bernama Ava kepada Andika.
Tentu saja bukti dari Jhennite ini membuat rencana dikepala Andika semangkin kusut, rencana yang awalnya diperkirakan akan berjalan dengan mulus, ternyata tidak sesuai ekspektasi semula.
"Wah, tempat yang sangat bagus nona. Apa pakaian yang Anda kenakan termasuk salah satu dari butik itu ?." Andika akhirnya hanya bisa mengikuti alur permainan dari Jhennite.
"Ya benar sekali, pakaian yang aku kenakan sekarang merupakan rancangan dari sang pemilik butik Ava."
"Pantas saja kualitas yang terlihat begitu berkelas dan mahal. Ditambah pakaian itu sangat cocok dengan anda, sehingga aura anda sangat terpancar jelas sekarang ini." Dan sesekali meluncurkan gombalan sebagai refreshing otak yang sudah ia gunakan dengan keras.
"Hahaha." Jhennite tertawa kecil menanggapi gombalan Andika.
"Anda selalu pandai memuji orang ya tuan."
"Yahh...mau bagaimana lagi, ini seperti bakat saya sejak dini."
__ADS_1
Obrolan tidak berguna terus-menerus berlanjut, Andika tidak dapat menanyakan kembali apa yang ingin ia tanyakan kepada Jhennite, Jhennite seakan membuat alur obrolan mereka kearah yang berbeda, semangkin jauh dari topik pembahasan hotel Lovely.
Tapi disela-sela itu...
"Dertt...derttt..." Hp android Andika bergetar.
"Maaf nona Jhennite saya permisi menerima telfon sebentar."
"Tentu saja tuan, silahkan."
.
.
.
📲: "Pengacara Andika !, tunanganku diculik !."
📱: "Apa ?!. Bagaimana bisa nona muda diculik."
Teriakan kaget tidak bisa ditahan oleh pengacara Andika, tubuhnya lemas dan kepalanya menjadi sakit seketika. Ia merasa masalah satu belum selesai, sekarang masalah baru sudah timbul saja dari informasi yang diberikan oleh Tuan mudah Aldo.
📲: "Aku juga tidak tau, yang penting Sovia sudah menghilang saat ia ke toilet. Aku mencarinya karena ia tidak kunjung kembali, tapi saat aku mendatangi toilet dikafe yang ada di hotel lovely, Sovia malah tidak ada."
📱: "Anda tau nona diculik bagaimana ?."
__ADS_1
📲: "Aku melihat SCTV diluar toilet, dari CCTV sangat jelas terlihat bahwa ada 2 orang pria bertubuh besar membawa Sovia dalam keadaan pingsan."
📱: "Ini gawat."
📲: "Aku tau, kau harus membantu kasus ini pengacara Andika."
📱: "Sebentar. Sayya seorang pengacara tuan, bukan polisi. Anda harus meminta bantuan kepada polisi bukan saya."
📲: "Yah aku tau, aku hanya menyuruh mu untuk membantu dalam mencari Sovia. Pekerjaan mu tidak akan berat karena aku sudah menggerakkan seluruh bodyguard tingkat S ku untuk mencari Sovia."
📱: "Tapi..."
📲: "Yasudah, sampai situ aja."
📱: "Tut !."
Aldo mengakhiri telfonnya secara sepihak.
"Dasar tidak punya tata krama!." Dan hal itu membuat Andika menjadi sangat kesal kepadanya.
"Untung saja yang diculik itu Sovia, jika tidak aku tidak akan membantumu !."
Andika akhirnya tetap pergi mencari keberadaan Sovia. Meski, dia pergi dengan hati setengah ikhlas dan setengah lagi mendongkol.
Sedangkan Jhennite, Andika meninggalkan nya dengan sepengetahuan Jhennite, bagi Jhennite tak masalah dirinya ditinggal sendirian karena Andika berkata bahwa ada masalah sangat gawat yang akan ia selesaikan.
__ADS_1